
Pagi hari dengan mentari yang telah menjulang tinggi menyinari permukaan dengan terik. Suasana komplek sekolah telah sepenuhnya sepi dari orang-orang. Sekeliling kami tampak seperti kota mati. Kami berempat bangun terlambat sekitar satu jam. Dengan cepat kami bersiap-siap dan bergegas menuruni tangga. Setelah itu kami semua berlari sekencang-kencangnya.
“Ayo cepat!” seruku dari depan.
“Ini udah paling cepat…” balas Gavin terengah-engah.
“Kau saja yang terlalu cepat,” lanjut Rhean kepadaku.
“Aku? Kita berlari biasa, kok,” sahutku berlari bebarengan dengan Gandra. Kemudian Gavin berhenti lantaran tidak kuat lagi.
“T—Tunggu… sebentar…” hembus Gavin dengan napas yang berantakan. Kami semua pun berhenti karenanya.
“Kita sudah terlambat, tahu!” ujarku kesal kepadanya.
“Kalau kalian mau duluan, duluan saja,” balas Gavin. Gandra pun mendekatinya dan berkata dengan kami.
“Ya sudah kalau begitu, kita istirahat sebentar. Lalu kita cukup berjalan ke sana,” ucap Gandra dengan tenang. Kami semua sedikit terkejut mendengarnya.
“Hah? Apa maksudmu?” lontarku kepadanya.
“Kita sudah terlambat juga, toh? Jadi tidak ada gunanya kita sampai cepat atau lambat,” jawabnya tersemyum. Aku pun tersadar dan kemarahanku mereda.
“Oh iya, betul juga…” sahutku pelan.
“K—Kalau begitu, kenapa kita berlari tadi?” tanya Gavin sedikit jengkel dengan napas yang masih engap-engapan.
“Kalian semua berlari tadi, padahal aku ingin berjalan saja,” jawab Gandra polos. Lalu terjadi percakapan antara Gavin dan Gandra.
“Bilang saja ke kami, kalau begitu kan aku tidak akan menjadi seletih ini.”
“Aku kira kalian semua sudah tahu.”
“Kalau aku tahu, untuk apa aku berlari…”
“Yah… Kali saja kalian ingin berolahraga.”
“Terserah kau sajalah…” Aku yang tidak ingin menuggu lama lantas pergi meninggalkan mereka. Dengan tampang kebingungan Rhean bertanya kepadaku.
“Kau ingin duluan?”
“Ya, aku akan menunggu kalian di gerbang,” jawabku.
“Kalau begitu aku ikut,” lanjut Gandra seraya menghampiriku. Kami berdua pun meninggalkan Gavin dan Rhean di belakang.
Sepanjang kami berjalan, aku tidak berbicara cukup banyak dengan Gandra. Aku masih terpana dengan bangunan-bangunan yang berdiri kokoh di sini. Pada waktu yang bersamaan aku juga merasa sedikit was-was jika terdapat seseorang melihat kami. Sampai akhirnya kami berdua sampai lebih dahulu di depan gerbang gedung sekolah. Dari kejauhan, tampak seorang satpam yang berjaga di pintu masuk sekolah.
Kami pun mengintip dari balik pagar tembok dan melihat sekitar. Tidak ada siapa pun kecuali penjaga tersebut. Pintu tersebut adalah satu-satunya jalan kami untuk masuk ke dalam. Kami juga tidak dapat memanjat tembok itu karena tempat yang terbuka sehingga siapa pun dapat melihatnya dengan jelas. Kami masih memikirkan cara untuk dapat masuk ke dalam gedung sekolah tanpa ketahuan oleh penjaga itu.
“Apa benar-benar tidak bisa memanjat? Menurutku suaranya tidak akan sekeras itu,” tanya Gandra kepadaku.
__ADS_1
“Jaga-jaga saja. Bagaimana kalau ada orang lain yang melihat kita?” balasku.
