Love Exchange

Love Exchange
Episode 143 : Sandiwara Penuh Air Mata


__ADS_3

Sepulang sekolah seperti biasa kami berjalan menuju asrama bersama-sama. Terlihat keramaian orang-orang yang menikmati hari terakhir sekolah di pekan ini, sementara itu kami tidak memiliki rencana apa pun hingga saat ini. Selama melangkahkan kaki, mereka saling mengbrol terkecuali aku dan Rein. Aku yang ingin sekali ikut serta dalam obrolan tersebut harus menahan diri supaya tidak mengacaukan sikapku kepada Rein. Tampak Rein berjalan di sebelahku dengan kepala tertunduk.


“Kau tidak apa-apa, Rein?” tanya Bella, namun Rein tidak menjawabnya. Gavin, Gandra, dan Rhean hanya tersenyum melihatnya.


“Kalau ada sesuatu, jangan sungkan untuk menceritakannya kepada kami,” sahut Icha dari belakangnya.


“Ti—Tidak apa-apa…” jawab Rein gugup. Ia tampak sangat berbeda dari biasanya. Sontak Rhean memiliki ide dan berbisik kepada Gandra dan Gavin. Mereka pun melaksanakan ide tersebut. Rhean meminum gelas miliknya dan dengan sengaja tersandung ke arah Gavin. Minuman tersebut tumpah dan membasahi pakaian Gavin. Seketika Gavin marah kepada Rhean.


“Apa yang kau lakukan?” lontarnya.


“Maaf, aku tidak sengaja!” balas Rhean gelagapan.


“Jangan pernah mendekatiku lagi!” gerutu Gavin kemudian memalingkan wajahnya. Rhean yang mendengarnya mendadak terdiam dan tertunduk seperti Rein. Bella, Icha, dan Cassie seketika menjadi kebingungan dengan keributan yang terjadi.


“E—Eh? Kenapa dengan kalian?” tanya Bella tak khawatir.


“Ti—Tidak, aku baik-baik saja…” jawab Rhean gugup.


“Wajahmu menunjukkan kalau kau sedang tidak baik-baik saja,” sahut Icha.


“Tolong biarkan aku dulu…” balas Rhean. Gandra pun menghampirinya lalu berucap kepadanya.


“Tidak salah untuk merenung perbuatan. Tapi jangan sampai berlarut-larut…” ujarnya tersenyum.


“Tapi, bagaimana kalau dia membenciku?” tanya Rhean.


“Setidaknya kau sudah berusaha untuk berbaikan padanya, kan? Kau tidak bisa memaksa kehendaknya sendiri. Jika memang itu hasilnya, lebih baik kau menerimanya dengan lapang dada,” papar Gandra dan terdengar jelas olehku dan Rein.


“Entah kenapa tiba-tiba aku merasa sangat berdosa pada Rein…” gumamku cemas dalam hati.


“Wah, ada orang bijak lagi ceramah,” celetuk Bella tersenyum.


“Tapi ada benarnya juga, sih,” sahut Icha. Lalu Rhean berjalan menghampiri Gavin yang masih berwajah datar sama sepertiku.


“Aku sungguh minta maaf!” lontar Rhean seraya membungkuk ke arah Gavin. Gavin pun terhenti dan menarik perhatian kami semua. Aku dan Rein menoleh ke arah mereka.


“Kita masih berteman, kan?” tanya Rhean tergugu-gugu. Seketika Gavin tersenyum kepadanya.

__ADS_1


“Tentu, maaf sudah membuatmu gelisah seperti itu,” ucapnya. Mereka semua yang menyaksikannya lekas merasa senang, tetapi tidak denganku yang masih memasang wajah dingin dan Rein yang masih ketakutan terhadapku.


“Nah gitu dong! Semuanya berteman dan bisa saling tertawa bersama!” seru Icha ceria. Aku yang melihatnya merasa tersinggung oleh mereka. Hatiku sangat tersentuh oleh kejadian barusan.


“Jadi itu rencana kalian…” benakku sembari tersenyum. Bella yang menoleh ke arahku sontak terkejut.


“Adelard tersenyum!” lontarnya. Seketika aku memalingkan wajah dan melanjutkan langkahku meninggalkan mereka. Rein yang mendengarnya tersentak kaget dan langsung menengok ke arahku, tetapi aku sudah menjauhinya. Sembari berjalan aku merasa risau dan kebingungan.


“Apa yang harus ku lakukan sekarang?” batinku.


Tiba-tiba saja Rein berlari dan langsung memelukku dari belakang. Aku terdiam kaget akibat ulahnya. Wajahku terperangah dengan mulut dan kedua mata yang terbuka lebar. Untung saja tidak aja yang melihatku dari depan. Lekas aku memegang tangan Rein yang masih memelukku dengan perlahan. Tangan Rein yang gemetaran membuaku merasa iba.


