Love Exchange

Love Exchange
Episode 28 : Kebanggaan Orang Tua


__ADS_3

Aku tertidur lelap setelah hari yang besar ku jalani sebelumnya. Tidak sempat rapih-rapih, aku langsung berbaring nyenyak di kasurku. Aku belum sempat membuka buku metematika untuk olimpiade yang tidak lama lagi ku ikuti. Seketika terdengar suara perempuan memanggil-manggil namaku.


“Abang, bangun!” teriak adikku tepat di samping telingaku. Sontak aku terkejut dan lompat dari kasur.


“Ha!” Aku yang masih belum sadar terdiam sambil memejamkan mata, sesekali berusaha membukanya namun kelopak mataku tidak menuruti perintahku.


“Ini kan hari libur.” ucapku dengan keadaan masih mengantuk.


“Sarapan sudah siap. Lagi pula bukannya kau ingin belajar untuk besok?” ujar adikku. Tiba-tiba aku teringat dan dengan terpaksa aku beranjak dari tempat tidur dan tidak sepenuhnya mengantuk lagi.


“Sekarang jam berapa?” tanyaku panik. “Jam delapan.” jawabnya. Aku langsung bergegas menuruni tangga dan menyantap sarapanku. Aku juga menyapa kedua orang tuaku di meja yang sama. Mereka tampak kebingungan melihatku terburu-buru.


“Makan pelan-pelan, Nak.” ujar ibuku menenangkanku. Tapi suap demi suap ku masukkan terburu-buru ke dalam mulutku sampai pipiku membulat. “Akyu ingwin belajwar.” ucapku dengan mulut yang terisi penuh.


“Tenanglah… Sepanjang hari ini kau bisa belajar, kok.” balas ayahku, tetapi aku masih saja menyantapnya dengan tergesa-gesa.


“Kau hebat, ya.” tutur ayahku tiba-tiba. Lantas aku menjadi bingung. “Hebwat?” tanyaku.

__ADS_1


“Iya. Kami semua menonton siaran langsung dari saluran televisi nasional.” jelas ayahku kembali. “Ternyata kau pandai melakukannya, ya, Nak.” cetus ibuku tersenyum kepadaku. Terlihat rasa bangga kedua orang tuaku di wajah mereka.


“Romantis sekali. Sayang kenyataannya kau berbanding seratus delapan puluh derajat.” sindir adikku tersenyum jahil. “Berisik!” tegasku sedikit jengkel kepadanya. Adikku pun tertawa kecil sambil menutupinya.


“Aku juga tidak menyangka seperti itu.” ucapku pelan. “Eh? Kau diajak?” tanya ibuku terkejut penasaran. “Iya. Aku diajak oleh temanku karena salah satu anggotanya ada yang cedera.” jawabku malu kepadanya. “Siapa?” lanjut tanya ibuku lagi yang masih penasaran. “Ibu tidak akan mengenalinya.” balasku.


“Jangan-jangan perempuan, ya…?” celetuk adikku lalu aku pun menjadi malu dan tidak enak menjelaskannya di depan kedua orang tuaku. “Na—Namanya Emery.” ucapku pelan sambil menunduk.


“Walah, walah… ternyata benar.” sindir adikku lagi. “Aku ingin menolaknya tapi ia memohon kepadaku.” jelasku. Lantas semuanya menatapku. Aku tidak tahu harus berkata apa. “Tapi aku tidak mengerti dengan wajahnya yang tiba-tiba memerah setiap menatapku.” tambahku dengan gugup.


“Tunggu, abang tidak mengerti…?” tandas adikku bertanya namun aku tidak mengerti apa yang ia maksud.


“Coba abang pikir, kira-kira, kenapa pipinya bisa memerah?” lanjutnya bertanya kepadaku. Aku hanya menerka-nerka dengan jawaban yang menurutku logis.


“Karena malu…?” jawabku ragu-ragu. Sontak adikku menjadi tersenyum bersemangat dan kembali bertanya.


“Nah! Malu karena?” Aku menjadi pusing tujuh keliling mencari jawaban yang tepat. Lagi-lagi aku menjawabnya sesuai dengan apa yang lumrah terjadi pada orang-orang.

__ADS_1


“Malu terhadap lawan jenis? Belum akrab? Pemalu?” uraiku menebak-nebak. Adikku lekas menarik napas dengan rasa jengkel terhadapku. Sedangkan kedua orang tuaku hanya tersenyum menahan tawa melihat perangai kami berdua.


“Apa kau tidak mengerti sama sekali?” tanya adikku dengan nada tinggi.


“Hah?” balasku heran dan juga jengkel terhadapnya.


“Wah parah sekali nih orang.” sindir adikku dengan pelan dan penuh kesal. “Apa yang kau kata—” tegasku kepadanya, tetapi ayahku langsung memotong pembicaraanku.


“Ekhem. Kau ingin belajar untuk besok, kan? Bagaimana kalau kau belajar di perpustakaan kota?” ujar ayahku memberi saran sekaligus memotong perkataanku barusan. “Betul. Di sana buku-bukunya lengkap.” tambah ibuku. “Oh iya, hampir saja lupa.” ucapku tiba-tiba sadar dan bergegas rapih-rapih. Perbincangan ini membuatku lupa akan kewajibanku.


“Baiklah, kalau begitu aku berangkat.” ucapku bersemangat.


“Semangat! Kami akan terus mendukungmu.” balas ayahku tersenyum. Begitu pula dengan ibuku. Adikku juga tidak lepas untuk terus menyemangatiku.


“Sampai nanti!” teriakku kemudian berjalan meninggalkan rumah. Dengan perasaan yang masih sebal terhadap adikku, aku bertanya-tanya sendiri di benakku.


“Apa maksudnya tadi?”

__ADS_1


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2