
Cuaca cerah menyambut kedatangan kami dengan hangat di tengah dinginnya suasana. Tidak lama setelah kami meletakkan barang bawaan ke vila, kami melanjutkan perjalanan menuju tempat ski yang berada tidak jauh dari tempat penginapan. Kami menaiki sebuah bus kecil yang melayani rute di daerah tersebut. Selama perjalanan, kami banyak mengabadikan panorama pegunungan yang berhampar luas dengan kilauan pasir putih.
“Entah mengapa pemandangan di sini lebih indah dari tempat yang pernah ku kunjungi sebelumnya,” gumam Rein senang.
“Cuaca hari ini memang sangat mendukung,” sahut Bella.
“Padahal kemarin-kemarin badai besar menghantam daratan ini,” lanjut Rhean.
“Bahkan disebut badai terburuk selama satu dekade terakhir,” balas Gavin.
“Benarkah? Kurasa tidak terlalu berbeda dengan badai biasa,” ujar Icha kebingungan.
“Bagaimana kita merasakannya? Kita saja hanya berdiam di dalam asrama,” cetus Gandra.
“Oh iya benar juga…” tandas Icha pelan.
“Berarti semakin besar badai menerjang, semakin besar pula pelangi yang membentang,” ucap Gavin berlagak sok bijak.
“Kesimpulan yang benar tapi agak kurang bagus kata-katanya,” sahut Bella.
“Lalu mau bagaimana lagi? Aku bukan penulis,” balas Gavin.
“Aku juga tidak tahu… Hehe…” lanjut Bella cengar-cengir.
“Kalian terlalu asyik membahas pelangi atau apalah itu… Kita sudah sampai, lho…” celetukku yang sudah berada di pintu bus yang sudah terbuka.
“Oh? Sudah sampai? Cepat juga ternyata,” sahut Rhean.
“Kan memang dekat, Pak,” balasku datar.
Mereka akhirnya satu per satu berjalan keluar dari bus. Saat Cassie melangkah menuruni bus, tiba-tiba saja kakinya tergelincir. Aku yang berada di hadapannya sontak langsung menangkapnya. Untung saja tidak ada yang terluka. Gavin dan Rein yang melihat merasa sedikit jengkel terhadap apa yang terjadi pada kami berdua.
“Hati-hati licin,” ucapku pada Cassie.
“Maaf,” balasnya.
“Ekhem,” dengus Rein kepada kami. Setelah itu kami melanjutkan langkah kami menuju tempat ski itu.
Sepanjang melewati jalan setapak, terlihat ada kereta gantung dari kejauhan. Kami harus berjalan selama beberapa menit menuju stasiun kereta gantung itu. Jalan yang kami lewati sedikit licin sehingga kami harus melangkah dengan penuh hati-hari. Cassie yang ketakutan lantas Gavin dengan sigap memegang tangannya dan membantunya melangkah. Rein yang melihat mereka sontak ingin melakukan yang sama denganku, namun aku tidak mengetahui apa pun tentang itu. Seketika saja aku terpeleset dengan kaki yang terbuka.
“Apa terdengar suara celana robek?” tanyaku yang kemudian mengecek celanaku.
“Tidak, mungkin itu suara sepatumu,” balas Rhean.
“Huft… Untung saja celanaku tidak robek,” hembusku lega.
“Kita jalan pelan-pelan saja,” ucap Rein sembari menjulurkan tangannya ke arahku. Aku pun langsung meraihnya lalu kami saling bergandengan tangan.
__ADS_1
“Aduh… Harus ada insiden dulu baru bisa peka,” celetuk Gandra pelan.
“Insiden apa?” tanyaku kebingungan.
“Bukan apa-apa,” jawabnya.
“Kukira kau sudah belajar banyak dengan buku itu,” ujar Rhean kepadaku.
“Hah? Pikiranku kosong mendengar pembicaraan kalian,” ujarku terheran-heran dan jengkel terhadap mereka.
“Lupakan saja, sekarang saatnya bersenang-senang,” sahut Gavin seraya berjalan bersama Cassie melewati kami. Beberapa detik kemudian ia berhenti melangkah lalu berbicara kepadaku.
“Mungkin kau unggul dalam pelajaran sekolah, tapi kali ini aku akan mengunggulimu…” ungkapnya pelan. Aku menjadi kebingungan dan tampak seperti anak kecil memikirkan hal ini. Kemudian kami terus berjalan hingga akhirnya tiba di stasiun itu. Secara berpasangan kami naik kereta gantung tersebut secara bergiliran. Aku bersama Rein berdampingan naik kereta itu.
“Agak mengerikan juga, ya…” gumamku pelan.
“Kau belum pernah naik kereta gantung seperti ini?” tanya Rein tak habis pikir.
“Belum. Aku hanya pernah naik kereta gantung yang beratap, bukan bangku taman diikat seperti ini,” balasku.
“Bangku taman, ya,” lanjutnya.
“Benar, kan?”
“Yah, benar sih.”
