Love Exchange

Love Exchange
Episode 82 : Pertukaran Pelajar


__ADS_3

Roda waktu terus bergulir, pagi pun datang menyisihkan malam. Semua kehidupan terbangun dari tidurnya seiring mentari pancarkan sinarnya menghangatkan bumi. Panas terik mentari disertai hembusan angin yang bertiup tenteram. Rindang dedaunan yang tengah berayun menari bersama menjadi saksi perjalananku saat ini.


Aku sudah bersiap dengan beberapa koper dan tas ranselku. Adikku ikut membantu mengangkat barang-barang bawaanku ke dalam bagasi mobil. Sementara itu ibuku tengah mempersiapkan sarapan dan ayahku mengecek kendaraan sekaligus merapihkannya. Setelah itu kami semua bersantap pagi lalu berangkat. Namun aku menjadi keheranan lantaran mobil berjalan menuju arah yang berlawan dengan bandara.


“Kita mau ke mana dulu, Yah?” tanyaku penasaran.


“Ke rumah Cassie,” jawab ayahku.


Sesampainya di rumah Cassie, aku bertemu dengannya dan orang tuanya. Kami saling mengobrol sebelum melanjutkan perjalanan. Sesudah semua bersiap kami berangkat menuju bandara, berikut juga bersama orang tua Cassie yang ikut serta memberangkatkan kami berdua. Terlihat pemandangan indah tepi kota dari jendela mobil.


Aku menikmati saat-saat terakhirku di kota ini. Meskipun hanya berkelana selama satu tahun, namun sepertinya aku tidak ingin kepikiran dengan rumah asalku. Begitu pula dengan Cassie yang betul-betul memandangi dengan bertatap rindu. Suasana di dalam mobil turut pecah dan hangat bersama pembicaraan santai kami semua.


Hingga tiba mobil ini memasuki terminal bandara. Kami semua pun turun dari kendaraan beserta barang-barang bawaan kami, sedangkan ayahku harus memarkirkan dahulu kendaraannya. Jadwal keberangkatan tertulis pada tiket menandakan satu jam lagi. Sembari menunggu, kami gunakan waktu untuk berjalan mengelilingi terminal tersebut.


Sepanjang melangkahkan kaki terpajang deretan toko-toko makanan maupun suvenir. Aku yang belum pernah ke tempat ini sebelumnya sontak terpukau dengan kemegahan bangunan yang besar ini.


“Wah besar sekali…” ucapku terperangah. Tampak sebuah toko roti dan menarik perhatian Cassie.


“Ayo kita ke toko roti itu,” ajaknya penuh girang. Lalu kami semua pergi mengikutinya. Aku memesan roti isi coklat, lain halnya dengan Cassie yang memesan roti kopi. Seketika  aku sedikut terkejut terhadap dirinya.


“Kau suka kopi?” tanyaku. Seraya mengambil pesanan roti miliknya, ia pun tersenyum dan menggangguk ke arahku. “Iya.”


Tak lama kemudian tanpa kami duga teman-temanku datang menemui kami yang tengah memakan roti. Kehadirannya yang mendadak membuat kami berdua tersedak kaget.


“Adelard! Cassie!” panggil Freda sambil berlari.


“K—Kalian ada datang ke sini?” lontarku gelagapan.


“Ya! Kami ingin memberikan perpisahan yang terbaik untuk kalian berdua,” jawab Hart tersenyum. Lalu kami berbicara sekaligus memperkenalkan keluargaku dan Cassie.


“Wah… tak kusangka Abang punya banyak teman,” sindir adikku dan membuatku jengkel.


“Kau mirip seperti Freda, ya,” lanjut Eledarn kepada adikku sambil tertawa. Ayahnya Cassie juga tak kalah terkejut dan senang bersamaan. “Akhirnya kau berteman dengan banyak orang,” ujarnya pelan. Cassie yang mendengarnya menjadi tersipu malu.

