
Langit mulai terasa teduh namun kondisi di dalam tempat festival semakin ramai dengan kerumunan orang-orang. Aku bersama teman-temanku telah memisahkan diri dari Gavin dan Cassie di tengah lautan manusia. Aku sempat merasa bersalah karena telah melakukan hal seperti itu, terlebih lagi kepada Cassie yang masih lugu dan polos. Kami berusaha untuk menjauhi kerumunan tersebut supaya tidak terlihat lagi oleh mereka berdua. Hingga suatu ketika aku melihat sebuah tenda besar yang tertutup dan luarnya ada banyak sekali pengunjung yang mengantre.
“Aku penasaran dengan yang ada di sana,” lontarku sembari melihat-lihat ke arah tempat tersebut. Dari papan informasi yang terlihat, sepertinya tempat itu akan segera mementaskan pertunjukkan teater.
“Yah, aku kurang tertarik dengan pertunjukkan seperti itu,” balas Rhean, begitu pula dengan yang lainnya, hanya Rein saja yang ingin ikut bersamaku.
“Ya sudah kalau begitu, kalian berdua saja yang menikmatinya. Kami ingin berkeliling lagi,” ucap Bella kepadaku. Aku dan Rein kemudian berpisah dengan mereka semua. Dengan perasaan senang dan penuh semangat Rein berjalan girang bersamaku.
“Hanya kita berdua sekarang,” ujarnya tersenyum. Aku yang melihat tingkahnya seperti itu membuatku sedikit curiga.
“Jangan-jangan ini semua rencanamu,” gumamku dalam hati. Kami berdua mengantre di barisan menuju tempat pertunjukkan tersebut. Sampai akhirnya kami tiba di loket masuk. Rein yang memesankan tiket untuk kami berdua. Lalu ia mengeluarkan dompetnya dan membuatku menjadi sungkan.
“Tak apa, sesekali biar aku yang membayarnya,” tuturnya tersenyum.
“Terima kasih,” balasku menyeringai. Kemudian kami berjalan masuk ke dalam tempat tersebut dan menempati tempat duduk yang tepat untuk memandang keseluruhan panggung. Aku pun memilih dua tempat duduk lalu mengajak Rein untuk duduk bersama.
“Di sini sepertinya pas,” lontarku senang. Rein menempati tempat duduk yang berada tepat di sebelahku.
Sebelum pertunjukkan dimulai, kami harus menunggu selama beberapa menit seraya melihat beberapa pertunjukkan kecil dari para pelajar yang sekaligus menjadi panitia. Terlihat pula beberapa penjual berondong jagung dan minuman ringan yang menawarkan kepada para penonton. Saat penjual tersebut melewati kami, lantas Rein memanggilnya dan membeli satu bungkus berondong ukuran besar dan dua minuman. Ketika Rein menerima pesanan tersebut, dengan cepat aku mengeluarkan uang di dompetku.
“Apa yang kau lakukan? Biar aku saja,” tandas Rein yang cepat-cepat meletakkan makanan dan minuman yang ada di tangannya.
“Tidak apa-apa, aku saja yang bayar,” balasku. Kami berdua tampak saling sungkan satu sama lain, sementara itu si penjual hanya menyaksikan perangai kami berdua.
“Jangan begitu. Kau sudah banyak membayar, sekarang giliranku,” ujar Rein seraya mengambil uangnya. Kemudian kami berdua menjulurkan tangan kami serentak ke arah penjual tersebut.
“Ini,” ucap kami berdua kompak. Si penjual pun cengar-cengir sekaligus kebingungan.
“E—Eh? Aku harus ambil uang yang mana?” lanjutnya bertanya.
__ADS_1
“Aku saja,” balas kami berdua secara bersamaan lagi. Lantas aku dan Rein saling beradu lidah untuk membayar pesanan itu.
“Kau ini keras kepala sekali, biar aku saja.”
“Sudah seharusnya laki-laki yang mengurusnya, kan?”
“Pernyataan dari mana kau dengar seperti itu?”
“Teman-teman sekolahku dulu sering berkata seperti itu.”
“Tapi kita kan tidak seperti itu,” balas Rein sedikit kesal. Penjual tersebut menjadi kebingungan dan berusaha untuk meredakan keduanya. Rein pun menyudahi perdebatan tersebut seraya berkata kepada si penjual.
