Love Exchange

Love Exchange
Episode 101 : Bergembira Bersama Cassie


__ADS_3

Hari telah siang dengan langit yang masih gelap dan air menetes deras ke permukaan. Aku dan Cassie masih berjalan bersama menuju sebuah restoran yang dipilih oleh Cassie. Pakaian kami telah seluruhnya kering seperti berjalan di tengah cuaca cerah. Terlihat sebuah restoran yang sudah semakin dekat dari pandangan, Cassie semakin bersemangat dan melangkah cepat ke sana.


“Ayo cepat, Gavin!” seru Cassie.


“Oke!” jawabku sedikit heran.


Sesampainya di dalam restoran, kami pun menempati sebuah meja makan yang tersedia untuk dua orang. Kami duduk berhadap-hadapan. Tak lama kemudian seorang pelayan menghampiri kami. Setelah memesan makanan, kami menunggu seraya mengobrol.


“Kau suka daging, ya?” tanyaku penasaran.


“Yah… Kalau dibilang suka, tentu aku suka. Tapi akhir-akhir ini aku sudah jarang sekali makan daging,” jawabnya tersenyum. Kemudian aku bertanya kembali kepadanya. Ada banyak hal yang ingin aku ketahui tentangnya.


“Apa kau hanya memakan makanan tertentu?”


“Tidak, aku sama seperti orang-orang biasa, kok. Bahkan beberapa orang bilang kalau aku suka sekali makan.”


“Waw… Tapi, untung saja kau tidak bertambah berat, kan?” lontarku bercanda.


“Aku sangat beruntung! Awalnya aku juga berpikir kalau aku akan gendut,” sahutnya tertawa kecil.


“Syukurlah kalau begitu…” lanjutku menyeringai. Kini saatnya Cassie yang bertanya kepadaku.


“Ngomong-ngomong, apa makanan kesukaanmu?”


“Aku suka sekali dengan makanan berkuah,” jawabku senang. “Apalagi saat suasana hujan seperti ini, pasti akan lebih lezat!” lanjutku bersemangat.


“Wah, betul juga. Aku tidak kepikiran sama sekali,” sahutnya.


“Kau ingin memesan lagi?” tanyaku.


“Tidak usah, ini saja sudah cukup.”


Setelah beberapa waktu berlalu, akhirnya hidangan utama dihidangkan di meja kami. Pelayan tersebut meletakkan satu per satu makanan dan minuman yang telah kami pesan sebelumnya. Lalu aku memesan sebuah menu untuk kami santap di penghujung makan siang.


“Kami pesan dua angsle, ya,” ucapku kepada sang pelayan. Kemudian kami dapat menyantap hidangan bersama-sama.


“Apa yang barusan kau pesan? Angsle? Aku baru dengar,” tanya Cassie penasaran. Aku pun menjelaskan minuman tersebut kepadanya.


Angsle adalah adalah minuman khas yang berasal dari daerah dataran tinggi di daratan ini. Minuman tersebut biasanya dihidangkan pada malam hari yang sejuk, guna untuk menghangatkan tubuh. Minuman ini terdiri dari beragam isian seperti kacang hijau, potongan roti, kacang tanah, dan lain-lain. Orang-orang juga menyajikannya saat musim dingin dan cuaca hujan seperti ini. Namun, hidangan tersebut kini juga dapat disajikan dengan es batu.


“Wah sepertinya menarik, aku tidak sabar untuk mencobanya,” tutur Cassie gembira.


Kami berdua menyantap makanan tersebut bersama-sama. Sesekali aku bersenda gurau kepadanya sekaligus mengajaknya untuk bermain suap-suapan. Untung saja ia menerimanya dan menganggapnya hanya sebagai candaan saja.


“Loh, dia tidak marah, toh? Baguslah kalau begitu… Nekat sekali aku barusan,” benakku. Aku pun mengambil sesuap makananku dan menjulurkan tangan ke arahnya.

__ADS_1


“Aaaaa…” ucapku kepadanya. Ia pun membuka kedua bibirnya dan aku memberinya suapan. Dan sekarang adalah gilirannya Cassie, ia melakukan hal serupa denganku.


