
Siang hari yang cukup terik dengan suasana yang lebih hangat dari hari sebelumnya membuat tenaga kami cepat terkuras di bawah cahayanya. Semula berniat pergi menuju mal kota seketika terurung lantaran rasa penat dan lapar yang datang menghampiri. Aku merasa lega saat tidak ada lagi orang yang datang menjumpai kami untuk berfoto bersama, walaupun aku sendiri tidak tahu posisi diriku berada sekarang.
“K—Kita harus mengumpat seperti ini…” gumamku terengah-engah.
“I—Iya… Aku tidak akan mengenakan pakaian ini lagi di keramaian seperti ini…” sahut Cassie.
Pada saat yang bersamaan aku mencium aroma lezat dari sebuah tempat makan. Terdengar suara yang berasal dari perutku dan Cassie serentak. Kami saling menatap satu sama lain sembari memikirkan cara berjalan tanpa menarik perhatian banyak orang. Aku sempat mengintip dari balik dinding memandang ke arah jalan yang terlihat sedikit sepi.
“Sepertinya aman, ayo cepat!” desisku pada Cassie.
Kami berlarian kecil lalu dengan cepat pergi menuju tempat makan itu. Sesampainya di dalam, lagi-lagi semua mata orang tertuju ke arah kami berdua. Untung saja mereka tidak ada yang mendekati kami. Dengan menahan rasa malu kami memesan makanan cepat saji itu kemudian berjalan untuk menempati meja makan. Setelah itu kami bergiliran mencuci tangan dan kembali ke depan piring makan.
“Aduh! Aku baru ingat kalau kita sedang pakai pakaian ini,” lontarku.
“Kalau kotor sedikit saja, kita takkan sanggup menanggung harganya,” balas Cassie.
Mau tidak mau kami harus menyantap hidangan tersebut. Suatu ketika terdengar suara ramai dari pintu masuk restoran. Betapa terkejutnya aku saat melihat Gavin dan kawan-kawannya yang datang memasuki restoran. Mereka tengah mengantre untuk memesan makanan di meja kasir. Aku merasa sangat panik melihatnya. Terbesit di benakku untuk segera pergi dari tempat ini, namun makanan di piring kami masih cukup banyak.
“Cassie! Ada Gavin dan teman-temannya!” bisikku padanya.
“Eh? Benarkah?” balasnya terkejut lalu menoleh ke belakang.
“B—Bagaimana bisa ada mereka di sini?” imbuhnya belingsatan. Tidak lama kemudian mereka berjalan menuju meja makan dengan nampan di tangan mereka. Aku dan Cassie berbicara dengan saling berbisik satu sama lain.
“Jangan menoleh ke belakang,” ujarku.
“Sesuai aba-abaku nanti, kita sama-sama berpaling ke jendela,” imbuhku.
Cassie pun mengangguk pelan ke arahku. Kami menundukkan kepala agar tidak mudah dikenali oleh mereka. Saat mereka mendekat aku langsung memberikan aba-aba yaitu mengepalkan tanganku. Dengan penuh rasa panik kami menghadap jendela membelakangi mereka. Badanku sedikit bergemetar saat mereka berada sangat dekat dengan kami.
“Cepat, cepat, cepat…” gumamku dalam hati.
Pada akhirnya suara mereka terdengar sedikit mengecil namun masih terasa dekat dengan kami. Aku yang masih menahan posisiku lantas merasa buncah akibat suara yang terus terdengar jelas di telingaku. Pada akhirnya aku duduk biasa seperti semula, tetapi kepalaku menunduk takut mereka melihatku. Cassie yang melihat diriku kembali lantas ia juga menghadap ke arahku. Akan tetapi, ia langsung menunduk serendah-rendahnya setelah terkejut memandangku.
“Ada apa?” bisikku.
“D—Di belakangmu…” jawab Cassie. Aku pun menoleh sedikit ke belakang. Rupanya mereka duduk persis di belakangku.
“Astaga… Kenapa selalu begini?” benakku jengkel. Cassie tidak berani mengangkat kepalanya karena takut salah satu dari mereka melihat sosoknya dengan jelas.
“Cassie… Pindahlah ke sebelahku…” lanjutku. Ia mengambil piring lalu duduk di sampingku.
“Cepat habiskan lalu pergi dari sini,” imbuhku.
“Oke…” tuturnya.
Selama kami menyantap makanan terdengar perbincangan mereka dengan jelas. Kami sedikit menyimak pembicaraan mereka diam-diam.
“Tumben sekali kau ikut dengan kami.”
__ADS_1
“Iya, apa kau tidak menggunakannya untuk menikmati libur dengan pacarmu?”
“Sesekali bermain bersama teman-temanku tak masalah, kan?” balas Gavin.
“Benar sih… Berarti kau meninggalkannya di rumah?”
