Love Exchange

Love Exchange
Episode 164 : Sakit Dahulu, Senang Kemudian


__ADS_3

Mentari cerah yang menyilaukan mata terlihat jelas dipandanganku dengan hamparan hijau dan bunga-bunga yang bermekaran. Terdapat sebuah tempat beratapkan kayu di tengah-tengah hamparan tersebut. Ternyata aku kembali berada di tempat yang pernah aku alami sebelumnya. Tidak lama kemudian terlihat seorang perempuan yang sama seperti waktu itu. Aku yang masih kebingungan dengan maksud semua ini lantas bertanya kepadanya.


“Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa kau?”


“Aku adalah seseorang yang hadir untukmu…”


“Aku tidak mengerti,” balasku.


“Kalau kau sudah mengerti maka hal seperti ini tak akan terjadi…” Aku yang mendengarnya lantas menjadi semakin kebingungan dengan perkataannya.


“Hah? Maksudmu? Aku akan mengerti jika kau mengatakan dengan jelas.”


“Aku tidak ingin kau menjadi orang yang tak kukenal…”


“Apa aku melakukan sesuatu yang salah?” Seketika saja ia menoleh ke arahku dengan wajahnya yang murka serta terdengar suara sosok lain dengan nada rendah mengikuti perkataannya secara bersamaan.


“Kau sudah salah sejak awal!”


“Kau sudah beralih sejak awal!”


“Kau sudah menjauhiku sejak awal!”


Aku langsung berjalan mundur darinya dengan penuh ketakutan. Ia terus berjalan menghampiriku dengan perlahan dan pada saat itu aku menyadari bahwa aku pernah melihatnya di tempat lain, namun dengan sikap yang jauh berbanding terbalik dari yang kulihat sekarang. Tiba-tiba saja hamparan tersebut mengering dan bunga-bunga sontak berguguran dan berwarna hitam pekat. Tercium bau sangat busuk dan membuatku mual.


“Saat waktu itu tiba, kau akan merasakan penyesalan yang belum pernah kau rasakan sebelumnya!”


Pada saat yang bersamaan pandanganku menjadi kabur dan hanya terlihat padangan putih. Kepalaku menjadi sangat sakit dan telingaku berdengung. Aku langsung tersentak bangun. Ternyata baru saja aku bermimpi dan terlelap dari tidur. Teman-temanku menjadi sangat khawatir melihatku yang langsung mengangkat kepalaku dan duduk. Rasa mual yang masih terasa sontak membuatku ingin mengeluarkannya.


“Cepat ambil kantung plastik!” lontar Rein dan Icha bergegas mengambil kantung tersebut di dapur.


Setelah itu ia memberikan kepada Rein lalu menadahkannya di mulutku. Beberapa detik kemudian aku mengeluarkan isi perutku ke dalam kantung tersebut. Wajahku dan tubuhku masih terlihat pucat dan lesu. Aku meminum air putih sebelum akhirnya berbaring kembali dengan keringat dingin di wajahku. Rein mengelap wajahku dengan handuk kecil. Ia juga mengecek suhu tubuhku lagi.


“Masih belum turun…” gumamnya pelan.


“Apa yang terjadi padamu barusan hingga terkejut seperti itu?” tanya Gandra penasaran.


“Mimpi buruk…” jawabku pelan. Bella dan yang lainnya akhirnya tiba dengan sekantung obat dan minuman kesehatan. Aku beranjak duduk dan meminum obat-obat tersebut satu per satu.


“Apa kau sudah merasa lebih baik?” tanya Cassie gelisah.


“Sedikit…” balasku.


“Istirahatlah yang banyak. Semoga panas tubuhmu bisa menurun banyak sore nanti,” ucap Rein sembari mengelap kepalaku.


“Sebelumnya aku juga ingin minta maaf…” imbuhnya pelan dan meneteskan air mata. Aku yang melihatnya sontak terkejut dan tidak menyangkanya.