“Kau benar-benar tidak tahu apa pun, ya,” cetus Rein tersenyum.
“Yah, begitulah…” balasku.
Setelah itu kami semua melanjutkan perjalanan menuju puncak dengan menaiki kereta gantung lagi. Sesampainya di puncak kami semua berkumpul lalu melakukan pemanasan. Aku yang sudah memakai papan ski menjadi kesulitan untuk melangkah. Pada suatu ketika aku tidak dapat menyeimbangkan tubuhku dan membuatku tersungkur ke tumpukan salju tebal itu. Aku mengangkat wajahku yang sudah dipenuhi oleh pasir putih.
“Hahaha! Kau seperti badut!” lontar Bella tertawa terbahak-bahak. Semua orang terhibur melihat diriku.
“Kita belum mulai dan kau sudah begini,” sahut Rein
“Awal yang baik,” celetuk Gandra.
“Ayo kita mulai pemanasan,” lanjut Gavin pada kami semua. Ia pun memimpin pemanasan itu dan kami mengikuti gerakannya.
Hari telah memasuki waktu siang namun hawa dingin tetap saja berusaha menusuk kulit dari berbagai arah. Semua orang sudah siap untuk berseluncur di jalur yang membentang lurus dan menurun ke bawah. Aku yang melihatnya seketika menjadi ketakutan dan khayalanku memandang lintasan tersebut menjadi sangat curam. Tanpa sadar tubuhku gemetaran seketika.
“Kau tidak apa-apa, kan?” tanya Rein.
“A—Aku melihat kalian saja dari sini…” jawabku gelagapan.
“Tenang saja, turunan di sini landai, kok,” balasnya menenangkanku.
__ADS_1
“T—Tapi kalau aku jatuh bagaimana?” lanjutku gelisah.
“Kalau jatuh ya jatuh,” ujarnya. Aku menjadi semakin takut mendengar perkataannya.
“A—Aku tidak mau jatuh…” gumamku pelan.
“Kalau begitu, bagaimana kalau kita belajar dari tingkat paling mudah dulu?” ucap Rein.
“Tapi belajar di mana?” tanyaku kebingungan.
“Di sana ada jalur menurun yang sangat landai dan tidak terlalu panjang,” jawabnya seraya menunjuk arah tempat itu.
“Bagaimana? Tidak akan tahu kalau tidak mencobanya, kan?” imbuhnya.
“B—Baiklah…” balasku.
Teman-temanku sudah bersenang-senang dengan berseluncur kencang ke bawah lintasan, sementara aku bersama Rein pergi menuju lintasan pendek yang berada tidak jauh dari tempat awal kami berdiri. Sesampainya di sana tampak banyak anak-anak yang sedang belajar cara bermain ski sama sepertiku. Aku tidak melihat orang seusiaku yang juga belajar di sana.
“Anak-anak semua, ya…” gumamku.
“Habisnya kau tidak mau langsung belajar di lintasan tadi,” balas Rein.
Aku pun diajarkan oleh Rein cara dasar untuk berseluncur menggunakan papan ski. Ia memeragakan postur tubuh saat sedang berseluncur. Ia juga mengajarkanku cara menggunakan tongkat ski. Aku belajar banyak darinya dan satu per satu aku mulai mempraktikkannya. Aku hanya bisa berjalan pelan tidak seperti yang lainnya.
“Setidaknya kau sudah bisa bergerak!” lontar Rein senang. Aku pun mencoba mengerem dengan tongkat namun tak kunjung berhenti. Hingga akhirnya papan ski yang kupakai tiba-tiba tersangkut pada salju lalu membuatku terjatuh.
“Aduh!”
“Itu juga bisa digunakan untuk berhenti,” balas Rein seraya tertawa kecil.
“Aku tidak ingin seperti itu!” lontarku jengkel.
Satu jam telah aku habiskan untuk belajar ski. Aku sudah mulai bisa berseluncur dengan kecepatan sedang lalu mengeremnya dengan papan ski di kakiku meskipun pada akhirnya aku tidak dapat menyeimbangkan tubuh dan terjatuh. Rein menghampiriku dengan cepat dan merasa senang dengan kemampuanku sekarang.
“Wah, kau sudah bisa melakukannya!”
“Tenang saja, aku juga sering terjatuh sesaat setelah berhenti,” imbuhnya.
Kami pun pergi menuju lintasan awal yang kami kunjungi pertama kali. Terlihat dari atas teman-temanku yang berseluncur menuruni lintasan seraya berbelok ke kanan dan ke kiri, jauh berbeda denganku yang hanya bisa lurus ke depan. Setelah tiba di bawah, secara tidak sengaja mereka melihat aku dan Rein dari kejauhan. Aku pun melambaikan tangan ke arah mereka. Sebelum meluncur, Rein bertanya kepadaku dengan posisi siap.
“Kau sudah siap?” Lantas aku menjawabnya dengan penuh percaya diri dan bersemangat.
“Aku siap!”
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)
__ADS_1