Love Exchange

Love Exchange
Episode 126 : Insiden Penghapus Jatuh


__ADS_3

Pagi cerah menyambut hari yang dinantikan para murid. Orang-orang beramai-ramai mendatangi sekolah leih awal dari biasanya. Hal yang sama juga terjadi dengan aku dan teman-temanku. Kelas sudah tampak ramai dan penuh pada waktu yang masih pagi buta ini. Kami semua melakukan semua itu untuk dapat mengulang kembali materi dan tentunya supaya tidak terlambat hadir.


Sebelumnya telah diinformasikan bahwa siapa pun yang datang terlambat maka akan dipulangkan. Awal pekan ini merupakan hari pertama kami melaksanakan ujian. Aku dan Gavin telah berada di kelas masing-masing. Kini aku sedang berkumpul bersama Gandra, Bella, dan Rein.


“Kau membawa pensil cadangan?” tanya Bella kepadaku.


“Tentu, untuk jaga-jaga kalu tiba-tiba patah,” jawabku.


“Loh? kau kan bisa menggunakan rautan,” sahut Rein.


“Aku tidak ingin waktuku terbuang hanya untuk meraut pensil.”


“Semalas itukah untuk meraut walau sebentar saja?” lanjut Bella tak percaya. Aku pun membalasnya dengan mengangguk-anggukan kepalaku. Kemudian Bella menunjukkan isi tempat pensilnya. Di dalamnya terlihat penuh dengan bermacam-macam alat tulis, termasuk pulpen berbagai warna.


“Rajin sekali kau, sampai mengganti-ganti warna tulisan,” lontarku terpukau. Pada saat yang bersamaan aku membuka buku catatan miliknya, dan semuanya tampak rapih dan memanjakan mata.


“Fungsi catatan kan supaya dapat dibaca kembali, jadi harus bagus,” balasnya tersenyum. Ia pun mengambil tempat pensil milik Gandra yang tergeletak di atas meja. Tempat duduk Gandra berada tepat di depan tempan duduknya Bella.


“Hanya satu pensil dan rautan? Kau ini niat atau tidak, sih?” tanya Bella sedikit jengkel dengan apa yang ia liat di dalam tempat pensil itu.


“Oh iya, aku lupa membawa penghapus,” tandas Gandra.


“Tapi wajahmu biasa-biasa saja,” sahutku.


“Nah loh. Saat ujian nanti tidak boleh meminjam apa pun,” lanjut Rein tersenyum sindir. Gandra yang mendengarnya lantas tersenyum dan membuat kami bertiga kebingungan melihatnya.


“Tenang saja. Aku ada ide.” Ia pun mengambil penghapus milik Bella dan membuat Bella kesal akan perbuatannya.


“Apa yang ingin kau lakukan?” pungkas Bella. Tanpa pikir panjang Gandra mematahkan penghapus tersebut menjadi dua. Bella yang melihatnya sontak menjadi marah kepadanya.


“Gandra! aku baru membelinya kemarin!”


“Terima kasih,” ucap Gandra tersenyum.


“Huh, untung aku baik hati dan tidak sombong,” lontarnya penuh kesal.

__ADS_1


Bel sekolah berdering dan orang-orang menempati tempat duduknya masing-masing. Guru yang memasuki ruangan adalah guru yang mengajar pada jam pembelajar seperti biasa. Tidak ada jadwal khusus untuk pekan ujian harian. Suasana seketika hening dan seisi kelas hanya berfokus untuk mengerjakan lembaran tersebut.


Hingga pada saat  jam istirahat, kami bergegas mengisi perut kemudian mengulang materi kembali. Pelaksanaan ujian terus berlanjut hingga bel pulang berdentang.


Hari kedua pelaksanaan ujian, tidak ada hal yang berbeda dengan hari sebelumnya. Pak Edwin memasuki kelas dengan wajah seramnya sembari membawa lembaran soal fisika di tangannya. Setelah semua kertas dibagikan, kami dipersilakan untuk membuka soal dan mengerjakannya. Aku yang bersemangat lantas berusaha untuk mengerjakannya dengan cepat. Tanpa sadar, aku menyenggol penghapusku hingga terjatuh dan terpantul jauh ke bawah meja Rein.


“Selama ini masih baik-baik saja. Jangan sampai salah tulis, Adelard,” gumamku dalam hati. Aku membiarkan penghapus itu dan lanjut mengerjakan. Suatu ketika terjadi masalah yang menghampiriku.


“Aduh salah!” batinku. Aku yang berniat memanggil Rein kemudian melihat sekitar agar tidak ketahuan oleh Pak Edwin.


