
Tengah hari yang tenang dan tenteram, sembari disejukkan oleh tiupan angin yang masuk melewati lubang udara. Sinar mentari menembus kaca jendela menerangkan seluruh ruangan. Tanpa cahaya lampu nan silau, kami dapat menyantap makan siang dengan tenang. Tak lupa, kami juga menghiasi waktu tersebut dengan berbincang santai.
Mereka menjelaskan bahwa mereka berasal dari daratan yang sama, persis seperti kami. Bella satu sekolah dengan Rhean, sedangkan Gandra bersama Icha. Aku pun juga menjelaskan asal kami berempat. Kami semua akhirnya menjadi saling kenal lebih dekat. Namun ada satu hal yang teringat di benakku dan membuatku bertanya-tanya.
“Kau masuk ke klub renang, ya?” tanyaku penasaran.
“Ya. Kau lihat sendiri tadi, kan?” jawabnya tersenyum.
“Tapi bagaimana bisa kau sudah bergabung? Padahal kita saja belum masuk sekolah,” lanjut tanyaku terheran-heran.
“Entahlah… Tidak lama setelah sampai, aku langsung pergi ke gedung akuarium, tiba-tiba saja aku diajak untuk bergabung… Tentu saja aku tidak menolaknya,” paparnya senang.
“Aaah… Aku mengerti…” hembusku.
“Tapi aku tidak mengira kalau Rein sangat pandai loncat indah tadi,” ucap Bella yang masih terpukau dengan aksi. Semua orang tidak mengetahuinya kecuali kami bertiga. Lantas Cassie yang penasaran bertanya kepadaku. Aku mendengarkannya sembari memakan hidangan dari piringku.
“Apa yang Rein lakukan?”
“Yah… Bukan apa-apa. Bella saja yang melebih-lebihkannya,” sahut Rein cengar-cengir. Bella yang mendengarnya hanya tertawa kecil. Lalu aku menceritakan apa yang ku lakukan dengan Rein tadi pagi. Semua orang memperhatikan aku dengan serius.
“Wah, kau langsung menunjukkannya tadi?” lontar Gavin.
“Tentu saja!” balas Rein tersenyum.
Kami menduduki meja makan dalam waktu yang cukup lama lantaran banyaknya bahan pembicaraan yang tak kunjung habis. Tak jarang kami mewarnainya dengan canda tawa. Aku menjadi semakin akrab dengan mereka semua, terlebih lagi Rein yang selalu melanturkan perkataanku menjadi jenaka. Entah mengapa terpikirkan olehku bahwa Rein adalah orang yang dapat langsung terbiasa di berbagai kondisi.
Jam terus berputar dan kini matahari telah turun dari puncaknya. Tak lama kemudian jamuan makan siang kami akhiri bersama. Aku dan teman-teman satu asramaku ikut membantu merapihkan meja dan membersihkan piring. Hal tersebut membuat Bella dan kawan-kawannya merasa tidak enak.
“B—Biar kami saja,” ucap Icha gugup.
“Tidak apa-apa, bekerja bersama-sama jauh lebih baik, betul?” balasku tersenyum. Lekas Rein langsung menyahutiku dengan gembira.
“Betul sekali!”
__ADS_1
Sementara itu Cassie tengah mencuci piring bersama Bella di wastafel cuci piring. Gavin bersama Gandra dan Rhean sudah asyik sendiri di depan televisi memainkan gim konsol. Sesekali aku menghampiri mereka dan melihat sejenak permainan yang mereka mainkan dengan piring-piring di tanganku. Sontak Rein datang dari belakangku dan langsung menekan pipiku dengan kedua telapak tangannya.
“Kerja tidak boleh setengah-setengah, lho…” cetusnya bercanda. Mulutku yang membulat membuat aku kesulitan berbicara.
“Bwoikloh… Oku akwan segoro ke sonwo,” balasku dengan bibir yang monyong. Lalu aku berjalan menghampiri Cassie dan Bella. Bella yang memperhatikan kami berdua lantas menanggapinya.
“Wah… Kalian akrab sekali. Apa kalian pacaran?” tanya Bella tersenyum yang seketika membuat orang-orang terdiam dan menoleh ke arah kami. Suasana yang berubah menjadi hening dengan tiba-tiba membuatku canggung bukan kepalang. Sementara itu Cassie tercengang dan melongo sembari menatapku.
“Ti—Tidak! K—Ka—Kami hanya berteman,” jawabku gagap. Rein dengan sigap mencairkan suasana dengan caranya.
