
Parasan mentari mengumpat indah di balik relung pegunungan. Lengkung cantik rembulan mulai tampak bersinar putih di atas awan-awan. Corak violet merona terlukis elegan pada kain angkasa. Bintang-bintang gemerlapan memadati ruang semesta. Tidak seperti di kota-kota di mana kilauan benda langit sudah tak terlihat dengan jelas.
Lampu-lampu tradisional dan lentera penerangan mulai menyala satu demi satu. Aku seorang diri berjalan tanpa ditemani kawan-kawanku. Bersama para prajurit aku hanya berjalan mengikutinya dengan penuh rasa takut. Kemudian aku bertanya kepada salah satu dari mereka.
“Kenapa hanya aku yang dipanggil?” tanyaku gemetaran .
“Maaf, tuan. Kami tidak bisa berbicara sebelum tiba di sana,” jawabnya gagah sembari menunduk hormat. Aku yang tidak tahu harus berbuat apa-apa menjadi tontonan orang-orang. Walaupun kejadian seperti ini pernah aku alami saat di sekolah waktu lalu, tetapi suasana yang ku rasakan saat ini lebih membuatku malu setengah mati. Aku berjalan menunduk sembari menutup-nutupi wajahku.
“Itu kan anak yang menang pertandingan tadi sore.”
“Anak sombong itu ditangkap?”
“Apakah dia seorang penyusup?”
Segala ocehan dan ujaran tercampak ke arahku. Hal tersebut menusuk sanubari dan membuatku sakit hati. Aku yang terus menahan sudah tidak tahan lagi dengan itu semua dan hampir membuatku gila. Selama perjalanan aku hanya tertelungkup ketakutan dengan segala bayangan yang mengerinkan terus terputar di kepalaku.
“A—Apa kesalahanku?” lirihku meneteskan air mata penuh penyesalan. Tidak lama kemudian seorang pemimpin prajurit melihatku tersiksa lantas menghentikan langkah kami semua.
“Berhenti!” lontarnya. Sontak semua prajurit berhenti dan kebingungan, termasuk diriku.
“Ada apa, ketua?” tanya salah seorang dari mereka kepada pemimpin prajurit itu. Lalu pemimpin prajurit itu datang menghampiriku dan menjulurkan sebuah perdang kepadaku.
“Pegang ini, dan berjalanlah dengan tegak,” ujarnya tegas menasehatiku. Aku yang masih gemetaran melihat posturnya yang amat besar dan gagah lalu mengambil pedang tersebut darinya. Namun karena pedang itu cukup berat sehingga aku kesusahan untuk mengangkatnya.
“Apa kau ingin dihina terus?” cetusnya bertanya seraya menatapku tajam. Seketika aku menjadi kehabisan kata-kata dan mulutku sulit untuk berucap.
“T—Tidak,” jawabku terbata-bata.
“Kalau begitu turutilah ucapanku,” sahutnya bernada bulat.
“B—B—Baik!” balasku.
Setelah itu kami melanjutkan langkah kaki dengan diriku yang tengah memegang pedang sambil berusaha bersikap tegap. Aku yang menahan rasa gugup lantas membuat keringatku mengalir deras di sekujur tubuhku. Pakaianku menjadi basah kuyup seperti terkena rintihan hujan. Namun buah bibir orang-orang masih saja berucap tak sedap tentangku meskipun sudah tak separah tadi. Akhirnya dari kejauhan sudah tampak sebuah rumah yang cukup megah dari seluruh bangungan di kota ini.
__ADS_1
Sesampainya di gerbang rumah tersebut para prajurit berhenti mengawal diriku. Lalu aku melanjutkan menuju rumah itu bersama pemimpin prajurit saja. Terdapat halaman depan yang luas antara tempat kediaman dengan pintu gerbangnya. Taman-taman yang tersusun rapih dan air mancur yang terukir indah membuatku terkesima sampai-sampai aku lupa bahwa masih ada pedang di genggamanku.
“Wah, besar sekali,” pujiku ternganga takjub. Sang pemimpin prajurit melihatku berhenti melangkah dan mengingatkanku.
“Ekhem. Kau sudah terbiasa dengan pedangku, ya?” Sontak aku pun tersadar akan hal itu.
“Oh iya, aku lupa. Maaf, ini ku kembalikan padamu,” ucapku seraya mengulurkan pedang kepadanya. Kemudian ia menerima pedang tersebut dariku. Aku yang sudah merasa terbantu kemudian berterimah kasih kepada dirinya.
“Terima kasih banyak.”
“Urusan kau belum selesai, ayo bergegaslah ke dalam!” tuturnya tegas kepadaku. Seketika aku terkejut dan menjadi takut kembali terhadapnya. Lalu aku berjalan mengikutinya dari belakang.
“B—Baiklah…” ucapku menunduk berawai.