“Ayo, Nak, buka mulutmu…” tuturnya bergurau. Aku tersenyum menahan tawa melihanya. Setelah aku melahapnya, tak lama kemudian aku tersedak akibat tidak mengunyahnya dengan benar. Aku segera mengambil gelasku dan meminumnya, tetapi aku baru tersadar kalau minumanku telah habis.


“A—A—Air…” ucapku terputus-putus. Cassie yang sedikit panik kemudian memberikan minumannya kepadaku. Lantas aku menerimanya dan meminumnya dari sedotan miliknya. Akhirnya leherku merasa lega, namun Cassie wajahnya sedikit memerah semari melihatku dengan tatapan malu. Tiba-tiba aku baru tersadar akan sesuatu.


“O—Oh iya… Apa baru saja aku berciuman secara tidak langsung?” gumamku bertanya-tanya. Kemudian aku mengembalikkan gelasnya dengan tampang seperti anak polos.


“Terima kasih banyak, Cassie,” ucapku tersenyum.


“S—Sama-sama…” balasnya gugup. Aku kembali melanjutkan santapanku, namun Cassie masih terdiam dan memandang ke arah gelasnya.


“Kau sudah kenyang?” tanyaku kebingungan.


“E—Eh? Oh iya, maaf, maaf…” balasnya gelagapan. Lalu ia kembali memakan hidangannya kembali.


Setelah hidangan utama kami habiskan, seorang pelayan kembali datang dengan dua gelas minuman yang telah aku pesan sebelumnya.


“Wah… Jadi ini yang namanya angsle?” tanya Cassie mendadak kembali ceria. “Yap!” jawabku tersenyum. Ia pun mengambil suapan pertama dan mencobanya.


“Hangat…! Aku suka sekali!” lontarnya menyeringai senang.


“Syukurlah kalau kau menyukainya.”


Waktu terus berputar dan kami pun telah menyelesaikan makan siang kami. Aku yang membayar semua sajian yang kami pesan. Cassie pun tidak merasa tidak enak kepadaku. Lalu aku tidak mempersalahkannya dan menenangkannya. Lantas ia tersenyum dan sangat berterima kasih kepadaku. Setelah keluar dari restoran, kami berjalan kembali tanpa tujuan di tengah cuaca yang masih hujan lebat.


“Ayo kita nonton film!” ajak Cassie bersemangat. Aku menerima ajakan tersebut dengan senang hati.


“Baiklah, ayo!” balasku.


Sesampainya di dalam mal aku melihat sekelilingku yang ramai dengan orang-orang. Tempat ini jauh lebih besar dibandingkan dengan pusat perbelanjaan yang pernah aku kunjungi waktu itu. Akhirnya kami tiba di dalam bioskop, tempat tersebut di penuhi dengan para pengunjung. Kami pun mengantre untuk membeli tiket.


“Kau ingin nonton film apa?” tanyaku.


“Film yang selama ini aku tunggu-tunggu!” jawabnya membara sembari menunjuk ke arah poster tersebut. Dari yang aku lihat, sepertinya film tersebut bergenre drama romansa. Hari ini adalah hari pertama film itu ditayangkan. Itu semua menjawab pertanyaan di benakku bahwa hari ini banyak sekali pengunjung perempuan.


“Wah, sepertinya kau sangat menyukainya, ya?” ucapku cengar-cengir.


“Tentu saja! Selama ini aku hanya membacanya dari novel, akhirnya dibuatkan versi live action-nya.”


Setelah sampai di meja kasir, Cassie memesan dua tiket lalu membayarnya. Lantas aku menahannya dan mengambil dompetku. Lalu ia menggeleng-gelengkan kepala ke arahku.


“Biar aku saja. Kau sudah banyak mentraktirku,” tuturnya tersenyum. Selepas itu, kami berdua memasuki teater bioskop. Untung saja kami datang saat ada jadwal tayang yang segera dimulai, sehingga kami berdua tidak perlu menunggu. Lalu kami menempati kursi yang bersebelahan. Sebelumnya aku telah membeli popcorn di kantin.


