
Langit yang berawan mendampingiku saat datang menuju ruang klub basket. Hari ini kami diizinkan dari pembelajaran sekolah selama seharian penuh untuk mengikuti lomba ini. Saat aku memasuki ruangan nampak orang-orang yang bersemangat dan bersiap-siap sebelum berangkat ke tempat pertandingan.
“Oh, kau yang menggantikan Hart, ya?” tanya teman sekelasku.
“Iya.” jawabku kepadanya. “Oh iya, Mil. Maukah berlatih bersama sebentar?” tambahku mengajaknya. “Baiklah.” balasnya dan kami pun keluar dari ruangan menuju lapangan dengan bola basket di tanganku. Saat kami berada di pintu ada seseorang yang berteriak dari dalam.
“Milard! Kau jadi ketua tim, ya!” serunya dari dalam ruangan. “Iya!” balasnya juga berteriak.
Kami pun berlatih bersama. Milard mengajarkanku beberapa teknik dasar dalam basket. Sebelumnya aku hanya mengetahui bahwa memainkannya hanya cukup dipantul-pantulkan lalu dilempar. Gerakannya yang gesit dan cepat membuatku terpukau dengan aksinya.
“Wah, hebat sekali.” pujiku sambil ternganga kepadanya.
“Terima kasih.” balasnya tersenyum. “Semoga kau bisa bermain sehebat Hart.” tambahnya. “Hart sangat pandai bermain basket, ya?” tanyaku penasaran. “Iya. Dia adalah panutan kami semua.” jawabnya sambil memantulkan bola tersebut.
“Baiklah kalau begitu, akan kuusahakan yang terbaik!” ucapku dengan lantang dan penuh semangat.
__ADS_1
Setelah itu kami semua berangkat menuju tempat pertandingan yang berada di kota tetangga menggunakan bus. Terpampang jelas tulisan selamat datang saat kami tiba. Lomba basket tingkat nasional tertulis di papan besar itu. Sebelum pertandingan dilaksanakan, kami semua menghadiri upacara pembukaan lomba.
“Dengan begitu, Perlombaan Basket Tingkat Nasional tahun ini saya buka.”
Sontak tepuk tangan meriah menghiasi atmosfer seantero gedung. Tim-tim yang menjadi peserta juga tidak kalah semangatnya dengan para pendukungnya. Berbagai yel-yel mulai terlontar untuk saling membakar api yang menggelora. Selepas upacara selesai, klub sekolah kami bertanding di pertandingan pertama melawan tua rumah. Kami pun bersiap-siap di ruang ganti.
“Kau jadi pemain inti, ya.” ucap Milard mendadak kepadaku. Aku sempat terkejut setelah mendengarnya. “Kupercayakan padamu.” tutur Milard dengan serius dan bersemangat lalu kami saling bertepuk tangan. Selama pertandingan nanti aku diposisikan menjadi pemain tengah atau center.
Pertandingan pun dimulai. Aku yang tidak terlalu pandai bermain basket diposisikan pemain yang tugasnya cukup kompleks. Aku berusaha dengan keras agar timku dapat mencetak skor dan menjaga dari serangan lawan. Sepertinya pertandingan awal ini tidak terlalu sulit mungkin karena masih babak penyisihan.
“Siapa anak baru itu?” teriak pelatih tim lawan dengan jengkel. Kami yang sedang bertanding serius tidak menanggapinya. Namun sepertinya teriakannya terdengar seruangan besar ini. Untung saja skor kami unggul jauh dari lawan. Pertandingan berakhir dengan kedudukan kami sebagai pemenang.
“Siapa anak norak itu?” tanya salah seorang dari mereka dengan jengkel. “Dia pemain yang menggantikan Hart.” ucap Milard tenang. “Bisa-bisanya orang hebat itu digantikan dengan anak sombong ini.” Suasana semakin panas dan runyam. Aku hanya terdiam dan tidak tahu harus berkata apa.
“Oi, anak sombong. Jangan sok pendiam kau!” lontar salah satu dari mereka.
__ADS_1
“Ma—Maaf aku tidak ada maksud menyinggung kalian sama sekali.” ucapku sembari menunduk gugup bermohon, tetapi api panas tidak kunjung padam.
“Sudah hentikan! Apa salahnya ia menggantikan Hart? Lagi pula ia tidak sombong sama sekali kepada kalian. Apa yang kalian inginkan?” tegas Milard.
“Kami ingin mengajak kalian tanding. Suatu saat akan kami beri pelajaran pada anak sombong itu!” sahut mereka.
Tak lama kemudian beberapa panitia datang dan berusaha melerai kami semua. Mereka pun pergi meninggalkan kami. Namun beberapa dari mereka masih kekeh untuk terus meladeni kami.
“Awas kau, anak sombong!” teriaknya.
Untung saja perselisihan kami dileraikan oleh panitia. Akhirnya kami diperintahkan untuk segera meninggalkan lapangan karena akan digunakan kembali dipertandingan selanjutnya. Kami pun pulang kembali kesekolah dengan senang dan gembira.
“Tenang saja, Adelard. Mereka hanya orang-orang yang iri.” ucap Milard menenangkanku. Namun tetap saja rasa bersalah selalu terpikirkan olehku walaupun tidak tahu apa yang telah ku perbuat. Pertanyaan tersebut selalu menghantui kepalaku dengan penuh gelisah.
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
__ADS_1
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)