Love Exchange

Love Exchange
Episode 122 : Perasaan dan Hubungan


__ADS_3

Suara rerantingan dan angin pagi yang masuk melewati lubang udara menyadarkanku untuk terbangun dari istirahat malam nan  nyenyak. Kami semua mengawali hari seperti biasa. Aku berangkat bersama teman-temanku menuju sekolah beriringan dengan para murid lainnya. Pada hari pertama di pekan ini tentu saja membuat kami membicarakan kegiatan selama akhir pekan kemarin.


“Huft… Kenapa libur terasa cepat sekali?” gumam Rhean yang tampak kurang semangat.


“Benar, perasaanku kita baru saja masuk sekolah kemarin, eh, sudah sekolah lagi saja,” sahut Icha.


“Mau hari sekolah atau hari libur menurutku sama saja,” lanjut Gavin yang terduduk di atas kursi roda yang aku dorong.


“Oh iya, ya. Kakimu belum kunjung pulih,” ucap Bella.


“Semoga kau bisa berjalan lagi seperti sedia kala,” tutur Cassie dan membuat Gavin senang.


“Terima kasih! Kuharap tidak lama lagi aku sudah bisa berjalan,” balasnya tersenyum.


Sesampainya di sekolah kami memasuki ruang kelas kami masing-masing. Tidak lama waktu berselang, bel pun berdentang dan kami bersiap untuk memulai pelajaran pertama. Pak Edwin memasuki kelas lalu membuka pembelajaran pada pertemuan kali ini. Seisi ruangan terdiam tenang mendengarkan penjelasan darinya. Berbeda dengan guru-guru lainnya, hanya saat pelajarannyalah kami tidak banyak bertingkah dan berisik.


Ia menjelaskan materi seraya menunjukkan beberapa alat yang telah dibawanya dari ruang lab fisika. Hingga ketika jam pelajaran tidak lama lagi akan berganti, ia menyampaikan beberapa hal kepada kami.


“Kalian telah menduduki kelas dua belas. Mulai sekarang, fokuslah untuk ujian yang akan kalian hadapi.” Kelas menjadi hening dengan kami terduduk diam dan tegap. Suasana yang sunyi membuat kami dapat mendengar suara desiran angin pelan yang melewati celah-celah jendela.


“Pekan depan akan diadakan ujian harian. Belajarlah yang giat.”


“Baik, Pak!” sahut kami serentak. Tak lama kemudian akhirnya Pak Edwin keluar dari kelas dan kami memasuki jam pelajaran berikutnya. Kami mengikuti kegiatan belajar seperti biasa hingga jam istirahat tiba. Gandra menghampiriku dengan sebuah buku catatan yang dipegangnya.


“Kau ingin ke kantin?” tanya Gandra kepadaku.


“Mungkin kali ini tidak dulu. Aku ingin pergi ke perpustakaan,” jawabku.


“Pas sekali, ayo kita ke sana bersama-sama,” lanjutnya tersenyum.


“Baiklah, ayo,” balasku.


Sesampainya di perpustakaan, aku sedikit terkejut dengan ruangannya yang sangat besar melebihi perpustakaan di sekolahku dahulu. Kami berdua langsung pergi menuju pusat layanan perpustakaan yang berada tidak jauh dari pintu masuk. Aku ingin meminjam beberapa buku untuk belajar mempersiapkan diri saat pekan ujian nanti, hal yang sama juga dilakukan oleh Gandra.


“Oh, kalau kalian mencari buku-buku pelajaran dan pembahasan ujian ada di sisi kanan perpustaakan.”


“Baiklah kalau begitu, terima kasih banyak,” balasku kepada pelayan tersebut.


“Maaf, aku hampir lupa. Bisa beri tahu nama kalian? Aku sedang melakukan pendataan pengunjung.” Lalu kami berdua mengenalkan nama kami kepadanya.


“Aku Aruna Gandera.” Pelayan itu lantas mengetikkan namanya ke komputer. Aku menunggu hingga giliranku mengenalkan namaku.


“Dan kau Adelard, kan?” ujarnya sontak membuatku terkejut mendengarnya.


“E—Eh? Kau mengenalku?” tanyaku terheran-heran.


“Iya, aku sering mendengar namamu.”


“Wah, kau sangat terkenal, ya,” cetus Gandra ke arahku. Kemudian ia menanyakan nama lengkapku. Setelah semunya selesai, kami berpisah dengan pelayan tersebut dan melanjutkan pergi menuju lemari yang dituju. Selama melangkahkan kaki, aku masih terpukau dengan lemari-lemari yang menjulang tinggi hingga ke langit-langit. Lantas Gandra menunjuk ke arah sebuah lemari.

__ADS_1


“Sepertinya di sebalah sana.” Aku pun pergi mengikutinya. Setibanya di lemari tersebut aku melihat berbagai jenis buku pelajaran, baik tebal atau tipis. Aku menemukan buku yang aku cari, tetapi buku tersebut berada jauh di atas.


“Tinggi sekali…” gumamku. Pada saat yang bersamaan Gandra menarik tangga geser lalu menaikinya. Aku yang menolehnya lantas tersadar.


“Oh iya, aku baru ingat kalau ada tangga geser.” Kami mengambil beberapa buku pelajaran. Beberapa buku telah tertumpuk tebal di atas tanganku.


“Kau ingin membaca di sini?” ajakku.


