
Pagi hari yang membeku terselimut kabut tipis menandakan kami telah berada di kaki gunung. Hawa yang terhirup sejuk sangat berbeda jauh dengan udara perkotaan. Ruangan demi ruangan mulai terisi cahaya walaupun sang surya tidak menunjukkan wajahnya.
Atmosfer beku menusuk tajam sampai tulang rusukku. Aku yang terbangun bergemetar kedinginan. Pakaian dan selimut tebal tidak berpengaruh banyak untuk menahan pisau putih itu. Lantaran tidak tahan aku pun bergegas untuk membasuh diri dengan air hangat. Namun sesaat aku membuka mata terlihat Hart dan Eledarn saling tumpang tindih dan masih tertidur pulas.
“Ada yang terjadi pada mereka?” tanyaku heran dalam hati. Tidak ada seorang pun yang terbangun dari tidurnya selain diriku seorang.
Kemudian aku berganti pakaian menjadi baju mandi. Sontak pisau-pisau putih nan tajam itu menerkam kencang menusuk jiwaku. Seketika tubuhku menggigil dan gigiku gemeretak hampir membeku. Dengan segera aku langsung bergegas menuju kamar mandi. Tetapi sebelum itu aku sempat melewati kamar perempuan dan ingin mengetuknya.
“Apakah mereka sudah ada yang bangun?”
Namun tidak ada sehembus pun suara dari balik pintu tersebut. Lalu aku mengurungkan niatku untuk mengetuknya.
“Brrr… Lebih baik aku segera mandi,” gigilku kedinginan.
Aku yang lekas berjalan di sepangjang lorong menjadi sedikit ketakutan dengan suasana yang sepi dan hening. Ditambah lagi dengan dinding-dinding kayu menambah rasa seram yang menghantui benakku. Sampai akhirnya aku berada di depan kamar mandi tersebut lalu aku masuk ke dalamnya.
Seketika aku menjadi terkesiap dengan ukuran ruangan yang amat luas. Aku yang sedang melihat langit-langit menjadi heran dan mengira aku memasuki ruangan yang salah.
“Ini bukan pemandian umum, kan?” batinku.
Aku yang sudah tidak kuat dengan rusukku yang telah membeku lantas aku dengan cepat melepaskan baju mandiku. Diriku yang tidak tertutup sama sekali dengan cepat pergi menuju bilik bak mandi. Namun seketika muncul seseorang dari balik tirai tiba-tiba mengejutkanku.
“Aaaaaa…!” teriak kami berdua serentak.
Ternyata ia adalah Cassie yang juga sedang berbasuh diri di bilik tersebut. Aku dengan sigap berlari mengenakan baju mandi dan pergi keluar dari ruangan. Tidak kusangka akan ada seseorang di dalam dengan pintu yang tidak terkunci. Cassie yang malu setengah mati berucap penuh gugup kepadaku.
“M—M—Ma—Maaf! Aku lupa mengunci pintu!” gaung Cassie berteriak dari dalam.
“A—Aku juga! Maaf tidak sadar ada pakaianmu di sana!” balasku gemeteran bukan kepalang. Rasa dingin yang menerpa seketika berubah drastis dan kini tubuhku basah oleh keringatku yang bercucuran.
__ADS_1
Mendadak benakku terus terlintas dengan lekuk tubuhnya yang sempurna. Aku seperti terlarut dalam samudra. Namun di saat yang bersamaan aku juga malu setengah mati melihat tatapan syok Cassie ketika menatap diriku tanpa busana. Sontak aku hanya terdiam dengan tatapan kosong seperti kehilangan jiwa.
Tak lama kemudian Cassie pun keluar dari kamar mandi dan lekas pergi meninggalkanku. Dengan perasaan aib memuncak ia hanya bisa menunduk dan tidak melihatku sama sekali. Sekarang giliranku mandi dan mengahangatkan diri dari ganasnya malam.
