
Dalam ruangan aula yang amat besar, semua orang berkumpul dan bersenang-senang bersama. Di bawah lampu kristal yang tergantung, kami berjalan kembali menuju tempat duduk. Sepanjang kaki melangkah terdengar suara tepuk tangan dari para penonton yang berdiri. Selama itulah aku berjalan dengan tertunduk menahan malu.
“Wah, kalian memang kreatif dan lihai, ya,” cetus ayaknya Gavin.
“Padahal semua tadi hanya kecelakaan dan tidak sengaja,” gumamku dalam hati. Kami kembali menduduki kursi tersebut dan kegiatan dilanjutkan dengan bernyanyi bersama-sama. Saat pembawa acara mempersilakan siapa pun yang bersedia tampil, tiba-tiba saja Gavin menyebut-nyebut namaku.
“Adelard! Adelard!” Aku yang mendengarnya sontak menjadi kesal dibuatnya. Tak disangka ternyata semua orang juga bersuara sama dengan Gavin.
“Huft… Ya sudahlah…” hembusku pasrah.
Saat aku berjalan menuju depan ruangan, semua orang sudah bertepuk tangan ke arahku, namun sang pembawa acara bertanya kepadaku.
“Kau hanya ingin bernyanyi sendiri? Tidak ingin duet?”
“Boleh kupanggil seseorang untuk duet?” lanjut tanyaku.
“Tentu saja, panggung ini milikmu,” balasnya tersenyum. Lantas aku memanggil Rein dan membuatnya terkejut. Ayahnya Rein seketika saja langsung bersemangat dan meminta Rein untuk maju tanpa pikir panjang. Kemudian Rein datang menghampiriku dan kami telah siap untuk bernyanyi berdua.
“Kita sambut, Adelard dan Rein!” Tepuk tangan bergemuruh sejenak lalu kembali hening dan kami memulai penampilan kami. Selama nada berayun, para penonton yang menyaksikan sontak terperangah takjub kepada kami. Tak sempat terpikirkan oleh ayahku kalau aku memiliki kemampuan seperti itu.
“S—Sejak kapan kau jadi seperti ini?” gumam ayahku ternganga.
Bait demi bait kami lantunkan secara bersahut-sahutan. Pada saat yang bersamaan aku merasa sangat gugup karena disaksikan oleh orang-orang besar, begitu pula dengan Rein yang sedikit bergemetar. Kami berusaha untuk tetap tenang. Hingga akhirnya kami telah berada di penghujung lagu, namun tiba-tiba saja aku tergelincir dan tanpa sengaja kembali mencium Rein. Sontak semua orang bersorak sorai dan bertepuk tangan tanpa henti.
“Ayolah! Kenapa harus seperti ini lagi?” benakku kesal sendiri. Saat kami kembali lagi-lagi kami merasa sangat malu.
“Lagi-lagi sebuah akhir yang tak terduga, ya,” ucap ayahku menyeringai. Aku yang ingin meluruskan kesalahpahaman tersebut lantas menjadi salah tingkah.
“T—Tapi tadi itu hany—” paparku namun dipotong oleh Gavin.
“Pandai juga kau bisa mencari-cari kesempatan.” Aku yang mendengarnya sontak merasa sebal kepada Gavin.
__ADS_1
“Bukan seperti itu!”
Tidak lama waktu berselang, orang-orang mulai meninggalkan tempat acara dan saling berkumpul di tepi aula. Aku yang masih duduk di meja makan bersama yang lainnya menjadi kebingungan dan tidak tahu akan melakukan apa. Sementara itu, ayah kami sedang asyik mengobrol satu sama lain. Kemudian Cassie bertanya kepada ayahnya dengan nada yang lembut dan pelan.
“Apa yang akan kita lakukan sekarang, Ayah? Bolehkan kami pulang?”
“Oh iya, maaf kami terlalu asyik mengobrol,” balas ayahnya cengar-cengir.
“Hari sudah semakin larut. Lebih baik kalian bermalam di sini dulu,” lanjut ayahku menambahkan. Kami berempat seketika tersentak kaget dan tidak percaya dengan apa yang baru saja kami dengar.
