Love Exchange

Love Exchange
Episode 136 : Harapan Yang Berbeda


__ADS_3

Langit biru cerah dengan mentari yang bersinar terik, orang-orang berpencar meramaikan gedung sekolah. Kami baru saja mengikuti kegiatan seminar tadi. Saat bel istirahat berbunyi, kami langsung bergegas menuju kantin tanpa memikirkan hal lain sedikit pun. Hingga akhirnya saat berjalan kembali ke kelas, teman-temanku masih tidak percaya kalau ayahku menjadi pembicara.


“Aku tidak mengira kalau itu ayahmu,” ucap Gandra. Rhean dan Icha yang belum mengetahui kejadian itu karena berbeda kelas sontak tidak mengerti dengan perkataan Gandra barusan.


“Apa maksudmu? Ada ayahnya Adelard di sini?” tanya Rhean buncah sekaligus penasaran.


“Iya,” jawabku.


“Wah, aku ingin bertemu dengannya!” lontar Icha bersemangat.


“Loh? Kenapa kau sangat semangat untuk bertemu ayahku?”  tanyaku heran.


“Anaknya saja seperti ini, aku jadi sangat penarasan dengan ayahnya,” jawab Icha membara. Tidak lama kemudian seseorang datang menghampiri kami yang ternyata adalah ayahnya Gavin. Kami yang sedang berjalan dengan makanan yang berada di tangan kami lantas terhenti. Rhean dan Icha yang sudah menemuinya lekas saling bersapa senyum.


“Kalian sedang ke mana?”


“Kami habis dari kantin dan ingin pergi ke kelas,” jawabku  cengar-cengir.


“Oh… Kalau begitu, ayo kita makan bersama. Ikuti aku,” balasnya tersenyum. Kami yang mendengarnya sontak terkejut dan kebingungan. Kami pun pergi mengikutinya dari belakang. Gandra dan Bella yang belum mengenalinya lantas berbisik kepada mereka.


“Kalian mengenalinya?”


“Iya, ia  yang mengisi semininar di kelas kami,” jawab Icha. Gavin yang mendengar pembicaraan mereka hanya tersenyum. Melihat wajah Gavin seperti itu membuat Gandra berpikir sesuatu.


“Kau kenapa?”


“Bukan apa-apa, hanya terhibur dengan obrolan kalian,” jawab Gavin menyeringai. Lalu Gandra menatap curiga ke arahnya.


“Tumben sekali kau tidak penasaran dengan orang itu. Kau sudah kenal?” lanjut Gandra bertanya, namun Gavin hanya membalasnya dengan menaikkan kedua pundaknya. Gandra semakin penasaraan dengan semua itu. Ia pun menanggapi respon Gavin dengan tersenyum.


“Baiklah kalau begitu.”


Kami berjalan melintasi kelas-kelas dan orang-orang yang berada di sana. Seakan-akan kami telah mencuri perhatian mereka akibat berjalan bersama ayahnya Gavin. Kami pun akhirnya tiba di sebuah ruangan yang tidak lain dan tidak bukan adalah ruang rapat. Ayahnya Gavin lantas membuka pintu dan masuk ke dalam bersama kami. Terlihat ayahku sedang berbincang asyik bersama  dengan ayahnya Cassie dan Rein.


“Wah, kalian ternyata. Silakan duduk,” ucap ayahku. Kami menududuki kursi yang tersedia di meja rapat yang amat lebar. Tempat duduk kami berhadapan dengan mereka.


“Ayo kita makan bersama, jangan malu-malu,” ujar ayahnya Rein tersenyum. Kami berempat langsung membuka bungkus makanan dan menyantapnya, sementara itu Gandra dan kawan-kawan yang lain tampak kebingungan kepada kami yang terlihat biasa-biasa saja.


“Ayo makan. Tidak perlu sungkan,” lanjut ayahnya Gavin. Aku yang melihat mereka bertindak sangat sopan dan sedikit malu sontak teringat sesuatu.


“Oh iya, aku lupa mengenalkan kalian,” ucapku pringas-pringis. Kemudian aku memperkenalkan ayah kami satu per satu.


“Dari kanan ke kiri, dia ayahku, lalu ayahnya Rein, Cassie, dan Gavin,” paparku dan seketika membuat Gandra dan kawan-kawan yang lain tersentak kaget.


“E—Eh? Benarkah?” lontar Bella tak percaya. Gandra pun memperkenalkan diri kemudian diikuti oleh yang lainnya.


“Salam kenal!” tandas ayahku.

__ADS_1


“Aku tidak mengira seperti ini…” gumam Gandra.


“Yah… Awalnya aku juga tidak percaya kalau ayahku dan Cassie ternyata punya relasi dengan ayahnya Gavin dan Rein,” balas cengengesan.


“Dunia memang sempit, ya,” sahut Rein tersenyum. Kami semua melanjutkan obrolan sembari menghabiskan makanan kami masing-masing. Sering pula terjadi canda tawa di antara kami.


“Wah, kalian semua sangat akrab sekali,” cakap ayahku.


“Aku sangat terima kasih pada kalian karena sudah ingin berteman dengan Cassie,” ujar ayahnya Cassie tersenyum kepada kami.


“Tidak malasah, sudah wajar untuk berteman, kan,” balas Bella cengar-cengir.


“Syukurlah kalau begitu… Cassie sudah banyak berubah sekarang,” sahut ayahnya, sementara itu Cassie hanya terdiam menahan rasa malu.


“Memangnya Cassie dulu seperti apa?” tanya Rhean penasaran.


