Love Exchange

Love Exchange
Episode 162 : Sekejap Mengejutkan Siswa


__ADS_3

Suara gemuruh masih terdengar dengan cukup jelas dari dalam lorong sekolah, namun hujan es yang membisingkan sudah berhenti dan kami tidak lagi dibuat pening akibatnya. Jam pelajaran masih berlangsung, tetapi diriku masih berjalan di tengah lorong yang baru saja keluar dari ruang guru. Aku merasa cukup lega setelah berurusan dengannya. Namun, aku masih tidak menyangka kalau akan terjadi hal seperti ini.


“Untung saja aku tidak terkena masalah,” gumamku.


Sebelumnya, aku yang berada di ruang guru dipanggil untuk berdialog dengannya. Ia memberi beberapa pertanyaan kepadaku tentang prestasi diriku selama jenjang SMA ini. Aku yang merasa tertekan dengan situasi tersebut berusaha untuk tenang dan bersyukur pada saat yang bersamaan karena ia tidak menyadari kehadiranku ketika pelaksaan praktikum di kelas yang sedang diisi olehnya. Hingga pada akhirnya tiba-tiba saja ia menanyakan sesuatu dan membuatku berkeringat dingin.


“Apa yang kau lakukan di kelasnya Cassie?”


“Eee… A—Aku ingin menemui Gavin,” jawabku gelagapan.


“Belum saatnya jam istirahat, kan?” lanjutnya. Aku semakin kebingungan untuk menjawab apa.


“A—Ada sesuatu yang harus ku katakan padanya,” balasku.


“Hmm… Kau yakin? Padahal di kelasmu masih ada guru,” ujarnya seraya menatapku curiga. Aku merasa tersudutkan dan tidak dapat berkata apa pun lagi. Kami berdua terdiam sejenak dan kemudian Pak Edwin berpaling dariku untuk mengambil kotak tisu.


“Baiklah kalau begitu. Ini, wajahmu berkeringat sekali. Pendingin ruangan tidak sanggup mengademkanmu, ya,” tandasnya sembari memberikan tisu tersebut kepadaku. Aku hanya memasang wajah cengar-cengir di hapadannya. Tidak lama setelah itu, pembicaraan kami selesai dan aku pergi keluar dari ruangan.


Sesampainya di luar kelas, aku membuka pintu dan terlihat pembelajaran sedang berlangsung. Aku mencium tangan guru tersebut lalu berjalan menuju tempat dudukku. Rein dan teman-temanku lantas kebingungan dengan apa yang telah terjadi pada diriku. Meskipun berada di bangku sebelahku, Rein tetap tidak sempat untuk bertanya kepadaku lantaran suasana kelas yang kondusif sehingga tidak berbuat banyak hingga bel pulang berbunyi.


Setelah bel berbunyi, para murid langsung bersiap-siap dan merapikan tas mereka. Rein dan yang lainnya akhirnya datang menghampiriku setelah guruku pergi meninggalkan kelas. Aku yang sedang memasukkan buku-buku sontak terkejut melihat mereka yang seketika tampak di hadapanku. Dengan penuh penasaran dan keheranan, Rein memulainya dengan sebuah pertanyaan kepadaku.


“Tadi kau ke mana saja? Tidak masuk di pelajaran sebelumnya.”


“Hmm… Bagaimana aku menjelaskannya, ya,” gumamku yang juga kebingungan.


“Tidak mungkin kau ada di toilet selama itu. Mungkinkah ada urusan sesuatu?” lanjut Bella seraya berpikir dan menduga-duga.


“Yah… Mungkin seperti itu,” balasku gugup.


“Mungkin? Bukankah kau hanya mengantarkan Gavin? Jangan bilang kalau kau sebenarnya terjebak di sana?” cetus Gandra.


“Ti—Tidak, tidak! Setelah itu aku dipanggil,” lontarku gelagapan. Beberapa detik berselang, terdapat Rhean dan yang lain datang dari pintu kelas.


“Yo!” seru Rhean. Kami langsung menoleh ke arah mereka. Aku yang sudah berusaha untuk menyembunyikan kemudian hanya bisa pasrah dengan keadaan.


“Duh… Ketahuan sudah,” gumamku dalam hati. Mereka pun menghampiri dan ikut berkumpul bersama kami.

__ADS_1


“Tadi kenapa kau dipanggil Pak Edwin?” tanya Icha penarasan.


“Eh? Jadi dia benar-benar dipanggil?” lanjut Bella tak percaya.


“Iya, tapi sesudah pelajaran Pak Edwin selesai,” sahut Gavin sembari duduk di bangku Rein. Rein yang berpaling ke arahnya lantas menjadi jengkel terhadap dirinya.