“Lebih tepatnya di asrama… Mungkin dia juga bersenang-senang dengan teman-temannya,” jawabnya.
“Mungkin? Apa dia tidak memberitahumu?”
“Entahlah… Paling tidak dia ada di asrama.”
“Seorang diri?” tanya kawannya dengan wajah terkejut.
“Ada temanku yang juga ada di sana kayaknya,” balas Gavin.
“Laki-laki?”
“Iya.”
“Hati-hati, zaman sekarang apa pun bisa tak kau sangka.”
“Hahaha! Tenang saja, dia juga sudah punya pacar,” cetus Gavin tertawa.
“Syukurlah…”
“Huft… Hampir saja…” hembus Cassie.
“Sedikit ironi mendengar obrolan mereka, sedangkan kita ada di sini…” gumamku.
“Aku juga merasa begitu…” tutur Cassie tertunduk.
“Baiklah! Sekarang bagaimana kalau kita lanjut ke mal?” usulku kembali bersemangat.
“Oke!” sahut Cassie.
Terlihat suasana mal yang sangat ramai dengan para pengunjung. Tampak pula beberapa orang yang mengenakan pakaian elegan dan mewah seperti kami. Sepertinya aku tidak harus merasa khawatir lagi berada di tengah-tengah mereka semua. Keadaan bertimpang berbeda dengan situasi saat kami berada di tengah kota yang di mana terdapat berbagai kalangan melintas.
“Kita tidak sendiri ternyata…” ujarku terperangah.
“Kelas elit…” pukau Cassie.
Waktu tengah hari yang masih panjang kami gunakan untuk berkeliling kompleks perbelanjaan yang amat luas itu. Sesekali kami berhenti dan membeli santapan ringan untuk menghilangkan rasa penasaran dan dahaga. Tanpa sadar kami telah menguras banyak uang, tetapi kami tetap bersenang-senang dan menikmati segala hal yang ditawarkan.
“Wah… Mulutku terasa nyaman…” gumamku.
“Iya… Ternyata begini gaya hidup orang kaya…” balas Cassie yang seketika mengingatkanku pada uangku.
“Oh iya, sudah berapa banyak uang yang ku habiskan?” lontarku. Cassie juga baru tersadar lalu terkejut saat menghitung semua biaya yang dikeluarkannya.
__ADS_1
“S—Sepertinya kita harus menahan diri…” tuturnya cengar-cengir.
“I—Iya… Kita bisa tak makan besok…” lanjutku cengengesan.
Kami melangkah sembari memandang kios perbelanjaan yang berada di samping kanan dan kiri.
“C—Cukup mahal… ya…” gumamku.
“Iya… Kita tidak bisa apa-apa lagi di sini…” sahutnya.
Pada suatu ketika kami melewati sebuah tempat arena permainan yang cukup ramai dengan orang-orang.
“Sepertinya di sana cukup terjangkau,” ujarku.
“Kau mau mencobanya?” tanya Cassie.
“Iya. Kau juga mau, kan?”
“Baiklah, sudah lama juga aku tidak bermain di tempat seperti ini,” balasnya tersenyum.
Kami mendapati masing-masing sebuah kartu dengan saldo untuk memainkan permainan yang beragam. Berbagai permainan kami mainkan bersama seraya tertawa gembira. Pada akhirnya kami berniat mengakhirinya dengan menghabiskan saldo yang tersisa untuk memainkan permainan pencapit boneka.
“Kau suka sekali dengan boneka, ya?” tanyaku menyeringai.
“Ya, di kamarku saja ada banyak boneka di segala sudut,” jawab Cassie.
“Kamar asrama juga seperti itu?” lanjutku penasaran.
“Hanya beberapa saja.”
“Oh benarkah? Tapi sepertinya aku tidak melihatmu membawa boneka,” balasku.
“Mungkin kau yang tidak melihatnya… Kadang aku membelinya atau diberi oleh teman-temanku,” tuturnya ceria. Pada saat yang bersamaan ia teringat dengan boneka yang diberikan oleh Gavin padanya. Aku sedikit kebingungan saat melihat dirinya yang melamun.
“Kau memikirkan sesuatu?”
“Tidak, aku hanya teringat dengan temanku,” jawabnya pringas-pringis.
Saat kami asyik memainkan permainan tersebut, tiba-tiba saja terdengar suara teriakan di dekat kami.
“Kau mau ke mana, Rein?” lontar seseorang. Kami yang mendengarnya sontak menoleh ke arah sumber suara. Tampak Rein dan kawan-kawannya yang berlarian ke arah kami berada.
“Gawat! Ada Rein!” ujar Cassie panik. Aku yang tak menyangkanya lantas merasa jengkel terhadap takdir yang ku alami saat ini.
“Astaga naga! Apa lagi ini…!”
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)
__ADS_1