Love Exchange

Love Exchange
Episode 80 : Informasi Tak Terduga


__ADS_3

Siang yang cerah ditemani dengan burung-burung berkicauan, angin yang berhembus melewati jendela dan mengayunkan gorden-gorden. Pandanganku yang gelap  dan terbaring tenang kemudian sadarkan diri seraya kedua mataku terbuka perlahan. Tetapi aku belum bisa berbuat banyak karena tubuh yang masih berat untuk digerakkan.


“Syukurlah… Kau sudah bangun,” gumam Cassie lega.


“D—Di mana aku?” tanyaku terputus-putus.


“Ruang kesehatan,” jawabnya tenang. Aku melihat sekeliling dan tidak ada siapa pun kecuali kami berdua. Lalu aku berusaha untuk beranjak duduk dari kasur, tetapi kepalaku masih penuh rasa sakit.


“A—Aduh…” rintihku. Lekas Cassie menjadi panik dan cemas.


“Berbaring saja. Istirahatkan dirimu,” tuturnya.


Kemudian aku menanyakan waktu kepadanya. Ternyata aku sudah berada di ruangan ini selama dua jam. Teman-temanku pun juga tengah sibuk dengan pekerjaan dan remedial mereka masing-masing. Selama di ruangan ini hanya Cassie seorang saja yang menemaniku berbaring.


“Bagaimana dengan pekerjaanmu? Maaf telah membuat kalian kerepotan,” ucapku merasa tidak enak. Dengan tenang ia menjawab seraya berkata, “Tidak apa-apa, aku sudah menyelesaikan semua pekerjaanku. Semua pengawasan untuk sementara ku berikan kepada Emery dan Eledarn.” Aku menjadi salah tingkah akibat tidak tahu harus membalas apa.


“Tenang saja. Yang terpenting sekarang adalah kau harus baik-baik saja.” Cassie berusaha menenangkanku dan menyuruhku untuk beristirahat. Sesaat itu juga aku teringat dengan perintah bahwa kami harus menemui kepala sekolah. Tubuh yang masih terbaring, aku mengingatkannya akan hal tersebut.


“Oh iya, kita harus menemui kepala sekolah.” Aku berusaha untuk bangun namun tetap saja semakin aku melawannya rasa sakit itu semakin bertambah.


“Tak masalah, kita bisa menemuinya nanti.” Aku benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa selain berbaring lemas di atas kasur. “Kau tidur saja dulu, aku ingin melihat perkembangan kegiatan kita,” ucapnya kemudian ia pergi keluar dari ruangan. Aku pun menghadap ke jendela yang berada tepat di sebelahku. Terlihat keramaian orang-orang berlalu lalang selama jam istirahat. Dengan nyenyak aku beristirahat dengan tenang.


“Untung saja tidak ada kecoak datang ke sini,” batinku senang sembari memejamkan mata.


Jarum jam terus berputar, mentari mulai menyingsing dari puncaknya, dan seiring waktu suasana menjadi teduh dan sepi. Aku terbangun dari tidurku, lalu melihat jam dinding. Tanpa ku sadari berjam-jam lamanya telah berlalu dan kini hari sudah petang. Cassie datang memasuki ruangan dan berjalan menghampiriku. Aku merasa lega karena tidak ada dua pengganggu datang, tetapi semua itu hanya terlintas saja. Hart dan Freda juga memasuki ruangan menyusul Cassie dari belakang.


“Halo, Alien!” sapa Hart girang dan lagi-lagi membuatku jengkel kepadanya.


“Sudah baikan?” tanya Freda khawatir kepadaku. Aku yang sudah dapat duduk lantas menjawabnya dengan tersenyum. “Iya, aku sudah merasa bugar kembali.”

__ADS_1


“Wah, syukurlah…” hembus Cassie tersenyum menyeringai senang. Lalu aku menanyakan progres persiapan kegiatan kami yang sudah dekat-dekat ini. Pada saat itu juga aku merasa senang mendengar jawabannya. Kemudian aku beranjak dari kasur dan mengambil tasku yang berada di kelas bersama-sama.


“Kau yakin sudah sepenuhnya membaik?” tanya Cassie sedikit khawatir.


“Ya, aku baik-baik saja sekarang,” jawabku kembali riang dan bersemangat. Melihatku seperti ini membuat mereka tidak percaya terhadapku. Akan tetapi langsung terlintas di benak mereka bahwa ini adalah diriku.


“Wah, alien memang hebat!” lontar Hart menyindirku. Aku menarik napas kesal  kepadanya. “Kau pun sama, Beruk,” balasku. Kemudian kami semua pulang bersama sebelum berpisah satu per satu sesuai  arah rumah mereka masing-masing.


Keesokan harinya cuaca sedikit berawan menyambut pagiku. Aku pun bergegas berangkat sebelum hujan turun. Dan benar saja, tepat setibanya aku di sekolah hujan turun dengan lebat. Dengan rasa lega aku berjalan menuju kelasku. Suasana yang belum cukup ramai membuatku merasa nyaman sembari melihat dedaunan dan bunga yang mulai bermekaran, namun seketika rontok tersapu air yang deras.


