Love Exchange

Love Exchange
Episode 60 : Arena Bertarung


__ADS_3

Langit biru terang dan matahari bersinar terik menerpa kulit. Saat ini kami terpecah menjadi dua kelompok. Para wanita yang tengah asyik berbelanja dan menyusuri took-toko sementara kami para lelaki masih sebatas berjalan melihat-lihat pasar. Aku, Hart, Eledarn, dan Milard melangkah santai sembari mengobrol.


“Wah kota ini kuno sekali ya,” ucapku terkesima dengan kehidupan dan bangunan-bangunan yang jauh berbeda dengan tempat-tempat lainnya. Seperti benar-benar melewati mesin waktu secara nyata.


“Benar sekali. Ternyata lukisan perkotaan abad pertengahan menjadi kenyataan,” lanjut Milard menambahkan.


“Yah, memang benar sih kota ini sudah ada sejak dua ribu tahun lalu,” cetus Hart.


“Eh? Kau mengetahuinya?” tanya Eledarn terkejut bingung.


“Aku tadi membaca brosur ini,” jawabnya yang juga sama-sama buncah. Hal tersebut membuat kami semua terdiam hening seketika  bagai dombat tersesat di tengah hutan.


“Sejak kapan kau mendapatkannya?” tanyaku kepada Hart.


“Sejak awal kita sampai di pasar ini. Di gerbang depan tadi ada banyak brosur,” jawabnya tenang. Kemudian kami melanjutkan langkah kami.


Beberapa saat kemudian angin sejuk berhembus tipis dan mengelus buu kudukku. Seketika aku teringat dengan pertanyaan yang terus terbesit di kepalaku.


“Oh iya. Aku masih heran kenapa di kota ini cukup hangat? Padahal seluruh daratan ini sedang musim dingin.”


Lantas Hart membuka kembali brosur yang ada digenggamannya. Tangannya sibuk membolak-balikkan kertas tersebut seraya mencari informasi untuk menjawab pertanyaanku barusan.


“Hmm… Tidak dijelaskan di sini. Tapi hanya tertulis kalau tempat ini adalah pemukiman pertama di daratan ini,” jelas Hart.


“Mungkin pada saat itu daerah ini adalah satu-satunya tempat yang pas untuk ditinggali apalagi saat musim dingin begini” lanjut pikir Milard kepada kami.


“Masuk akal,” balasku.


Setelah perbincangan yang cukup panjang itu, tampak kerumunan keluar masuk dari jalan kecil tersebut. Sontak kami semua menjadi penasaran, tetapi salah seorang tak dikenal memanggil kami semua dari arah samping.


“Oi kalian! Pendatang ya?” seru orang tersebut yang ternyata seorang penjaga toko.


“Iya,” sahutku kepadanya. Kemudian penjaga toko itu membujuk kami untuk masuk ke dalam tokonya.


“Kalian ingin membeli sesuatu? Silahkan lihat-lihat dahulu di dalam.” Namun kami semua kurang tertarik dengan berbelanja, ditambah lagi hari ini baru hari pertama wisata kami. Sehingga kami tidak ingin menghabiskan banyak uang di awal-awal kesenangan ini. Lalu Eledarn pun menolaknya dengan sopan.


“Maaf, Pak. Kami hanya sedang berkeliling.”


“Oh begitu. Baiklah. Jika kalian ingin membeli cendera mata, jangan sungkan untuk mampir ke tokoku,” balasnya tersenyum. Aku yang masih penasaran dengan keramaian itu lalu bertanya kepadanya.


“Kalau boleh tahu, apa yang sedang terjadi di jalan kecil sana?”


“Itu jalan menuju arena bertarung. Hari ini akan ada sayembara yang hanya dilakukan dua tahun sekali,” jawabnya. Seketika teman-temanku menjadi tertarik dan makin penasaran dengan tempat tersebut.


“Arena bertarung?” tanya Hart bersemangat.


