
Pagi hari kala semua lantunan alam menyambut kedatangan kami di aula sekolah. Bunga-bunga, pernak-pernik, beragam tulisan, menjadi keindahan tersendiri dalam pandangan mata yang menyentuh kalbu. Berpakaian rapi nan gagah, warna hitam yang elegan, terlihat memenuhi lingkungan sekolah bersama sepatu pantofel dan dasi yang dikenakan.
Bersama teman-temanku, kami melangkah perlahan sembari memandang sekitar yang mengiringi momen berharga yang dinanti-nantikan.
Tertawa senang tak lepas dari wajah kami semua, walaupun berselang kemudian beberapa dari kami tertunduk haru.
“Tak terasa sudah berakhir…” gumam Rein.
“Benar… Buku yang kita tulis selama setahun sudah hampir menuju halaman terakhir…” balas Bella.
“Boleh juga kata-katamu,” sahut Gavin. Cassie menunduk sedih di sepanjang jalan ia melangkah. Aku pun mencoba untuk menghiburnya.
“Jangan khawatir. Semua akhir adalah awal kisah lainnya…” ujarku tersenyum.
“Apa kisah itu masih mempertemukan kita?” tutur Cassie menatapku sendu.
“Pasti. Kita akan terus bersama, tak kira sejauh jarah memisahkan,” balasku.
“Betul! Sama-sama kita ikat erat tali yang sudah tersambung,” lanjut Icha.
“Aku tidak begitu mengerti dengan kalian,” sahut Gavin kebingungan.
Beberapa langkah terakhir sebelum masuk ke dalam aula, kami berhenti untuk mengisi buku kehadiran beserta mengenakan pita jas yang berbentuk bunga. “Lucu sekali!” lontar Bella.
“Berapa lama mereka membuat sebanyak ini?” gumam Rhean.
“Silakan masuk,” tutur panitia dengan wajah menyeringai.
Kami menempati tempat duduk yang saling bersebelahan. Terdapat banyak wali murid yang sudah memenuhi tempat duduk di sisi seberang. Terbayang sejenak di benakku ketika orang tuaku datang pada saat seperti ini. Hanya senyuman dan wajah berseri yang tampak pada semua orang.
“Kau sedang memikirkan apa, kawanku?” tanya Gavin di sampingku.
“Hanya membayangkan orang tuaku yang berada di tempat ini…” balasku. Ia menyimakku seraya memandang para murid dan wali mereka bersama.
“Aku sangat menantikan wajah bahagia mereka,” imbuhku.
“Kau akan mendapat gilirianmu,” lanjut Gavin.
“Tahun depan…” gumamku.
“Kita sudah melewati hampir setahun dengan cepat, pasti kita juga akan merasakannya secepat mungkin,” papar Gavin.
“Waw, tumben sekali kau bilang begitu,” celetukku tergelitik tawa.
“Terima kasih atas pujianmu,” balasnya.
Di sisi lain, Cassie kembali tertunduk sedih seorang diri. Lantas Rein mencoba untuk mengiring suasana kembali.
“Kau tampak bahagia, Cassie…”
“Iya… Tapi… apakah kita…”
“Kau masih mencemaskan itu?” tanya Rein yang kemudian Cassie mengangguk padanya.
“Cassie, lihat kemari.” Ia pun mengangkat wajahnya.
“Apa kau tak ingat kalau aku dan Gavin tinggal di daratan yang sama denganmu?”
“I—Ingat…”
“Apa kau mau mendengarkan janjiku?”
“J—Janji?”
“Iya! Aku berjanji untuk menemuimu di sana nanti.”
“T—Tapi… Bagaimana yang lain…?”
“Kita bisa terus bertemu,” jawab Rein seraya menunjukkan ponselnya. Cassie terdiam singkat menatap Rein.
“Kau bersedia menyimpan janjiku?”
“Y—Ya!” tutur Cassie. Akhirnya bunga menjadi mekar di tengah wajahnya.
“Itulah yang ingin aku lihat. Mulai sekarang, jangan kau bersedih lagi,” balas Rein senang.
“Terima kasih!”
Semua orang menempati tempat duduk dan suasana menjadi tenang. Acara wisuda pun dimulai dengan segala sambutan dan pertunjukkan. Rasa takjub tercurahkan dalam berbagai bentuk. Adakala seisi ruangan bergemuruh dan khidmat. Sampaikan di mana beberapa murid yang terpilih harus naik ke atas podium lalu menyampaikan kata-kata. Tak kusangka, namaku dan Cassie terdengar jelas di tengah kerumunan.
