
Keesokan hari pun tiba, pagi yang hangat menyulutkan sejuk malam nan dingin. Mentari terik bersamaan dengan angin yang berhembus menyambutku yang baru saja terbangun dari tidur. Aku bangun lebih awal daripada hari kemarin. Terlihat Gavin yang masih tertidur dengan pulas seraya mendengkur kencang. Sewaktu membangunkan Gavin, aku melihat sebuah kotak misterius yang belum sempat aku buka. Lantas aku meraih kotak tersebut lalu membukanya dengan penuh rasa penasaran.
“Wah, banyak sekali,” lontarku setelah melihat isi kotak tersebut. Terdapat pakaian berupa baju, celana panjang, topi, dan jam tangan. Isi yang tidak aku duga itu membuatku merasa tidak enak kepada orang yang memberikannya kepadaku.
“P—Pasti mahal sekali…” gumamku. Tak lama kemudian Gavin terbangun dengan sendirinya. Dengan cepat aku menaruh dan menyembunyikan kotak berserta isinya ke dalam lemariku.
“Selamat pagi,” ucapku cengar-cengir kepadanya. Gavin yang baru saja terbangun menjadi kebingungan.
“Kau kenapa? Sepertinya senang sekali,” hembusnya bertanya sembari merenggangkan badan.
“Baik-baik saja. Kan sudah seharusnya kita mengawali pagi dengan penuh semangat,” balasku.
Kami pun sarapan bersama-sama. Selama kami menyantap makan, Cassie hanya tertunduk malu dan tidak mengikuti perbincangan kami bertiga. Aku dapat menduga bahwa kotak tersebut berasal dari Cassie. Aku ingin berterima kasih padanya namun kurasa sekarang adalah waktu yang kurang tepat.
“Kau baik-baik saja, Cassie? Demam?” tanya Rein khawatir.
"Ti—Tidak! A—Aku baik-baik saja!” jawabnya kalang kabut. Kemudian ia menatapku dan aku membalasnya dengan tersenyum, namun lagi-lagi wajahnya memerah. Sementara itu Gavin masih terus berusaha untuk mengakrabkan diri dengan Cassie.
“Bagaimana dengan boneka pemberianku? Kau menyukainya?” tanya Gavin ceria, tetapi Cassie tetap saja tertunduk malu. Rein yang melihatnya lantas menyahuti pertanyaan Gavin dengan penuh semangat.
“Tentu saja! Bahkan boneka itu selalu dipeluknya, lho…” Cassie yang mendengarkannya menjadi malu bukan kepalang.
“Berisik!” lontar Cassie kesal.
“Syukurlah kalau kau menyukainya,” balas Gavin senang. Aku telah lebih dulu menghabiskan makananku. Lekas Cassie dengan lahapnya ia menghabiskan santapannya. Setelah itu ia pergi berangkat terlebih dahulu sembari menarik tanganku dengan erat.
“Kalau begitu, kami berangkat duluan, ya.”
“Eh? Tunggu dulu!” sahut Gavin yang masih terduduk di meja makan.
Aku dan Cassie keluar dari asrama dan pergi menuruni tangga. Aku tidak mengerti dengan tingkahnya yang tiba-tiba seperti itu.
“Ada apa Cassie?” tanyaku terheran-heran.
“Kau tidak memberi tahu siapa pun, kan?” tanya Cassie sedikit panik. Aku masih berpikir keras untuk memahami maksud perkataannya barusan.
“Oh iya, kotak itu darimu, kan? Terima kasih, aku sangat berutang kepadamu,” lontarku sembari tersenyum, namun wajahnya masih tampak gelisah.
“Sama-sama…” tuturnya. Pada saat itu juga ia terdiam sejenak lalu menyadari sesuatu.
“E—Eh? Kau tahu kalau itu dariku?” lanjutnya bertanya dan sedikit terkejut kepadaku.
“Iya. Soalnya Rein bilang semalam kalau dia lupa membelikanku barang,” jawabku polos.
__ADS_1
“Oh begitu…”
Tak lama berselang, Rein dan Gavin berlari menghampiri kami berdua. Lantas Aku dan Cassie menoleh ke belakang. Sementara itu mereka berdua masih terengah-enah setelah mengejar kami berdua dari asrama.
“Aduh, bawaanku ingin muntah saja,” hembus Rein sembari memegang perutnya. “Kalian kesamber apa sih? Perutku yang masih penuh jadi sakit,” lanjut Gavin dengan rasa kesal dan kesakitan.
“Maaf, maaf… Hehe…” sahutku cengengesan.
“Huh, kau sudah mau dengan perempuan lain saja, ya?” tanya Rein kesal.
“Bu—Bukan begitu!” jawabku gelagapan. Kemudian aku melanjutkan berjalan menuju sekolah seraya bergandengan tangan dengan Rein, sedangkan Gavin dan Cassie berada di belakang kami.
“Wah, enaknya sudah bisa bergandengan tangan…” celetuk Gavin.
“Semoga kau juga bisa seperti mereka, ya,” balas Cassie tersenyum. Sontak Gavin terkejut dan salah tingkah kepada Cassie.
“I—Iya. Kuharap seperti itu.”
