Love Exchange

Love Exchange
Episode 65 : Pawai Malam Pengakhiran


__ADS_3

Gemerlap lampu yang berkilau bersamaan dengan cahaya langit yang menggantung di angkasa, orang-orang yang berkerumun di sepanjang pinggir jalan siap menyambut jalannya acara penghujung tahun ini. Begitu pula dengan teman-temanku yang juga telah menunggu selepas makan tadi. Sementara itu aku masih berada di kediaman Thudric bersiap-siap.


Setelah mengenakan pakaian yang ditentukannya, aku berjalan kembali ke ruang tengah. Di sana sudah ada Thudric dan Foucher sedang menungguku. Dengan jiwa setengah sadar aku masih syok dengan kejadian tadi. Terlebih lagi aku berjalan bersama pelayan perempuan itu. Lantas mereka berdua terpukau dengan penampilanku


sekarang.


“Tidak kusangka akan sebagus ini,” ucap Thudric tersenyum. Sedangkan Foucher ternganga dan merasa iri karena penampilannya lebih gagah aku daripada dirinya sendiri. Reaksi mereka berdua membuatku tersipu malu.


“Baiklah kalau begitu, tanpa basa-basi, ayo kita mulai!” ajak Thudric kepada kami semua.


Lalu kami melangkahkan kaki keluar dari kediaman. Betapa terkejutnya aku melihat kereta pawai yang terhias cantik, terlebih lagi dengan lampu yang berkelap-kelip menambah keindahannya. Kemudian kami semua diantarkan Thudric menuju kereta pawai paling depan. Alangkah lebih kagetnya diriku melihat kereta yang amat besar seperti panggung di sekolahku.


“Ayo naik,” tutur Thudric kepadaku. Aku yang masih melongo menjadi tidak memperhatikannya.


“Adelard?” panggil Foucher seraya melambaikan tangan dihadapan wajahku. Sontak aku tersadar dan menanggapinya.


“E—Eh… Maaf, maaf…” sahutku gelagapan menahan malu. Lalu kami bertiga naik ke atas kereta tersebut. Aku yang tidak tahu apa-apa tidak mengerti harus melakukan apa. Kemudian Thudric menjelaskannya kepadaku.


“Kita akan berjalan mengelilingi kota menyapa para penduduk yang sudah menunggu kita di jalanan. Ketika di jalan utama nanti aku akan memberi sambutan, kau pun sama,” paparnya.


“A—Aku memberi sambutan juga?” tanyaku buncah.


“Tentu saja,” jawabnya tersenyum. Belum terpikirkan di benakku sama sekali apa yang akan ku katakan nanti.


“Pawai kita mulai!” teriak Thudric bersemangat lalu kereta pawai pun mulai berjalan.


Kereta pawai berjalan dengan berbagai penampilan di atasnya. Pertunjukkan musik, tarian, dan sebagainya dipentaskan di masing-masing kereta tersebut. Kami yang berada di paling depan menyapa sembari melambaikan tangan kepada orang-orang. Namun wajah tak sedap tak jarang terhempas ke arahku. Sampai akhirnya tiba di jalan utama lantas kereta pawai berhenti dan sekarang waktunya kami memberi sambutan.


Teman-temanku yang sedang menyaksikan kami hanya bisa termangap lebar. Mereka tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya.


“Keajaiban apa lagi yang dia alami?” lontar Eledarn.


“Alien, alien, alien, alien,” ucap Hart berulang-ulang dengan mata melotot ke arahku.

__ADS_1


“Kau seorang pahlawan!” teriak Freda senang. Sedangkan yang lainnya hanya terdiam tanpa kata-kata.


Setelah Thudric memberi sambutan, sekarang giliranku. Aku masih tidak tahu harus berbicara apa.


“Se—Selamat malam semua. Perkenalkan namaku Adelard Lavient. Sebuah kebanggaan dan kehormatan yang tak kuduga ku berikan kepada kawan-kawan semua,” sambutku ramah dan berusaha untuk tidak gugup. Aku juga berusaha meyakinkan mereka bahwa tidak ada maksud apa pun pada diriku selama ini.


“Tidak ada niat apa pun aku berada di sini. Aku pun tidak menyangka akan berdiri di sini. Aku sangat berterima kasih terlebih pada teman-temanku.” Semua orang terdiam memperhatikanku. Lambat laun wajah suram mereka terluluh satu per satu.


“Hart! Walaupun kau ingin menjahiliku, tapi aku tunjukkan yang terbaik!” lontarku menyinggung Hart dan membuat orang-orang tertawa.


“Hahaha! Aku tahu kau pasti bisa, Alien!” sahutnya berteriak ke arahku. Kemudian aku kembali mencairkan suasana.


