Love Exchange

Love Exchange
Episode 96 : Pasar Malam Tengah Kota


__ADS_3

Cakrawala yang hitam tersinarkan oleh pancaran cahaya rembulan dan bintang-bintang. Jalan-jalan yang terbentang lurus bergemerlap lampu pijar yang  berwarna kuning kejinggaan. Keramaian yang terlihat dari ujung ke ujung membuat suasana menjadi hangat di tengah hawa malam yang dingin. Langit yang tidak dipenuhi awan membuat pandangan menjadi jernih ke angkasa luar.


Aku dan Rein baru saja tiba di pasar malam itu. Kami pun berjalan mencari Cassie dan Gavin. Namun setelah beberapa menit berselang, mereka tak kunjung berjumpa. Tak lama kemudian terdengar suara yang cukup kencang yang berasal dari pengeras suara di persimpangan. Lantas kami menghampiri bersamaan dengan orang-orang yang berjalan ke arah yang sama. Tampak sebuah panggung konser dari kejauhan.


“Di tempat seperti ini ada konser?” lontarku.


“Lengkap sekali tempat ini,” lanjut Rein.


Aku dan Rein menyaksikan pertunjukkan musik yang dibawakan penyanyi-penyanyi yang populer. Tak jarang juga aku ikut bernyanyi bersama dengan penonton-penonton yang lainnya. Situasi menjadi pecah ketika seorang penyanyi legendaris naik ke atas panggung. Aku sangat senang sekali, begitu pula dengan Rein yang melompat-lompat kegirangan.


“Tak kusangka bisa melihat idolaku dengan mata kepalaku sendiri,” ujar Rein.


“Gratis pula,” imbuhku.


Menyaksikan pertunjukkan musik tersebut membuat kami terlarut dengan suasana dan lupa akan tujuan awal kami. Tanpa sadar kami telah menghabiskan waktu hampir satu jam hanya untuk menonton konser itu. Aku pun mengingatkan Rein untuk mencari mereka berdua. Akan tetapi, kesempatan yang amat jarang ini tak mungkin untuk kami lewatkan. Akhirnya aku dan Rein menonton sembari melihat-lihat ke sekeliling, namun khalayak yang begitu padat membuatku tidak dapat melihat apa-apa. Kami menyudahi tontonan dan melanjutkan untuk melihat hal-hal lainnya di pasar ini.


“Pasar ini besar sekali, ya…” lontar Rein.


“Sepertinya tempat ini hanya ada setiap akhir pekan, mungkin…” tambahku.


“Coba kau telepon mereka lagi, siapa tahu bisa,” pinta Rein kepadaku.


“Kenapa tidak kau saja?” tanyaku kebingungan.


“Kau saja, aku ingin melihat-lihat,” jawabnya.


“Baiklah kalau itu maumu.”


Aku pun mencoba untuk menelepon Cassie, namun tidak ada tanggapan darinya, berikut dengan Gavin yang sama-sama tidak menjawab panggilanku.


“Tidak dijawab,” ucapku kepada Rein.


“Apa mereka sudah pulang?” sahutnya cemas.


“Gavin tidak mungkin memutuskan untuk pulang, kan? Kalau begitu lebih baik kita tidak bertamasya dari awal,” jawabku.


“Betul juga. Semoga mereka baik-baik saja,” lanjutnya.


“Kuharap juga begitu.”


Hari yang semakin larut membuat perutku kelaparan. Ditambah lagi dengan aroma-aroma lezat dari makanan-makanan yang membuatku tergiur. Banyaknya toko yang berjajar membuatku kebingungan untuk mengajak Rein pergi ke salah satu tempat makan. Lalu aku melihat sebuah tempat makan yang cukup ramai. Aku pun mengajak Rein untuk pergi ke sana.


“Ayo kita makan di sana, aku sudah lapar,” ajakku.


“Oke, ayo cepat sebelum tambah ramai,” sahutnya. Kemudian kami bergegas menuju tempat makan tersebut.


Sesampainya di dalam, telihat orang-orang yang berbaris dan mengantre di meja kasir. Ternyata tempat ini semacam dengan restoran cepat saji. Kami berdua mengantre di salah satu barisan antrean. Sembari mengantre aku melihat papan menu yang terpampang di belakang kasir. Melihatnya saja sudah membuatku tak sabar untuk mencicipinya.


Pada saat kami mengantre, sebuah dompet terjatuh tanpa disadari oleh orang yang berada di depan kami. Lantas aku pun mengambil dompet tersebut dan memberi tahunya. Orang tersebut tengah mengantre berdua dengan seorang perempuan, sama seperti aku dan Rein.

__ADS_1


“Permisi… Maaf, dompetmu terjatuh,” ucapku kepadanya. Ia pun menoleh ke arahku. Aku dan Rein sontak terkejut setelah mengetahui sosok orang tersebut.


“Adelard?”


“Loh, ternyata kalian ada di sini?” sahutku.


“Akhirnya ketemu…” tutur Cassie lega.


“Aku kira kalian sudah pulang,” ujar Rein kepada Cassie dan Gavin.


“Tentu tidak, mana mungkin aku melewatkan kesempatan—” balas Gavin cengengesan namun aku memotongnya.


“Ekhem,” dehamku kepadanya.


“E—Eh… Maksudku… Ya! Kita kan sedang bersenang-senang, hehehe…” lanjut Gavin cengar-cengir.


“Pikir dulu sebelum ngomong, dong. Jangan ceplas-ceplos begitu,” bisikku sedikit kesal kepadanya.


“Maaf, maaf,” balasnya yang masih saja bercanda. Aku pun menarik napas dengan tingkahnya yang seperti itu.


