Love Exchange

Love Exchange
Episode 71 : Bangunan Mencekam


__ADS_3

Sinar mentari bersinar terang di atas langit biru cerah nan berkilau. Orang-orang beraktivitas seperti biasanya. Sampai-sampai kami semua dibuat syok terheran-heran dengan suasana yang berubah seratus delapan puluh derajat. Matahari yang masih berada tidak jauh dari permukaan membuat kami tercengang bukan kepalang.


“Kenapa jadi ramai sekali?” lontar Freda tidak percaya. Kemudian aku memastikan kembali berapa lama kami pergi. “Berapa lama kita di kuil tadi?” tanyaku panik. Lalu Milard melihat jam tangan untuk menghitung waktu tersebut.


“Tadi kita sudah di kuil selama… Eh?” jawabnya lantas termangap kaget.


“Ada apa, Mil?” lanjut tanyaku bingung dengan responnya.


“W—W—Waktunya mun—dur…” balasnya gelagapan tak percaya.


“Hah? Mundur?” sahut Hart belingsatan dan melihat jam tangannya. Betapa terkejutnya ia melihat jarum jam yang tiba-tiba tidak sama dengan saat berada di kuil.


“Loh, loh? K—Kok?” imbuhnya.


“Bagaimana bisa ini terjadi?” tanya Emery gelisah. Cassie juga tak kalah cemasnya. Sementara Eledarn masih melihat-lihat sekelilingnya. Aku berusaha untuk mencari tahu apa yang telah terjadi.


“Ayo kita lanjut jalan dulu,” ajakku. Kami semua masih tak habis pikir dengan keganjilan ini. Tak lama kemudian Reynaud datang bersamaan dengan Wymer yang berada di sebelahnya.


“Halo, semua. Selamat pagi!” cetus Reynaud tersenyum senang seraya menghampiri kami. “Pagi?” batinku kacau. Lantas aku bertanya kepadanya perihal waktu yang tidak beres ini.


“Reynaud!” panggilku padanya yang tengah berlarian ke arah kami. Setelah saling berhadapan ia kembali menyapaku lagi.


“Yo, Adelard.”


“Sekarang jam berapa?” tanyaku penasaran.


“Jam tujuh,” jawabnya tenang. Sontak kami semua terkejut mendengarnya.


“Tujuh?” balas kami serentak. Reynaud yang tidak mengerti apa-apa menjadi kebingungan dengan kami semua.


“Iya. Memangnya kenapa?” lanjutnya bertanya, tetapi aku menanggapinya dengan bertanya lagi padanya.


“Hari ini hari apa?” tanyaku terguncang mental.


“Hari Sabtu,” jawabnya singkat, namun rasa penasarannya masih mencolok di wajahnya. “Ada apa, Adelard? Ada yang salah?” resahnya. Seketika aku mengetahui bahwa kami sudah melewatkan satu hari di kuil itu.


“B—Bagaimana bisa?” ucapku dengan mulut dan kedua mata terbuka lebar. Kemudian Wymer menyusul Reynaud setelah berjalan santai mengampiri kami. Melihat ekspresi kami yang termangut diam membuatnya ikut kebingungan sama seperti Reynaud.


“Apa yang terjadi?” Lalu Reynaud menanggapinya dengan menggeleng-gelengkan kepala sekaligus menaikkan bahunya. Arkian Wymer hanya menarik napas mengkerut.


“Huft… Bisa kau ceritakan?” pintanya tenang. Lalu aku menjelaskan apa yang kami alami sejak awal kedatangan kami di sini. Kemudian Wymer menyadarinya dan tidak menunjukkan respon terkejut sama sekali.


“Oh begitu…” hembusnya terpejam mata.


“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Milard kepadanya.


“Kalian baru saja melewati ruang waktu,” jawabnya berkepala dingin. Hal tersebut membuat kami semua kembali terkejut lagi. Kami semua tidak mengerti apa maksud yang dikatakannya.


“Apa maksudnya?” tanyaku gugup.

