Love Exchange

Love Exchange
Episode 133 : Berdansa Mewah


__ADS_3

Langit malam yang berhiasi bintang dan rembulan, kini dipercantik dengan bunga api yang bermekaran di atas kanvas hitam. Para insan yang menyaksikan merasa takjub dengan penuh sorak sorai di setiap ledakannya. Sementara itu, kami berempat yang baru saja bertembung tengah berada dalam pose yang memalukan, sedangkan keempat ayah kami sedang asyik terhibur dengan tingkah kami. Kami masih syok dan tak percaya dengan kehadiran mereka.


“A—Apa yang ayah lakukan di sini?” tanya Gavin gelagapan.


“Menonton kembang api,” jawabnya tersenyum.


“B—Bukannya ayah sedang ada kerjaan?” lanjut Rein.


“Hari ini sudah selesai. Sekarang saatnya mencari hiburan.” Ayahku yang melihat ke arahku lantas menyeringai dan berucap kepadaku.


“Terima kasih sudah menghibur kami.”


“Ekhem, kalian tidak malu berpose seperti itu?” tanya ayahnya Cassie menahan tawa. Kami yang baru tersadar lantas beranjak dan berdiri. Untung saja pakaianku tidak kotor setelah terbaring di atas tanah.


“M—Maaf! Tadi aku tidak bermaksud seperti itu!” lontarku gugup kepada Rein. Rein yang mendengarnya juga tampak kalang kabut. Kami menjadi sangat malu di depan pandangan ayah kami. Hal yang sama juga terjadi antara Gavin dan Cassie.


“Kalian tampak serasi sekali,” sahut ayahnya Rein.


“Mengingatkan masa muda dulu…” lanjut ayahku. Aku yang sangat panik kemudian berusaha untuk meluruskannya.


“A—Aku bisa menjelaskannya,” ujarku.


“Wajah kalian sudah menjelaskan semuanya,” balas ayahku.


“Tenang, tenang… Tidak ada yang perlu dipikirkan,” tambah ayahnya Gavin.


Lalu kami kembali menyaksikan pertunjukkan kembang api bersama-sama. Kembang api diluncurkan bersahut-sahutan. Setelah beberapa waktu menyaksikan hingga terbawa suasana, akhirnya pertunjukkan tersebut berakhir dan para pengunjung mulai meninggalkan tempat tersebut. Kami berjalan bersama dengan ayah kami mengelilingi tempat festival sejenak. Selama itulah kami gunakan waktu tersebut untuk mengobrol.


“Sejak kapan ayah sampai di sini?” tanyaku.


“Sejak pagi tadi,” jawabnya.


“Kenapa kalian bisa saling bertemu?” lanjut Gavin kebingungan.


“Kami menjalin kerja sama perusahaan, juga dengan beberapa perusahaan lainnya,” jawab ayahnya.

__ADS_1


“Kerja sama skala besar?” tanya Rein kemudian ayahnya membalasnya dengan penuh semangat. “Tepat sekali!” Beberapa waktu berselang tempat festival mulai kembali sepi. Para pengunjung telah meninggalkan taman tersebut satu demi satu. Kami berempat dibawa mereka menuju sebuah tempat.


“Ke mana kita akan pergi?” tanya Cassie kebingungan.


“Pulang,” jawab ayahnya.


Kami tengah berada di jalan utama dan menunggu sesuatu. Masih belum terpikirkan olehku tentang apa yang mereka rencanakan. Tidak lama kemudian muncul beberapa mobil hitam mewah yang berjajar untuk kami naiki. Aku dan ayahku menaiki mobil pertama terlebih dahulu. Setelah itu kami semua pergi menuju sebuah tempat yang berlawanan arah dengan sekolahku berada.


Sepanjang perjalanan, pandanganku dimanjakan dengan gedung-gedung kaca yang menjulang tinggi dengan layar besar yang menghiasi kehidupan kota. Segala sinar penerangan mewarnai jalan-jalan dan langit. Aku terperangah takjub dengan keindahan malam yang tengah kulihat sekarang. Hingga akhirnya kami sampai di sebuah hotel mewah yang berada di tengah kota. Kami pun beranjak turun dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk.


“Selamat datang kembali,” tutur pelayan yang sudah menunggu kami.


“I—Inikah maksudnya pulang?” gumamku melongo, begitu pula dengan teman-temanku yang juga terkesiap dengan apa yang mereka lihat. Terlihat berbagai pernak-pernik yang berkilau serta ruang lobi yang sangat luas. Lantas kami semua diantarkan menuju restoran untuk jamuan makan malam. Di sana kami bertemu dengan berbagai pejabat perusahaan lainnya.


“Good evening!” panggil salah seorang dengan pakaian jas yang datang menghampiri kami dengan beberapa kawan-kawannya.


“Evening, How’re you doing?” sahut ayahku yang kemudian menanyakan kabarnya.


“I’m great! Just like this night!” balas orang asing itu. Kami menyimak pembicaraan mereka. Kemudian Rein berbisik dan bertanya kepadaku.


