Love Exchange

Love Exchange
Episode 179 : Desa Musim Salju


__ADS_3

Suatu pagi yang cerah tampak panorama indah dari lereng berpasir putih berkilau, kami pergi keluar dari vila bersama-sama dengan barang bawaan masing-masing. Tidak jauh dari sini terdapat sebuah desa yang sangat cocok saat natal. Kami berjalan menuju halte bus kecil lalu menunggu di sana selama beberapa menit. Beberapa hari terakhir aku kesulitan untuk tidur dan membuatku sangat kelelahan. Bus kecil tersebut tiba dan kami menaikinya, namun aku yang sangat mengantuk lantas hampir saja tertidur di bangku halte.


“Adelard! Ayo!” lontar Rein. Aku tersentak kaget mendengarnya dan langsung bergegas menaikinya.


“Kenapa kau selalu begini sejak kemarin?” tanya Bella kebingungan.


“Pasti begadang,” sahut Freda.


“Padahal kulihat kau sudah terlelap di atas kasur, tapi ternyata kau belum tidur?” lanjut Gavin tak habis pikir.


“Aku sulit tidur akhir-akhir ini…” balasku pelan.


“Cukup bahaya kalau terus dibiarkan,” ujar Icha.


“Mumpung sedang di jalan, habiskan waktumu untuk istirahat sekarang,” tandas Rein kepadaku.


“Baiklah…” balasku yang kemudian tertidur pulas bersandarkan kursi. Untung saja penumpang yang berada di dalam tidak terlalu banyak. Selagi aku tidur, Rein masih tak habis pikir dengan apa yang terjadi padaku.


“Apa yang terjadi padanya?” gumamnya terheran-heran.


“Entahlah… Sepertinya sejak kejadian itu dia jadi seperti ini,” balas Gandra. Hart dan Freda sontak terkejut sekaligus kebingungan mendengarnya.


“Memangnya apa yang terjadi?” tanya Hart.


“Tidak, hanya sebuah insiden tak terduga,” jawab Rhean. Freda yang berada di sebelah Cassie lantas merasa hawa yang cukup panas terasa di sampingnya. Saat ia menoleh ke arah Cassie, ia langsung terkejut dan merasa khawatir padanya.


“K—Kau tidak apa-apa, Cassie?” pungkas Freda kaget. Tampak wajahnya yang tertunduk dan memerah terang.


“A—Aku tidak apa-apa!” lontar Cassie gelagapan. Mendengar suara tersebut membuat mereka semua mendengarnya. Hart yang memperhatikan Cassie lantas merasa curiga terhadap suatu hal.


“Hmm… Banyak yang sudah terjadi saat aku tidak ada…” gumam Hart.


“Kenapa Hart?” tanya Gavin yang berada di sebelahnya.


“Apa masalahnya ada pada Adelard dan Cassie?” bisik Hart. Hart, Gavin, dan Gandra berkumpul lalu membicarakannya dengan suara kecil.


“Bagaimana kau bisa tahu?” lanjut Rhean tak percaya.


“Sshh! Kau ini!” sahut Gavin kesal pada Rhean.


“Jadi benar?” tanya Hart memastikan.


“Yah… Begitulah…” jawab Gavin.

__ADS_1


“Sangat disayangkan dia memilih orang yang tidak sejalan dengan pilihan kami…” gumam Hart sembari memandangiku yang sedang terlelap pulas.


“Apa yang sudah kau lakukan pada mereka berdua sebelumnya?” tanya Gandra penarasan. Hart menceritakan semua kejadian yang sudah diaturnya kala itu, tetapi ia tidak menyebutkan nama Cassie di dalam ceritanya. Mereka bertiga yang mendengarnya lantas tergelitik dan tertawa kecil.


“Kau melakukannya sangat mencolok sekali,” balas Gavin tertawa.


“Tapi buktinya dia tidak menyadarinya,” lanjut Hart.


“Benar juga,” sahut Rhean.


“Kuharap dia bisa sadar,” cetus Gandra.


“Lalu apa yang terjadi pada si perempuan?” tanya Gavin penasaran. Hart dan Gandra yang mendengarnya sontak terkejut namun mereka langsung menahannya.


“Loh? Kukira dia sudah tahu,” gumam Hart dalam hati.


“Oh iya, kalau Gavin tahu bisa bahaya. Tapi, bukannya waktu itu dia sempat sadar kalau…” benak Gandra.


“Mereka berdua saling sulit menyatakannya. Terlebih lagi yang satu tidak peka-peka,” ucap Hart.


Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya kami tiba di desa tersebut. Tampak lampu gantung yang menghiasi setiap sudut  permukiman. Hari masih terang namun sudah cukup untuk memanjakan mata. Aku menjadi semakin penasaran saat malam hari. Kami berjalan menuju sebuah penginapan yang berupa sebuah rumah yang disewakan. Saat masuk ke dalam, kami merasakan suasana rumah yang nyaman dan persis seperti di film-film. Bahan bangunan yang banyak terbuat dari kayu menambah kehangatan di tengah ganasnya hawa dingin.


“Wah, benar-benar seperti yang di film legendaris itu!” lontar Bella girang.


“Jadi film itu syuting di sini?” tanyaku tak percaya.


“Loh? Kukira kalian sudah tahu,” balas Gandra terkejut.


Setelah meletakkan barang bawaan kami berniat untuk berjalan keliling di sekitar desa. Kami berjalan menyusuri jalan setapak yang terbentuk karena seringnya pejalan kaki yang melewatinya. Aku terkejut karena tidak dapat melihat kendaraan bermotor sama sekali, hanya terdapat kendaraan kuda dan semacamnya. Banyak dari kereta kuda itu membawa batang kayu yang sangat besar.


“Kira-kira kayu sebesar itu untuk apa, ya?” gumam Gavin penasaran.


“Permisi, Pak. Kayu ini digunakan untuk apa, ya?” tanya Bella pada seseorang yang secara kebetulan melewati kami.


“Ini untuk kayu bakar,” jawabnya tersenyum.


“Sebesar ini?” celetuk Rhean tak percaya.


“Iya, dahan dan rantingnya digunakan untuk di rumah-rumah, sedangkan batang besar ini untuk acara api unggun saat malam natal nanti,” paparnya.


“Sepertinya akan sangat menarik!” lontar Icha bersemangat.


“Datanglah! Semakin ramai yang datang akan semakin berwarna!” balasnya dengan senang hati.

__ADS_1


“Baiklah! Kami pasti akan datang!” sahutku yang sudah tak sabar. Kami pun berterima kasih padanya lalu kembali melanjutkan perjalanan.


“Aku tak menduga kau langsung bertanya seperti itu,” cetus Gandra.


“Apa yang dipermasalahkan? Itulah pentingnya berbaur,” balas Bella.


Pada saat yang bersamaan kami melewati sebuah peternakan dan terdapat lumbung besar di sebelahnya. Tampak domba-domba yang sangat banyak di dalam kandang itu. Mereka sedang memakan jerami-jerami yang berada di tempat pakan. Kami mendekati pagar kandang itu dan melihat mereka dari dekat. Beberapa saat kemudian datang seseorang dengan pakaian seperti peternak datang menghampiri kami.


“Selamat siang!” lontarnya.


“Siang!” sahut Gavin.


“Kalian baru tiba di sini?” lanjutnya.


“Iya, kami ingin melihat-lihat sekitar,” jawab Rein.


“Kalian tertarik untuk melihatnya lebih dekat lagi?” tawarnya pada kami. Bella langsung menerima tawaran tersebut tanpa pikir panjang. Kami dipersilakan untuk masuk ke dalam kandang dan berinteraksi dengan mereka. Cassie yang ketakutan lantas berusaha untuk menjauhi domba yang mendekatinya.


“Tidak ada yang perlu ditakutkan. Mereka semua jinak, kok,” ujarnya. Beberapa detik berselang Gavin dan Rhean dikejar-kejar oleh beberapa domba. Cassie yang melihatnya menjadi semakin takut. Hingga pada akhirnya mereka saling bersenang-senang dengan domba yang berlompat-lompat di sekelilingnya.


“Kalian akrab sekali,” ucapku.


“Itulah pentingnya berbaur,” balas Gavin Rhean tersenyum.


“Hey! Kau mengambil kata-kataku!” lontar Bella.


“Tapi benar, kan?” tanya Gavin.


“Ya, benar, sih,” lanjut Bella.


Setelah bersenang-senang dengan para domba, kami berpisah dengan mereka dan peternak itu. Kami melanjutkan langkah kami menuju sebuah jalan yang mengarah ke dalam hutan. Tampak pohon cemara yang tinggi-tinggi memenuhi hutan tersebut. Terdapat beberapa kereta kuda yang lalu-lalang di jalan tersebut. Kami sempat terhenti di sana hingga suatu ketika Cassie terkejut saat terdapat seekor kuda menjilati wajahnya dari samping.


“Ih! Menjijikan!” lontarnya. Kami tergelitik tawa melihatnya.


“Wah, sepertinya dia suka padamu,” ujar kusir itu.


“Ngomong-ngomong, kalian ingin ke dalam sana?”  imbuhnya bertanya.


“Iya, kami penasaran dengan di dalam sana,” jawabku. Kemudian dengan senang hati ia menawarkan tumpangan pada kami.


“Ikutlah denganku, akan kuberi kalian tumpangan.”


Bersambung~

__ADS_1


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2