__ADS_1


“Tenang saja! Kita kan teman!” teriak Freda bersemangat.


Tanpa kami sadari pintu keberangkatan akan dibuka setengah jam lagi. Aku dan Cassie harus segera masuk ke dalam gerbang dan melakukan pas naik beberapa menit sebelumnya. Kami berdua pun berpamitan dengan keluarga dan teman-teman. Rasa pilu sekaligus bahagia menyertai diri kami semua. Aku juga saling berpelukan kepada semuanya.  Beberapa waktu berselang terdengar suara pemberitahuan keberangkatan, dan sekarang sudah saatnya kami berpisah.


“Kami pergi dulu,” ucapku tersenyum sembari mendorong troli. Air mata menetes dari wajah Freda.


“Jangan pernah lupakan kami,” balas Milard. Lantas Emery mendekatiku dan memberiku sesuatu.


“Ini dari Clarissa, Mesha, dan Nana untukmu. Siapa tahu akan berguna di sana,” tuturnya. Aku menerima sebuah buku catatan yang dibuat khusus dengan namaku tertulis di sampulnya dan beberapa alat tulis lainnya.


“Terima kasih. Aku akan menggunakannya dengan baik,” sahutku. “Oh iya, sampaikan salamku kepada mereka bertiga, ya.” Emery membalasku dengan menyeringai lebar.


“Beri tahu kami kalau kau sudah sampai ya, Nak,” ujar Ayahku dengan tangannya di atas bahuku. “Baik, Yah,” balasku senang.


“Sampai bertemu lagi tahun depan!” lontar Freda.


Aku dan Cassie berjalan menuju gerbang masuk terminal. Tepat di depan gerbang kami berdua melambaikan tangan perpisahan ke arah mereka semua. Mereka juga melakukan hal yang sama kepada kami. Sementara itu Freda merengek sejadi-jadinya seperti anak kecil dan menarik perhatian orang-orang. Hart bersama yang lain kewalahan untuk menenangkannya. Aku dan Cassie hanya tertawa kecil melihatnya dari kejauhan. Kemudian kami berdua masuk ke dalam dan hilang dari pandangan mereka.


“Sudah selesai, ya…” ucap Milard pelan.


Di lain sisi, kami berdua telah masuk ke dalam pesawat. Setibanya di dalam aku sangat tercengang dan terdiam. Kursi-kursi yang tersusun berjajar dan masing-masing darinya dipisahkan oleh sekat. Aku menempati kursi yang berada di dekat jendela dan Cassie berada di sebelahku. Tak lama kemudian pesawat pun lepas landas. Tidak banyak yang ku lakukan selain beristirahat dan tidur. Perjalanan menggunakan pesawat memakan waktu selama tiga jam.


Kini pesawat tengah mengudara tenang di atas awan. Aku tidak dapat tidur, hanya melihat jendela dan menyalakan televisi kecil yang disediakan. Terlihat jelas di sebelahku Cassie yang tengah tertidur pulas. Wajahnya yang polos nan cantik serta keningnya yang ditutupi oleh rambutnya membuatku terus memandanginya tanpa sadar.


Tak lama kemudian seorang pramugari datang menghampiriku lalu memberi buku menu hidangan untuk santap siang. Ia tidak berani untuk membangunkan Cassie.


“Tidak usah, biar nanti aku yang membangunkannya,” ucapku tersenyum kepadanya. Pramugari tersebut pun berjalan pergi meninggalkanku.


Kemudian aku membangunkan Cassie pelan-pelan, tetapi ia tak kunjung bangun dan hanya mengubah postur tidurnya. Aku yang melihatnya menjadi tidak percaya bahwa ada karakter tersembunyi pada dirinya yang baru aku ketahui. Pikiranku terus melontarkan pertanyaan demi pertanyaan.


“Ternyata Cassie sulit bangun tidur?”


