
Bel pulang sekolah telah berdentang. Para murid berbondong-bondong pergi meninggalkan ruang kelas. Dalam sekejap mata, kelas langsung sepi dan tinggal beberapa orang saja yang berada di dalam kelas. Aku yang masih menggigil lantas membereskan tasku. Gandra dan Bella telah terlebih dahulu pergi keluar dari kelas. Rein yang berada tepat di sebelahku berucap dengan nada marah kepadaku.
“Belakang gedung sekolah.”
Ia pun beranjak bangun dari tempat duduknya lalu berjalan meninggalkanku. Dengan rasa penuh takut, aku mengikutinya jauh dari belakang. Orang-orang yang berada di pinggir koridor hanya terdiam menyaksikan kami berdua. Berbagai bisikan juga dapat aku dengar dengan cukup jelas.
“Mereka sedang bertengkar?”
“Apa mereka akan putus?”
“Adelard benar-benar tukang selingkuh?”
Aku yang mendengarnya tidak tahu harus berbuat apa untuk meluruskan pemahaman mereka yang sudah terlanjur keliru. Sepanjang langkah kakiku berjalan, terdengar pula bermacam-macam ejekan yang menjurus ke arahku. Aku hanya tertunduk diam dan ingin cepat-cepat menjauh dari keramaian itu. Terpikirkan juga di benakku tentang sosok Rein yang berbeda dari biasanya.
“Seperti bukan Rein yang kukenal… Seburuk itukah perbuatanku?”
Sesampainya di belakang gedung sekolah, kami pun saling bertatap-tatapan. Suasana hening dan sunyi aku rasakan di tempat yang tersembunyi ini. Mulutku tertutup rapat dan menunggu dirinya yang berkata terlebih dahulu kepadaku. Pada saat yang bersamaan aku juga merasa canggung kepadanya. Tiba-tiba saja ia tersenyum kepadaku dan membuatku kebingungan.
“Aku ingin mendengarkan ceritamu.”
“K—Kau tidak marah…?” Sontak ia merubah wajah tenangnya menjadi geram ke arahku.
“Kau ingin aku marah?” lontarnya, lalu ia menghela napas dan kembali tenang. Aku menjadi kalang kabut sendiri melihatnya.
“Ti—Tidak!” Kemudian aku menjelaskan semuanya.
“Maaf! Aku tidak ada maksud lain selain menghiburnya!” Setelah mendengarkanku ia lantas tersenyum kepadaku.
“Sejak awal aku sudah memaafkanmu. Justru akulah yang seharusnya meminta maaf karena sudah marah-marah tidak jelas kepadamu…” Aku yang masih ketakutan kemudian bertanya kembali untuk memastikannya.
“Kau… benar-benar tidak marah, kan?” tanyaku gugup. Sontak ia tergelitik tawa melihat wajahku.
“Tentu tidak. Bagaimana dengan aktingku?”
“A—Aku kira tadi itu sungguh nyata…”
“Yah… Situasinya memang pas sekali, sih. Orang-orang juga mengira kalau kau sedang selingkuh,” balasnya cengar-cengir. Mendengar perkatannya tersebut membuatku tersipu malu.
“Aku tidak ingin pertemananku memburuk hanya karena hubungan kita…”
“Apa perlu kita sudahi saja?” lanjut tanyaku dan seketika membuat Rein terkejut panik.
“E—Eh? Jangan! Aku masih ingin seperti ini…” Ia pun tertunduk kikuk ke arahku.
__ADS_1
“Cukup menjadi dirimu seperti biasanya… Aku mempercayaimu… Tidak apa-apa, kan?” Lantas aku tersenyum kepadanya.
“Baiklah… Aku juga ingin mewarnai hidupku yang hitam putih ini.” Sontak ia langsung berlari mendekatiku lalu memelukku dengan erat.
“Terima kasih…” Aku juga merasa lega karena tidak ada hal buruk yang terjadi di antara kami berdua. Rambutnya yang panjang nan halus kuelus dengan pelan seraya menenangkannya. Akan tetapi, masih ada beberapa masalah lainnya yang juga harus kami selesaikan.
“Sekarang, apa yang akan kita lakukan untuk meluruskan kesalahpahaman ini?” tanya Rein.
“Aku juga tidak kepikiran apa-apa tentang itu…”
“Ayo kita kembali mengambil tas terlebih dulu,” imbuhku mengajaknya kembali ke kelas.
Setelah itu, kami berdua keluar dari gedung sekolah dan berjalan menuju asrama. Terlihat keramaian orang-orang yang memenuhi kompleks dengan pakaian seragam yang masih dikenakan oleh mereka. Bermain-main di taman, berjalan-jalan mengelilingi komplek, berkumpul di tepi jalan setapak dan kios jajanan, serta berbagai kegiatan menghiasi langit sore di dalam area pendidikan ini.
