Love Exchange

Love Exchange
Episode 69 : Lautan Cahaya Di Atas Kota


__ADS_3

Malam ini kami berada di puncak gunung berkedip dalam kilau bintang. Langit berawan tipis tidak menghalangi rupa rembulan yang menggantung tinggi di angkasa. Terlihat dari pandang yang jauh gemerlap kuning kejinggaan mewarnai perkotaan. Tempat ini sangat tepat untuk melihat cahaya emas berterbangan.


Sekarang waktu telah menunjukkan bahwa pergantian tahun akan segera tiba. Kilauan bintang-bintang gemerlapan menemani lingkungan yang sepi dan sunyi.


“Sebentar lagi acaranya di mulai,” ucap Hart seraya melihat jam tangannya.


“Ayo kita lihat!” ajak Freda bersemangat, meskipun sayatan dingin tengah malam mengirisnya.


Kemudian kami berjalan menuju anjungan puncak gunung yang tidak jauh dari tenda. Dengan berpakaian tebal kami semua menyaksikan detik-detik pergantian tahun yang berbeda dari biasanya. Suara kebisingan kota masih terdengar kecil walaupun berada di jarak yang cukup jauh. Sembari menunggu, kami bermain tebak-tebakkan di depan api unggun.


“Aku ada tebak-tebakan!” cetus Freda. “Baiklah. Berikan aku yang paling susah,” celetuk Hart berlagak sombong.


“Heleh… Sok sekali kau,” sahut Eledarn sebal kepadanya.


“Oke. Bebek apa yang kakinya tiga?” lanjut tanya Freda pada kami semua. Kami pun berpikir untuk menjawabnya. Sesekali ada pula yang menebak-nebaknya dengan asal.


“Bebek kelainan?” jawab Hart ragu.


“Spesies macam apa bebek seperti itu? Salah!” balas Freda dengan nada tinggi. Sementara itu Milard tidak terbayang jawaban apa pun.


“Tinggal dikasih satu lagi saja kakinya,” jawab Eledarn asal.


“Tidak bisa seperti itu,” Jawaban yang diberikan Eledarn ternyata masih salah, padahal aku baru saja ingin menjawabnya serupa. Aku tidak kepikiran satu pun jawaban. Lalu Cassie bertanya-tanya seraya berkonsentrasi menatap langit.


“Aku baru tahu kalau ada jenis bebek berkaki tiga,” tuturnya pelan. Haru juga tidak mampu menjawabnya lagi.


“Mana nih, yang katanya minta pertanyaan yang paling susah...?” sindir Freda ke arah Hart. Sontak Hart pun membela diri. “Yah… Kukira kan tidak akan seperti ini pertanyaannya.”


Seketika terpikir di benakku bahwa tidak ada jenis bebek berkaki tiga sama sekali. Kemudian aku mencoba meluruskannya dan bertanya kepada Freda.


“Tunggu. Bukannya bebek kakinya hanya dua?” tanyaku heran.


"Betul sekali! Itu jawabannya!” lontar Freda senang. Seketika teman-temanku menjadi gusar dan tidak terima.


“Apa-apaan jawaban seperti itu?” cucuh Hart kesal, sedangkan Freda hanya cengar-cengir cengengesan.


“Pertanyaan bodoh macam apa itu!” sosor Eledarn meninggikan suara. Tiba-tiba suasana menjadi riuh dan aku pun berusahan untuk menenangkan mereka berdua.


“Sudah… Sudah… Itu kan hanya tebak-tebakan,” ucapku. Akhirnya Hart dan Eledarn dapat menahan emosinya kembali, meskipun masih ada rasa jengkel terpampang di wajah mereka.


“Hehehe… Maaf, tiba-tiba pertanyaan tadi terlintas di kepalaku,” ungkap Freda.

__ADS_1


“Baiklah, sekarang giliranku!” tandasku memulai babak baru. Lantas semua orang kembali bersemangat dan berkonsentrasi.


“Nah, kali ini aku pasti bisa menjawabnya,” sahut Hart.


“Cuaca sedang mendung. Ada lima orang tapi hanya ada satu payung. Bagaimana caranya agar mereka semua tidak kehujanan?” tanyaku tersenyum licik. “Silakan berpikir…” tambahku memberi semangat.


“Hmmm… Berteduh di pohon di sekitar situ?” jawab Emery beragak-agak.


“Tet tot. Salah,” balasku. Kemudian mereka kembali berpikir keras.


“Beli saja payung, kan di sana ada toko payung. Iya, kan?” jawab Milard, tetapi jawabannya masih salah.


“Wah, benar-benar sulit, nih,” cetus Freda.


“Alien memang beda!” seloroh Hart lagi-lagi menyinggungku. Dengan sedikit rasa jengkel aku kembali menyemangati mereka.


“Ayolah… Ini mudah kok,” cakapku. Tak lama kemudian Cassie menanggapiku.


“Adelard, bisa kau ulang kembali pertanyaannya?” pintanya dan aku pun mengulang kembali pertanyaanku kepadanya. Tepat saat itu juga Cassie menemukan suatu jawaban.


“Aku tahu!” lontarnya girang. Seketika orang-orang menjadi terpaku ke arahnya. “Mereka tinggal jalan saja, kan baru mendung, belum hujan,” jawabnya pandai. Lantas aku membenarkan jawabannya.