“Iya. Kalau menang kau akan mendapat hadiah dan penghargaan,” lanjut jawabnya menerangkan.

__ADS_1


“Wah, sepertinya seru,” sahut Milard.


“Tentu saja. Seluruh penduduk kota ini akan menyaksikan pertandingan itu,” ucap penjaga toko. Kemudian aku bertanya kembali kepadanya dengan heran.


“Anda tidak mengikutinya, Pak?”


“Persaingan di sana sangat ketat sekali. Aku tidak jago bertarung,” jawabnya. Lalu ia kembali menambahkan dengan berkata, “Tapi jika kalian tertarik, kalian bisa mendaftar gratis dan siapapun boleh ikut serta.” Sontak kami menjadi teringat bahwa bertarung semestinya menggunakan pedang. Kami menjadi ketakutan apablia ada nyawa yang melayang akibat pertandingan tersebut. Tiba-tiba penjaga tersebut berucap kepada kami.


“Tenang saja. Hanya menggunakan pedang kayu saja, kok. Itupun tumpul.”


Kami pun yang mendengarnya menjadi lega. “Huft… Kukira akan separah yang ku bayangkan,” hembus Hart. Penjaga toko itu hanya tertawa kecil melihat tingkah kami semua.


“Baiklah kalau begitu kami ingin pergi ke sana.”


“Sampai jumpa,” balas penjaga toko.


Aku dan teman-temanku berjalan mengarah keramaian dan mengikuti arus orang-orang berjalan. Kami dibuat terkejut dengan bangunan arena yang amat besar seperti stadion sepak bola. Aku menjadi terkagum-kagum sembari menatap lama bangunan megah itu.


“Wah… Besar sekali.”


“Inikah bangunan bersejarah itu? Masih terawat baik dan kokoh,” tutur Milard. Kami masih terdiam takjub dan Eledarn tiba-tiba menyeru heboh.


“Lihat! Ada penjaga berbaju zirah di sana!” Sontak kami kembali dikejutkan dengan sesuatu yang tidak kami duga. Namun berselang beberapa waktu kemudian kami baru sadar bahwa kami tinggal tiga orang, sementara itu Hart tidak diketahui ke mana ia pergi.


“Kalian melihat Hart?” tanya Milard cemas.


“Tidak,” jawabku. Begitu pula dengan Eledarn yang tidak melihat sosok Hart semenjak kami tiba di sini.


“Tenang saja. Kita kan sudah besar. Jadi tidak periu khawatir. Mungkin kita kurang memperhatikannya karena asyik melihat bangunan ini.” Aku dan Milard membalasnya dengan mengangguk senyum. Dan tak lama kemudian Hart muncul dari kerumunan itu dan menghampiri kami.


“Kau habis dari mana, Hart?” tanya Milard sedikit khawatir.


“Santai, santai. Aku baru saja dari pintu arena itu. Di sana ada pendaftaran pertandingan.” Lalu Hart menghela napas kelelahan. “Hah… Ternyata banyak juga yang antusias dan ingin mendaftar.”


“Kau mendaftarkan diri?” tanya Eledarn penasaran dan sempat kagum dengannya, tetapi Hart menggeleng-geleng dan berkata, “Tentu saja tidak. Aku mendaftarkan alien. Hehe…” bebernya cengengesan dan sontak mengejutkanku.


“H—Hah? Apa yang kau lakukan, oi?” teriakku jengkel kepadanya.


“Maaf aku tidak bilang-bilang dulu. Tapi aku yakin kau bisa menghadapinya,” tanggap Hart kemudian meyakinkanku, tetapi aku masih kesal dengan kelakuannya yang selalu saja seperti ini.


“Tidak apa-apa, Lard. Hitung-hitung pengalaman. Kalah pun tak masalah,” lanjut Eledarn tersenyum kepadaku. Aku yang sedang syok ini tidak tahu harus bagaimana dan hanya bisa menerima pasrah. “Tapi aku tidak punya keahlian sedikit pun. Aku hanya ingin menyaksikan,” desisku murung.


