Love Exchange

Love Exchange
Episode 29 : Muncul Tak Diundang


__ADS_3

Sepanjang jalan menuju stasiun kulihat kehidupan kota yang ramai. Lalu-lalang orang-orang, deritan suara kendaraan yang lewat, serta kebisingan dari setiap gedung yang ku lewati. Terlihat orang-orang berjalan


sendirian, berpasangan, serta bersama keluarga. Akhir pekan membuat kota ini lebih berkelir daripada hari biasa.


Dari kejauhan sudah terlihat stasiun yang kutuju. Namun tiba-tiba terdengar suara seseorang berteriak memanggil namaku dari belakang.


“Adelard!”


Saatku menoleh ke belakang, ternyata Hart yang berlarian menuju ke arahku. Seketika aku menjadi pasrah dengan kehadirannya. “Kenapa harus ada dia?” gumamku kecewa dalam hati. “Sedang apa kau kemari?” tanyaku sedikit jengkel.


“Kau ingin ke mana?” tanya Hart penasaran sambil terengah-engah.


“Perpustakaan kota.” jawabku singkat.


“Oke, aku ikut.” ucap Hart lantas mengagetkanku.


“Lah? Tumben sekali kau.” sindirku kepadanya.

__ADS_1


“Aku sangat bosan di rumah. Mungkin dengan ikut denganmu akan lebih seru.” jelasnya.


“Eh? Serius? Ini perpustakaan, lho.” ucapku kebingungan. “Tidak apa-apa. Ayo jalan.” balasnya.


“Huft… Baiklah kalau begitu.” hembusku pasrah.


Akhirnya aku pun pergi bersama Hart menuju perpustakaan kota. Selama perjalanan kami juga sering mengobrol. Meskipun obrolan yang kami bicarakan tidak berisi dan terkadang tidak jelas sama sekali.


“Hebat sekali pertunjukkanmu kemarin.” puji Hart padaku. “Terima kasih.” balasku. “Bagaimana bisa kau menjadi sepandai itu? Padahal kan kau belajar tidak cukup lama.” lanjut tanya Hart, tetapi aku hanya acuh dan tidak meresponnya. Mulutnya yang terus berucap keras membuatku malu sendiri dan tidak enak terhadap orang-orang di sekitar.


“Oh iya, kau kan alien.” celetuknya tiba-tiba dan langsung membuatku kesal.


“Kau hanya ingin jalan-jalan saja, kan? Kenapa kau ingin ikut denganku?”


“Habisnya aku juga bingung ingin pergi ke mana. Lalu saat aku melihat ada kau lewat, aku samperin deh… Hehe…” balasnya. “Lagi pula kau tidak melihatku tadi? Kita sempat berpas-pasan lho.” lanjut tanya Hart kepadaku.


“Tidak. Aku tidak bisa melihat serangga pengacau.” ucapku jengkel menyindirnya. Lalu Hart tertawa keras dan membuatku kaget dengan tingkahnya.

__ADS_1


“Hahaha! Bisa saja kau, Alien.” sahutnya bermain-main denganku. Suaranya yang begitu keras sehingga menarik perhatian orang-orang.


“Oi, tahan sedikit congormu itu.” cakapku pelan menenangkannya. “Walah, mulutmu tajam sekali, ya.” balasnya.


“Haduh… Mau sampai kapan aku begini?” rajukku pelan.


“Tenang saja, aku akan menahan diri tidak seperti di sekolah, kok.” lontarnya kepadaku seraya tertawa bercanda. Namun tingkahnya tidak berubah sama sekali baik saat di sekolah maupun saat ini.


“Tidak ada yang berubah, kecoak.” batinku kesal dengannya. Semenjak itu hanya raut muka kecewa yang terlampiaskan di wajahku. Aku berusaha untuk tidak banyak berbicara dengannya, tetapi tetap saja ia yang memulainya terlebih dahulu.


“Ayolah… Sekalian kau menemani temanmu yang kesepian ini.” lontar Hart seraya berlompat-lompat kegirangan. “Untung aku bertemu denganmu.” lanjut cetusnya senang.


Perjalanan kami memakan waktu sekitar setengah jam dari stasiun awal ke stasiun yang kami tuju. Kondisi di dalan gerbong juga tidak seramai ini seperti biasanya. Sesak orang-orang membuat kami tidak bisa bergerak ke mana-mana. Aku dan Hart hanya bisa berdiri di dekat pintu gerbong kereta.


Sesampainya di stasiun dekat perpustakaan, kami pun turun dan melanjutkan dengan berjalan kaki. Terdapat jalan pintas berupa gang yang cukup sempit dan agak gelap. Agar menghemat waktu kami pun melewati jalan itu. Tidak lama kemudian terdengar suara jeritan perempuan dari arah dalam gang. Lantas kami berlari menuju sumber suara.


“Cassie?” ucap Hart kebingungan sekaligus terkejut.

__ADS_1


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2