__ADS_1


“Tempat tersebut memiliki anomali sifat ruang dan waktu yang seharusnya berjalan bersamaan,” jelas Wymer.


“Jadi maksudmu kami mengalami dilatasi waktu?” tanya Cassie tidak percaya. Kemudian Wymer membenarkannya seraya mengangguk dan berkata, “Iya,” Aku sama sekali tidak percaya dengan hal tersebut bisa terjadi di bumi ini.


“Tapi, bagaimana bisa?” tanyaku.


“Entahlah… Kuil tersebut sudah berpuluh ribu tahun lamanya, bahkan sebelum ada manusia menempati daratan ini,” jawabnya dan seketika sekali lagi aku terkejut olehnya.


“Lalu kenapa bisa ada kuil di sana? Dan setahuku kepercayaan baru muncul sekitar delapan ribu tahun lalu,” cakapku menganggap itu tidak masuk akal sama sekali.


“Bagaimana kau tahu kuil itu sudah berumur puluhan ribu tahun?” lanjut tanya Milard kepada Wymer.


“Tempat itu pernah diteliti oleh para ahli sejarah sebelumnya. Dan juga tempat itu tidak pernah dimodifikasi sama sekali, sehingga tidak ada yang berubah sedikit pun,” paparnya lagi.


“Bahkan tulisan yang dibatu itu?” tambah Freda tercengang.


“Iya,” jawabnya. Aku merasa ada yang tidak benar dan ganjil. “Bagaimana bisa huruf kuno itu masih sama dengan sekarang? Bukannya setiap peradaban akan selalu berubah?” batinku bertanya-tanya. Kemudian aku memastikan kembali bahwa Wymer tidak mengada-ada.


“Kau tidak berbohong, kan?” tanyaku sedikit lantang kepadanya.


“Tentu saja aku tidak akan begitu kepada kalian,” balasnya serius. Aku pun berusha memercayainya meskipun tidak masuk akal sama sekali.


“Aduh kepalaku pusing. Ayo kita ganti topik saja,” pinta Eledarn sudah tak tahan. Kemudian kami semua berjalan menuju Pasar Merah sepintas berkeliling melewatinya saja. Hiruk-pikuk orang-orang membuatnya kembali seperti sediakala.


“Ramai sekali,” ucap Emery ternganga.


“Yah… hari ketiga memang kota sudah beraktivitas seperti biasa,” jawab Reynaud cengengesan. Setalah beberapa waktu berkisar tiba-tiba Reynaud teringat sesuatu.


“Tunggu!” lontarnya mendadak membuat kami berhenti melangkahkan kaki.


“Ada apa?” tanya Emery bingung.


“Aku melupakan sesuatu. Maukah kalian menemaniku?” ajaknya pada kami.


“Aku ikut dengan yang lain,” jawab Hart. Kami terdiam sejenak dan menanyakan satu sama lain. Namun tiba-tiba saja mereka menatapku penuh tanya.


“Baiklah. Kami akan ikut denganmu,” jawabku padanya. Lantas kami mengikuti Reynaud yang senang dari belakang.


Selama perjalanan kami melewati beberapa jalan kecil nan gelap. Langkah kami semakin menjauhi keramaiaan. Lantas aku menjadi cemas dengan situasi seperti ini. Beberapa temanku juga ada yang mulai ketakutan. Seketika Wymer menanyakan tujuan Reynaud pergi ke tempat ini.


“Ada apa kau pergi ke tempat seperti ini?”


“Aku ada janji dengan temanku di sekitar sini,” jawabnya seraya menengok kanan-kiri kebingungan.


“Nah, ini dia. Ayo masuk!” ajak Reynaud kemudian ia membuka pintu dan lekas masuk tanpa permisi.


“Eh? Kau tidak mengetuknya dulu?” tanyaku padanya.


“Tenang saja,” jawabnya pringas-pringis. Aku merasa was-was dengan bangunan besar dan gelap ini. Kami dibawanya ke tempat kumuh olehnya. Cassie dan Emery hanya meremang ketakutan.