“Seperti kursi Nenek, ya?” cetusnya kesal.


“Harap mengerti keadaan,” balas Gavin datar. Rein semakin geram melihatnya memasang wajah yang menyebalkan, namun ia baru teringat bahwa kaki Gavin sedang terluka. Ia menahan rasa kesal tersebut seraya mengepalkan tangan ke arah Gavin.


“Memangnya apa yang terjadi saat pelajarannya Pak Edwin?” tanya Bella kembali.


“Dia tidak bisa keluar dari kelas dan hanya mengumpet di bawah meja,” jawab Gavin. Aku yang mendengarnya hanya bisa tertunduk menahan malu.


“Kau tidak pandai berbohong,” celetuk Gandra tersenyum.


“Tapi benar kan kalau aku dipanggil?” lanjutku membela diri.


“Benar sih, tapi jawabanmu itu tidak sesuai dengan pertanyaanku,” sahut Rein jengkel kepadaku.


“Lagipula…” Ia pun berjalan dan mendekatkan wajahnya yang mengerikan ke hadapanku. Sontak aku menjadi ketakutan dengan refleks berjalan pelan ke belakang.


“M—Maaf! Aku khilaf!” lontarku sungguh-sungguh sembari menundukkan wajahku, tetapi ia tetap berjalan mendekatiku sampai akhirnya aku terpojokkan dan tidak dapat menghindar.


“Brrr… Tiba-tiba jadi semakin dingin di sini,” gumam Bella sembari mengusap-usap tangannya.


“Iya… Lebih baik kita menjauh sedikit,” sahut Rhean dan mereka semua berjalan diam-diam menjauhi kami berdua. Aku yang melihatnya lantas teringat dengan kejadian yang hampir mirip kala itu.


“Aku akan membenahimu…” ringisnya dengan senyuman yang menakutkan. Aku pun merajuk ketakutan dengan suara yang cukup kencang.


“T—Tolong…!”


~


Saat kami berjalan keluar dari kelas dan melangkah menuruni tangga, terlihat suara keramaian dari lantai bawah. Ketika kami mendekat, ternyata semua orang sedang melihat papan mading yang tertempel sebuah kertas pengumuman. Kami menjadi kebingungan dan ingin segera melihatnya juga, tetapi kerumunan tersebut membuat kami kesulitan untuk menghampirinya. Gandra pun bertanya kepada temannya yang baru saja pergi dari arah sana.


“Pengumuman apa?”

__ADS_1


“Oh, tadi itu—” jawab temannya tersebut namun terpotong karena terdengar suara pengumuman suara yang tiba-tiba menyala. Kami mendengar pemberitahuan tersebut dan suasana menjadi hening seketika.


“Untuk seluruh murid, diinfokan bahwa jadwal ujian telah dimajukan menjadi pekan depan. Jadwal lengkap akan dikirim ke ponsel masing-masing nanti malam.”


“Nah, itu dia,” sahut temannya.


“Baiklah, terima kasih,” ujar Gandra.


“Sama-sama.”


Kami yang baru saja mengetahui informasi tersebut lantas tidak percaya dan tak habis pikir dengan apa yang kami dengar. Raut wajah para murid yang belum mengetahui sebelumnya tiba-tiba saja berubah menjadi gundah gulana. Kebanyakan dari mereka langsung memutuskan untuk pulang dan segera belajar. Gavin dan Rhean kemudian berucap kesal.


“Kenapa tiba-tiba dimajukan?”


“Apa mereka tidak tahu kalau belajar juga butuh waktu?” Kami melanjutkan langkah kami menuju asrama.


“Sudah, sudah… Mungkin semua itu ada sebabnya,” sahut Bella menenangkan mereka.


Sepanjang perjalanan pulang, tampak suasana kompleks sekolah yang sangat sepi bahkan taman yang biasanya ramai kini hanya berisikan suara angin yang berhembus. Kami harus mulai mengulang-ulang materi yang sudah diajarkan karena pelaksaan ujian sudah di depan mata. Sebelum berpisah dan masuk ke asrama masing-masing, kami menjadwalkan waktu untuk berkumpul.


“Besok jam berapa?” tanya Gandra.


“Jam sembilan?” usul Bella.


“Bagaimana dengan yang lain?” lanjut Rhean dan kami semua menyetujuinya.


“Okelah kalau begitu, besok di asrama kalian, ya,” ujarnya kembali ke arah kami.


“Siap. Kalian jangan terlambat, ya,” balas Gavin.


“Kau jangan tidur terus,” sahut Rein kepada Gavin.


“Aku bangun pagi, kok,” tandas Gavin sebal. Kami pun berpisah dan masuk ke dalam asrama masing-masing.


“Sampai jumpa besok!”


Bersambung~

__ADS_1


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2