“Setelah kita mendengar sambutan dari siswa terbaik di angkatan tahun ini, sekarang saatnya siswa terbaik dari program pertukaran pelajar mendapat gilirannya!”
“Adelard Lavient dan Cassie Elaina!”
__ADS_1
Kami berdua sontak terkejut bersamaan dengan tepuk tangan yang berdengung. Saat berada di atas podium, aku terlebih dulu menyampaikannya.
“Langit yang cerah dan hari indah, izinkan aku mengucapkan beberapa selamat kepada kita semua. Yang pertama, selamat pagi.”
Pikiranku seketika kosong lantaran tak ada persiapan apa pun untuk hal seperti ini.
“Aku harus bilang apa lagi…?” gumamku dalam hati. Pada saat itu juga aku melihat teman-temanku yang tersenyum bahagia.
“Sekian lama waktu kita lalui, sungguh tak terasa kita bisa berada di titik sekarang. Berawal dari sosok baru seperti kertas kosong, kini penuh ragam cerita di dalamnya. Semula berdiri sendiri, sekarang kita sudah bisa memahami arti kebersamaan.”
“Saya sangat berterima kasih dengan segala sosok yang telah memandu langkahku sampai saat ini. Para guru, yang sudah banyak membimbing, serta teman-teman yang selalu mengiringiku dalam situasi apa pun. Berbagai pengalaman berharga kudapat berkat kalian semua.”
“Sekarang, dunia sudah menyambut kita menuju langkah berikutnya. Beragam manis pahit di dalamnya akan semakin kita rasakan. Salah satunya adalah ‘perpisahan’.”
“Perpisahan yang akan kita temui, bukanlah akhir dari semua jalan yang sudah kita lalui bersama. Perbedaan jalan yang kita tempuh, tak berarti memutuskan ikatan yang sudah terhubung. Saat kita sampai di tujuan masing-masing, ingatlah kalau kita pernah melangkah bersama di jalan yang sama.”
“Segala penghargaan telah kita dapatkan dalam semua bentuk, termasuk memori yang tercipta bersama-sama, yang akan selalu tertanam jauh di dalam hati kita.”
“Ku ucapkan selamat untuk kita semua. Semua harapan terbaik ku panjatkan untuk kita semua.”
“Terima kasih sudah menjadi sosok yang bersejarah di hidupku. Terima kasih sudah mengajarkan banyak makna. Terima kasih.”
Suara tepuk tangan dan sorak-sorai seketika meramaikan suasana bahagia dan haru yang melebur jadi satu. Air mata menetes tanpa sadar di antara mereka. Kini saatnya Cassie memberikan kata-kata kepada para hadirin. Ia menjadi sangat gugup dan gemetaran. Tidak banyak yang ia sampaikan.
“A—Aku juga ingin menambahkan… kalau segala jalan yang sudah kita langkah… adalah jalan terbaik untuk kita…”
“S—Selamat… T—Terima kasih…”
Semua orang kembali membisingkan satu ruangan besar tersebut ketika kami berjalan kembali ke tempat duduk. Semua temanku meluncurkan beragam pujian kepada kami berdua.
“Kami sampai tersentuh!”
“Kalian yang terbaik!”
Kegiatan terus berlanjut hingga acara penutup. Saat acara berakhir, semua orang beranjak lalu berkumpul bersama kawan atau orang tua mereka. Seluruh hadirin memanfaatkan kesempatan untuk mengabadikan hari yang luar biasa ini, berikut pula kami yang berkumpul di depan podium. Seraya berpose, dengah penuh bangga kami menunjukkan medali kelulusan ke kamera.
“Sekarang ayo kita foto di luar!” lontar Bella bersemangat.
Saat berada di luar, kami kembali mengambil foto bersama sembari melempat pita bunga tersebut setinggi-tingginya.
Waktu berangsur-angsur melarut. Satu per satu orang mulai meninggalkan aula dan sekitarnya. Kebanyakan dari mereka menggunakan waktu yang tersisa untuk berkumpul dan bersenang-senang bersama. Kami tidak memiliki banyak waktu sebelum akhirnya berangkat pulang menuju daratan masing-masing esok lusa.
~
“Apa?”
“Apa kita benar-benar begini saja pada mereka?”
“Maksudmu?” balas Rein keheranan.
“Adelard dan Gavin.”
“Hmm… Sepertinya begitu…”
“Tapi bagaimana mereka—“
“Sshh! Ku yakin kita akan bertemu dengan mereka lagi,” potong Rein. “Sekalipun mereka pacaran aku tidak masalah dengan itu,” imbuhnya.
“Berarti status kita…”
“Ayolah… Hanya pacaran, kau bisa putus di mana dan kapan saja,” cetus Rein.