“Aku mendukungmu!” sahut Cassie menyeringai. Tak lama setelah kami tiba di ruangan kelas, bel masuk pun berbunyi dan kami memulai jam pelajaran pertama.
Waktu terus berputar dan jam dinding telah menunjukkan bahwa sekarang adalah saatnya bel istirahat berbunyi. Seperti biasa aku pergi menuju kantin untuk mengisi perut. Namun sebelum itu, Rein menghampiriku dan mengatakan bahwa ia ingin makan bersama dengan teman-teman klubnya. Pada saat itu juga aku tersadar bahwa kami telah menduduki kelas dua belas.
“Oh iya, bukannya kalau kelas dua belas tidak perlu mengikuti klub?”
Aku pun pergi menuju kantin bersama Gandra. Sebelumnya Gandra telah mengajak Bella untuk makan bersama kami, namun ia tidak dapat menerima ajakan tersebut lantaran telah berjanji untuk makan bersama teman temannya. Setelah sampai di kantin, aku dan Gandra bersama Gavin dan Rhean menempati meja kantin yang sama. Selama menyantap makan siang, tak lupa kami juga mengobrol santai.
“Bagaimana dengan perkembanganmu, Gavin?” tanya Rhean penasaran.
“Syukurlah dia menyukai boneka pemberianku,” jawabnya senang.
“Baguslah kalau begitu…” sahut Gandra yang juga senang mendengarnya. Lalu kami berempat membahas untuk upaya rencana Gavin mendekati Cassie selanjutnya. Berbagai ide dan usul dilontarkan dari masing-masing kami, tetapi pembicaraan berujung jalan buntu.
“Hmmm… Bagaimana, ya…” gumam Gavin kebingungan.
“Sepertinya aku tahu,” ujar Gandra seketika membuat kami senang. Kami bertiga memperhatikannya dengan serius.
“Gimana? Gimana?” tanya Gavin bersemangat.
“Bagaimana kalau kalian berdua melakukan kencan ganda?” usulnya dan membuatku kebingungan.
“Kencan ganda? Maksudmu?” tanyaku. Ia pun menjelaskan skenario yang akan terjadi semisal kami melakukan hal tersebut.
“Jadi, sebelumnya Adelard bilang kepada Rein kalau kita ingin membantu Gavin untuk mendekati Cassie. Aku yakin ia juga akan ikut membantu. Setelah itu Adelard mengajak Gavin dan Cassie untuk berjalan bersama-sama di akhir pekan. Pada saat itulah Adelard dan Rein memberi banyak kesempatan untuk mereka berduaan.”
__ADS_1
Setelah mendengarkan penjelasan dari Gandra, tiba-tiba aku menyadari dan teringat sebuah kejadian pada saat itu.
“Oh… Jadi itu yang Hart lakukan kepadaku saat di taman hiburan waktu itu,” batinku. Gavin yang mendengarkannya lantas setuju tanpa pikir panjang.
“Kita bisa menggunakan skenario itu!” lontarnya girang.
“Tapi, kapan kita akan melakukannya?” tanyaku heran.
“Bagaimana kalau saat akhir pekan besok?” sahut Rhean.
“Ide bagus!” balas Gavin. Aku yang melihat tingkah Gavin yang seperti itu membuatku sedikit jengkel.
“Ett dah nih anak, hanya bisa setuju-setuju saja,” gumamku dalam hati.
“Semoga berhasil!” ucap Gandra tersenyum.
Sepulang sekolah kami semua berjalan pulang menuju asrama bersama-sama. Bella dan Icha telah diberi tahu oleh Rhean mengenai rencana tersebut. Kami semua melangkahkan kaki seraya mengobrol asyik dan dibarengi dengan canda tawa. Sampai suatu ketika Gandra memberi kode kepadaku untuk memulai misi.
“Oh iya, bagaimana kalau kita pergi bertamasya saat hari libur nanti?” ajakku kepada mereka semua. Gavin dengan bersemangat menerima ajakanku.
“Tentu saja, ayo kita bersenang-senang!”
“Bagaimana dengan kalian berempat?” tanyaku kepada Gandra dan kekawanannya.
“Maaf, aku dan Icha sudah ada janji pada hari itu,” jawab Bella.
“Aku dan Gandra juga tidak bisa pada hari itu,” jawab Rhean.
“Wah sayang sekali, tapi bukan berarti kita tidak jadi pergi kan, Adelard?” cetus Rein bersemangat.
“Betul sekali. Bagaimana denganmu, Cassie?” balasku. Cassie masih terdiam berpikir sejenak. Aku pun berusaha untuk membujuknya supaya ikut dengan kami.
“Ayo Cassie. Kau juga tidak ada kesibukan, kan?” ajakku. Lantas ia menerima ajakanku dengan senang hati. Sembari berucap, ia juga tersenyum ke arahku.
“Baiklah…”
Sesampainya di asrama, kami pun saling berpisah dan pergi memasuki asrama masing-masing. Cassie telah masuk ke dalam asrama terlebih dahulu. Sementara itu kami semua yang masih berada di luar lalu saling mengacungkan jempol. Aku pun berharap di dalam benakku.
“Semoga semuanya berjalan lancar dan baik-baik saja…”
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)
__ADS_1