Love Exchange

Love Exchange
Episode 146 : Bersama Wanita Baru


__ADS_3

Siang hari yang cukup terik dengan sinar mentari, namun hawa terasa lebih sejuk dari beberapa minggu sebelumnya. Para pengunjung mulai meramaikan tempat makan untuk mengisi perut kembali. Meskipun begitu, suara teriakan orang-orang yang menaiki wahana seluncuran air masih terdengar sangat jelas. Mendengar keseruan tersebut membuatku sangat tertarik untuk mencobanya.


Aku dan seorang wanita yang tak kukenal masih menunggu di atas bangku, sementara itu wanita tersebut masih mengelap tubuhku yang lengket akibat minuman yang tumpah mengenaiku. Aku merasa tidak enak untuk memberhentikannya dan tak tahu harus berbuat apa. Untung saja orang-orang tidak menghiraukan kami dan sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


“Apa masih lama?” gumamku gugup dengan sangat pelan. Beberapa detik kemudian wanita itu mensudahi perbuatannya.


“Maaf sudah merepotkanmu,” balasnya.


“A—Aku yang seharusnya minta maaf, karena sudah menabrakmu tadi,” lanjutku cengar-cengir. Tidak lama berselang nomor pesanan kami disebutkan dan kami  datang menghampiri kios tersebut. Wanita itu memegang minuman kami sedangkan aku yang membayarnya. Setelah itu kami meninggalkan kios tersebut dan wanita itu memberikan minumanku.


“Ini punyamu,” ucapnya. Aku pun mengambil minuman itu dari tangannya.


“Kau sedang liburan dengan teman-teman?” imbuhnya bertanya.


“Iya, tapi mereka sedang makan siang,” jawabku.


“Apa kau tidak keberatan kalau kita ngobrol-ngobrol dulu?” pintanya.


“Yah… Aku sih tidak masalah, tapi…” balasku sedikit khawatir. Pada saat yang bersamaan terdengar suara seseorang yang tengah berbicara dengan pelayan yang sedang membawa makanan di nampan yang dibawanya. Tanpa sengaja suara percakapan mereka terdengar jelas olehku.


“Apa ini pesananku?”


“Apa Saudara atas nama Rein?” Aku yang mendengar nama Rein sontak memberikan kembali minumanku kepada wanita itu.


“Tolong pegang sebentar,” ucapku kemudian berjalan menghampiri pelayan itu. Seseorang yang bercakap dengannya telah berpisah dan aku langsung bertanya.


“Apa benar ini atas nama Rein?” tanyaku.


“Iya, betul. Saudara ingin mengambilnya?”


“Aku ingin mengambil makananku saja, sisanya tolong kirim ke mereka, ya.” Kemudian aku menunjukkan bukti pesanan kepada pelayan itu. Setelah itu, aku kembali mendatangi wanita tersebut dengan makanan di tanganku.


“Kau telah memesan makanan?” tanya wanita itu.


“Iya. Kau belum?” balasku.


“Belum. Ayo kita cari tempat untuk makan lebih dulu.”


“Oke.”


Akhirnya kami menemukan sebuah meja payung yang berada dekat dengan kios-kios makanan, sedangkan kami berada cukup jauh dari tempat teman-temanku berada. Wanita itu memanggil pelayan dan memesan makanan untuknya. Selepas pesanan tiba, kami langsung memakannya sembari mengobrol bersama-sama.


“Bagaimana denganmu? Kau bersama teman-teman juga?” tanyaku.


“Ya, kami bosan berada di asrama terus,” jawabnya. Aku yang mendengarnya sedikit terkejut terhadapnya.


“Kau bersekolah di mana?” lanjutku sangat penasaran. Ternyata ia bersekolah di tempat yang sama denganku. Sontak aku merasa senang dan permbicaraan semakin seru.


“Tunggu, aku masih mengingat-ingat namamu,” ucapnya berpikir seraya memetik jari.


“Kau mengenaliku?” tanyaku kebingungan.

__ADS_1


“Tepat beberapa saat yang lalu, tiba-tiba aku tidak merasa asing dengan wajahmu,” balasnya. Aku masih terheran-heran terhadapnya dan merasa tidak ingat sama sekali bahwa aku mengenalinya.


“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”


“Aku juga lupa, tapi yang pasti kau sangat terkenal, kan?”


“Yah… Begitulah…” jawabku tersipu malu. Seketika ia terdiam sejenak lalu teringat akan namaku.


“Adelard, kan?” Lantas aku membalasnya dengan menggangguk ke arahnya. Ia merasa sangat senang dengan bibir menyeringai lebar.


“Wah,  tidak kusangka akan bertemu denganmu,” lontarnya. Aku tertawa kecil terhadapnya yang tampak sangat ceria.


“Oh iya, kudengar kau sedang dekat dengan seseorang, apa itu benar?” lanjutnya bertanya kepadaku.


“Eh? Kukira semua orang sudah tahu tentang itu,” balasku tak menyangka perkataannya.


