Love Exchange

Love Exchange
Episode 56 : Semasa Berjalan Riang


__ADS_3

Langit kelabu menyelimuti cakrawala yang membasuh embun di jendela-jendela mobil. Perjalanan yang cukup panjang ini membuat semangat kami menggebu-gebu serasa seperti petualangan remaja. Walaupun dengan cuaca dan musim yang kurang bersahabat, tetapi rintangan tersebut justru membuat kami semakin tertantang dan menikmatinya.


Selama perjalanan menuju Gunung Vitlessia yang akan memakan waktu puluhan jam, jarang ditemui kendaraan-kendaraan lain yang melintas selain kami. Meskipun begitu kendaraan akan semakin ramai seiring kami mengarah ke selatan. Gunung Vitlessia adalah gunung tertinggi di daratan ini di antara pegunungan yang ada di sekitarnya. Letaknya yang ada di bagian selatan membuatnya memiliki iklim lebih hangat daripada kota Snitheria yang berada di bagian utara.


“Sepertinya banyak juga yang pergi menuju ke sana,” ucap Freda sembari melihat keluar terdapat beberapa mobil yang mengarah sama dengan kami.


“Wah, sepertinya kita tidak akan kesepian di sana,” balas Hart senang dan sudah tidak sabar.


“Berapa lama kira-kira kita akan sampai?” tanyaku penasaran.


“Mungkin sekitar dua puluh jam waktu perjalanan, belum termasuk istirahat,” sahut jawab Eledarn. Sontak aku terkejut mendengarnya. “Lama sekali.” Sebelumnya aku mengira bahwa waktu perjalanan hanya akan menghabiskan beberapa jam saja.


“Sepertinya kita akan menginap dulu saat malam nanti,” tutur Freda. Kemudian pembicaraan kami selesai dan terdiam sembari melihat pemandangan di luar. Lantas Hart mengusulkan sebuah ide agar perjalanan kali ini tidak membosankan.


“Bagaimana kalau kita putar lagu dan bernyanyi bersama?” usul Hart sembari menyalakan radio mobil. “Tentu saja,” sahut Freda bersemangat.


Suasana yang cukup sepi sebelumnya seketika menjadi cair dan hangat. Kami pun bernyanyi bersama sekaligus mengobrol kembali seperti biasa. Namun Freda yang terlalu bersemangat sehingga membuatku sesak dibuatnya.


“Aktif sekali kau ini. Kesambar apa kau?” tanyaku sedikit sebal padanya.


“Ayolah, mari bersenang-senang!” lontar Freda bersemangat lalu disambut sorak-sorai dari teman-temanku yang lain.


Namun tidak begitu dengan Cassie yang duduk tenang sembari menyandarkan kepalanya ke jendela memandangi alam hijau nan indah. Aku yang juga tidak ingin menghabiskan energiku juga tidak ingin banyak melakukan tingkah yang terlalu berlebihan. Waktu-waktu di dalam mobil aku habis dengan menikmati keindahan alam yang ditawarkan. Aku mencoba menegur Freda agar tidak terlalu banyak tingkah.

__ADS_1


“Kita habiskan saja waktu di mobil untuk istirahat. Supaya kita lebih bersemanat ketika sudah sampai nanti,” ujarku kepadanya.


Namun ia tidak menggubrisnya dan tetap melanjutkan perangainya bersama Eledarn dan Milard. Sementara itu Hart dan Emery sedang asik mengobrol di kursi depan.


Benar saja, selang beberapa waktu kemudian suasana seketika senyap dan orang-orang tertidur. Aku, Emery, dan Hart masih asyik mengobrol sekaligus menemani Hart yang sedang mengendarai mobil ini.


“Sejak kapan kau memiliki surat mengemudi?” tanyaku penasaran kepada Hart.


“Baru beberapa bulan yang lalu. Tepat hari ulang tahunku besoknya aku langsung berlatih dan mengambil surat izin ini,” jawabnya tenang.