Sebelum bel sekolah berdentang, aku betul-betul menikmati hawa sejuk yang menerpa diriku. Suara gemuruh menemani aku yang sedang bersantai di tempat dudukku. Damai rasanya sebab tidak ada kecoak dan teman-teman yang heboh lainnya. Cuaca buruk seperti ini memberiku pertanda bahwa mereka berdua akan datang terlambat.


“Huh, pasti mereka kocar-kacir,” ucapku terkikik bengis.


Beberapa waktu berselang bel pun berdering dan jam pertama akan segera dimulai. Namun kondisi kelas masih sepi dan hanya terisi oleh separuhnya. Selama jam pelajaran berlangsung, satu per satu teman-temanku hadir dan memasuki kelas. Untung saja guruku dapat memakluminya.


“Apa mereka tidak datang hari ini?” Pembelajaran terus berlangsung sampai akhirnya waktu istirahat tinggal sebentar lagi. Setelah jam pelajaran habis guruku mengakhiri pembahasan lalu keluar dari kelas. Tepat saat jam istirahat, mereka berdua pun hadir memasuki kelas setelah telat yang berlarut-larut lamanya.


“Kalian baru datang sekarang?” tanyaku tercengang. Mereka berjalan menuju tempat duduknya dengan pakaian dan tas yang basah kuyup. “Kalian tidak membawa payung?” lanjut tanyaku lagi. Mereka tidak membawa payung lantaran tidak memilikinya.


“Yah, buku-bukumu basah semua dong?” tanya Milard. Setelah meletakkan tas kemudian Hart mengeluarkan isinya seraya berkata, “Eits… Tenang saja, ada perlindungan anti basah.” Ia mengeluarkan buku-buku miliknya itu dari dalam tas dan sudah terbungkus oleh plastik. Aku pun tidak habis pikir dengan alur berpikir mereka.


“Kalian tidak memikirkan diri kalian sendiri?”


“Yah… Habisnya mau bagaimana lagi,” jawab Hart kepadaku. Milard yang juga jengkel terhadap perangai mereka lantas berkata, “Padahal kan kalian bisa membelinya.” Freda pun menyahutinya sambil cengengesan. “Aku selalu lupa untuk membelinya… Hehe…”


Selama istirahat mereka berdua sibuk untuk mengeringkan pakaiannya. Hart yang tidak kehabisan ide mengakalinya dengan meminjam oven yang berada di kantin. Freda pun mengikutinya. Aku yang berada di kelas kemudian mengajak Cassie untuk menemui kepala sekolah.


“Ayo kita ruang kepsek.”

__ADS_1


“Oh iya, hampir saja lupa,” balasnya.


Sesampainya di dalam ruang kepala sekolah, kami bertemu dengannya. Berulang kali ke sini, selalu saja kami disambut dengan berlebihan olehnya. Tentu  saja hal tersebut membuatku dongkol dengan semua ini. Agar tidak memakan banyak waktu, aku segera bertanya kepadanya.


“Kalau boleh tahu, ada apa gerangan Bapak memanggil kami kemarin?” tanyaku pelan dan berusaha sopan, meskipun perangainya yang aneh dan menyebalkan.


“Ah ya! Saya memanggil kalian karena ada sesuatu yang ingin saya beritahukan teruntuk kalian berdua.” Kami berdua pun menyimaknya dengan serius.


“Kalian akan mengikuti pertukaran pelajar,” jelasnya singkat. Sontak kami berdua menjadi terkejut bukan main.


“M—Maksud Bapak?” tanyaku terperangah.


“Ya itu tadi,” jawabnya. Cassie hanya termangap diam tidak percaya. Informasi yang datang mendadak membuatku terus bertanya-tanya dan memastikan. “Jadi kami akan belajar di luar Coralnecy selama setahun?”


“Iya kalian akan bertemu dengan murid terpilih lainnya dari berbagai daratan. Dan kalian akan diberangkatkan ke Malaerath setelah kenaikan kelas nanti.”


“Lalu setelah itu kami dapat lulus seperti yang lainnya?” tanya Cassie penasaran. Kepala sekolah menjelaskannya dengan rinci.


Pertukaran pelajar merupakan program dari masing-masing daratan kepada daratan lainnya di seluruh dunia untuk murid kelas dua belas. Dan kini sekolahku mendapatkan kesempatan untuk memberikan dua orang murid ke daratan Malaerath selama satu tahun pendidikan. Keberangkatan dimulai pada musim panas. Setelah dinyatakan lulus di daratan tersebut, murid harus mengikuti lanjutan belajar di sekolah yang sama sebelumnya selama satu tahun. Hal tersebut dilakukan karena perbedaan pedoman pendidikan dari masing-masing daratan.


Sesudah mendengarkan penjelasannya, aku masih kebingungan dengan pernyataannya yang sulit untuk dimengerti.


“Persiapkan saja diri kalian. Kalian juga akan segera mengetahuinya,” ucap kepala sekolah. Kemudian kami pun permisi dari ruangan dan kembali ke kelas melanjutkan pelajaran. Aku dan Cassie tidak memberi tahu siapa pun, termasuk teman-teman terdekat. Kepalaku terus terbayang-bayang dengan informasi barusan.


“Apa saja yang harus ku persiapkan?” Apa aku akan baik-baik saja di sana?”


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)

__ADS_1


__ADS_2