Setelah sekian waktu berjalan akhirnya ia pun terbangun dari tidurnya. Lalu aku memberitahukan kepadanya bahwa sekarang adalah jam makan siang. Setelah itu aku memberikan buku menu tersebut. Aku memanggil pramugari tadi dan memesannya, berikut juga dengan Cassie.

__ADS_1


Rerataan pemandangan permukaan di bawah semakin menjauh dari penglihatan seiring kapal terbang yang terus menembut awan-awan. Perairan dan wilayah-wilayah di bawah kami lewati satu per satu. Sampai akhirnya pesawat mendarat dengan selamat. Kami berdua pun tiba di Yagotarkia, Kota Pelajar di daratan Malaerath.


Aku dan Cassie keluar dari gerbang kedatangan penumpang, di sana telah ada penjemput yang telah menunggu kami. Lalu kami berdua menumpangi mobil penjemput yang terbilang mewah. Selama perjalanan kami berdua mengobrol dengan sang sopir.


“Kita akan ke asrama atau sekolahnya langsung, Pak?” tanyaku penasaran.


“Dua-duanya,” jawabnya singkat sembari tersenyum. Aku pun kebingungan dengan pernyataan yang dikatakannya barusan.


Sesampainya di tempat destinasi yang dituju, kami berdua kemudian diarahkan untuk segera menuju aula pertemuan. Dari depan gerbang terlihat bangunan-bangunan sekolah yang amat besar. Aku hanya termangap takjub selama berjalan kaki menuju aula. Setelah itu upacara pembukaan program pertukaran dimulai. Pidato dan sambutan pun disampaikan berturut-turut.


“Selamat datang, para peserta program pertukaran pelajar. Kalian adalah perwakilan dari sekolah sekaligus daratan kalian masing-masing. Terdapat dua  perwakilan sekolah dari masing-masing daratan, saya harap kalian semua bisa saling berbaur dan berteman. Tidak hanya dengan teman satu daratan, tapi semuanya.” Sontak aku terkejut terheran-heran setelah mendengarkan penjelasan dari kepala sekolah di sekolah ini.


“E—Eh? Jadi ada murid lain dari daratan yang sama?” gumamku pelan.


Setelah upacara selesai, kini saatnya pembagian kamar dan asrama. Papan pengumuman yang memuat daftar pembagian langsung dikerubungi oleh orang-orang, sehingga kami tidak bisa mendekatinya dan hanya melihatnya dari kejauhan. Aku memikirkan cara agar dengan cepat dapat pergi ke asrama kami.


“Bagaimana ini?” tanya Cassie. Kemudian aku melihat beberapa orang yang pergi ke tempat resepsionis asrama. Tampak dari kejauhan mereka tengah meminta kunci dan panitia mengecek lembaran daftar yang dipegangnya. Aku pun memiliki ide dan mengusulkan kepada Cassie.


“Gimana kalau kita langsung ke sana saja?” ucapku seraya menunjuk tempat itu. “Tapi bagaimana dengan nomor asramanya? Kau tahu?” balas Cassie tak yakin.


“Tenang saja. Ayo,” ajakku. Setibanya di tempat tersebut aku langsung menanyakan nomor asrama kami. Panitia itu lantas menanyakan nama dan asal sekolah kami.


“Kuncinya sudah diambil oleh dua orang sebelumnya.” Aku sedikit terkejut lantaran kunci asrama kami sudah kedahuluan oleh orang lain.


“Kalau boleh tahu kami berada di asrama nomor berapa?” lanjut tanyaku.


“Asrama 347,” jawab panitia itu. Kemudian aku menanyakan letak asrama tersebut berada. Setelah itu aku dan Cassie berjalan menuju tempat yang telah diberitahukan sebelumnya, namun kami kewalahan dengan barang bawaan yang sangat banyak.


Sesampainya di asrama, tiba-tiba saja dua orang dengan seorang dari mereka memegang kunci asrama hadir di hadapan kami berdua. Sontak kami semua terkejut satu sama lain.


“K—Kalian?”


“Loh? Adelard?”

__ADS_1


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2