“Ah bisa saja kau, kecoak!” Gelak tawa orang-orang terlemparkan dari mulut mereka. Lama kelamaan acara ini menjadi seperti pertunjukkan lawak. Semua orang akhirnya tersenyum senang. Aku pun menutup pembicaraanku yang sudah melantur entah ke mana.


“Sekian, terima kasih,” ucapku seraya menunduk hormat ke hadapan orang-orang. Sorak sorai dan siul pujian berdengung sepanjang jalan. Kemudian pembicaraan diambil alih lagi oleh Thudric.


“Dan sekarang adalah pemberian penghormatan terbesar dari kota ini!” seru Thudric membara. Aku terkejut dan kebingungan setelah mendengarnya. “M—Masih ada lagi?” gumamku dalam hati tidak percaya. Lalu seorang prajurit pergi membawa sebilah pedang yang terukir bagus.


“Adelard, sini,” panggil Thudric. Lantas aku berjalan ke hadapannya.


Setelah itu Thudric memberikan pedang tersebut kepadaku dan sontak aku terkaget-kaget.


“Ku persembahkan pedang ini untukmu, Pahlawan… Ambillah,” tuturnya penuh hormat kepadaku. Dengan rasa penuh gugup aku menerima pedang tersebut dan kini bilah tersebut telah ada di genggamanku. Tiba-tiba tepuk tangan berseru ke arahku. Rasa senang menggelora dihatiku. Kemudian acara pawai tersebut dilanjutkan dengan arak-arakan diriku mengelilingi kota.


“Te—Terima kasih banyak! Aku tidak tahu harus membalas apa,” cetusku kepada Thudric, sedangkan ia hanya tersenyum.


Setelah acara selesai kami kembali ke kediaman Thudric. Saat aku ingin mengganti kembali pakaianan lantas ia


memnghentikanku.


“Jangan dilepas dulu,” lontarnya kepadaku.


“Kenapa?” tanyaku terkejut.

__ADS_1


“Berpakaianlah seperti ini sambil membawa pedang itu sampai bertemu teman-temanmu,” lanjut ucapnya kepadaku.


“Tapi… pakaianku…?” tanyaku kebingungan. Lalu Thudric cengar-cengir membalasku. “Tenang saja. Kau akan ku antarkan,” balasnya. Aku yang tidak enak menolak lalu menerimanya begitu saja. Kemudian aku bersama pakaianku di antarkan menuju kereta kuda yang sudah terparkir di depan pintu.


Aku pun naik ke dalam kereta tersebut, tetapi tanpa kusangka ternyata pelayan perempuan waktu itu ikut naik bersamaku. Kepalaku yang terpikirkan ke sana kemari sontak membuatku kocar-kacir sendiri.


“E—Eh? Kau ikut juga?” tanyaku kalang kabut.


“Iya ia akan menemanimu hingga sampai di tujuan,” jawab Thudric tersenyum. Seketika suasanaku dengan pelayan tersebut menjadi canggung. Terlebih lagi aku kembali terbayang-bayang dengan kejadian sebelumnya.


“B—Baiklah…” balasku.


“Kalau begitu, sampai jumpa!” sahut Thudric kepadaku. Lalu aku pergi meninggalkan kediaman tersebut menunggangi kereta kuda. Selama perjalanan aku hanya terdiam dengan keringat dingin terus mengalir di sekujur tubuhku.


“Tenang, Adelard… Tenang…” batinku berusaha tenang.


Sesampainya di pondok penginapan, tampak teman-temanku sudah menungguku di depan. Dengan rasa lega akhirnya aku turun dari kereta kuda tersebut. Lalu diikuti dengan pelayan itu dengan pakaianku di tangannya.


“Aku pulang,” ucapku tersenyum.


“Selamat datang kembali, pahlawan!” lontar Freda girang dan membuatku malu. Wajah gembira juga terpancarkan dari mereka semua. Lantas Hart menjadi heran dengan kehadiran pelayan perempuan tersebut.


“Siapa dia?” tanya Hart penasaran.


“Oh, dia pelayannya Thudric si pemimpin kota ini,” jawabku seraya memperkenalkannya. Tak lama berselang pelayan tersebut kembali pulang bersama pengendara kereta kuda itu. Setelah itu kami semua pergi ke dalam. Aku yang sudah kelelahan ingin segera menuju kasur, tetapi dengan teman-temanku yang lain.


“Ayo kita rayakan hari yang besar ini!” teriak Freda.


“Ayo!” sambut yang lainnya serentak. Sementara itu aku sudah tidak tahan lagi berdiri.


“Hari yang panjang…” gumamku dalam hati.


Bersambung~

__ADS_1


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2