Love Exchange

Love Exchange
Episode 120 : Perkumpulan Para Lelaki


__ADS_3

Aku terbangun dari tidurku yang cukup nyenyak sampai-sampai tidak mengalami mimpi sama sekali. Kuhirup udara pagi nan segar serta ku gerakkan tubuhku untuk beranjak dari kasur. Gavin yang sangat pulas masih mendengkur dengan asyiknya. Beberapa hari ini aku bisa tidur dengan tenang lantaran dirinya yang tidak banyak bergerak semasa kakinya yang masih cedera.


Selepas bersih-bersih, aku mengambil pakaian dari lemari lalu mengenakannya. Tampak beberapa buku yang aku beli di tempat festival pendidikan kemarin. Kali ketika aku keluar kamar, Rein dan Cassie masih belum menampakkan diri mereka. Aku pun berinisiatif untuk membuat sarapan pagi teruntuk hari ini saja. Mereka yang biasa membuat hidangan, kini aku ambil alih sementara. Sembari menyiapkan peralatan dan bahan-bahan, aku berucap kepada diriku sendiri agar tidak sunyi.


“Baiklah… Ada apa saja di kulkas?”


Terdapat beberapa rempah-rempah dan bumbu masakan, tetapi anehnya tidak ada satu pun bumbu masakan yang siap saji. Semuanya masih berupa bahan mentah dan harus membuatnya dari nol. Aku sedikit kebingungan karena tidak seperti apa yang biasa aku lihat di kulkas rumahku. Detak jam berputar membuatku berpikir akan santapan yang akan kubuat.


Pada saat sedang hening-heningnya, tiba-tiba saja alarm ponselku berbunyi di dalam kantung celanaku. Aku melompat kaget lalu mematikan alarm itu dengan segera. Dan kala itulah terbesit di kepalaku untuk melihat resep masakan dari ponsel.


“Oh iya, kan sudah ada teknologi, Adelard.”


Makanan yang selalu terbayang di benakku adalah sup daging dengan kuah hitam yang selalu menjadi favoritku. Kompor pun aku nyalakan dan satu per satu bahan kupotong dan aku masukkan ke dalam panci dengan api sedang. Aku mengikuti panduan yang tertera di layar ponselku. Aroma harum nan sedap lantas menyebar ke seluruh isi ruangan. Rein keluar dari kamarnya dengan wajahnya yang mengantuk. Ia masih kebingungan dengan aroma yang diciumnya.


“Wuah… Bau apa ini? Kau sedang memasak?”


“Iya.”


“Hmm… Wah, harum juga.” Ia menghampiriku lalu membantu untuk menyiapkan sarapan. Rasa kantuk membuatnya sedikit lemas dan berjalan goyah. Aku yang melihatnya dengan cepat memintanya untuk menunggu saja.


“Tidak apa-apa, biar aku saja. Kau istirahat dulu saja sebentar.” Sembari menguap, Rein tetap kekeh untuk terus membantuku.


“Tak masalah, aku hanya sedikit ngantuk saja.”


Kami pun menyiapkan santap pagi untuk kami semua. Rein membantuku untuk mengambil beberapa peralatan makan, sementara itu aku mengaduk sup. Kemudian Rein datang menghampiriku dengan sebuah sendok di tangannya.


“Sup daging favoritmu?” Aku mengiakan pertanyannya. Lalu ia mencicip sup tersebut dengan sendok yang dipegangnya.


“Enak sekali,” gumamnya tak habis pikir. “Pandai juga kau dalam hal seperti ini.” Aku yang mendengarnya merasa senang.


“Terima kasih.”


Tak lama waktu berselang, terdengar suara Gavin dari dalam kamar. Ia memanggilku dengan suara yang kencang. Dengan segera aku menitipkan pekerjaanku kepada Rein lalu pergi masuk ke dalam kamar. Setibanya di dalam, Gavin telah beranjak duduk di kasur dan ingin melihat ruang tengah, namun kursi roda berada  jauh darinya.


“Aku mau lihat keluar kamar.”


“Oke, tunggu sebentar.” Setelah itu aku mendorong kursi roda bersama dirinya keluar dari kamar. Tampak Rein telah menyajikan sup tersebut berikut peralatan makan yang sudah tertata rapih di meja makan. Aku yang melihatnya sempat kebingungan.

__ADS_1


“Loh, sudah matang?”


“Iya sudah.”


Kami pun menghampiri Rein yang telah duduk tenang di meja makan. Pada saat yang bersamaan, Cassie keluar dari kamarnya. Lalu kami semua menyantap hidangan pagi seraya mengobrol santai. Selepas itu, masing-masing kami melakukan beberapa aktivitas pagi di dalam asrama seperti biasa. Setelah membersihkan diri, aku mengambil pakaianku dan Gavin. Tanpa sengaja aku menjatuhkan buku tentang percintaan yang kemarin aku beli.


“Buku apa itu?” tanya Gavin penasaran. Aku yang menyadarinya mendadak kalang kabut dan segera meletakkannya kembali.


“B—Bukan apa-apa!”


“Ayolah, tenang saja. Tidak ada yang perlu dipermalukan.” Dengan menahan rasa malu, aku kembali bertanya kepadanya untuk memastikan.