__ADS_1


Sesampainya di dalam terlihat ruangan luas berbahan kayu hitam, atmosfer seketika berubah menjadi seram. Barang-barang yang berserakan dan banyaknya sarang laba-laba menambah keangkeran bangunan ini.


“Tempat apa ini?” tanya Emery merinding. Sementara itu Reynaud sedang fokus mencari sesuatu dari tiap sudut ruangan. Namun terserempak pintu depan tertutup dengan sendirinya dan sontak membuat kami terkejut panik ketakutan.


“Aaaaaa…!” Lantas Milard berlari menuju pintu tersebut dan mencoba memutar kenop pintu, tetapi tidak kunjung terbuka.


“Ti—Tidak bisa dibuka!” lontar Milard gelagapan.


“B—B—B—B—Bagaiamana ini…?” tutur Cassie dengan giginya yang gemeletuk. Reynaud sontak juga ikut panik. Akibatnya hanya suara teriak ricuh ketakutan yang terlontar dari mulut kami, namun tidak halnya dengan Wymer yang hanya terdiam tanpa kata-kata.


Kemudian muncul suara hembusan bernada rendah disertai dengan bunyi papan kayu berderak. Arkian kami semua berlari menuju sudut ruangan dekat pintu keluar sembari saling berpelukan bersama-sama.


“Adelard, aku takut…” desis Cassie gemetaran seraya memelukku erat sampai-sampai dadaku terasa sesak.


“Tenanglah…” balasku menenangkannya. Hart yang jengkel kemudian menyinggung Reynaud.


“Oi! Apa maksudmu membawa kami ke sini?” tegas Hart kesal.


“Aku ingin menemui temanku, tapi sepertinya aku dijebak,” jawabnya polos.


“Sudah jelas, bodoh! Bagaimana mungkin saling bertemu di tempat seperti ini!” gerutunya.


“L—Lalu kita harus apa?” lanjut tanya Freda. Dengan santai Wymer memberi solusi.


“Aku akan menelepon temanku untuk membuka pintu dari luar,” jawabnya.


“Oh iya, bagaimana kalau kita dobrak saja pintu ini?” usul Eledarn. Kemudian kami mencoba untuk melakukannya, tetapi aku tidak bisa bergerak lantaran diriku terkunci dari pelukan Cassie.


“Jangan ke mana-mana,” lirihnya meneteskan air mata. Hart yang melihatku lantas menyindirku. “Cih, dia malah menggunakan kesempatan dalam kesempitan.”


Setelah beberapa kali mencoba untuk menerobos pintu tersebut, hasil yang didapatkan nihil. Mau tidak mau kami hanya bisa menunggu pertologan. Namun suara menyeramkan terus saja bergemuruh di dalam ruangan ini. Tanpa ku sadari aku semakin menempel erat dengan Cassie.


“E—Eh? Empuk-empuk apa ini” batinku heran. Tepat beberapa detik berselang aku teringat bahwa aku Cassie yang ada dihadapanku.


“Cassie?” ucapku. Namun ia hanya memejamkan mata sembari bergemetar takut. “A—A—A—Apa?” sahutnya pelan.


“Bisakah kau merenggangkan pelukanmu?” pintaku padanya, tetapi yang dilakukannya justru sebaliknya.


“D—Da—Dad—” ujarku kalang kabut.


“Aku takut…” rintihnya lagi. Aku tidak bisa melakukan apa-apa, tetapi sebagai lawan jenis tentu saja aku terangsang dengan situasi seperti ini.


“Yah… Apa boleh buat…” gumamku dalam hati sambil tersenyum dan bergairah. Sampai akhirnya pertolongan datang dan kami dapat pulang kembali menuju pondok penginapan. Namun kepalaku masih terbayang-bayang dengan kenikmatan selama terperang di bangunan tadi.


“Ternyata seperti ini rasanya menjadi seperti Hart dan Eledarn.”


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)

__ADS_1


__ADS_2