“Maafkan aku! Selama ini aku tidak bisa membuatmu tersenyum! Aku hanya perempuan bodoh yang sok dewasa tanpa memikirkanmu!” seru Rein menyesal. Kami yang tengah berada di tengah kompleks sontak menarik perhatian banyak orang di sekitar. Tanpa sadar aku meneteskan air mata dan ke tangannya. Rein yang merasakannya sontak terkejut lalu menangis sejadi-jadinya di punggungku. Baju seragamku menjadi basah karenanya.


“Maaf… Beri aku waktu…” ucapku pelan. Rein melepaskan pelukannya dan aku berjalan meninggalkan mereka. Sementara itu, teman-temanku hanya terdiam tak habis pikir melihat kami berdua. Rein berjalan sendirian menuju asrama meninggalkan mereka di belakang. Cassie pun berniat untuk berlari menghampirinya, namun dihentikan oleh Gavin.


“Jangan dulu…” ucap Gavin sembari menggeleng-gelengkan kepala ke arah Cassie. Cassie merasa sangat cemas dengan Rein yang berjalan dengan wajahnya yang masih bersedih. Gavin menghela napas dengan kejadian barusan.


“Padahal kan cuman akting. Kenapa jadi serius begini?” gumam Gavin.


“A—Aku hanya melantur, jangan dipikirkan,” jawabnya cengar-cengir.


“Akting?” tanya Cassie kebingungan.


“Eee… Tadi kami bertiga hanya akting… Hehe…” sahut Rhean pringas-pringis.


“Jadi tadi itu rencana kalian?” tanya Icha.


“Iya…” jawab Gavin.


“Bagus! Kuharap mereka baik-baik saja…” lontar Bella senang.


“Tapi, apa yang terjadi dengan mereka berdua?” lanjut Cassie terheran-heran. Gandra pun menceritakan hal yang sebenarnya terjadi.


“Oh begitu…” gumam Icha.


“Yah… Adelard memang terlihat lebih keren dengan seperti itu… Tapi…” balas Bella khawatir.

__ADS_1


“Tak kusangka orang seperti Adelard bisa menjadi seperti itu,” celetuk Rhean tertawa.


“Iya, ia tampak sangat lucu berakting seperti itu. Apalagi Adelard yang kita kenal selama ini hanya orang yang polos seperti anak kecil,” celetuk Gavin. Pada saat yang bersamaan Bella memikirkan sebuah ide.


“Bagaimana kalau kita bersenang-senang besok?” usul Bella.


“Bersenang-senang? Ke mana?” tanya Gavin kebingungan.


“Hmm… Seingatku taman air di kota sedang ada potongan harga tiket masuk. Ingin ke sana?” lanjut Icha.


“Wah, ide bagus!” lontar Rhean bersemangat.


“Mungkin dengan itu bisa mendinginkan kepala mereka,” cetus Gandra.


“Sudah diputuskan! Nanti kita beri tahu Adelard dan Rein,” ucap Bella.


“Oke!” sahut mereka serentak.


Di sisi lain, aku yang telah berada di asrama hanya berdiam diri di ruang tengah sembari menonton televisi dari atas sofa. Aku masih merasa terpukul dengan kejadian tadi. Rasa bersalahku semakin memuncak namun aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku sangat kesal dengan diriku sendiri.


“Apa ku sudahi saja sandiwara ini?” gumamku.


Aku yang sudah tidak sanggup menahan amarah sontak memukul meja dengan sangat keras. Tanpa sepengetahuanku ternyata Rein sudah berada di asrama dengan kenop pintu yang masih dipegangnya. Ia hanya terdiam ketakutan melihat diriku yang tampak seperti lepas kendali. Aku yang melihatnya dan baru tersadar sontak terkejut lalu bergegas menuju kamar.


“D—Dia melihatnya?” benakku tak percaya. Aku pun warawiri di dalam kamar dengan penuh rasa panik. Kemudian aku melompat menuju kasur dan menutup kepalaku dengan bantal.


“Adelard bodoh!” desisku menyesal.


Aku mengulang kata-kata tersebut berkali-kali. Tanpa aku sadari ternyata bantal dan kasurku sudah basah dengan tangisan air mata yang mengucur dari kedua mataku. Air yang terkuras dari kedua mata membuatku haus. Aku pun berjalan keluar dari kamar dan pada saat yang bersamaan tampak Rein yang juga keluar dari kamarnya. Terlihat di wajahnya bekas tangisan, begitu pula dengan diriku. Aku berusaha untuk tetap memasang wajah datarku. Seketika Rein berlari dan lagi-lagi memelukku dengan erat. Ia kembali menangis dan aku juga  ikut memeluknya.


“Kau tidak membenciku, kan?” tanya Rein bersedu-sedu. Aku pun membalasnya dengan nada pelan.


“Tentu saja tidak…”


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)

__ADS_1


__ADS_2