“Kau hebat sekali, Hart,” puji Emery takjub padanya. Sontak Hart menjadi berdelusi kegirangan. Lantas aku menjadi ketakutan lantaran dirinya yang kurang fokus memerhatikan jalan.


“Hart! Perhatikan jalan!” tegasku menyadarkannya. Emery juga terbawa suasana dan menjadi panik. Untung saja Hart lekas sadar dari khayalan senonohnya.


“Ayo kita istirahat dulu,” usulku kepada Hart.


“Betul. Kau istirahat dulu saja,” lanjut cakap Emery kepadanya. Hart pun menyetujuinya. Kami juga tidak ingin terlalu membebankan Hart yang hanya ia satu-satunya orang yang dapat mengendarai mobil di antara kami semua. Lagi pula sudah sepatutnya untuk beristirahat setelah beberapa jam berjalan.


Waktu telah menunjukkan tengah hari menuju petang. Hart pun memakirkan kendaraannya di tempat peristirahatan. Tampak tidak begitu banyak mobil seperti hari-hari biasa. Hart dan Emery pergi mendahuluiku menuju restoran yang tersedia di sana. Sementara itu aku masih menunggu di mobil sembari mencoba membangunkan mereka.


“Uwah… Di mana kita sekarang?” tanya Freda lantas menguap masih belum sadar seutuhnya. Begitu pula dengan yang lainnya. Sontak aku terpesona dengan raut wajah Cassie yang baru bangun dari tidurnya. Setelah semua terbangun aku mengajaknya menuju restoran untuk makan siang yang di sana sudah ada Hart dan Emery lebih dulu.


Tidak banyak pembahasan yang kami bicarakan selagi makan. Selepas makan orang-orang berpencar. Para perempuan pergi menuju toko swalayan untuk membeli camilan dan air minum untuk perbekalan selama perjalanan nanti. Sedangkan aku dan Hart beristirahat di gerai kopi sementara Eledarn dan Milard pergi berkeliling di

__ADS_1


sekitaran tempat peristirahatan.


Aku dan Hart menikmati kopi yang disuguhkan seraya menghangatkan diri. Beberapa obrolan juga tak lepas kami bicarakan. Tidak terasa satu jam telah kami habiskan untuk beristirahat dan kami pun siap untuk berangkat kembali sebelum gelap.


“Ayo kembali ke mobil,” ajakku kepada Hart. Teman-temanku telah menunggu kami di sana. Akhirnya kami pun beranjak dari tempat peristirahatan melanjutkan kembali perjalanan yang baru setengahnya. Selang beberapa jam kemudian kami memutuskan untuk mencari tempat penginapan untuk bermalam.


“Ayo kita menginap di sana!” gagas Freda sembari menunjuk penginapan yang berbasis rumah itu.


Kami pun tidak berargumen banyak karena rasa suntuk sudah menghantui kami. Akhirnya kami berhenti di sana dan memesan kamar untuk bermalam. Lantaran kamar-kamar yang luas kami hanya memesan dua kamar untuk memisahkan laki-laki dan perempuan.


Setelah menaruh barang bawaan kami pun lekas tidur dan beristirahat. Namun sebelum itu kami semua berjanji untuk tidak berulah yang aneh-aneh semalaman ini.


“Awas saja kalau kalian mengintip kami, ya!” tutur Freda mengancam kami. “Iya, iya,” sahutku tidak memerhatikannya.


Lalu kami pergi ke kamar masing-masing. Namun perasaan tidak enak muncul di benakku melihat Hart dan Eledarn yang saling berbisik seperti merencanakan sesuatu.


“Apa lagi yang mereka rencanakan?” batinku sedikit geram. Tetapi aku tidak mementingkannya dan memilih untuk segera tidur.


“Terserah mereka sajalah… Lebih baik aku tidur saja,” gumamku.


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)

__ADS_1


__ADS_2