“Kalau begitu, kita pesan berbarengan saja,” usul Rein kepada kami.


“Oke,” sahut Gavin.


Lalu aku dan Gavin menitip pesanan kepada Cassie dan Rein. Kemudian kami berdua pergi menempati sebuah meja makan yang berada di sebelah kaca. Aku memilih meja makan di sana lantaran aku dapat melihat pemandangan dengan jelas. Sembari menunggu, aku dan Gavin saling mengobrol satu sama lain.


“Tadi kau ke mana saja, Adelard?” tanya Gavin penasaran.


“Apa saja itu?”


“Yah… Kami ketiduran di sana…” jawabku menahan malu.


“Wah, mesra sekali kalian,” sahutnya. Kemudian ia bertanya lagi kepadaku. “Hanya itu yang kalian tuju? Hujan tadi siang lama sekali, lho.” Aku yang padahal telah menjawab pertanyaannya membuatku sedikit jengkel terhadapnya.


“Kan sudah kubilang kalau kami ketiduran.”


“Oh iya, ya… Aku lupa, hehehe…” balasnya cengengesan. Sekarang adalah giliranku untuk bertanya kepadanya.


“Bagaimana denganmu? Semuanya lancar-lancar saja, kan?”


“Tentu saja, semua berjalan dengan sangat baik!” jawabnya penuh semangat.


“Wah, sepertinya menarik. Bisa kau ceritakan?” pintaku sambil mengusili dirinya, tetapi Cassie dan Rein telah berjalan menghampiri kami dengan makanan di atas nampan yang dibawa mereka.


“Nanti saja, ya. Sekalian akan ku ceritakan ke Gandra dan Rhean,” jawabnya tersenyum.


“Baiklah kalau begitu,” balasku yang juga tersenyum kepadanya.


Cassie dan Rein pun tiba di meja kami, lalu ia meletakkan nampan tersebut dan Gavin langsung mengambil kentang goreng yang ada. Aku duduk berdampingan dengan Rein, sementara itu Gavin dan Cassie berada di hadapan kami.

__ADS_1


“Kalian membicarakan apa? Sepertinya seru sekali?” tanya Rein penasaran.


“Rahasia,” jawab Gavin tersenyum.


“Ayolah… Tidak asyik, nih,” balas Rein. Kemudian Cassie bertanya kepada kami berdua dengan rasa ingin tahu yang membara.


“Oh iya, kalian tadi ke mana saja?” Aku dan Rein menjadi sedikit salah tingkah dan kebingungan untuk menjawabnya.


“K—Kami hanya ke restoran. Ya, restoran,” jawabku gugup.


“Hanya restoran? Lalu?” lanjutnya bertanya kembali.


“Kami berteduh di sana sampai hujan reda,” jawab Rein tersenyum. Mendengar perkatannya membuat diriku yang sempat panik menjadi lega.


“Untung saja dia bisa menjawabnya… Syukurlah mereka tidak curiga…” gumamku dalam hati. Lalu aku menanyakan hal yang sama kepada Cassie. Sontak Cassie menjadi salah tingkah dan gelagapan.


“E—Eh? Eeeeee… Kami hanya pergi ke beberapa tempat.” Lalu ia langsung mengganti topik pembicaraan. Kami bertiga hanya tersenyum melihat tingkahnya yang panik sendiri.


“Kalian sudah berkeliling di pasar ini?” tanya Cassie kembali kepada kami berdua.


“Sudah, tapi belum seluruhnya. Kami juga sempat menonton  konser tadi,” jawabku senang. “Kalau kalian bagaimana?” lanjut tanyaku.


“Iya, kami juga sudah berkeliling, dan kami menemukan sebuah tempat yang bagus untuk kita kunjungi nanti,” jawab Gavin. Namun Cassie terheran-heran dengan pernyataan Gavin barusan.


“Tempat bagus? Memangnya tadi kita menemukan tempat apa?” Gavin pun terkejut mendengar pertanyaan Cassie.


“L—Loh, kau tidak melihatnya tadi?” balas Gavin bertanya kembali.


“Ada banyak tempat di sana, aku tidak tahu tempat apa yang kau maksud,” jawab Cassie.


“Baiklah, akan ku tunjukkan kepada kalian semua nanti,” ujarnya gembira.


Kami pun menyantap makanan tersebut sambil mengobrol santai. Aku melihat panggung konser dari kejauhan. Terdengar suara nyanyian yang cukup jelas meskipun dari dalam ruangan sekalipun. Setelah perut kami penuh terisi, kami pun keluar dari tempat makan itu dan berjalan mengikuti Gavin. Dengan rasa riang gembira, ia memandu kami dari depan dengan penuh semangat.


“Ayo, kawan-kawan. Cepat!” lontarnya kegirangan.


“Kau bergembira sekali. Sebagus itukah tempat itu?” tanyaku penasaran. Lalu Gavin menghampiriku dan berbisik ke telingaku.


“Sangat bagus untuk misi kita kali ini.”


“Kau memang yang terbaik!” balasku kepadanya.


Kami berdua pun tertawa, sementara itu Rein dan Cassie hanya melihat perangai kami dengan wajah kebingungan. Akhirnya kami sampai di sebuah tempat yang ingin ditunjukkan oleh Gavin. Tempat tersebut dipenuhi dengan antrean yang cukup panjang, dan semuanya berpasang-pasangan.


“Nah, ini dia tempatnya!” lontar Gavin membara. Sontak aku terkejut dan tidak percaya dengan apa yang sedang aku lihat sekarang.


“Rumah hantu?”


Bersambung~

__ADS_1


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2