“Tidak punya teman sama sekali,” jawab ayahnya singkat. Cassie yang mendengarnya sontak tersipu setengah mati dan menjadi sebal terhadapnya.


“A—Ayah!”


Seketika suasana menjadi cair dan kami semua tergelitik tawa, sedangkan wajahnya Cassie merah merona bak apel.


“Ekspresimu lucu sekali, Cassie,” celetuk Gavin tertawa kecil.


“Aku harap, kalian semua bisa selalu berteman,” lanjut ayahnya Cassie.


“Ada kegiatan klub?” tanyaku kepada Rein.


“Iya,” jawabnya kemudian bergegas keluar dari kelas. Gandra dan Bella sudah terlebih dahulu meninggalkan kelas. Aku pun berjalan keluar dari ruangan dan pada saat yang bersamaan Cassie tidak berada jauh di sampingku yang ternyata juga baru keluar dari kelas. Cassie yang melihat ke arahku sontak memanggilku.


“Adelard!” Lantas aku menoleh ke arahnya.


“Cassie? Kau belum pulang?”


“Aku baru saja ingin pulang sekarang,” tuturnya tersenyum. Aku tidak melihat Gavin dan yang lainnya keluar setelahnya.


“Di mana yang lain?” lanjut tanyaku.


“Sudah pulang duluan. Gavin juga sedang ada urusan dengan ayahnya,” jawabnya. Kami pun berjalan menuju asrama, tetapi pada saat diperjalanan terdapat sebuah mobil mewah yang datang menghampiri kami.


“Sudah mau pulang ke asrama?” tanya ayahku dengan jendela mobil yang terbuka. Aku membalasnya dengan menggangguk. Terlihat di sebelahnya ada ayahnya Cassie.


“Bagaimana kalau kita berjalan-jalan dulu sebentar?” ajaknya.


“Kau bagaimana, Cassie?” lanjut tanyaku dan membuat Cassie seketika menjadi gugup.


“A—Aku ikut denganmu!”

__ADS_1


“Baiklah kalau begitu, hitung-hitung melepas penat,” ucapku senang. Kami pun memasuki mobil tersebut dan duduk bersebelahan. Lalu mobil tersebut berjalan keluar dari kompleks sekolah.


“Ayah Rein dan Gavin?” tanyaku kebingungan.


“Punya urusan masing-masing,” jawab ayahku.


Kami berjalan melintasi pusat kota menuju sebuah tempat yang belum aku ketahui, begitu pula dengan Cassie. Tidak banyak obrolan yang terjadi selama perjalanan. Aku asyik sendiri melihat pemandangan kota dan gedung-gedung pencakar langit nan megah. Hingga akhirnya kami tiba di sebuah gedung kaca yang menjulang tinggi. Kami di bawa menuju kafe yang berada di atap gedung. Dengan pemandangan indah kami duduk dan saling berhadapan dengan ayah kami. Setelah menyeruput kopi, mereka mulai bertanya kepada kami.


“Bagaimana sekolah kalian?”


“Asyik. Yah… Tidak jauh dengan sekolah di Snitheria.”


“Sepertinya lebih mending di sini daripada di sana,” cetus Cassie pelan.


“Betul juga,” balasku.


“Syukurlah kalau kalian menikmatinya.”


“Selagi melakukan program ini, gunakanlah waktu kalian untuk mencoba hal-hal baru,” imbuh ayahku. Kami yang mendengarnya hanya tersenyum dan sedikit tersipu.


“Tak terasa kalian sudah besar,” gumam Ayah Cassie.


“Iya. Dulu aku ingat sekali ada anak yang berkata kalau pacaran itu tidak penting, tapi sepertinya ucapan tinggallah ucapan,” lanjut ayahku. Aku yang mendengarnya merasa tersindir dan membuatku tersipu sekaligus sebal, namun aku tidak tahu harus berkata apa.


“Tenang, tenang… Memang sesuatu bisa berbalik seratus delapan puluh derajat,” gurau ayahku. Ia menyeruput kopinya lalu kembali berucap kepadaku.


“Pelajaran bagimu. Jangan mengatakan sesuatu kalau kau sendiri belum bisa memegangnya.”


“B—Baik…” balasku pelan dengan kepala tertunduk.


“Tidak masalah. Selagi masih muda, nikmati waktu yang belum tentu kau dapatkan saat tua nanti. Namun jangan sampai lupa dengan masa depan supaya tidak menyesal saat tua nanti,” paparnya.


“Wah, wah, bijak sekali bapak-bapak yang satu ini,” celetuk Ayah Cassie.


“Kekuatan kopi,” sahutnya tertawa.


“Betul kata ayahmu. Contohnya seperti pacaran, anggap saja itu hanya sebagai ‘hiburan’ dikala kau butuh seseorang untuk menemanimu, tapi lain cerita kalau mau dibawa ‘lebih serius’ lagi,” lanjut Ayah Cassie.


“Walaupun tidak seperti dugaan kami,” imbuh ayahku cengar-cengir.


“Yah… Takdir tidak ada yang tahu,” sahutnya. Kemudian mereka berdua tergelak tawa. Aku dan Cassie yang melihatnya seketika buncah terhadap mereka.


“Selama itu pilihan kalian masing-masing. Kami akan terus mendukung,” ujar ayahku tersenyum. Aku semakin terheran-heran dengan perkataan yang diucapkannya. Aku hanya bisa bertanya kepada diriku sendiri dalam hati dengan rasa gelisah.


“A—Apa maksudnya?”


Bersambung~

__ADS_1


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2