Love Exchange

Love Exchange
Episode 90 : Lambe Turah


__ADS_3

Suatu pagi yang cerah aku terbangun dari tidurku. Aku beranjak dari kasur lalu membersihkan diri, mengenakan seragam, dan menyantap sarapan yang telah tersedia di meja makan. Selama aku beraktivitas di asrama, Cassie dan Gavin tidak berbicara kepadaku sama sekali. Mereka berdua juga berangkat lebih dahulu meninggalkan aku dan Rein. Rasa sesal masih terbayang-bayang di benakku.


“Segala sesuatu yang mendadak memang dibenci orang-orang, ya?” lontar Rein tersenym kepadaku.


“Apa sebenarnya yang kau inginkan waktu itu? Apa tujuanmu?” tanyaku kepadanya. Dengan ekspresi santai ia menjawab pertanyaanku sembari memasukkan suapan demi suapan di mulutnya.


“Ayolah… Itu semua untuk dirimu sendiri.” Aku yang mendengar jawabannya tidak mengerti apa yang dikatakannya barusan.


“J—Jadi kau sudah merencanakannya?” tanyaku gelagapan.


“Tidak, kok…” balasnya cengengesan. “Hanya saja waktu itu aku melihat ada kesempatan untukku.” imbuhnya menambahkan. Aku hanya tertunduk murung dan tidak tahu harus berkata apa kepadanya.


“Tenang saja. Ini baru awal-awal. Nanti mereka juga akan terbiasa, kok.”


“T—Tapi aku tidak mau seperti ini. Kewajibanku sekarang adalah belajar,” ucapku pelan. Lalu Rein duduk di sebelahku dan merangkulku.


“Kalau hanya itu fokusmu, maka masa depanmu hanya akan terisi oleh tekad bekerja tanpa rasa puas sama sekali. Kau tidak ingin hidup sendirian, kan?” ujarnya kepadaku. Aku pun merasa bahwa ucapan Rein ada benarnya. Kepalaku yang sekarang hanya terisi oleh pertanyaan tentang masa depanku.


“Jadi aku juga harus berpacaran selain belajar?” gumamku dalam hati. Melihatku yang penuh dengan pikiran membuat Rein berusaha untuk menenangkanku.


“Yah… Hitung-hitung pengalaman dan menikmati masa muda.” Aku tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Aku hanya sering mendengar cerita orang-orang, termasuk adikku. Pengetahuanku yang minim akan percintaan membuatku tidak tahu harus melakukan apa.


“Lalu, aku harus bagaimana?”


“Jadi dirimu yang biasa kukenal. Dan, anggap pasanganmu memiliki hubungan di atas teman-temanmu.”


Setelah sarapan aku dan Rein berangkat menuju sekolah bersama-sama. Saat kami keluar dari asrama, terlihat asramanya Bella telah tampak kosong dari luar. Sewaktu kami melangkahkan kaki menuju gedung sekolah, terlihat orang-orang yang juga berjalan ke arah yang sama. Bersama teman-teman, mereka semua mengobrol dengan asyik dan tertawa bersama. Sepertinya orang-orang juga telah mengenal dengan asrama yang bersebelahan dengan mereka.


“Baru kali ini aku melihat orang-orang pergi ke sekolah seramai ini,” lontar Rein bersemangat. “Aku juga,” balasku.


Hari ini adalah hari pertama aku masuk sekolah di tahun ajaran yang baru. Sekarang aku telah berada di kelas dua belas. Terdapat enam ruangan kelas dari masing-masing tingkatan kelas. Terdapat tiga gedung sekolah untuk berbagai jenjang sekolah. Aku dan Rein pergi menuju gedung sekolah yang berada di sebelah kanan. Sebelum pergi menuju ruang kelas, aku dan Rein harus melihat daftar pembagian kelas, dan itu adalah hal yang paling aku tidak sukai saat hari pertama sekolah.


Sesampainya aku di lantai bawah gedung sekolah. Para murid telah menumpuk di depan mading. Kami semua saling dorong mendorong untuk cepat-cepat melihat lembaran kertas yang tertempel di sana. Di tengah kepadatan, aku mencari celah sembari memegang tangan Rein erat-erat.


“Adelard, tanganku sakit,” lontar Rein kesakitan.


“Tahan sebentar lagi,” balasku.


Selepas melewati lautan manusia, akhirnya kami sampai di majalah dinding itu. Ternyata aku dan Rein menempati kelas yang sama. Selain melihat nama kami, aku juga mencari nama Cassie dan Gavin, ternyata mereka berdua juga satu kelas seperti kami, namun kami tidak satu kelas dengan mereka. Kemudian aku dan Rein harus keluar dari kerumunan orang-orang.

__ADS_1


“Huft… Akhirnya,” ucapku lega. Lengan Rein berwarna merah lantaran aku menggenggamnya terlalu kuat.


“Maaf telah membuat tanganmu sakit,” lanjutku. Rein membalasku dan menerangkan bahwa ia baik-baik saja.


“Ikut denganku sebentar,” ajakku. Aku membawa Rein menuju tempat keran air yang berada di samping gedung. Di sana aku membasahkan handuk kecil dengan air dingin, lalu mengikatnya di lengan Rein yang memar.


“Dengan begini akan lebih baik.”


“Terima kasih, Sayang,” balas Rein tersenyum senang kepadaku dan mendadak aku terkejut terhadapnya. Aku menjadi malu dan salah tingkah akibat ulahnya.


