Love Exchange

Love Exchange
Episode 193 : Bangsawan Tengah Kota


__ADS_3

Sinar mentari pagi menerangi perkotaan yang sangat ramai dengan lalu-lalang kehidupan para insan. Berselimuti asap kendaraan dan teriringi alunan bising keramaian, melewati tiap-tiap persimpangan bersama orang-orang, terhiaskan pandangan dengan gedung-gedung pencakar langit, aku dan Cassie melangkah menyusuri sudut kota sekedar menghabiskan waktu berliburan.


“Sudah mulai hangat ya di sini…” tutur Cassie.


“Iya, aku hampir tidak melihat salju lagi,” balasku.


Tampak dari kejauhan seseorang yang sedang memegang brosur sembari melihat-lihat khalayak yang melewatinya. Aku sempat kebingungan lantaran ia tidak memberi brosur tersebut pada semua orang.


“Aneh, kenapa dia hanya melihat saja?” gumamku heran.


“Mungkin ia sedang mencari pelanggan yang cocok,” sahut Cassie.


Kami berjalan terus hingga akhirnya mulai mendekati orang itu, tetapi tiba-tiba saja ia memanggil kami berdua. Aku yang tak menyangkanya lantas terkejut sekilas lalu menghampirinya dengan wajah penuh buncah.


“Ya? Apa ada sesuatu?” tanyaku pelan. Ia pun memperkenalkan diri bahwa ia adalah seseorang yang bekerja di bidang pakaian dan model. Aku dan Cassie sempat terheran-heran karena kami tidak sedang membutuhkan hal tersebut.


“Kebetulan kami akan melaksakan pembukaan pasar di seluruh penjuru daratan ini,” ucapnya.


“Iya?” lanjutku bingung.


“Sebelum pembukaan itu, kami ingin melakukan pencobaan pada beberapa orang yang terpilih, salah satunya kalian,” paparnya tersenyum.


“K—Kami mencoba pakaian?” tanyaku memastikan kembali.


“Iya! Ini kesempatan yang langka, lho…” ujarnya bersemangat.


“Tapi kami sedang berjalan-jalan. Pasti akan memakan banyak waktu,” tutur Cassie khawatir.


“Tenang saja, kalian dapat membawa pakaian itu selama seharian ini. Tidak akan menghabiskan banyak waktu untuk menggantinya, kok,” jelasnya.


“Ngomong-ngomong, apa kalian pernah dengar merek ini?” imbunya.


“Aku belum pernah dengar,” jawabku seraya memegang dagu.


“Tentu, karena kami belum menjualnya secara publik,” balasnya cengar-cengir dan membuatku sedikit jengkel mendengarnya.


“Tunggu, sepertinya aku pernah lihat sebelumnya…” gumam Cassie yang tengah melihat brosur tersebut.


“Kau boleh menebaknya,” ucapnya dengan wajah berseri-seri. Sekilas aku terkejut terhadap Cassie yang mengetahuinya.


“Aku pernah melihat logo ini di beberapa film yang kutonton,” ujar Cassie.


“Eng ing eng! Tepat sekali!  Produk kami banyak dipakai oleh industri perfilman dan beberapa acara atau festival, serta beberapa orang penting juga pakai ini, lho…” paparnya. Aku yang mendengarnya sontak merasa tak pantas untuk mencoba pakaiannya.


“Wah… Pasti mahal sekali…” gumamku terperangah.


“Kami memang mengincar pasar kelas atas,” balas orang itu tersenyum.

__ADS_1


“Sepertinya kurang cocok untuk kami yang bukan kalangan sana,” lanjut Cassie.


“Eit! Tidak masalah! Kami tidak memandang derajat apa pun. Menurutku semua orang dapat memakai produk kami.”


“Orang biasa sekali pun?” tanyaku.


“Yap! Kau bisa melihat-lihatnya dulu nanti.”


“Kau bagaimana, Cassie?” ucapku.


“Aku tertarik untuk mencobanya!” lontar Cassie bersemangat.


“Aku juga,” balasku menyeringai.


“Oke, ikuti aku ke dalam gedung!” ajak orang teresbut.


Kami berjalan memasuki gedung tersebut. Tampak susunan manekin dan baju yang digantung dengan rapi nan elok dipandang. Aku dan Cassie terperangah takjub melihat suasana mewah dan elegan yang ditampilkan oleh ruangan ini. Aku tidak percaya kalau aku benar-benar akan mengenakan salah satu pakaian dengan kastanya yang berada di urutan teratas.


Sesampainya di ruang ganti, terdapat dua orang pelayan wanita dengan satu set pakaian lengkap di masing-masing tangan mereka. Pakaian tersebut terlihat memiliki beberapa lapis dan beberapa aksesoris yang harus dikenakan. Untung saja sekarang masih musim dingin sehingga aku tidak perlu merasa kepanasana akibat pakaian yang tebal itu.