“Kau bisa bersiap-siap selagi menunggu. Pertandigan akan dimulai sore nanti,” ucap Hart tenang. Aku membalasnya dengan menarik napas sumarah.


Sesaat kemudian ada beberapa orang tepat berjalan di sebelah kami. Percakapan mereka tidak sengaja terdengar jelas.


“Kau hebat, ya!”

__ADS_1


“Hehe… Sekarang aku mau pergi kedai minuman sekaligus menenangkan pikiranku.”


“Walah, bisa-bisanya kau ingin seperti itu di saat seperti ini.”


“Wuah! Pelayanan seksi memang terbaik!”


Seketika Hart dan Eledarn menjadi meledak-ledak. Hasrat yang telah memuncak membuat mereka berdua seperti terhipnotis dan ingin segera pergi ke tempat itu.


“Ayo kita ke sana,” ajak Hart penuh nafsu. Aku dan Milard menjadi jengkel dan menolak ajakan mereka.


“Tidak! Kalian di manapun masih saja ya,” balasku tegas.


“Ya sudah kalau begitu,” sahut Hart seperti orang mabuk bersama dengan Eledarn. Aku dan Milard akhirnya berpisah dengan mereka berdua.


“Apa kau yakin akan meninggalkan mereka begitu saja?” tanya Milard cemas.


“Biarkan saja,” jawabku. Kemudian aku mengajak Milard kembali berjalan-jalan di sekitar pasar sembari menunggu pertandingan. “Ayo kita lanjut berkeliling dulu.”


Selang satu jam kemudian matahari mulai menunjukkan tarinya di atas kepala. Semakin kami berjalan orang-orang semakin berkurang dan sepi. Sepertinya kami sudah keluar dari pasar tersebut dan mulai memasuki pemukiman. Hanya ada beberapa orang dan kereta kuda yang lalu-lalang.


“Adelard, sepertinya kita kejauhan,” ucap Milard memberi tahuku.


“Tidak apa-apa. Waktu kita masih banyak, aku juga kurang nyaman di tempat yang amat ramai seperti itu. Kalau kau ingin kembali kau bisa meninggalkanku.” balasku kepadanya.


“Aku juga tidak tahu ingin pergi ke mana. Aku mengikutimu saja deh.”


Tidak lama kemudian kami melihat seorang pria tua sedang mengangkat beberapa kotak dan tampak kesusahan. Lantas kami pun menghampirnya bermaksud untuk membantunya.


“Permisi, Kek. Izinkan kami membantumu,” pinta Milard penuh horman kepadanya. Untung saja kami mendapat respon baik. Kakek tersebut bersedia dan menunjukkan jalannya pada kami. Setelah beberapa menit berjalan kami pun sampai di sebuah rumah gubuk dan perjalanan kami berhenti sampai di sini.


“Sisanya biar aku saja. Terima kasih banyak,” ujarnya kemudian pergi ke dalam sana. “Sama-sama,” balasku. Selepas itu aku dan Milard kebingungan.


“Apa yang kita lakukan sekarang? Lanjut berjalan?” tanya Milard.


“Boleh-boleh saja. Sekalian menunggu waktu pertandingan mulai,” Lalu kami melanjutkan langkah kami pergi dari tempat ini, tetapi kakek tersebut memanggil kami.


“Tunggu.” Sontak kami pun menghentikan langkah kami. “Apa kau mengatakan pertandingan barusan?” lanjut tanya kakek itu penasaran.


“Iya,” jawabku ketakutan. Kemudian ia kembali bertanya. “Pertandigan arena?” Aku hanya mengangguk kepadanya.


“Kau tau bisa bertanding?”


“Tidak. Aku tiba-tiba saja didaftarkan temanku,” jawabku.


Tiba-tiba kakek itu tersenyum dan berkata dengan tenang kepada kami berdua.


“Aku bisa mengajarkan kalian.”

__ADS_1


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2