Sesampainya di dalam kami langsung disambut oleh beberapa pelayan muda yang tampan dan cantik. Aku juga takjub dengan interior ruangan yang sangat rapih dan sederhana namun berkesan mewah. Tak lama kemudian pemimpin kota turun dari tangga tengah dan datang menghampiri kami berdua. Lantas pemimpin prajurit yang menemaniku langsung berlutut hormat kepadanya, tetapi aku tidak sadar dan hanya berdiri kebingungan.
“Turunkan kepalamu!” bisiknya tepat di sebelahku seraya mendorong kepalaku ke bawah. Lekas aku terkejut dan panik sendiri lalu ikut berlutut hormat seperti dia. Sang pemimpin kota itu hanya bisa tersenyum menahan tawa melihat perangaiku yang kocar-kacir.
“Maaf, tuan,” tutur pemimpin prajurit itu.
“Perkenalkan namaku Thudric, pemimpin di kota ini,” ucapnya sembari berjalan mendekatiku.
“N—Namaku Adelard Lavient. Salam kenal, tuan,” cakapku gugup.
“Biasa saja. Anggap aku seperti temanmu,” sahutnya cengengesan.
“B—Baik, tuan— Eh… Thudric…” lanjut ucapku. Thudric hanya tertawa kecil ke arahku. “Kalian berdua sudah saling berkenalan?” lanjut imbuhnya bertanya kepadaku.
“Belum, tuan,” jawab pemimpin prajurit itu. “Namaku Foucher.”
“Salam kenal,” sahutku tersenyum kepadanya. Kemudian aku bertanya kepada Thudric.
“Lalu, ada apa aku diundang ke sini?” tanyaku pelan kepadanya.
__ADS_1
“Oh iya. Malam ini adalah malam pawai yang selalu di adakan setiap penghujung tahun. Pawai di mulai dari kediaman ini dan terus melewati jalan utama dan Pasar Merah. Aku membawamu ke sini karena kau adalah ‘pahlawan’ baru di kota ini,” jelasnya.
“Aku jadi merasa tidak enak dengan Reynaud,” gumamku pelan, tetapi Thudric sepertinya mendengar ucapku barusan.
“Tenang saja. Aku yakin ia akan menerimanya,” sahutnya tersenyum kepadaku. “Baiklah kalau begitu, bersiap-siaplah di ruangan yang akan ditunjukkan pelayanku,” lanjutnya. Aku membalas dengan menganggukkan kepadaku ke arahnya.
Seorang pelayan perempuan memanduku menuju ruangan yang dimaksud. Rumah yang cukup besar ini membuatku terkesima lantaran ada banyak lorong dan ruangan yang entah apa fungsinya. Sampai akhirnya aku masuk ke dalam suatu ruangan dan di sana sudah di sediakan satu pakaian lengkap untukku.
“Silahkan, tuan,” hembusnya lembut. Aku yang masih melihat sekeliling ruangan ternganga kagum. Tanpa sadar pelayan itu membuka kancing bajuku dan sontak aku terkejut melihatnya.
“E—Eh? Apa yang sedang kau lakukan?” tanyaku kaget lantas membuatnya ikut terkejut dan ketakutan.
“M—Maaf, tuan! Aku membantumu mengganti pakaian,” jawabnya gugup. Seketika aku menjadi malu setengah mati terhadapnya.
“Ti—Tidak usah! Aku bisa melakukannya sendiri,” ucapku gelagapan kepadanya. “Baik, tuan. Aku akan menunggumu di luar,” balasnya kemudian pergi keluar dari ruangan. Lalu aku segera mengganti pakaianku. Namun aku kebingungan dengan pakaian yang tidak familiar denganku.
“Bagaimana cara memakainya?” batinku kebingunan.
Pakaian yang disediakan merupakan jubah berlapis-lapis bersamaan dengan kain dan pernak-pernik mengikutinya. Aku yang tidak mengerti sama sekali tidak enak memanggil pelayan tersebut untuk membatuku karena aku hanya memakai ****** *****. Dengan percaya diri aku mengenakannya dengan asal. Kemudian aku keluar dari ruangan, tetapi pelayan itu tiba-tiba syok melihat pakaian yang dikenakanku.
“M—Maaf, tuan, aku bisa membantumu membetulkannya.”
“Tidak usah… Hehe… Ayo kita langsung bertemu Thudric!” lontarku cengar-cengir, tetapi pelayan tersebut menolak.
“Tidak bisa, tuan! Tuan Thudric memerintahkanku untuk memastikan pakaian yang Anda gunakan benar,” balasnya berusaha mengelakku dengan sopan. Aku tidak bisa berbuat apa-apa.
“B—Baiklah…” cakapku pelan.
Lalu aku melepas semua pakaianku lalu mengulangnya lagi dari awal. Dengan penuh rasa malu aku menahan dari tangannya yang menyentuh dan mengarahkanku dengan benar. Aku merasa sangat hina dan penuh berdosa. Pikiranku yang amburadul membuatku ingin pingsan.
“Sudah dua kali auratku diperlihatkan seperti ini…” gumamku dalam hati dengan penuh penyesalan.
Bersambung~
__ADS_1
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)