__ADS_1


“Ti—Tidak mengapa… Semua ini adalah balasan yang seharusnya ku terima…”


“Maafkan aku juga. Aku tidak mengira kalau Gandra akan berlebihan seperti itu…” cetus Bella.


“Agar tak salah paham, aku hanya menjalankan perintah,” sahut Gandra.


“Iya… Semuanya salahku…” lanjut Rein menahan isak tangis.


“Sudah, sudah… Aku sudah memaafkan kalian semua…” Mataku menjadi sangat berat dan perlahan pandanganku kembali buram dan gelap.


“Selamat tidur, Adelard…” tutur Rein pelan.


Aku pun tertidur kembali dengan sangat pulas. Bella dan yang lainnya pada akhirnya memutuskan untuk pulang ke asrama mereka. Mereka akan kembali menjengukku saat petang nanti. Gavin yang tidak ingin menggangguku lantas mengikuti Rhean menuju asramanya untuk bermain gim. Kini hanya tersisa Cassie dan Rein. Sembari menunggu waktu petang tiba, mereka berdua pergi menuju dapur untuk meyiapkan makan siang dan malam.


“Ayo kita ke dapur,” ajak Rein.


“Aku akan menyusul,” balas Cassie. Rein pergi meninggalkan kamar tidur sedangkan Cassie masih duduk di sebelah diriku yang sedang terlelap. Ia memegang pipiku lalu mengusapnya perlahan. Wajahnya penuh dengan rasa gelisah dan harapan.


“Semoga kau cepat sembuh…”


“Semoga kau berada di jalanmu sendiri…” Ia pun beranjak meninggalkanku dan datang menghampiri Rein yang sudah menyiapkan bahan-bahan.


Mentari terus bergulir dan hawa semakin sejuk dengan pancaran sinar menembus jendela kamar. Aku terbangun akibat sorotan sinar tersebut yang meyilaukan mataku. Aku merasa menjadi lebih baik dari sebelumnya. Tidak lama setelah itu, aku beranjak berdiri dan menghampiri Rein dan Cassie yang berada di meja makan. Terlihat makanan yang sudah di sajikan di sana. Mereka yang melihatku seketika terkejut dan langsung berlari menghampiriku.


“Kau tidak apa-apa?”


“Iya, aku sudah merasa lebih baik,” jawabku tersenyum. Untuk memastikannya, Rein menempelkan telapak tangannya ke dahiku dan dahinya lalu membandingkannya. Panas tubuhku sudah jauh menurun dan itu mengejutkannya.


“Sudah turun drastis,” gumamnya tak percaya.


“Syukurlah…” hembus Cassie lega. Perutku terasa sangat lapar dan leherku terasa sangat kering.


“Sini ke meja makan,” tandas Rein sembari menuntunku berjalan, sementara itu Cassie pergi mengambil segelas air.


Aku duduk di kursi tersebut dan Cassie datang lalu meletakkan air minum itu. Aku yang sudah tidak tahan ingin sekali rasa untuk langsung mengambil makanan yang tampak menggiurkan itu. Tanganku sudah bergerak dengan sendirinya, tetapi Rein langsung meletakkan semangkuk bubur di hadapanku. Aku yang sudah kegirangan dan hampir menyentuh makanan tersebut sontak terdiam melihat ke mangkuk itu.


“Masih sakit jangan makan yang berat-berat dulu,” ujarnya menyeringai.


“T—Tapi, aku kan sudah ingin sembuh…” gumamku berat hati.


“Makanlah ini dan kau akan cepat sembuh,” balasnya. Aku pun mengambil sendok yang sudah berada di mangkuk itu.


“E—Eh? Kenapa berat sekali?” tanyaku kebingungan. Aku ingin mengangkat sesuap sendok tersebut namun aku tidak bisa melakukannya. Aku mengerahkan seluruh tenagaku dan akhirnya berhasil terangkat, tetapi tanganku bergemetar kencang lalu menjatuhkan sendok tersebut karena sudah tidak kuat lagi.


“Maafkan aku…” gumamku pelan.