“Baiklah…”
\~\~\~
Hari yang hangat mengiringi kami yang baru saja tiba. Berjalan bersama-sama dengan troli yang penuh barang bawaan kami masing-masing.
“Tak disangka kalau jadwal berangkat kita berdekatan,” ucapku.
“Aku juga berpikir begitu,” sahut Bella.
“Oh iya, tidak ada yang ketinggalan lagi, kan?” tanya Rein pada Gavin.
“Kalau punyaku sih sudah. Aku mana tahu barangmu,” jawab Gavin.
“Tapi ada satu hal yang aku pertanyakan,” lanjut Icha.
“Ada apa?” balasku.
“Ada orang yang ingin liburan ke pulau musim panas sepertinya,” jawab Icha menyindir Rhean yang mengenakan pakaian musim panas.
“B—Benar juga, sih… Dia terlihat sangat mencolok,” ujarku pringas-pringis.
__ADS_1
“Sejak kapan Rhean punya baju seperti itu?” tutur Cassie penasaran.
“Oh, aku memang membawanya sejak awal,” jawab Rhean.
“Kau datang ke sini berniat senang-senang, ya,” sahut Bella menepuk jidat.
“Kalian ribut sekali padahal hanya masalah pakaian,” cetus Gandra.
“Iyalah! Lihatlah! Baju bunga-bunga itu membuat menarik perhatian orang-orang,” ujar Icha.
Hingga tiba di dalam bandara, kami mengobrol bersama hingga mendekati jadwal keberangkatan masing-masing.
“Jangan lupa untuk selalu pantau grup, ya!” lontar Rhean.
“Kita juga bisa melakukan panggilan video nanti,” sahut Rein. Kemudian terdengar suara perut dari seseorang.
“Ups… Maaf, teman-teman…” ujar Bella cengar-cengir.
“Tenang, aku ada roti kopi untuk kita semua,” balas Gavin.
“Sejak kapan kau bawa roti?” tanya Rein.
“Barusan.” Betapa jengkelnya Rein saat mengetahui kalau roti tersebut adalah miliknya yang diambil oleh Gavin.
“Itu punyaku!”
“Tapi untuk kita semua, kan?” lanjut Gavin.
“Benar, sih…”
“Ya sudah kalau begitu.” Semua orang mengambil roti satu per satu, bahkan di hari seperti ini pun kami masih bersikap seperti biasanya.
“Kalian tidak pernah berubah…” gumamku dalam hati.
Datanglah saat-saat terakhir kami bersama. Terdengar suara pengumuman untuk melakukan boarding pass.
“Kami sudah dipanggil,” ucapku.
“Kita foto-foto dulu!” lontar Bella.
Pada akhirnya kami mengambil foto bersama sebanyak beberapa kali.
“Sepertinya galeri ponselku akan penuh dengan foto kita semua,” celetuk Gavin.
“Setiap momen harus kita abadikan,” balas Rein.
“Benar sekali!” sahut Icha.
“Bahkan momen biasa sekalipun?” lanjut Gavin.
“Momen biasa saat ini akan menjadi luar biasa di kemudian hari,” jawab Rein.
Setelah mengambil foto, kami semua saling berpelukan sebelum akhirnya saling melambaikan tangan. Masing-masing kami mengarah pada terminal yang berbeda. Pengumuman juga sudah memanggil masing-masing keberangkatan kami. Tetes air mata dan tangisan haru tak lepas dari kami semua.
“Sampai jumpa!” lontarku dan Cassie.
“Dadah semua!” teriak Gandra dan Icha.
“Dadah!” seru Rhean dan Bella.
“Selamat tinggal!” sahut Rein dan Gavin.
Akhirnya kami semua saling melangkah jauh ke arah terminal masing-masing. Setiap langkah mulai memisahkan kami semua. Batinku berucap pada mereka semua. Entah mereka dapat mendengarku atau tidak.
“Apa arti kalian semua bagiku?”
“Sangat sulit untuk ku ungkapkan dengan kata-kata…”
“Ketika kalian melangkah, tolong ingat apa yang ku katakan…”
“Ku percaya pada semua yang sudah kita capai bersama…”
“Aku tahu hari ini akan datang…”
“Aku tahu bahwa waktu sangat cepat berlalu…”
“Tapi semua yang kalian ajarkan padaku…”
“Semua waktu yang kita habiskan bersama, akan selalu tertanam di ingatanku yang terdalam…”
“Kumohon jangan katakan ‘selamat tinggal’, cukup katakan ‘kita akan bertemu lagi di lain waktu’…”
Bersambung~
__ADS_1
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)