Love Exchange

Love Exchange
Episode 171 : Insiden Pertama Berseluncur


__ADS_3

Siang hari di gunung berselimuti salju putih dan berkilauan, para pengunjung yang datang semakin ramai dan tampak ada banyak dari mereka yang berseluncur seraya melakukan pose dan beberapa gaya. Aku yang melihat mereka lantas menjadi iri dan ingin rasanya untuk cepat pandai bermain ski. Aku dan Rein sudah berada di dalam posisi sedia dan siap berseluncur.


“Kau hitung mundur, ya,” ucapku bersemangat.


“Oke!”


“Satu… Dua…”


“Tiga!” Sontak aku menggerakkan diri menggunakan tongkat tersebut dengan kekuatan penuh. Kecepatan awal yang terjadi padaku cukup lambat, berbeda dengan Rein yang sudah berada di depanku.


“Ayo tambah kecepatanmu!” lontarnya. Aku pun mendorong diriku menggunakan tongkat yang berada di genggamanku.


“Aneh, kenapa aku tidak bertambah cepat?” gumamku keheranan dalam hati.


“Mungkin posisiku salah?” lanjutku yang kemudian mencoba berbagai cara untuk mempercepat laju seluncurku, namun apa semua itu tidak berpengaruh banyak.


“Apa mungkin aku harus menggunakan berat badan?” benakku bertanya. Aku membungkukkan diri dan bertumpu berat pada kakiku. Tiba-tiba saja lajuku langsung bertambah cepat. Aku merasa sangat senang seraya bersorak-sorai.


“Rein…! Aku datang…!” seruku. Ia menoleh ke arahku dan ikut merasa senang. Hatiku yang berwarna-warni lantas tidak menyadari bahwa kecepatanku bertambah semakin cepat. Beberapa saat kemudian akhirnya aku mulai mendekati Rein. Ia yang melihatnya sontak menjadi panik dan wajahnya berubah seratus delapan puluh derajat.


“Yuhu…! Aku menyalipmu!” teriakku.


“Adelard! Kau terlalu cepat!” sahut Rein ke arahku yang sudah berada jauh di depan. Sontak aku tersadar lalu menjadi sangat panik.


“Oh tidak! Aku tidak sadar!”


Di lain sisi, Bella dan yang lainnya sedang mengobrol bersama sembari menyaksikanku. Mereka yang melihatku melaju cepat lantas menyorakiku dengan penuh api semangat, padahal aku sedang sangat panik dan berusaha untuk memperlambat diri. Akan tetapi, diriku yang sudah terlanjur panik membuat kepalaku berpikir terlalu berlebihan dan tidak tahu harus berbuat apa. Aku melaju cepat ke arah mereka.


“Awas! Awas!” lontarku namun mereka tidak dapat mendengarnya dengan jelas.


“Wah, kau sudah jago ternyata, ya!” lontar Gavin senang.


“Kau pembelajar cepat!” lanjut Icha. Aku pun berada semakin dekat dengan mereka dan mulai terlihat jelas. Gandra yang melihatku lantas berfirasat tidak baik.


“Sepertinya ada yang tidak beres…” gumamnya.


“Dia tetap melaju kencang,” lanjut Bella. Beberapa detik kemudian mereka semua menjadi panik melihat diriku. Sementara itu, Cassie dan Icha sedang duduk untuk melepas papan ski di kaki mereka.


“Seru juga, ya,” ucap Icha tersenyum pada Cassie.


“Iya, senang rasanya bisa mencoba permainan setahun sekali,” tutur Cassie gembira.


Aku terus melaju kencang menghampiri mereka. Rhean yang ingin menghalangiku lantas ditarik oleh Gavin karena berbahaya. Mereka semua akhirnya menepi dariku namun tidak dengan Icha dan Cassie yang sedang asyik sendiri. Mereka akhirnya beranjak berdiri sembari membersihkan celananya yang penuh dengan salju. Aku yang tidak dapat menghindar terus melaju tepat ke arah Cassie.


“Minggir! Minggir!” seruku namun ia hanya melihat-lihat kebingungan. Aku berusaha untuk mengerem dengan tongkat yang aku tancap ke salju, tetapi tongkat tersebut tertanam dalam lalu terlepas dari tanganku. Aku menjadi kikuk untuk melakukan apa pun. Icha yang berhadapan dengan Cassie lantas melihat diriku yang melaju di belakang Cassie.

__ADS_1


“Cassie, di belakangmu!”


Dengan sigap Cassie langsung menoleh ke arahku lalu terkejut. Aku yang sudah berada tepat di hadapannya lantas berteriak dengan sangat keras.


“Awas…!”


Namun semuanya terlambat. Aku menabrak Cassie dengan cukup keras dan membuat aku tersungkur di atasnya. Ia berbaring di atas salju dengan kepala yang terasa pusing akibat benturan denganku. Untuk saja benturan yang terjadi di kepala tidak sekeras dengan yang terjadi waktu itu. Kami berdua saling memejamkan mata sesaat insiden tersebut terjadi. Akan tetapi, aku merasakan sesuatu yang berbeda.