Tak lama kemudian film pun diputar. Sepanjang pemutaran aku terdiam fokus menyaksikan tayangan tersebut dengan serius sembari memakan popcorn yang berada di kursi. Sampai akhirnya film tersebut mulai memasuki fase konflik dan suasana menjadi sedih seketika. Tanpa sadar, aku telah menetekan air mata, begitu pula dengan Cassie yang tersedu-sedu dan bajunya sudah basah untuk mengelap air matanya. Setelah film tersebut berakhir, kami berdua mencuci wajah untuk menghilangkan bekas tangisan.

__ADS_1


“Sedih sekali…” gumamku pelan.


“Benar, kan? Membacanya saja sudah membuatku sedih sendiri di atas kasur,” balasnya senang.


Kami pun berjalan mengelilingi mal seraya membicarakan tentang film yang baru saja kami tonton. Tak jarang juga kami bertukar pikiran dan saling berdebat. Dengan begitu kami dapat saling mengerti satu sama lain. Kami akhiri pembahasan dengan tergelitik tawa bersama. Sembari berjalan aku melihat pintu masuk dan tampak masih hujan di luar sana. Lalu terdengar suara orang-orang yang bernyanyi dan bersenang-senang.


“Suara apa itu?” tanyaku heran.


“Mungkin berasal dari tempat karaoke itu?” jawab Cassie ragu.


Kemudian kami berdua menghampiri tempat tersebut, dan benar apa yang Cassie katakan. Suara tersebut berasal dari orang-orang yang bernyanyi di dalam ruang-ruang itu. Lantas aku mengajak Cassie untuk menghabiskan waktu di tempat ini sembari menunggu hujan reda.


“Bagaimana kalau kita booking satu jam sambil menunggu hujan reda?”


“Ide yang bagus!”


Di dalam ruangan tersebut, terdapat beberapa mikrofon di atas meja, sofa yang empuk, dan layar televisi yang lebar. Aku mempersilakan Cassie untuk bernyanyi pertama kali. Lalu ia menyanyi sebuah lagu pop dengan penuh semangat. Aku sempat terperangah akan suaranya yang sangat indah nan merdu.


“Bagus sekali suaranya… Seperti penyanyi-penyanyi terkenal…” gumamku dalam hati. Setelah menyanyikan lagu tersebut, aku langsung bertepuk tangan dan kagum kepadanya.


“Kau hebat sekali, Cassie!” Ia hanya tersenyum dan tertawa kecil. Kemudian ia memilih sebuah lagu dan mengajakku untuk menyanyi bersama.


“Kau tahu lagu ini, kan?”


“Iya, tahu,” jawabku.


“Baiklah kalau begitu, ayo kita nyanyi bersama.”


“Oke.”


Kami bernyanyi duet dengannya. Nada dan irama yang saling bersahutan, membuat suasana menjadi gembira dan berbunga-bunga. Aku sangat senang dapat menyanyi bersama dengannya. Sekilas Cassie juga terkejut dengan suaraku yang bagus. Kami menyanyikan lagu tersebut dengan senyuman dan bertatap bahagia. Sebuah lagu telah selesai kami nyanyikan bersama.


“Suaramu juga bagus sekali… Sekilas aku seperti bernyanyi dengan penyanyi idolaku.”


“Yah… Begitulah… Hehe…” balasku pringas-pringis sembari menggaruk-garuk kepalaku. Lalu kami bernyanyi kembali hingga waktu habis.


Sesudah bersenang-senang di dalam mal, kami pun berniat untuk pergi keluar sekaligus mencari Adelard dan Rein. Hujan sudah reda dan jalan-jalan mulai terpenuhi oleh orang-orang kembali. Aku terkejut setelah melihat langit yang mulai menggelap dan matahari telah terbenam. Tak lama kemudian kami melihat sebuah jalan yang dipenuhi dengan lampu. Saat kami menghampirinya, ternyata terdapat pasar yang berada di sepanjang jalan utama.


“Ayo kita ke sana, siapa tahu mereka juga ada di sana,” ajakku.


“Oke!” balasnya senang. Kami pun berjalan sembari melihat-lihat kios-kios yang menjualkan beraneka jenis pakaian, makanan, dan lain sebagainya. Bahkan terdapat beberapa wahana yang mirip dengan taman bermain. Aku sangat bahagia dapat mengalami hari yang sangat indah dalam hidupku.


“Rasanya seperti kencan… Kuharap aku dapat lebih senang dari kali ini…”


Bersambung~

__ADS_1


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2