Setelah itu aku kembali ke kamar untuk merapihkan koperku. Teman-temanku pun baru terbangun dari tidurnya. Namun tetap saja, kejadian tadi membuatku trauma. Hart yang setengah sadar bertanya kepadaku dari kejauhan.
“Kau sedang apa, Adelard?”
Aku masih terbayang-bayang dengan rasa penuh bersalah. “Apakah mataku tidak bersih lagi? Apa yang harus ku lakukan?” Pertanyaan demi pertanyaan terus terlintas di kepalaku. Teman-temanku tidak mengetahui apa-apa. Kemudian kami makan bersama di ruang makan yang telah disajikan oleh pelayan penginapan.
Semua orang menikmati hidangan tersebut, terkecuali aku dan Cassie yang hanya menyantap dengan mata terbuka lebar dan mulut yang terus terbuka. Wajah kami yang begitu pucat sekilas terlihat seperti mayat yang hidup. Hart menjadi terheran-heran dengan kami berdua.
“Kalian berdua baik-baik saja, kan?”
“Iya. Aku baik-baik saja,” jawabku kaku dengan tatapan kosong ke depan seperti robot. Begitu pula dengan Cassie. “Iya, aku juga baik-baik saja.”
“Apa kau yakin, Adelard?” tanya Freda khawatir.
“Iya, aku tidak apa-apa,” lanjut jawabku terbata-bata.
“Tapi dirimu menunjukkan kebalikannya, tahu!” ujar Hart sedikit jengkel dan tidak mengerti apa yang telah terjadi.
Aku dan Cassie yang hanya terdiam beku bak patung meningkatkan rasa cemas mereka. Seketika angin yang bersiul halus menembus ventilasi membuat sekujur tubuh mereka merinding.
“A—Apakah itu hantu?” tutur Milard ketakutan. Tiba-tiba Freda terkejut melihat ekspresi Milard barusan.
“Eh? Sejak kapan kau takut hantu?”
Rasa takut Milard lantas menular ke beberapa temanku di sampingnya. Hart dengan gemetaran bertanya kepadaku.
__ADS_1
“J—Ja—Jadi, kalian melihat hantu di tempat ini?” Akan tetapi aku menjawab dengan ekspresi datar kepadanya.
“Tidak. Aku melihat sesuatu yang lebih mengejutkan dari itu,” jawabku pucat.
“Apa yang kau lihat?” tanya Emery gelisah kepada Cassie. Cassie yang bermimik sama denganku kemudian menjawabnya.
“Tidak bisa dijelaskan.”
Suasana yang semakin menyeramkan menghantui mereka. Dengan cepat dan segera mereka mengemas barang-barang dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Setelah kondisi yang berdebar-debar itu, akhirnya kami pergi dari penginapan tersebut.
Aku dan Cassie yang sedang mengalami syok kemudian terlelap selama perjalanan. Semetara itu Freda masih heran dan rasa penarasannya memuncak. Ia pun membahasnya dengan teman-teman.
“Hmm… Kira-kira apa ya, yang mereka lihat?” tanya Freda berpikir keras.
“Sesuatu yang lebih mengejutkan daripada hantu…” sahut Hart mengingat perkataanku kembali sembari mengemudi.
“Tapi ia telah seperti itu sejak kami bangun,” lanjut Eledarn menambahkan.
“Rambutnya yang basah dan ia juga merapihkan pakaian kotornya,” ucap Milard. Emery yang mendengarnya seketika mendapat petunjuk dan sedikit demi sedikit jawaban mulai terlihat.
“Oh iya, saat bangun aku juga melihat Cassie sedang mengeringkan rambutnya,” tutur Emery teringat kejadian yang di alaminya saat itu. Kemudian Freda dengan kurang yakin menyadari sesuatu.
“Jangan-jangan…” Seketika seisi mobil memikirkan hal yang sama kemudian menjawab dengan serentak.
“Tidak mungkin!”
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)
__ADS_1