Ketika kami menembus keramaian, banyak pasang mata tertuju pandang ke arah kami berdua. Rein yang melihat kesempatan tersebut lantas melakukan sesuatu kepadaku. Ia menggandeng tanganku dengan erat, begitu pula denganku yang dapat membaca maksudnya. Tiba-tiba saja ia berhenti melangkah dan membuatku kebingungan.
“Maaf, Adelard…”
Seketika ia menarikku dan menciumku. Aku yang tidak mengiranya sontak terkejut bukan main. Hal yang serupa juga dirasakan oleh orang-orang yang menyaksikan kami berdua. Suasana menjadi hening sejenak dengan wajah tercengang mereka. Gandra dan Bella yang melihat kami dari kejauhan juga terkejut dengan apa yang tengah mereka saksikan saat ini.
“Waw… Penyelesaian masalah yang efektif…” gumam Gandra.
“Berani sekali mereka di tempat ramai seperti ini…” lanjut Bella tak percaya.
Tak lama setelah itu, semua orang sontak bersorak-sorai dan bertepuk tangan ke arah kami berdua. Tampak wajah senang dengan senyum bibir yang terpampang jelas di antara mereka. Aku tersipu malu setengah mati dan wajahku merah menyala. Dengan cepat aku menutup sebagian wajahku dengan tas yang ada di tanganku. Rein terlihat sangat gembira dan terhibur melihat diriku yang salah tingkah.
“J—Jangan berkata seperti itu!” balasku gagap.
“Wah, Adelardku yang manis tersipu malu,” lontarnya senang. Aku yang berusaha menahan malu membuatku gelagapan.
“H—Hentikan!”
Tidak lama waktu berselang teman-teman menghampiri kami. Bella dan Icha berlarian menghampiri Rein lantas memeluknya.
“Kau berani sekali…!” teriak Bella ceria.
“Sepertinya tanda-tanda pesta, nih,” celetuk Rhean bercanda.
“Kalau begitu, ayo kita jajan-jajan! Kali ini aku traktir!” ucapku senang.
“Wah, kami sangat berterima kasih pada Rein yang sudah menciumnya!” cetus Icha.
“Sering-sering kau menciumnya, ya!” lontar Gavin tertawa. Di lain sisi, Cassie yang menyaksikannya hanya terdiam tanpa kata-kata. Gandra yang melihatnya lantas kebingungan dengannya.
__ADS_1
“Kau tidak apa-apa?” Kami yang mendengarnya kemudian menoleh ke arahny, tetapi Cassie masih terdiam dengan tatapan kosong ke arahku.
“Cassie?” panggilku. Beberapa detik berselang, ia pun tersadar lalu salah tingkah sendiri.
“E—Eh? I—Iya… Aku tidak apa-apa…”
“Kau yakin?” tanya Rein.
“Semuanya terjadi dengan spontan dan cepat… Aku tidak menyangkanya kalau akan terjadi seperti ini…”
“Kau ‘loading lama’ ternyata,” sahut Icha.
“Apa jangan-jangan, kau ingin merasakannya juga, ya?” sindir Rhean tersenyum licik.
“Bukan begitu! Adelard yang kukenal sudah banyak berubah…” tutur Cassie pelan.
“Setiap orang pasti berubah,” ujar Gandra.
“Aku juga ingin bersama seperti itu, tapi sulit sekali untuk menggapainya,” celetuk Gavin.
“Semakin jauh...” desis Cassie sangat pelan.
“Apa yang barusan kau katakan?” tanyaku kebingungan.
“Ti—Tidak! Jangan dipikirkan…”
Kami pun menikmati waktu petang dengan suasana yang adem di meja makan yang tersedia di pusat jajanan. Saling bertukar percakapan dan tergelak tawa, itulah yang kami lakukan sembari menyantap makanan dan minuman ringan. Hingga akhirnya mentari mulai terbenam dan langit mulai menggelap. Lampu-lampu mulai bernyala menerangi kompleks ini.
Orang-orang semakin ramai berdatangan. Ternyata sedang ada konser kecil yang diadakan oleh klub band yang tak jauh dari tempat kami berada. Kami dan yang lainnya menyaksikan pertunjukkan tersebut dari tempat duduk. Setelah beberapa lagu dimainkan, tiba-tiba saja mereka memanggil aku dan Rein untuk maju ke depan. Semua orang bertepuk tangan dengan meriah. Kami berdua diminta untuk bernyanyi duet.
Selama kami melatunkan nada bersahut-sahutan, para penonton tidak percaya dengan penampilan kami.
“Merdu sekali…”
“Seperti penyanyi papan atas…”
“Mereka tampak cocok sekali…”
Setelah mengucapkan baris lirik terakhir, sontak sorak-sorai dan gemuruh tepuk tangan. Kami pun kembali menghampiri teman-teman dan duduk. Seorang penyanyi dari klub tersebut memuji kami dengan mikrofon yang dipegangnya.
“Tepuk tangan untuk pertunjukkan duet yang dramatis dan membuat kita semua baper!” Kami pun beranjak bangun lalu membungkuk hormat dan berterima kasih kepada para hadirin.
“Terima kasih…”
__ADS_1
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)