
Cuaca di dalam gelanggang berbanding terbalik dengan cerahnya mentari sore yang menembus kaca-kaca jendela atap. Tidak ada yang ingin memanggil guru karena dinilai hanya akan memperkeruh situasi. Setelah aku melihat sekelilingku tiba-tiba aku menyadari sesuatu.
“Ada apa, Adelard?” tanya Freda kebingungan.
“Tunggu sebentar.” jawabku. Kemudian aku menatap kosong sembari berpikir untuk menyelesaikannya. Sedangkan mereka semua hanya melihatku dengan wajah keheranan.
“Apa yang sedang ia lakuk—” cetus Freda ingin bertanya kepada Hart, tetapi Hart memotong ucapannya dan menyuruhnya diam.
“Sstt… Alien sedang berpikir. Jangan berisik.” lontar Hart mengingatkan Freda. Namun Freda dan ketua klub itu terkikik kecil dan sontak membuatku kesal.
“Justru kau yang menggangguku, Hart.” gusarku dalam hati. Kemudian aku melanjutkan pengamatanku ke sekeliling gelanggang ini.
Gelanggang ini memiliki bentuk persegi panjang dengan melebar ke samping. Namun lapangan di dalamnya dibuat horizontal memanjang dari atas ke bawah. Sehingga bagian kanan dan kirinya menjadi kosong dan sia-sia dan membuat gelanggang tersebut hanya muat digunakan sebanyak dua lapangan saja.
Apabila lapangan diputar menjadi vertikal dan disusun menyamping maka seharusnya bagian kosong itu akan terpakai dan tidak ada sudut mana pun yang kosong. Dengan demikian gelanggang tersebut dapat memuat tiga lapangan. Lantas aku menjelaskan ide tersebut ke ketua klub itu.
__ADS_1
“Aku ada ide! Jadi lapangannya di gelanggang ini seperti ini…” Aku menjelaskan dengan ringkas dan mudah agar dapat dipahami olehnya. “Jadi kita harus begini dan begitu…” lanjut jelasku. Sementara itu dua kecoak itu menggaruk-garuk kepala dan memiringkannya karena tidak mengerti sama sekali. Namun sepertinya ketua klub itu nampak kebingungan juga.
“Aku masih belum paham maksudmu.” ucap ketua klub itu pelan.
“Iya, kami tidak paham sama sekali.” cetus Freda kebingungan. “Siapa juga yang berbicara dengan kecoak seperti kalian.” gerutuku dalam hati. “Kalau begitu biar aku yang menjelaskan kepada mereka.” tuturku kepadanya kemudian berjalan menuju medan tempur itu.
Aku pun mencari perhatian orang-orang itu lalu menjelaskan solusinya. Tetapi lagi-lagi mereka semua terdiam yang sepertinya bukan karena memperhatikanku melainkan tidak ada pemahaman sedikit pun yang berhasil tersampaikan pada mereka.
“Sshh, sshh, kau mengerti?” tanya salah seorang berbisik ke sampingnya.
“Entahlah…”
Aku hanya bisa menghela napas. “Huft… Daripada aku jelaskan, lebih baik langsung kuberi saja solusinya.” batinku. Lantas aku menyuruh mereka untuk menurutiku.
“Kalau begitu kalian ikuti saja arahanku!” seruku kepada mereka. Untung saja mereka mampu menuruti perintahku. Aku mengarahkan mereka untuk mengganti garis-garis lapangan yang sebelumnya horizontal menjadi
__ADS_1
vertikal. Dengan kerja sama tim yang hebat akhirnya semua beres dan mereka dapat saling berbagi dengan pembagian laki-laki dan perempuan adalah satu banding dua.
Melihat kondisi yang kembali kondusif kemudian ketua klub itu berlari menghampiriku.
“Aku sangat berterima kasih padamu, Adelard.” ucap ketua klub itu tersenyum kepadaku. Suasana pun kembali adem dan tenang.
“Wah, kau jenius sekali! Tidak terpikirkan oleh siapa pun.” cakap Hart yang aku tidak ku mengerti antara pujian atau sindiran. “Dari sekian puluh orang yang ada di gelanggang ini, tidak satu pun?” tanyaku tidak percaya sekaligus kesal. “Bahkan seorang ketua klub pun hanya bisa kewalahan dan panik.” sindir Freda.
“Kau benar-benar alien.” celetuk Hart kepadaku.
“Sepertinya sekolah ini kurang waras.” ucapku pelan. Mereka hanya bisa memasang wajah cengar-cengirnya. Setidaknya aku sekarang bisa merasa lega karena tidak ada lagi yang membebaniku.
“Ada-ada saja masalah sekolah ini, ya.” benakku.
Bersambung~
__ADS_1
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)