“Yap! Sudah seharusnya teman itu saling akrab dan bersenang-senang, kan?” lontarnya tersenyum riang sambil menggandeng bahunya Bella.
“Oh iya, betul juga,” balas Bella menyeringai.
Setelah itu keadaan menjadi normal kembali dan orang-orang melanjutkan kegiatan mereka masing-masing. Akhirnya aku dapat menarik napas dengan lega. “Untung saja Rein orangnya sigap dan cepat membaca situasi,” gumamku dalam hati. Akan tetapi Cassie masih terus menatapku curiga.
“Kau baik-baik saja?” tanyaku pelan yang berada tepat di sampingnya.
“Kau ingat ucapanku tadi, kan? Aku siap mendengar seluruh ceritamu,” ucapku. Dengan nada yang datar dan kepala yang masih tertunduk ke arahku, ia membalas perkataanku barusan.
“Aku ingin kita kembali ke asrama… cukup kita berdua saja.” Aku sedikit terkejut setelah mendengarnya.
“Apa dia marah padaku?” batinku keheranan.
Kemudian aku dan Cassie meminta izin untuk kembali ke asrama kami terlebih dahulu. Sementara itu Rein dan Gavin masih berada di asramanya Bella. Sesampainya di ruang tengah, Cassie menutup pintu dengan rapat dan mulai berbicara kepadaku.
“Apa kau ada hubungan tertentu dengan Rein?” tuturnya dengan sedih. Sontak aku terkejut dengan pertanyaan yang ia lontarkan. Aku pun mejawab dengan tenang sembari bertatap wajah.
“Tidak ada. Kau tahu sendiri kalau aku tidak tertarik dengan hal seperti itu, kan?” Setelah mendengarkan, tiba-tiba ia berjalan mendekatiku lalu memelukku dengan erat. Lagi-lagi aku tidak mengira bahwa dirinya akan melakukan hal yang mendadak seperti ini.
“K—Kau benar-benar tidak apa-apa?” ucapku gelagapan.
“Biarkan aku seperti ini beberapa saat,” balasnya lembut. Aku pun meresponnya dengan tenang dan ikut memeluknya. Tak lama kemudian pintu terbuka dengan pelan dan ternyata orang tersebut adalah Rein. Aku yang berhadapan dengannya hanya saling bersapa senyum.
__ADS_1
“Tidak ada yang yang perlu dicemaskan…” ucapku pelan sembari mengelus-elus punggungnya.
Lalu Rein memeragakan dengan tangannya ke arahku. Ia memintaku untuk kembali berkumpul. Sesudah memberitahuku kemudian ia pergi dan menutup pintu dengan perlahan. Setelah berpelukan aku mengajak Cassie untuk berkumpul dan menemui mereka lagi.
“Ayo kita kembali menemui mereka,” ajakku. Setelah keluar dari asrama aku kebingungan dengan mereka yang sedang berkumpul di depan. Aku pun bertanya kepada Rein maksud mereka berkerumun di lorong.
“Kalian sedang apa?”
“Oh, kami ingin pergi ke pusat perbelanjaan.”
“Ingin belanja?” lanjut tanyaku lagi.
“Iya, persediaan makanan kami sudah menipis,” jawab Icha. Lalu Rein juga berkata demikian. “Oh iya, persediaan kita juga sudah mau habis,” sahut Cassie. Akan tetapi aku tidak melihat seorang laki-laki selain diriku.
“Di mana Gavin dan yang lain?”
“Mereka sedang asyik bermain gim,” jawab Bella. Aku merasa tidak enak bila ikut menuju pusat perbelanjaan.
“Sepertinya aku ingin bersama mereka saja,” ucapku kepada para perempuan tersebut, akan tetapi mereka semua tidak mengizinkanku.
“Kau ikut bersama kami saja,” lontar Bella tersenyum.
“E—Eh? Tapi aku hanya laki-laki sendiri.” Lantas Rein mendekatkan mulutnya ke telingaku lalu berbisik kepadaku.
“Terima saja. Kapan lagi kau berjalan bersama gadis-gadis cantik?” Sontak aku menjadi mau dan wajahku memerah.
“Ayo kita jalan! Adelard akan ikut dengan kita,” lanjut Rein kepada mereka. Lalu mereka semua berjalan meninggalkanku di belakang. Rein melambatkan langkahnya dan mengajak diriku yang masih syok dan terdiam.
“Baiklah… Kali ini kau yang menang,” hembusku pasrah.
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)
__ADS_1