“Tenang saja, kami sudah memilih sesuai musim sekarang,” balasnya.


“Oh, jadi setiap musim ada pakaiannya sendiri, ya?” lanjut tanyaku.


“Tentu. Yang akan kalian pakai sekarang adalah pakaian musim dingin,” jawabnya.


“Apa ada masalah di dalam?” lontarnya khawatir.


“Eee… Aku tidak mengerti mengenakannya,” sahutku dari dalam.


“Pakaian apa yang kau tak mengerti?”


“Semuanya,” balasku.


“Bagaimana denganmu?” tanya orang itu ke arah ruang yang berisi Cassie di dalamnya.


“Aku juga,” tutur Cassie.


Pada akhirnya orang tersebut memanggil dua pelayan yang sebelumnya lalu memerintahkan mereka untuk masuk ke dalam masing-masing ruang ganti. Aku yang hanya mengenakan pakaian dalam lantas terkejut melihat seorang pelayan wanita yang masuk ke dalam ruangan secara tiba-tiba.


“Aaa…!” teriakku kaget.


“Teriakanmu sangat laki-laki sekali, ya,” sindir orang itu tergelitik tawa mendengar suaraku yang nyaring.


“K—Kenapa ada…” ujarku gelagapan.


“Mereka akan membantu kalian mengenakan pakaian itu,” jawabnya. Aku merasa sangat malu di depan pelayan itu.

__ADS_1


“Tidak apa-apa, sesekali kalian mengalami kehidupan sebagai bangsawan,” lontarnya tersenyum.


“Apakah harus begini?” lanjutku.


“Kebanyakan seperti itu. Kuharap kau tak terpancing dengannya,” ujarnya.


“Jadi bangsawan merepotkan sekali, ya,” balasku.


Selepas mengenakan pakaian, aku melihat cermin dan tercengang melihat penampilanku yang tampak sangat berbeda dari biasanya. Aku merasa takjub dengan penampilanku sekarang yang berwibawa dan gagah. Kami pun keluar dari ruang ganti secara bersamaan. Orang itu terkejut bukan main melihat kami yang tampak elok dan menawan dengan pakaian yang berpasangan seperti ini.


“Wah! Kalian benar-benar cocok sekali!”


“Aku tidak menyangka akan seperti ini,” balasku sembari melihat-lihat pakaian yang kupakai.


“Seperti menjadi bangsawan sungguhan,” tutur Cassie. Aku sangat terpukau melihat Cassie yang berseri-seri dan indah untuk dipandang.


“Kau cantik sekali…” gumamku keceplosan dan membuat wajah Cassie seketika memerah.


“T—Terima kasih…” balasnya.


“Nah! Sekarang kalian bisa melanjutkan hari luar biasa ini!” lontar orang itu.


Saat kami sudah berada di depan pintu gedung, terbesit di benakku tentang pakaian kami yang tertinggal di dalam.


“Kami akan menjaga pakaian kalian sampai kalian kembali,” balasnya.


“Oh iya, ini gratis, kan?” lanjutku yang tiba-tiba terlintas di kepalaku.


“Pastinya, aku yang mengajak kalian, jadi kalian tak perlu khawatir.”


“Baiklah, terima kasih banyak sudah memberikan kami kesempatan,” ujarku tersenyum.


“Bukan apa-apa… Selamat menikmati hari kalian!” serunya.


“Mungkin kalian akan sedikit mencolok di mata orang-orang…” imbuhnya cengar-cengir.


Kami berdua berjalan di tengah kota melintasi banyak gedung tanpa arah tujuan. Hingga akhirnya terbesit di benakku untuk pergi menuju mal. Cassie langsung setuju setelah mendengar usulanku. Tidak jauh dari gedung kami berasal, kami sudah menarik banyak perhatian khalayak yang berada di sekitar kami. Suatu ketika kami terhenti akibat seseorang yang menghampiri kami.


“Apa aku boleh meminta foto bersama kalian?” pintanya.


“Oh tentu saja,” balasku tersenyum.


Kami berfoto bersama orang yang tak dikenal itu. Selepas itu datang lagi beberapa orang yang berangsur-angsur semakin banyak. Seketika terjadi kerumunan di sekeliling kami. Aku dan Cassie tersipu malu diperhatikan banyak orang sekaligus. Kami berfoto satu per satu dengan semua orang. Berawal dari rasa malu tak terbendung hingga rasa tersebut pudar akibat rasa penat yang muncul. Aku benar-benar tak menyangkanya.


“K—Kenapa jadi seperti ini?”


Bersambung~

__ADS_1


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2