
Cakrawala benderang nila, awan-awan tipis beserta angin yang berhembus halus menggoyangkan dedaunan dan tanaman sawah, dan sinar kirana cerah nan terik menghangatkan kota kecil ini bak daerah tropis sekalipun di tengah musim dingin di semenanjung daratan empat musim ini.
Aku dan Milard yang baru saja beranjak pergi dari rumah gubuk itu diberhentikan oleh seorang kakek tua dan mengejutkannya dengan ucapannya yang terlontar dari mulutnya.
“Aku bisa mengajarkan kalian,” Sontak kami berdua dibuatnya kaget.
“Benarkah?” tanya Milard tidak percaya. Lantas kakek itu mengambil pedang besi tajam dan melemparkannya tepat ke sampingku. Bulu kuduk kami langsung berdiri merinding.
“A—Ap—Apa tidak apa-apa?” lanjut tanyaku ketakutan.
“Aku yang memaksa kalian. Jadi tidak usah sungkan,” ucap kakek. Aku dan Milard kemudian hanya menurutinya sembari bergemetar gelisah.
“Tidak usah takut. Aku tadi hanya bercada, kok,” lontarnya tersenyum cengengesan. Aku tidak habis pikir dengan arah pemikirannya. “Melempar pedang itu dikiranya lelucon?” Aku hampir mati tahu!” batinku. Setelah kami berkumpul kakek itu bertanya kepada kami.
“Jadi, kalian berdua ikut pertandingan itu?”
“Tidak, Kek. Hanya Adelard saja. Aku tidak ikut,” jawab Milard cemas. Akibat kejadian tadi membuatku lupa untuk mengenalkan diri.
“Oh iya. Perkenalkan namaku Adelard. Dan ini temanku, Milard.”
“Salam kenal. Namaku Wymer,” balas kakek itu.
“Jadul sekali namanya,” gumamku dalam hati.
“Baiklah kalau begitu. Aku tetap akan mengajarkan kalian berdua cara menggunakan pedang. Anggap saja sebagai latihan bela diri,” jelas Wymer. Kami berdua membalas dengan menggangguk senyum.
“Sebelum itu, aku ingin menunjukkannya kepada kalian,” ujarnya dengan gagah meskipun kulit dan penampilannya tak lagi menunjukkan hal serupa.
__ADS_1
Ia pun memperlihatkan kelihaiannya mengayunkan pedang. Fisiknya yang sudah tidak bersahabat namun tidak membuatnya kehilangan semangat masa mudanya. Keahliannya menunjukkan dirinya seperti
prajurit kerajaan yang tangguh. Sampai akhirnya ia menunjukkan segala disiplin yang diketahuinya.
“Walaupun hampir berkepala tujuh, tapi kepandaian tanganku tidak pernah berubah.”
Selama pertunjukkannya kami tidak habis dengan ketakjuban padanya. Kemudian kami memuji keahliannya itu.
“Wah, Kakek hebat sekali,” puji Milard terkesima.
“Jangan memanggilku Kakek. Panggil namaku saja,” balasnya.
“Baiklah, mohon kerja samanya, Wymer,” ucapku tersenyum padanya.
“Kalau begitu kita akan bertarung, supaya aku bisa mengenal cara kalian menggunakan pedang. Ambillah pedang kayu ini.” Kemudian kami mulai bertarung dua lawan satu dengan Wymer.
Aku dan Milard berlari menyerang Wymer, tetapi semua serangan kami mampu ditangkis olehnya. Ia belum menyerang kami sama sekali. Sampai akhirnya ia melancarkan gilirannya.
“Baiklah, sekarang giliranku!” teriaknya berkobar-kobar. Lantas kami berdua lumpuh seketika hanya dengan satu kali serangan. Ayunan pedang yang kuat tidak mampu kami tahan dan akhirnya kami terjatuh ke tanah. Baru beberapa menit saja sudah membuat kami terengah-engah kelelahan.
“Aku sudah mengenali pedang kalian. Sekarang waktunya berlatih! Aku akan mengajarkan kalian beberapa teknik yang cukup mudah untuk kalian ikuti. Jika kalian mampu dalam waktu singkat, aku akan menambahkan tingkat kesulitannya,” urai Wymer langsung menarik kami latihan meskipun napas belum beraturan.
“Ayo tunjukkan sikap laki-laki kalian!” cetus Wymer memancing semangat kami.
“Huft… Huft… Baiklah!” sahutku membenarkan alur pernapasan dengan api yang berkobar-kobar.
Hanya dalam waktu satu jam kami berhasil memperlajari teknik dasar yang diajarkannya. Dengan demikian Wymer pun menaikkan tingkat kesulitan dari teknik yang akan kami pelajari selanjutnya.
__ADS_1
“Kalau begitu sekarang kita akan masuk ke tingkatan menengah,” ucapnya. Aku yang akan mengikuti pertandingan bertarung tidak boleh membiarkan api ini padam. “Sip! Ayo kita lanjutkan!” Namun berbeda dengan Milard yang tampak penat dan meminta waktu untuk beristirahat sejenak. Lalu Wymer mengizinkannya kemudian aku dan Wymer melanjutkan berlatih berdua.
“Sekarang aku akan memperlihatkan teknik Ictospetum,” tutur Wymer kemudian menunjukkan teknik tersebut. Aku yang tidak mengerti nama yang disebutnya barusan lantas bertanya kepadanya.
“Iktos—Apa itu?”
“Ictospetum adalah nama untuk teknik menghindari serangan dengan melangkah ke belakang atau ke sisi lawan, kemudian melakukan serangan balik ke lawan,” jelasnya seraya memberikan contoh.
Setelah itu aku pun mencoba teknik yang ku amati barusan. Milard yang sudah selesai beristirahat kemudian kembali bergabung dengan kami. Lalu latihan kami dilanjutkan sampai matahari menyingsing dari atap cakrawala. Hari pun mulai menjelang sore.
“Terima kasih banyak sudak mengajarkan kami ilmu yang belum tentu akan kami dapatkan lagi,” ucapku menunduk bersama dengan Milard kepada Wymer. Lantas Wymer membalasnya dengan bercanda.
“Jangan sedramatis itu. Kalian bisa mengunjungiku kapan saja.”
“Ayo kita berangkat ke arena,” imbuhnya lagi mengajak kami.
“Eh? Kau ikut juga?” tanya Milard kebingungan.
“Tentu saja. Aku ingin melihat kecakapan muridku dalam bertarung nanti. Lagi pula acara dua kali setahun tidak mungkin ku lewatkan,” jawabnya.
Kemudian kami pergi menuju arena bertarung bersama. Selama perjalanan aku menyiapkan diri untuk percaya diri dan semangat yang berkobar. Dengan tangguh aku meyakinkan diriku sendiri.
“Aku harus menunjukkan hasil terbaikku nanti!”
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)
__ADS_1