
Hari sudah semakin larut. Keramaian orang-orang telah terurai dan kini menjadi sepi. Kami pun keluar dari taman bermain dan bersiap untuk pulang. Namun rumah kami masing-masing berbeda arah. Sementara itu ada seorang perempuan di antara kami.
“Kalau begitu aku duluan, ya. Ada tugas yang belum ku selesaikan.” ucap Hart. “Tapi, bagaimana denganku?” tanyaku kepadanya. Lantas Hart berbisik kepadaku. “Tidak baik membiarkan seorang perempuan berjalan sendiri saat malam larut begini, kan? Nikmatilah, Adelard.”
“Kutunggu cerita romantismu, ya.” imbuhnya senang. “Aku tidak mengerti perkataanmu barusan.” balasku kebingungan. “Dasar tidak peka.” tutur Hart pelan sampai aku tidak mendengarnya. Namun Cassie tampak menahan tawa. Aku seperti orang linglung yang tidak paham apa-apa.
Akhirnya aku mengantarkan Cassie pulang terlebih dahulu. Tidak banyak pembicaraan selama perjalanan karena kami sudah lelah. Kami pun sampai di depan rumah Cassie.
“Terima kasih.” tutur Cassie halus dengan raut wajahnya yang sudah penat.
“Sama-sama. Maaf aku jadi merepotkanmu dan mengganggu belajarmu.” ucapku pelan kepadanya dengan rasa tidak enak. “Tidak masalah. Aku juga senang, kok.” balasnya tersenyum.
“Kalau begitu sampai jum—”
“Ichi! Kau sudah pulang.” lontar seorang pria menghampiri kami. “Jangan panggil aku seperti itu saat di luar, Ayah!” tegas Cassie malu. “Maaf, maaf.” ujar ayahnya. Cassie menatap bingung ayahnya. “Oh, aku baru saja pulang dari kafe.” ujarnya. “Eh? Siapa pria ini? Pacar?” lanjut tanya ayahnya penasaran.
“Bu—Bukan!” jawabnya malu dan wajahnya memerah. Kemudian aku memperkenalkan diriku. “Aku Adelard, Paman. Teman sekeleas Cassie. Salam kenal.” ucapku tersenyum padanya.
__ADS_1
“Baiklah kalau begitu, ayo kita masuk dulu ke dalam.” ajak ayahnya. “Tidak usah, Paman. Maaf, saya ingin pulang karena sudah larut.” tangkasku sopan kepadanya, tetapi sepertinya ia tidak ingin berpisah dengan begitu cepatnya. “Tidak apa, ayo minum teh dulu.”
Di dalam ruang tamu aku diperkenalkan dengan keluarganya. Baru kali ini aku bertamu ke rumah teman perempuanku. Walaupun aku tidak berniat begitu. Kami saling mengobrol santai di meja makan ditemani secangkir teh. Namun ibunya Cassie datang dengan makanan yang dibawanya.
“Makan malam siap.” ucap ibunya dengan semangat. Lantas aku terkejut melihatnya. “S—Selarut
ini?” lontarku gelagapan tidak percaya. “Yah… Kami menunggu sampai semuanya hadir.” jawab ayahnya cengengesan. Aku merasa tidak enak dengan mereka.
"Maaf, aku jadi merepotkan kalian.”
“Tidak apa-apa. Jarang-jarang kami mendapati tamu, lho.” tutur ibunya tersenyum kepadaku.
“Tenang saja. Sering-seringlah main ke sini.” seloroh ibunya Cassie kepadaku. Lalu Cassie menjadi malu dengan perkataan ibunya barusan.
“I—Ibu…” ucapnya gugup dan pelan.
“Hahaha… Kalian juga bisa belajar bersama, kan? Kamarnya tidak kalah dengan perpustakaan, lho.” tutur ibunya seraya tergelak tawa. Begitu pula dengan ayahnya, tetapi Cassie hanya tertunduk diam menahan malu. Aku sedikit terkejut setelah mendengarnya.
__ADS_1
“Eh? Lalu kenapa Cassie pagi tadi pergi ke perpustakaan?” tanyaku kebingungan sekaligus penasaran.
“Yah… Walaupun kamarnya banyak buku tapi tetap saja tidak selengkap perpustakaan.” jawab ibunya cengar-cengir.
“A—Aku juga ingin sesekali pergi keluar.” lanjut ucap Cassie gugup.
Perbincangan hangat mengisi makan malam kami. Aku menceritakan bagaimana kami di sekolah dan membahas olimpiade besok. Sontak mereka berdua terkejut senang mendengarnya. Suasana cair seperti ini mengingatkanku dengan pembicaraan bersama keluargaku saat sarapan.
“Oh iya, Ayah akan bertamu ke rumah rekan kerjaku. Jadi Ayah mengajak Ibu dan Ichi untuk ikut bersama.” ajak ayahnya bersemangat.
“Ichi?” tanyaku bingung. Seketika itu Cassie menjadi malu tak karuan dan wajahnya memerah lagi. “Itu panggilannya.” cetus ibunya Cassie sambil tergelitik tawa melihat tingkah anaknya. Kemudian obrolan terus berlanjut dan sesekali dipenuhi dengan canda tawa.
Setelah itu, aku pun berpamitan dengan mereka. Tetapi ayahnya Cassie ingin mengantarkanku sampai ke stasiun. Sesampainya di stasiun aku berpisah dengan ayahnya.
“Terima kasih. Maaf merepotkan kalian.” ucapku menunduk kepadanya. “Tidak masalah. Aku juga berterima kasih karena sudah menjadi temannya Cassie.” balasnya tersenyum. Saat kereta terakhir datang, aku masuk ke dalam gerbong dan ayahnya berbicara sambil tersenyum sebelum pintunya tertutup.
“Bertemanlah selalu dengannya, ya?”
__ADS_1
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)