“Kalau lewat bagian belakang sekolah?” usulnya. Lalu Gavin dan Rhean datang menghampiri kami. Mereka juga mengintip ke arah dalam pagar tersebut.
“Mau ke belakang sekolah?” ajak Gandra kepada kami semua, namun Gavin yang sudah kelelahan tidak ingin mengambil jalan memutar.
“Malas sekali, itu sangat jauh…” Sontak terlintas sebuah ide di kepala Gavin. Ia pun memberitahukannya kepada kami.
“Aku ada ide! Kalian tahu kalau aku mirip seperti Pak Edwin, kan?”
“Hah? Guru fisika itu?” sahut Rhean tidak percaya.
“Perasaanku kau tidak mirip sama sekali dengannya,” balasku terheran-heran. Lalu Rhean menyahutiku seraya bertanya kepada Gavin.
“Kau halu, ya?”
“Bukan begitu!” bantahnya. “Kalau kalian tidak percaya, aku akan membuktikannya!” imbuhnya kesal. Lantas ia pun berpakaian dan berlagak yang tampak seperti Pak Edwin. Kami semua ingin menghentikannya, namun sudah terlambat. Aku yang melihatnya sekilas benar-benar mirip dengan guru itu.
“Wah, mirip juga ternyata,” gumamku pelan. Aku bersama dengan Gandra dan Rhean menyaksikan aksi Gavin di depan pintu masuk. Suara percakapan mereka sedikit terdengar oleh kami.
“Selamat siang,” ucap Gavin dengan suara yang rendah seperti halnya gaya orang tua berucap. “Hari ini terik sekali, ya,” imbuhnya.
“Anda baru masuk ya, Pak?” tanya seorang satpam itu.
“Ada yang ketinggalan tadi,” jawab Gavin. Kami semua yang mendengarkannya merasa sedikit senang dengan aksi Gavin yang berjalan lancar.
“Boleh kulihat kartu nama Anda, Pak?” pinta satpam itu.
“Yah… Gimana ini?” ucap Rhean panik.
“Kita lihat dulu saja,” balas Gandra. Satpam itu tampak curiga kepada Gavin, namun ia tetap bersikap sopan karena masih menggangap Gavin sebagai Pak Edwin.
“Boleh kulihat tas Anda?” Sontak Gavin terdiam dan berkeringat dingin serta tidak tahu harus berbuat apa. Tanpa pikir panjang ia langsung berlari ke dalam meninggalkan penjaga tersebut.
“Oi! Berhenti!” Kami yang melihatnya hanya menarik napas pasrah. Pada saat yang bersamaan aku menyadari bahwa suasana tampak aman.
“Kita bisa masuk dengan aman!” lontarku senang. Lalu kami semua memanjati pagar tersebut, namun tak lama kemudian terdengar suara laki-laki tua berbicara kepada kami.
“Sedang apa kalian bertiga?” Ternyata orang tersebut adalah Pak Edwin yang asli. Seketika kami semua terkejut dan tidak tahu harus berkata apa.
Banyak hal terjadi dan pada akhirnya kami semua dikumpulkan di ruang guru untuk di introspeksi. Semua rencana yang dilakukan Gavin gagal total. Di dalam ruang guru, kami di berikan beberapa pertanyaan oleh Pak Edwin itu sendiri. Untung saja keadaan ruangan cukup sepi karena masih berjalan waktu pembelajaran. Dengan wajah marahnya lalu ia bertanya kepada kami berempat.
“Kenapa kalian terlambat?”
“M—Maaf, Pak, kami bangun kesiangan,” jawabku gugup. Kemudian kami semua di ceramahi olehnya.
“Ya sudah kalau begitu, hukuman kalian adalah membersihkan kolam renang,” ujarnya.
“Baik, Pak…” balas kami dengan serentak dan pelan.