__ADS_1


“Aku akan membantumu,” sahut Rein yang kemudian duduk di sebelahku dan mengambil mangkuk tersebut. Ia menyuapiku dengan perlahan. Cassie hanya menyaksikan kami berdua.


“Selamat sore semuanya!” lontar Bella dengan pintu yang sudah terbuka.


“Apa kau sudah merasa lebih baik?” tanya Icha. Gandra menempelkan tangannya ke dahiku.


“Syukurlah, jauh lebih baik,” ucapnya. Semua orang lantas merasa sangat senang dan lega mendengarnya. Kemudian Rhean menunjukkan suatu hal kepadaku.


“Tadi saat aku keluar, aku melihat seseorang menjual ini. Katanya minuman ini sangat cocok untuk penyakit demam sepertimu,” paparnya. Terlihat sebuah minuman berkaleng yang dipegangnya. Ia membukakan tutup kaleng itu lalu memberikannya kepadaku.


“Apa kau yakin?” tanyaku.


“Tentu saja. Itu larutan penyegar,” jawabnya tersenyum. Aku belum pernah melihat kemasan seperti ini sebelumnya. Aku juga tidak mengenal merek yang tertulis di kemasan tersebut, namun terdapat tanda izin dari lembaga terkait. Tanpa pikir panjang aku langsung meneguknya hingga habis.


“Mm! Manis!” lontarku tak menyangka akan seenak ini.


“Itu kan ada tulisan rasa jeruk,” sahut Gandra.


“Oh iya, ya… Hehe…” balasku cengengesan. Beberapa detik berselang tiba-tiba saja aku merasakan sesuatu yang aneh di dalam tubuhku. Keringat langsung mengucur deras dari seluruh tubuhku. Wajahku memerah namun aku tidak merasakan rasa sakit di kepala yang biasanya terjadi.


“Apa yang terjadi padaku?” tanyaku panik.


“Kau basah sekali,” balas Bella terkejut.


“Kau tidak memberikan yang aneh-aneh, kan?” lanjut Rein marah kepada Rhean.


“Tentu tidak! Aku merasa yakin kalau itu minuman kesehatan juga,” balas Rhean yang juga menaikkan nadanya.


“Terdaftar di lembaga makanan dan minuman, kok. Seharusnya ini bukan minuman yang tidak-tidak,” sahut Gandra sembari melihat kaleng tersebut.


Diriku terasa seperti setelah melakukan olahraga. Seluruh tubuhku menjadi sangat mudah untuk digerakkan. Akan tetapi, keringat yang terus terkuras membuatku cepat merasa haus. Aku langsung berlari menuju dapur untuk mengisi air minum ke dalam gelasku. Aku meneguk air minum tersebut hingga beberapa kali. Tak lama kemudian aku pergi menuju kamar mandi untuk buang air kecil. Mereka melihatku yang bergerak dengan gesit lantas menjadikan mereka kebingungan.


“Apa yang sebenarnya terjadi padanya?” gumam Bella.


“Adelard! Kau tidak apa-apa, kan?” lontar Rein.


“Iya! Aku tidak baik-baik saja!” sahutku dari dalam kamar mandi.


Aku kembali meneguk air minum lalu menuju kamar mandi lagi. Selama beberapa waktu aku hanya mondar-mandir dan mereka semua hanya menyaksikanku. Hingga akhirnya aku merasa sangat lega dan berjalan menghampiri mereka. Aku merasa lebih bugar dari sebelumnya. Wajahku tampak lebih cerah dan tidak pucat lagi.


“Wah, wah… Sepertinya minuman tadi sangat efektif, ya,” celetuk Bella  senang.


“Syukurlah kau sudah sembuh,” tutur Cassie berseri-seri. Semua orang merasa senang melihat diriku yang sudah pulih. Akhirnya kami menyantap makan bersama-sama dan sekarang aku dapat menikmati seluruh hidangan yang berada di meja makan. Gandra pun berceletuk canda kepadaku.


“Kau seperti bukan manusia saja.”

__ADS_1


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2