“Loh? Kok? Bibirku hangat?” benakku kebingungan.


“Mulutku terasa empuk… Apa salju benar-benar seperti ini?” gumam Cassie heran dalam hati.


Teman-temanku yang melihat kami sontak tercengang dan terdiam bagai patung. Para pengunjung yang beralih pandangan ke arah kami seketika terperangah dengan apa yang terjadi.


“A—Adelard… Apa yang kau…” ujar Rein tak percaya.


“A—Apa yang kalian lakukan…?” lanjut Bella gelagapan.


Aku dan Cassie tanpa sepengetahuan masing-masing kemudian membuka mata kami secara bersamaan. Aku langsung terkejut melihat wajah Cassie yang berada tepat di hadapanku, begitu pula dengan Cassie yang tak menyangkanya. Dengan cepat aku langsung beranjak bangun lalu mundur menjauhinya. Suasana menjadi canggung di antara kami berdua.


“M—Maafkan aku!” lontarku dengan penuh rasa bersalah.


“A—Aku juga!”


“K—Kalian baik-baik saja, kan?” tanya Bella khawatir. Mereka bersikap seakan-akan tidak mengetahui kejadian barusan.


“Kepalaku terasa sedikit pusing,” jawab Cassie seraya memegang kepalaku


“Adelard, kau tidak apa-apa?” tanya Rein.


“Aku… baik-baik… saja…” desisku pelan dengan mata terbuka lebar dan pandangan kosong. Aku merasa sesuatu yang berbeda di dadaku. Tubuhku menjadi sangat hangat di tengah hawa yang dingin.


“Apa ini? Kenapa dadaku terasa sesak?” benakku bertanya-tanya. Rein yang sedang berbicara padaku lantas kebingungan dengan diriku yang hanya diam dan tak meresponnya.


“Adelard?” Aku yang barus tersadar sontak terkejut terhadapnya.


“Ah, iya! M—Maaf…”


“Apa kau tidak enak badan?” lanjut Rein cemas.


“A—Aku baik-baik saja.”


Aku dan Cassie dibawa menuju tempat kesehatan yang berada tidak jauh dari sini. Beberapa pengunjung yang melihat kami sebelumnya hanya bisa menyaksikan dengan wajah terperangah. Tidak lama kemudian situasi kembali normal dan kami telah tiba di tempat kesehatan itu. Kami berdua langsung ditangani oleh dokter yang sudah berjaga di sana. Mereka menyaksikan kami dengan penuh rasa khawatir.


“Bagaimana keadaannya, Dok?” tanya Rein.

__ADS_1


“Sepertinya mereka terkena syok akibat kejadian tadi,” jawabnya seraya melepas stetoskop dari telinganya.


“Apakah separah itu?” lanjut Bella semakin cemas. Dokter itu berjalan menuju pintu seraya berkata pada mereka.


“Kita bicara di luar saja, biarkan mereka istirahat sebentar,” ujarnya. Mereka pun mengikuti sang dokter menuju luar ruangan. Setelah semuanya berkumpul, dokter itu menjelaskan apa yang terjadi padaku dan Cassie.


“Tidak ada luka yang terjadi pada mereka. Tapi mereka terlihat seperti merasakan sebuah benturan besar di pikirannya.”


“Boleh kutahu rincian kejadiannya?” imbuhnya. Gandra pun menceritakan peristiwa tersebut tanpa menyebut insiden diriku dan berhadapan dengan Cassie.


“Apa ada dari mereka yang baru pertama kali?” tanya sang dokter.


“Iya, Dok. Adelard baru pertama kali,” jawab Rein.


“Semoga itu bukan menjadi trauma baginya,” balas dokter tersebut.


“Mungkin kurang dari satu jam mereka akan pulih. Aku pergi dulu, ya,” imbuhnya meninggalkan mereka.


“Terima kasih, Dok,” sahut Rein. Setelah itu mereka semua kembali masuk ke dalam ruangan.


“Kalian tidak lanjut bermain?” tanya Rein.


“Apa tidak masalah kalau kita tinggal?” jawab Rhean.


“Tidak apa-apa, aku bisa menjaganya,” balas Rein.


“Baiklah.” Kemudian beberapa dari mereka berjalan meninggalkan ruangan dan lanjut bersenang-senang.


“Beri tahu kami nanti, ya,” ucap Gavin.


“Sip,” balas Rein yang kemudian hanya dia seorang diri yang menjaga kami berdua. Setelah beberapa menit berselang, aku pun terbangun tanpa rasa sakit apa pun yang aku rasakan.


“Di mana aku?”


“Di ruang kesehatan,” jawab Rein tersenyum.


“Wuah… Yang lain?”


“Berseluncur di luar.” Pada saat yang bersamaan Cassie pun juga terbangun lalu beranjak duduk seraya meregangkan tangannya. Akan tetapi, dadaku kembali terasa sesak setelah melihat dirinya. Aku juga merasa sangat canggung terhadapnya. Aku bertanya-tanya di dalam kepalaku.


“Kenapa tiba-tiba seperti ini lagi?”


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)

__ADS_1


__ADS_2