“Kau tidak akan menertawakanku, kan?”


“Tidak akan, tidak perlu takut dengan temanmu ini.” Kemudian aku memberikan buku tersebut kepadanya. Saat melihatnya sontak ia terkejut dan merasa sangat senang.


“Woah! Kau membeli buku ini?”


“Iya… Aku beli buku itu kemarin.” Lantas ia membuka tiap-tiap halaman dengan penuh semangat. Aku pun menghela napas lega karena tidak ada hal yang patut dipermalukan.


“Harusnya kau membelikan satu untukku,” lontar Gavin.


“Oh iya, betul juga.”


Aku yang belum membaca dengan saksama lantas membuatku penasaran juga, sementara itu Gavin sudah asyik membaca buku tersebut di atas kasur seraya tengkurap. Sontak aku mendekatinya dan kami pun membaca bersama-sama. Baru beberapa halaman, aku sudah mendapat banyak informasi dan wawasan baru tentang percintaan. Terdapat banyak kalimat yang diucapkan seorang perempuan terdapat di sini. Beberapa perkataan sangat berhubungan dengan hari-hariku.


“Wah, ini kan kalimat yang sering aku dengar saat bersama Cassie,” ucap Gavin sembari menunjuk tulisan itu, sedangkan aku masih terdiam fokus dengan beberapa tulisan.


“Andai saja kita sudah memiliki buku ini sejak awal,” lanjutnya. Beberapa saat kemudian, Rein memanggil kami dari luar kamar.


“Adelard! Gavin! Di luar ada Rhean dan Gandra!” Lantas kami berdua beranjak dari kasur. Gavin memasukkan buku tersebut ke dalam kantung lalu menggenggamnya. Aku yang telah memegang kursi roda mendadak terheran-heran dengan perangainya itu.


“E—Eh? Kau mau membawanya?” tanyaku sedikit terkejut.


“Tentu saja. Kita bisa saling membahas dengan yang lain,” jawab Gavin tersenyum. Aku hanya bisa pasrah kepadanya. Kemudian kami menghampiri mereka berdua yang telah menunggu di koridor asrama. Kami  pun


saling bersapa dengan mereka. Lalu Rhean memberitahukan maksud mendatangkan kami berdua.

__ADS_1


“Ayo kita ke taman belajar!”


“Oh iya, kalau begitu tepat sekali. Kami juga sedang membaca buku ini,” balas Gavin yang kemudian menunjukkan buku tersebut kepada mereka berdua. Rhean yang melihatnya sontak terpukau senang.


“Wah, kalian beli buku tentang cinta?” lontarnya dengan cukup keras. Lekas kami semua memperingatkannya.


“Sshh!” Ia yang baru tersadar langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Kemudian Gandra mengajak kami semua untuk segera pergi.


“Ayo, kita harus cepat-cepat pergi dari sini!”


“Semoga saja mereka tidak mendengarnya di dalam,” lanjutku.


Kami pun berjalan dari asrama menuju taman belajar yang masih berada di dalam kompleks sekolah. Terlihat para murid yang berlalu-lalang ke sana dan kemari. Tak sedikit dari mereka yang menghabiskan akhir pekan dengan berjalan mengelilingi kompleks. Dan kebanyakan dari mereka juga menikmatinya dengan berkumpul, sama seperti aktivitas yang ini kami lakukan saat ini.


Sesampainya di taman belajar, terlihat orang-orang yang asyik berkumpul di banyak meja yang tersedia. Untung saja Gandra menemukan sebuah meja yang masih kosong. Dengan segera kami menuju meja itu. Tak jauh dari tempat kami berada, terdapat beberapa kios makanan yang berjajar di pinggir taman. Rhean pun menawarkan jajanan yang ingin kami beli. Lalu masing-masing kami memberitahukan pesanan kami.


“Baiklah kalau begitu, aku pesan, ya,” ujar Rhean. Lantas ia memanggil seorang pedangang minuman di salah satu kios lalu menyebutkan pesanan kami. Ia menyebutkannya cukup dari tempat duduk dan tidak perlu menghampirinya.


“Pak! Es coklat satu! Jus jeruk satu! Dan es kopi dua, ya!”


“Oke, siap!” sahut si penjual. Sembari menunggu pesanan datang, kami mengobrol tentang buku tersebut.


“Kapan kau membelinya, Adelard?” tanya Gandra penasaran.


“Saat aku hanya berdua dengan Cassie. Tak sengaja aku melihat buku itu,” jawabku.


“E—Eh? Memangnya tidak ketahuan?” tanya Rhean kebingungan.


“Penjual itu memasukkannya ke dalam kantung tebal. Jadi tidak terlihat.”


“Apa Rein tidak merasa curiga?” lanjut tanya Gavin kepadaku.


“Ia sempat bertanya, tapi aku jawab kalau ini rahasia laki-laki.”


“Wah, jawabanmu agak ambigu, ya,” lontar Rhean tertawa canda. Kami pun membuka halaman demi halaman untuk kemudian dibahas bersama-sama.


Bersambung~

__ADS_1


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2