“Ya, aku dapat memahaminya. Tapi aku tak menyangka kalau ayahku bisa sehebat ini…” jawabku terkagum-kagum.


“Is this your son?” lanjut tanya orang asing itu kepada ayahku. Lantas mereka memperkenalkan kami dengan mereka satu per satu. Tak lama lagi jamuan makan malam akan segera dimulai. Kami pun berpisah dengan beberapa orang asing itu.


“See you later,” ucap kami kemudian berjalan menuju meja makan nan bundar dan panjang. Meja tersebut dihiaskan dengan beberapa vas bunga dan beralaskan kain putin yang elegan. Tak lama waktu berselang, datanglah beberapa pelayan yang membawa makanan dan minuman pembuka. Pada saat yang bersamaan terdengar suara sambutan dari depan ruangan.


“Terima kasih atas semua hadirin yang telah menyempatkan hadir pada malam yang istimewa ini.”


“Silakan nikmati malam kalian dengan penuh bahagia!”


Sontak semua orang bersorak sorai dengan sangat gembira. Hidangan demi hidangan kami santap satu per satu. Aku merasa sangat senang bisa mencicipi makanan mewah dan pastinya sangat lezat. Gavin yang biasanya makan dengan cepat kini melakukan hal yang sebaliknya. Ia ingin menikmati tarian lidah yang berada di dalam mulutnya secara perlahan-lahan. Aku yang masih tidak percaya dengan semua ini lantas bertanya kepada ayahku.


“Sejak kapan Ayah menjadi seperti ini?”


“Sudah lama, tapi kau tidak menyadarinya. Ayah juga tidak memberitahumu,” jawabnya tersenyum. Ternyata hal serupa juga dialami oleh teman-temanku. Mereka juga mendapatkan jawaban yang sama dari ayah mereka masing-masing.

__ADS_1


“Ayah tidak ingin kau menjadi manja dengan posisi Ayah saat ini,” lanjut ucapnya. Aku pun memahami maksud perkataannya. Lalu kami melanjutkan santapan hingga makanan penutup. Selepas santap malam berakhir, tibalah saatnya waktu yang ditunggu-tunggu semua hadirin. Ayah kami semuanya tersenyum senang, sedangkan kami tidak tahu dengan apa yang tengah terjadi sekarang.


“Wah, sudah saatnya, ya,” gumam ayahnya Rein.


“Kalian bisa berdansa, kan?” tanya ayahku kepadaku.


“E—Eh? D—Dansa?” balasku tak habis pikir. Ayahku membalas pertanyaanku dengan menggangguk.


“A—Aku tidak bisa berdansa?” sahut Cassie gelagapan.


“Pasti kalian tahu sedikit-sedikit, kan? Cukup lakukan yang kalian bisa,” ujar ayahku menyeringai. Tak lama kemudian banyak pasangan yang mulai mengisi aula yang berada di depan ruangan. Kami berempat dipaksa untuk ikut melakukan hal tersebut. Aku pun berpasangan dengan Rein dan berdiri dengan tangan yang saling bergandengan.


“Kau siap?” tanyaku.


“Aku mulai saat kau mulai,” jawabnya.


Beberapa detik kemudian piringan musik klasik pun diputar. Perlahan-lahan aku menggerakkan kedua kaki dan mengayunkan tanganku, begitu pula dengan Gavin dan Cassie serta orang-orang lainnya. Ayah kami hanya menyaksikan kami dari meja makan. Saat kami melakukan beberapa gerakan, tiba-tiba saja Rein tersandung kakiku.


“Maaf, hati-hati…” ucapku pelan.


“Maaf juga,” balasnya.


Kami berusaha untuk tenang meskipun banyak melakukan kesalahan. Bahkan terdapat beberapa gerakan yang kami improvisasi hingga menarik beberapa perhatian penonton. Sesekali pula aku dan Rein tersandung dan hampir terjatuh. Untung saja kami dapat memperbaikinya dengan segera. Hingga akhirnya lantunan musik telah masuk ke bagian akhir. Saat melakukan gerakan penutup sontak Rein menginjak kakiku dan terjatuh ke depan. Dengan sigap aku langsung menangkapnya dengan posisi Rein terlungkup di atas tanganku. Tangan Rein juga terbentang. Pada saat itulah musik selesai melantunkannya. Sontak semua orang terkagum-kagum dengan pose kami di akhir dansa.


“Gaya burung mencari mangsa…” gumam ayahnya Rein terperangah.


“Sebutan yang bagus,” balas ayahku.


“Baik saat ciuman ataupun dansa, sama-sama unik, ya…” sahut ayahnya Gavin sembari tergelitik tawa.


Kami yang sedang berpose seperti ini lantas membangunkan Rein dan dengan penuh rasa malu kami membungkuk hormat ke arah penonton. Kedua wajah kami memerah dan kami menjadi salah tingkah. Aku pun berucap sendiri di dalam benakku.


“Astaga, kenapa kami selalu mendadak seperti ini…”


Bersambung~

__ADS_1


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2