“Mohon maaf, Bu. Kalau dari Ibu sendiri, ingin mengambil dari siapa, ya?” tutur Rein mendadak berubah menjadi lembut.
“K—Kalau begitu, aku ambil dari kakak perempuan ini saja yah…” balasnya pringas-pringis. Setelah itu, penjual tersebut melanjutkan diri untuk kembali mejajakan makanan dan minuman, sementara itu kami berdua masih sibuk membahas kejadian tadi.
”Dengarkan aku baik-baik,” lontar Rein serius kepadaku. Lekas aku terdiam dan menyimak perkataannya.
“Aku ingin kita menjadi diri kita sendiri. Jangan pernah ikuti kata orang-orang yang tidak akan ada habisnya. Aku ingin kita susah senang bersama-sama. Aku tidak ingin hanya tersenyum sendiri, sedangkan kau merasa terbebani karenaku.”
“Paham, kan?” Aku yang baru mengetahui hal tersebut lantas tertunduk dan merasa bersalah kepadanya.
“Maaf kalau aku mengecewakanmu,” ucapku pelan.
“Tidak masalah… Kau juga masih belajar, kan? Aku senang dengan kau apa adanya,” balasnya tersenyum. Aku yang mendengarnya tiba-tiba saja merasakan sesuatu yang berbeda di dalam diriku. Rasanya seperti ada rasa kenyamanan tersendiri yang kini aku rasakan.
“Jadi seperti ini rasanya berpacaran…” gumamku dalam hati.
Tak lama kemudian, seluruh ruangan menjadi redup dan pertunjukkan akan segera dimulai. Suara kebisingan orang-orang berlarut menjadi hening dan sunyi. Kemudian lampu-lampu mulai bersorot ke arah panggung. Kami menyaksikannya dengan syahdu. Terletak sebungkus berondong di tengah kami berdua. Secara bergantian, tanganku dan tangan Rein menyantap berondong jagung satu per satu sembari memandang panggung.
__ADS_1
Hingga tanpa sadar aku dan Rein secara bersamaan memasukkan tangan ke dalam bungkus dan saling berpegangan. Sontak kami berdua saling bertatapan dengan wajah yang sedikit terkejut lalu tersenyum satu sama lain. Sampai akhirnya kami saling bersandaran sambil menikmati pertunjukkan yang dipentaskan. Setelah selesai pertunjukkan, kami berdua pun keluar dari tenda dengan wajah riang gembira.
“Wuah… Tadi seru sekali,” lontar Rein sembari merenggangkan tangan. Aku merasakan sebuah kesenangan tersendiri yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.
“Ternyata bisa membuatku merasa tenang dan nyaman, ya…” benakku tersenyum. Kemudian kami berdua menjadi kebingungan untuk melakukan apa setelah menyaksikan pertunjukkan barusan.
“Lalu kita ngapain?” tanya Rein kepadaku.
“Hmm… Entahlah… Bagaimana kalau kita lanjut berkeliling?” balasku.
“Oke!” sahutnya menyeringai dan penuh semangat.
Kami berdua berjalan di atas jalan setapak dengan para pengunjung yang berlalu-lalang. Aku dan Rein berjalan bersebelahan seraya mengobrol dan bercanda tawa bersama. Kemudian Rein mendekatkan tangannya ke tanganku, tetapi aku yang terlalu asyik tertawa tidak menyadarinya. Lantas ia menggenggam tanganku dengan erat sembari cengar-cengir ke arahku. Aku pun ikut menggenggam tangannya dan membuat dirinya kebingungan.
“Kau tidak bermasalah dengan ini?”
“Tidak, memang seharusnya seperti ini, kan?” balasku yang juga terheran-heran dengan pertanyaannya.
“Baguslah kalau begitu. Kupikir kau akan malu dan salah tingkah,” sahutnya tersenyum senang.
“Aku berusaha semampuku…” ucapku tertuntuk dan tersipu.
“Telah kalau kau mau malu sekarang,” cetusnya tergelitik tawa. Aku pun juga tertawa bersamanya.
“Kau sudah banyak berkembang, ya,” ujar Rein senang. Aku menanggapinya dengan tersenyum kepadanya. Akan tetapi, pada saat yang bersamaan aku merasakan sesuatu yang janggal. Lantas aku bertanya-tanya di dalam benakku sendiri.
“Sepertinya ada yang kurang. Apa kita benar-benar berpacaran?”
“Rasanya ada yang aneh, tapi apa, ya…?”
__ADS_1
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)