“Boleh saja, ayo kita ke ruang baca.” Ketika berjalan, terlihat sesosok perempuan yang tengah terduduk membaca buku seorang diri. Saat berusaha melihatnya dengan jelas, ternyata perempuan itu adalah Cassie. Cassie yang mendengar suara langkah kaki lantas menoleh ke arahku.


“Adelard?”


“Hai, Cassie. Sedang belajar juga?” Cassie mengganguk lalu menanyakan pertanyaan serupa kepadaku.


“Kau juga?”


“Iya, aku juga bersama Gan— Eh? Loh, kemana dia pergi?” Tiba-tiba saja Gandra menghilang dari pandanganku dan Cassie.


“Gandra? Aku hanya melihatmu sendiri sejak tadi,” tuturnya.


“Apa dia ada urusan mendadak?” gumamku kebingungan. “Ya sudahlah, boleh aku duduk di sini?” lanjutku.


“I—Iya, silakan…”


Aku pun menempati tempat duduk yang berada di hadapannya. Salah satu buku pelajaran aku buka lalu membacanya. Tidak ada orang lain di dalam ruangan selain kami berdua saja. Dengan tenang, aku membalikkan halaman demi halaman. Aku merasa nyaman berada di sini, namun lain halnya dengan Cassie yang merasa canggung dan tidak tahu harus berbuat apa.


“Rein? Oh, dia sedang berkumpul dengan teman-temannya.”


“Bagaimana denganmu? Kau tidak mengajak Gavin?” lanjut tanyaku. Cassie yang mendengarnya sontak terkejut dan gelagapan.


“E—Eh? Eee… Aku tidak mengajaknya…” tuturnya seraya tertunduk malu. Aku yang melihatnya menjadi kalang kabut dan merasa bersalah.


“O—Oh, t—tidak apa-apa! Maaf…”


“T—Tidak masalah! Aku juga minta maaf…”


“Minta maaf untuk apa?” tanyaku kebingungan.


“Me—Me—Membuatmu… merasa bersalah…?” Ia mengayunkan kedua tangannya di hadapanku dengan wajahnya yang merah merona. Aku yang melihatnya sontak tergelitik tawa. Ekspresi yang ditunjukkan Cassie membuatku tidak bisa menahannya.


“Maaf… Wajahmu lucu sekali,” celetukku. Perkataanku barusan lekas membuat Cassie tersipu malu setengah mati. Tak lama kemudian ia kembali tersenyum kepadaku.


“Aku senang bisa melihatmu gembira.” Terlintas di benakku sebuah pertanyaan yang ingin ku tanyakan kepadanya.


“Apa ada orang yang kau sukai sekarang?” tanyaku secara tiba-tiba dan sekilas suasana menjadi hening terdiam. Cassie hanya tercengang kaget dan tidak dapat berkata apa-apa.


“M—Maaf kalau aku bertanya seperti ini mendadak. Kau tidak perlu menjawabnya,” ucapku gelagapan. Dengan kepalanya yang tertunduk, ia menjawabnya dengan pelan.


“Ada seseorang yang aku suka…” Aku yang mendengarnya sedikit terkejut namun merasa senang di saat yang bersamaan.

__ADS_1


“Tapi aku tidak tahu apakah dia memiliki yang rasa yang sama kepadaku atau tidak…” lanjutnya.


“Aku tidak tahu orang yang kau maksud sama atau tidak denganku. Tapi ada seseorang yang suka kepadamu,” sahutku.


“S—Siapa…?”


“Maaf, aku tidak bisa memberitahumu,” jawabku. “Tapi kau mungkin akan segera mengetahuinya.” Cassie hanya duduk termenung diam tanpa kata-kata.


“Kau tidak ingin mengungkapkan perasaanmu?” lanjut tanyaku.


“Aku malu… Aku takut pertemanan kita putus. Aku tidak ingin itu…”


“Kita? Maksudnya dia dengan orang itu, kan?” benakku bertanya-tanya.


“Yah… Itu bisa jadi salah satu konsekuensinya, sih,” ucapku. Kemudian aku kembali bertanya kepada dirinya.


“Tapi, bagaimana kalau teman dekatmu mengungkapkan perasaannya kepadamu? Apa kau menerimanya?”


“A—Aku tidak bisa menjawabnya!” lontar Cassie kalang kabut.


“M—Maaf! Tapi, apa kau mau mendengar pendapatku?” Ia mengangguk lagi ke arahku.


“Kalau aku tergantung. Tapi jika dirasa cocok, mungkin aku bisa menerimanya walau hanya untuk menambah pengalaman,” paparku.


“Jadi kau berpacaran sekarang hanya untuk itu?” tanya Cassie penasaran.


“Untuk saat ini aku berpikir seperti itu.”


“Mungkin kau juga bisa melakukan sepertiku. Tidak masalah, kan?” imbuhku.


“Meskipun aku tidak ada rasa sekali pun?”


“Menurutku selama kau menerimanya dan merasa baik-baik saja, itu tidak masalah.” Cassie kembali terdiam sembari membolak-balikkan halaman bukunya.


“Yah… Hitung-hitung menikmati masa muda, bukan?” ujarku tersenyum.


“Tapi aku ingin dengan orang yang aku suka.”


“Jika itu maumu, aku akan terus mendukungmu,” balasku seraya menyemangatinya.


“Terima kasih…”


“Sama-sama. Aku tidak keberatan kalau kau ingin menceritakannya kepadaku.” Pada saat itu pula aku mengharapkan sesuatu di dalam kepalaku.


“Semoga kau membuka perasaanmu untuk Gavin…”


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)

__ADS_1


__ADS_2