__ADS_1
Hari mulai menjelang siang, mentari mulai bersinar sangat terik dan panas. Kami yang baru keluar dari gedung langsung dibasahi oleh keringat. Sehingga membuat kami semua melepas baju seragam dan melakukannya sembari bertelanjang dada. Pertama-tama yang kami lakukan adalah menguras air yang berada di kolam renang itu.
“Siapa yang mau berenang?” tanya Rhean. Kami semua tampak terdiam dan merasa enggan karena tidak ingin celana seragam kami basah kuyup.
“Kalau begitu, biar aku saja,” lontar Gandra spontan. Tanpa banyak kata-kata, ia langsung melompat ke dalam kolam renang dan membuka lubang pembuangan. Setelah itu ia kembali ke tepi dan menghampiri kami.
“Yah, kau jadi basah kuyup,” ucapku.
“Tidak apa-apa, nanti juga akan kering,” balasnya.
Setelah kolam renang bebas dari air yang menggenang, kami pun menyiram serta menyikat lantai dan dinding kolam bersama-sama. Tak lama kemudian bel istirahat berbunyi dan para murid mulai berbondong-bondong keluar dari kelas. Aku merasa sedikit malu dengan kejadian yang menimpaku sekarang. Terbayang di benakku akan diriku yang akan dijadikan bahan bicaraan
oleh orang-orang.
“Tamat sudah harga diriku…” gumamku pelan. Akan tetapi, dengan cepat Gandra langsung membantah pernyataanku.
“Sepertinya justru kebalikannya…” sahutnya sembari melihat ke arah gedung sekolah. Aku yang kebingungan melihat arah yang sama dengannya. Tampak para perempuan menyaksikan kami di balik jendela koridor. Sontak aku tersipu malu dan memalingkan wajahku sambil menutupinya. Lalu Gandra berucap pelan kepadaku sembari melihat orang-orang tersebut.
“Mereka tidak menjelek-jelekkan kita.”
“Maksudmu?”
“Mereka tampak sedang tergila-gila dengan penampilanmu sekarang.”
Di lain sisi, Gavin dan Rhean membersihkan dengan perasaan yang riang gembira. Dengan semangat yang membara, Gavin menyikat lantai pinggiran kolam tersebut sambil berlari. Ia tidak menyadari dengan bahaya yang membayanginya.
“Hahaha! Lihatlah aku! Lantai di sini sudah bersih mengilap, tidak seperti kalian berdua yang malah asyik melih—” Hingga akhirnya ia terpeleset dan tersungkur cukup keras. Aku dan Gandra yang mendengarnya tiba-tiba terkejut dan langsung menghampirinya.
“Apa kau tidak apa-apa?” tanya Rhean khawatir.
“Aduh… Kakiku sakit sekali…” rintih Gavin kesakitan.
“Sepertinya kakinya terkilir cukup parah. Ayo kita bawa ke ruang kesehatan,” lontar Gandra. Aku dan Gandra langsung menggotong Gavin lalu membawanya melewati koridor gedung.
“Kau tidak membantu sama sekali, Rhean,” ucapku sedikit jengkel kepadanya.
“Aku membantu kalian membukakan jalan, lho…” balas Rhean.
Suasana lorong seketika menjadi ramai dengan para perempuan. Sampai-sampai kami dibuat kewalahan untuk berjalan melewatinya. Aku yang melihat mereka sedang menatapku mendadak membuatku merinding ketakutan.
“Tatapan mereka mengerikan sekali,” gumamku pelan.
“Wah, Adelard memang menggoda sekali, ya…” sindir Rhean dan membuatku geram kepadanya.
“Berhenti bicara seperti itu!” Situasi seperti ini sangat mirip dengan peristiwa yang terjadi kala itu. Dengan rasa sedikit jengkel, aku bergumam sendiri dalam hati.
“Kenapa terjadi seperti ini lagi?”
Bersambung~
__ADS_1
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)