“Yah… Bisa dibilang aku kurang mengikuti rumor-rumor… Hehe…” cetusnya cengengesan. Aku berucap serupa kepadanya. Kemudian ia bertanya tentangku lagi dengan penuh penasaran.


“Kau tidak bersama dengannya?”


“Dia sedang berada di sana dengan yang lain.”


“Kau tidak mengajaknya?”


“Yah… Aku sedang mencoba sikap yang berbeda padanya, sih.” Ia tampak kebingungan dengan ucapanku.


“Maksudmu?”


“Wajahmu tidak ada dingin-dinginnya.”


“Tapi aku melakukannya,” balasku meyakinkannya.


“Coba kau bersikap seperti itu,” pintanya. Aku pun memasang wajah dinginku meskipun aku merasa cukup malu untuk melakukan di hapadannya. Sontak ia terkejut dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


“Waw, wajahmu berubah drastis. Apa dia akan baik-baik saja?” ucapnya terperangah.


“Katanya kalau aku bersikap seperti itu, maka suasana akan semakin romantis,” paparku.


“Lalu, apa responnya?”


“Ia menangis dan merasa sangat bersalah denganku,” jawabku. Ia pun menarik napas lalu tersenyum ke arahku.


“Aku lebih suka dengan dirimu apa adanya,” gumamnya. Aku yang mendengarnya mendadak terkejut.


“M—Maksudku, jika aku ada di posisi seperti dia,” lanjutnya gelagapan.


“Jadi, sebaiknya ku sudahi saja bersikap seperti itu?” tanyaku.


“Menurutku begitu, karena dia sudah suka dengan dirimu yang telah dikenalnya,” jawabnya.


“Tapi aku sangat malu untuk menjelaskannya. Dan juga, aku tidak tahu bagaimana caraku memberhentikannya,” lanjutku kebingungan dan merasa sangat bersalah terhadap Rein. Lantas ia mendekatkan mulutnya di samping telingaku kemudian berbisik kepadaku.

__ADS_1


“Apa kau yakin?” tanyaku gelisah.


“Tentu. Setidaknya kau sudah memberitakukannya apa yang sebenarnya terjadi. Kau harus menjelaskan semuanya,” balasnya menyeringai.


“Baiklah, akan kucoba. Terima kasih,” ucapku tersenyum tipis. Tanpa sadar kami telah menghabiskan makanan kami.


“Bagaimana kalau kita berkeliling sebentar?” lanjut pintanya dengan perasaan yang gembira.


“Baiklah… Eee…” balasku yang kebingungan akan nama wanita itu.


“Oh iya, aku Vira,” balasnya.


“Oke, Vira,” balasku yang juga tersenyum ke arahnya.


Kami pun berjalan mengelilingi taman air dan melihat kolam-kolam yang kami lalui. Hingga akhirnya kami berada di depan wahana seluncuran air yang sangat tinggi. Aku yang berkeinginan untuk mencobanya lantas melihat orang-orang yang berseluncur seraya berteriak keras. Vira yang melihat diriku kemudian mengajakku untuk menaikinya juga.


“Ayo kita ke atas.”


“Kau tidak takut?”


“Jangan remehkan aku.”


Sesampainya di atas, kami menggunakan pelampung ban ganda dan aku berada di belakang sementara Vira duduk di depanku. Kami pun berluncur di atas seluncuran air yang berliku-liku dan tertutup seperti terowongan. Teriakan terus terlontar di antara kami berdua. Ternyata wahana seperti ini cukup beradrenalin tak seperti yang aku bayangkan sebelumnya, namun terasa seru pada saat yang bersamaan. Vira juga tertawa gembira sesekali dan tidak merasa takut. Setelah tiba di kolam kami merasa sangat senang.


“Wah, seru juga ternyata,” cetusku.


“Ayo kita naiki semuanya,” balas Vira bersemangat. Dengan senang hati aku menerima ajakannya. Tak terasa hari sudah petang dan aku harus berpisah dengan Vira.


“Senang bisa bermain bersamamu,” ucapnya.


“Aku juga,” balasku.


“Sampai jumpa!”


“Dadah!”


Aku pun berjalan kembali menuju meja tenda dan menghampiri teman-temanku. Mereka sudah berkumpul di sana.


“Kau dari mana saja, Adelard?” tanya Gavin penasaran.


“Aku tadi habis berkeliling,” jawabku.


“Tumben sekali kau sendirian saja,” sahut Bella.


“Oh iya, kau juga mengambil makananmu duluan tadi siang. Kau makan di mana?” lanjut Icha.


“Aku makan di kios dekat tempatku membeli minuman. Jadi aku sekalian saja makan di sana sambil menunggu pesananku,” jawabku. Aku merasa tertekan dengan berbagai pertanyaan yang mereka lontarkan kepadaku. Aku menelan air liur dan berusaha untuk tidak memberi tahu kejadian yang sebenarnya kepada mereka.


“Aku tidak boleh mengatakan kalau aku pergi bersama Vira…”


Bersambung~

__ADS_1


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2