“Wah, iya, ya… Benar juga,” desis Milard menyadarinya.


“Arghh! Kenapa aku tidak kepikiran seperti itu?” sesal Hart.


“Hahaha! Sepertinya tidak ada peningkatan, ya,” sindirku kepadanya tergelak tawa. Kemudian kami melanjutkannya kembali bergiliran untuk memangkas waktu yang masih cukup panjang ini.


Tak terasa detak demi detak jam berputar dan akhirnya tiba saatnya, waktu terhitung mundur tiga puluh detik sebelum tahun berganti. Kami semua mengamati jam tangan sekaligus memandang sinar api dari balik lampion terbang tersebut satu demi satu mulai menyala.


“Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh, …” lontar kami bersemangat menghitung mundur tiap detiknya.


“Tiga, dua…, satu…!” teriak kami serentak gembira. Tepat saat itu juga lampu api itu mulai mengudara lepas. Kami semua terpukau senang dan gembira. Tidak disangka langit juga akan sama indahnya meskipun tidak menggunakan kembang api.


“Wah lebih indah daripada kembang api,” cakap Milard ternganga takjub.


“S—Seperti di dunia fantasi…” sahut Eledarn. Kabut yang menyelimuti kota tersebut membuat pandangan seperti melihat kota di atas awan.


“Benar-benar menakjubkan,” cetelukku tidak percaya. Lalu Emery teringat sesuatu. “Bagaimana kalau kita mengambil foto bersama dengan latar pemandangan itu?” pintanya kepada yang lain.


“Oh iya! Betul! Ayo, cepat-cepat!” lanjut ajak Freda tersadar. Lantas Cassie langsung mengambil kameranya dan tidak ingin melewatkan kesempatan indah seperti ini. “Ayo semua ambil posisi!” seru Cassie sembari mengatur letak kameranya. Setelah itu ia berlari menghampiri kami dan berkata, “Senyum!” Lalu keluar kertas foto dari kamera itu.

__ADS_1


“Ayolah, cepat, tunjukkan gambarnya!” geram Hart terhadap secarik kertas itu, tetapi kertas itu memproses gambar cukup memakan waktu.


“Kalau begitu, kita jepret-jepret saja dahulu. Kalau kita menunggu itu, keburu acara itu selesai,” ajak Freda. Sesudah itu kami kembali mengambil foto hingga puluhan kali. Samapi-sampai tanpa kami sadari Hart tidak terlihat dari pandangan kami.


“Eh? Hart ke mana?” tanyaku heran. Sontak semua orang tersentak kaget lantas kocar-kacir.


“Waduh… Apa tidak ada yang melihatnya,” tanya Emery cemas. Kami menjawabnya dengan menggeleng-gelengkan kepala. “Perasaanku tadi dia masih di sini,” jawab Milard.


Setelah situasi yang mencengankan tersebut, akhirnya Hart muncul keluar dari tenda. Kami pun  lega kemudian bertanya kepadanya dengan kesal.


“K—Kau dari tadi di dalam?” tanya Eledarn tercengang sekalikus jengkel.


“Aku sedang mencari sesuatu,” jawabnya tenang seperti anak tak berdosa.


“Kenapa kau tidak memberi tahu kami?” ketus Freda.


“Ya maap… Hehe…” balasnya pringas-pringis. Aku hanya bisa menghela napas terhadap perangainya.


“Tapi aku membawa ini,” lanjut Hart menambahkan sekaligus menunjukkan sesuatu. Ternyata ada beberapa lampion terbang yang selama ini tersimpan di tasnya. Seketika kami semua terkejut tidak percaya.


“Loh? Sejak kapan kau membawa itu?” tanya Eledarn kebingungan.


“Sejak awak kita ke sini,” jawabnya. Kemudian ia memberikan kami masing-masing lampu api terbang itu satu per satu. Selepas tiap-tiap kami sudah memegangnya kemudian Emery meminjamkan pemantik api miliknya. Saat lampion itu menyala, seketika pelita tersebut terlihat berwarna emas kejinggaan, sama seperti yang kami lihat di perkotaan.


Lalu Hart mengajak kami untuk berbaris di anjungan tersebut. Sebelum melepaskannya ia memberikan sebuah usulan.


“Sebelum kalian lepas, ucapkanlah keinginan kalian.”


“Jadi ini seperti permohonan harapan?” tanya Cassie kepada Hart.


“Iya. Pastikan kau melakukannya,” jawabnya.


Kemudian kami mengucapkan permintaan dan harapan kami di tahun yang baru saja berganti ini. Arkian lampion-lampion tersebut menghiasi langit malam di hadapan kami. Dengan suasana haru, kami semua mengharapkan yang terbaik untuk esok hari dan seterusnya. Sebelum aku melepaskannya, ada satu permohonan khusus yang ku inginkan.


“Semoga kebersamaan seperti ini terus berlanjut… Kuharap kita semua tidak akan terpisahkan oleh ruang dan waktu…”


Kelak ruang langit yang gelap seketika terang benderang dengan bintang emas yang melayang-layang di atas hamparan sejauh mata memandang.


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)

__ADS_1


__ADS_2