“T—Tidak perlu memanggilku dengan panggilan seperti itu. Biasa saja,” ucapku gagap.


Ia pun meminta maaf sembari terkekek bercanda kepadaku. Kemudian kami berdua pergi menuju kelas yang telah kami ketahui sebelumnya. Ketika kami memasuki kelas, terdapat murid yang telah mengisi setengah dari jumlah bangku yang tersedia. Orang-orang telah berinteraksi satu sama lain serta sudah saling mengenal dan berteman. Kemudian aku mengisi salah satu bangku yang kosong, namun tak lama kemudian seseorang yang baru tiba datang menghampiriku.


“Itu tempat dudukku.” Sontak aku menjadi malu dan meminta maaf kepadanya.


“M—Maaf!” lontarku gugup. Pada saat itu juga seisi kelas melihat ke arahku. Tak lama kemudian terdengar orang-orang mulai membicarakan aku dan Rein.


“Apa kau tahu kejadian di pantai malam itu?”


“Kudengar mereka berpacaran, ya?”


“Mentang-mentang ganteng, dia mendekatinya begitu saja.”


“Pasti cowok itu telah dimanfaatkan olehnya. Kasihan sekali…”


Tiap-tiap kalimat dan bisikan yang terlontar dari mulut mereka membuatku jengkel, tetapi aku tidak bisa membantahnya dengan begitu saja. Aku tidak ingin dikucilkan di kelas ini, meskipun aku berpikir kalau seperti itu akan ada untungnya bagiku. Akan tetapi aku tidak menyangka kalau rumor seperti itu akan tersebar dengan begitu cepatnya ke telinga orang-orang.


“Mulut-mulut orang di sini sama bahayanya dengan lambe turah,” batinku kesal. Rein sedang berada di depan kelas dan melihat denah tempat duduk, lalu ia menoleh ke arahku.


“Adelard, apa yang sedang kau lakukan?” lontarnya kebingungan.


Kemudian aku pergi menghampirinya dan melihat papan tulis itu. Aku dan Rein menempati tempat duduk yang saling bersebelahan. Tempat dudukku berada tepat di samping jendela. Aku dan Rein berjalan menuju bangku kami masing-masing bersamaan, sementara itu orang-orang memperhatikan kami berdua dengan serius. Aku hanya bisa pasrah sembari bertopang dagu dan melihat ke luar jendela. Tak lama kemudian datang dua sekawan ke arah kami.


“Kalian sedang berpacaran, apa itu benar?” tanya seorang dari mereka.


“Iya,” jawab Rein tersenyum.


“Wah, berarti rumor itu benar,” sahut temannya.

__ADS_1


“Tapi sepertinya ada orang yang sangat benci dengan kalian,” lontar mereka sembari menengok ke suatu arah. Ternyata terdapat Gandra dan Bella yang berada di satu ruangan yang sama denganku.


“S—Sejak kapan mereka ada di sini?” gumamku terkejut dalam hati.


“Tenang saja, kami berteman dengan mereka, kok,” ucap Rein cengar-cengir. Tak lama kemudian beberapa murid laki-laki berkumpul di bangkuku. Mereka bertanya-tanya kepadaku dengan penuh rasa penasaran. Begitu pula dengan Rein yang dikerubungi oleh para perempuan.


“Sshh… Sshh… Bagaimana kau bisa mendapatkan perempuan cantik itu?” tanya salah seorang dari mereka. Berbagai pertanyaan juga terhempas dari masing-masing mereka. Aku sampai kelelahan dan tidak ingin menjawab pertanyaan mereka.


Di lain sisi, pertanyaan serupa juga terlontar kepada Rein.


“Bisa kau ceritakan kejadian waktu itu?”


“Apa caramu supaya bisa seberani itu?”


Rein hanya tersenyum kepada mereka yang terus berucap tanpa henti. Sampai akhirnya pelajaran pertama dimulai, guruku pun memasuki kelas dan orang-orang pergi menuju tempat duduknya masing masing. Kegiatan pertama adalah perkenal diri di depan kelas. Aku mendapat giliran pertama untuk maju ke depan.


“Namaku Adelard, Adelard Lavient. Salam kenal.” Pada saat itu juga terpampang dengan jelas wajah-wajah para perempuan itu berbunga-bunga ke arahku. Setelah sesi perkenalan berakhir, kami melanjutkan pembelajaran hingga jam istirahat.


Saat jam istirahat tiba, aku berniat untuk pergi menuju kantin bersama dengan Rein. Ketika kami berdua berjala di lorong, terdapat sekelompok perempuan dan laki-laki yang menutupi jalan kami. Masing-masing dari mereka memperkenalkan diri kepada kami. Kelompok mereka terdiri dari murid dari berbagai kelas, dari yang satu kelas dengan kami, hingga adek kelas sekalipun.


“Perkenalkan, kami adalah klub Penggemar Adelard dan Rein!” seru salah seorang dari mereka dengan penuh semangat. Kemudian mereka semua menyerukan sebuah yel-yel.


“Kebahagiaan…!”


“Untukmu, Paduka Raja. Dan untukmu pula, Sang Ratu.”


Aku yang mengetahui hal tersebut mendadak tersentak kaget. Aku tidak percaya dengan tingkah mereka semua.


“Ha—Hah? Penggemar?”


“Betul, Paduka.”


Dengan perasaan jengkel aku kembali teringat dengan sebuah sekolah yang tidak waras.


“Kenapa aku ditempatkan di sekolah yang sama-sama tidak waras?”


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)

__ADS_1


__ADS_2