“Sshh! Rein! Tolong ambilkan penghapusku!” bisikku, tetapi Rein tidak menggubrisnya sama sekali. Aku mencoba beberapa kali untuk memanggilnya, namun lagi-lagi tidak mendapatkan respon apa pun darinya.


“Kenapa di saat seperti ini kau menjadi budek?” benakku sebal. Pak Edwin terlihat sedang berada di kelas bagian belakang. Aku menyempatkan diri untuk meminjam penghapus kepada teman yang berada di belakang tempat dudukku.


“Boleh kupinjam penghapusmu?”


“Maaf, aku tidak bawa penghapus.”


“Loh, terus kalau kau salah bagaimana?”


“Mau tidak mau aku harus mengambilnya.”


Setelah melihat-lihat keadaan, aku merangkak dan pergi menuju meja Rein. Aku mendapatkan penghapusku tanpa sepengetahuan Pak Edwin. Rein yang sedang mengerjakan ujian tidak menghiraukanku yang berada di bawahnya. Aku merasa sangat lega.


“Huft… Akhirnya…”  Aku yang lupa kalau sedang berada di bawah meja lantas beranjak bangun dan terbentur dengan meja Rein. Tiba-tiba saja Rein terkejut dan kertasnya tercoret. Suara benturan yang cukup keras sontak membuat Pak Edwin menghampiri sumber suara dan menemukanku. Aku yang tertutup bayangannya menjadi ketakutan sembari menoleh ke arahnya.


“Ikut Bapak ke ruang guru sekarang.”


Perhatian seisi kelas seketika tertuju ke arahku. Aku berjalan menuju ruang guru bersama Pak Edwin. Setiap kelas yang kami lewati membuatku merasa malu dengan tatapan orang yang melihat dari balik jendela. Sesampainya di sana, ia memanggil seorang guru untuk menggantikannya mengawas ruangan. Kemudian aku dilontarkan berbagai pertanyaan olehnya.


“Apa yang kau lakukan tadi?”


“M—Mengambil penghapus, Pak…”


“Dasar ceroboh!”

__ADS_1


“Ma—Maaf, Pak…” Ia pun mengambil selembar kertas ujian lalu memberikannya kepadaku.


“Kerjakan di sini sampai waktunya habis.”


“Ta—Tapi, Pak. Waktunya tinggal setengah jam…”


“Tidak ada tapi-tapi!”


“B—Baik, Pak…”


Aku mengerjakan soal demi soal dengan cepat sebelum waktu ujian habis. Hingga akhirnya tinggal tersisa beberapa soal, namun waktu ujian hanya bersisa satu menit lagi. Aku hanya bisa pasrah dengan keadaan yang menimpaku sekarang. Rasa sesal dalam hati membuatku menyalahi diriku sendiri. Ketika bel istirahat berbunyi sontak Pak Edwin langsung mengambil lembar ujianku.


“Silakan kembali ke kelas.”


“Baik… Terima kasih, Pak…”


Aku berjalan kembali menuju kelas dengan wajah tertunduk sedih. Terlihat teman-temanku yang sedang berkumpul di depan koridor kelas. Melihatku yang termenung lantas membuat Cassie khawatir, begitu pula dengan Icha dan Gavin.


“Apa yang terjadi padamu? Kau tidak apa-apa?” tanya Cassie. Aku pun melewati mereka semua dan menduduki bangkuku lalu menaruh kepalaku di atas meja. Tak lama kemudian mereka menghampiriku. Dengan rasa penuh kesal aku bertanya kepada Rein.


“Kenapa kau tidak menjawab panggilanku?”


“Aku tidak ingin terkena masalah sepertimu,” jawab Rein cuek. Mendengar jawaban tersebut sontak membuatku semakin geram terhadapnya. Aku pun beranjak bangun dari tempat duduk.


“Aku tidak akan mendengarkanmu lagi! Apa pun itu!” lontarku kepada Rein dan seketika membuatnya syok termasuk teman-temanku. Aku pergi keluar kelas meninggalkan mereka.


“A—Aku tidak menduga kalau dia akan seperti itu…” gumam Rein terdiam syok. “Aku harus minta maaf padanya!” imbuhnya seraya berlari namun dihentikan oleh Bella dan Icha.


“Jangan dulu! Tunggu emosinya reda,” lontar Bella.


“Aku hanya niat bercanda tadi…” lanjut Rein tertunduk dengan penuh rasa bersalah, sementara itu Cassie menjadi sangat cemas dan tidak habis pikir dengan apa yang dilihatnya barusan.


“A—Apa yang sebenarnya terjadi…?”


Bersambung~

__ADS_1


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2