
Beberapa hari kemudian, sang pangeran mengunjungi kerajaan Lunaria seorang diri dengan menunggangi kuda putihnya. Perjalanan yang jauh ia tempuh dengan tekad dan ketulusan yang masih menempel kuat pada dirinya. Suara bisik hewan dari dalam hutan dan alunan angin yang menerpa pepohonan menjadi saksi bisu akan hari pembuktiannya ini.
Sesampainya di pintu masuk kerajaan, sang pangeran dihadang oleh beberapa prajurit kerajaan Lunaris. “Mau apa kau datang ke sini?” tanya seorang prajurit sambil mengarahkan pedang kepada sang pangeran. “Aku ingin bertemu dengan yang mulia.” tegas sang pangeran. “Tidak bisa! Mau cari mati kau rupanya!” kata prajurit tersebut sembari memukul sang pangeran, namun sang pangeran berhasil menangkis pukulan tersebut.
Keadaan yang tak kunjung surut membuat sang pangeran melawan prajurit-prajurit tersebut, tapi ia berusaha untuk tidak membunuhnya. Ia hanya ingin bertemu dengan ayahanda Kaitlyn Amaris untuk berbicara tentang pernikahannya. Raja Lunaris akhirnya ke luar karena mendengar suara keramaian dari luar istana kerajaan.
“Ada apa kau datang kemari, pangeran?” tanya Raja Lunaris.
“Aku datang kemari hanya untuk berbicara denganmu wahai yang mulia.” jawab sang pangeran seraya memberi hormat kepada raja Lunaris. “Baiklah kalau begitu. Masuklah!” ajak raja Lunaris sambil berjalan menuju singgasananya.
“Duduklah. Apa yang ingin kau sampaikan?” tanya raja Lunaris setelah duduk di atas singgasananya.
“Aku datang untuk melamar putrimu. Aku telah bersalah karena mencintai putrimu wahai yang mulia.” ucap sang pangeran menundukkan kepalanya.
__ADS_1
“Hahahaha! Sungguh lancang kau telah berani jatuh cinta kepada putriku. Aku tidak mungkin akan menikahkannya denganmu!” cela raja Lunaris yang nampak marah. Namun tekad sang pangeran yang sudah bulat tidak mudahnya menyerah begitu saja.
“Aku mohon! Restuilah aku wahai yang mulia. Sebagai tanda bukti bahwa aku benar-benar mencintai putrimu, aku ingin mewujudkan keinginan mulia yang diharapkan oleh putrimu.” jelas sang pangeran sungguh-sungguh. Lantas raja Lunaris itu kebingunan dan memanggil putrinya.
“Kaitlyn, kemarilah!” panggil raja Lunaris.
“Iya Ayahanda. Kau memanggilku?”
“Duduklah! Aku ingin mendengar langsung darimu. Keinginan apa yang dimaksud oleh pangeran tersebut?” tanya raja Lunaris kepada putrinya. “Aku hanya ingin menghapus peperangan, Ayahanda. Aku ingin melihat para rakyat hidup dalam ketenteraman dan kedamaian.” ungkap Kaitlyn.
“Baiklah kalau begitu. Aku sudah cukup melihat ketulusan cintamu kepada putriku. Aku akan merestui pernikahan kalian, maka dari itu akan aku angkat juga dirimu sebagai raja Lunaris untuk menggantikanku. Aku sudah terlalu tua untuk menjadi raja. Jadi, satukanlah kerajaan Ensnard dan Lunaris, serta buatlah hidup rakyat menjadi makmur, dan bahagiakanlah putri kesayanganku.”
“Dengan penuh hormat aku terima permintaanmu, Yang Mulia.” sahut sang pangeran tersenyum senang.
__ADS_1
Akhirnya sang pangeran berhasil menikah dengan putri berpita merah itu. Terpenuhilah keinginan ayah sang pangeran sekaligus keinginan Putri Kaitlyn. Sebelum menghembukan napas terakhirnya, sang ayah memberi ucapan selamat serta kalimat perpisahan secara langsung dihadapan sepasang pengantin baru kerajaan.
“Selamat… Akhirnya Ayah bisa pergi dengan tenang… Jadilah… seorang raja dan ratu yang Ayah kenal sekarang… Ayah bangga dengan kalian…” tuturnya terseret-seret seraya tersenyum bahagia. Tetes air mata terkucur deras dari mata sang pangeran dan Kaitlyn. Sembari tersenyum sang pangeran membalas perkataan ayahnya.
“Terima kasih, Ayah…” ucapnya halus melirih tangis. Tak lama kemudian sang ayah menghembuskan napas terakhirnya. Isak tangis sedih tidak luput dari orang-orang yang berada di dalam ruangan, termasuk ayahnya Kaitlyn. Akhirnya segala amanah penuh mulai diemban sang pangeran yang kini menjadi seorang raja.
Hari-hari berjalan ia hidup dalam suatu kedamaian bersama dengan rakyat-rakyatnya. Sang pangeran dikaruniai masing-masing satu anak laki-laki dan perempuan. Seiring berputarnya waktu sang pangeran juga tak hanya berhasil menyatukan dua kerajaan, namun ia juga berhasil menyatukan seluruh kerajaan yang ada di pulau besar itu, sehingga namanya kini hanyalah kerajaan Athesia.
Sang pangeran dan si putri hidup bahagia selamanya karena cinta yang mereka yakini dapat merubah hidup seseorang sekalipun sesuatu yang tak mungkin. Asalkan hati yang tulus telah berucap, maka kebaikan akan muncul pada dirinya.
Tamat…
Bersambung~
__ADS_1
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)