“B—Bermalam? Di hotel mewah ini?” lontarku.
“Ini kartu hotel kalian,” ucap ayahnya Rein sembari memberikan kartu tersebut kepadaku dan Gavin. Aku menjadi kebingungan dengan kartu yang masing-masing kami pegang, berikut pula Gavin.
“Loh? Bukannya aku dan Adelard satu kamar?” tanya Gavin. Ayah kami lantas menggeleng-gelengkan kepala secara bersamaan. Lalu ayahnya Gavin memanggil dua orang pelayan untuk mengantarkan kami. Aku masih belum mengerti dengan maksud semua ini. Rein terus berpikir sembari bergumam heran.
“Kalau Adelard dan Gavin yang pegang kunci, berarti…” Seketika kami tersadar dan membuat kami syok tak habis pikir.
“Kalau begitu, selamat beristirahat,” ujar ayahnya Cassie lalu mereka pergi meninggalkan kami.
Pelayan yang telah menunggu kemudian mengantarkan kami menuju kamar masing-masing. Setibanya di sana, ternyata kami menempati kamar yang berseberangan. Seketika terbesit di benakku untuk bertukaran kamar supaya aku dapat menempati kamar yang sama dengan Gavin, begitu pula dengan Cassie dan Rein. Akan tetapi, para pelayan menjelaskan kalau kamar yang sudah dipesan harus ditempati oleh orang yang sesuai dengan nama yang tertera di kartu hotel.
Dengan menghela napas pasrah, kami pun memasuki kamar. Betapa terkejutnya aku dengan desain ruangan yang sangat berbeda dengan kamar hotel yang pernah kulihat sebelumnya. Hanya terdapat sebuah kasur besar dan kamar mandi yang hanya tertutup oleh kaca tembus pandang. Pikiran kami seketika kosong dan tidak tahu harus berbuat apa.
“I—Ini mah kamar untuk pasangan yang sudah menikah,” gumamku jengkel dalam hati. Terdapat sebuah lemari pakaian dan saat kubuka ternyata ada sepasang pakaian lengkap. Ketika melihat jam dinding, baru sadar kalau waktu sudah menunjukkan tengah malam.
“Kau tidak ingin mandi dulu?” tanyaku.
“Kau duluan saja,” jawabnya.
“Yah… tapi kamar mandinya seperti itu…” lanjutku.
__ADS_1
“Kalau begitu, aku akan mengelilingi hotel sebentar,” tuturnya sembari berjalan ke arah pintu lalu pergi keluar. Dengan cepat aku langsung membilas tubuh dengan cepat. Tanpa menunggu waktu lama, aku telah selesai dan kini saatnya aku menunggu Rein datang kembali. Aku menyaksikan sebuah televisi yang berada di dinding. Terdengar suara ketukan pintu lalu aku membukakannya.
“Sudah selesai?” tanya Rein.
“Iya sudah,” jawabku. Kemudian aku berjalan keluar dari kamar hotel dan berjalan menuju restoran hotel. Sembari menunggu, aku menyempatkan diri untuk menikmati minuman hangat dengan pemandangan kota yang masih ramai. Selepas beberapa waktu kemudian, aku pun berniat untuk kembali menuju kamar.
“Sudah hampir satu jam. Seharusnya ia sudah selesai.”
Sesampainya di kamar, ternyata Rein sudah tertidur pulas di atas kasur. Sepertinya aku sudah menghabiskan banyak waktu. Aku yang juga mengantuk lantas membaringkan tubuh di sebelahnya sembari menyalakan lampu tidur. Tanpa pikir panjang aku langsung memejamkan mata dan mengistirahatkan diri. Aku yang sudah penat sekali ingin cepat-cepat memulihkan kembali energiku.
Keesokan hari pun tiba. Pagi hari di mana sudah terlihat hiruk-pikuk kehidupan kota dari dinding kaca. Kami melakukan aktivitas pagi seperti biasa seperti membasuh diri berberes-beres. Kami mengenakan pakaian yang sudah disiapkan dari semalam. Tak lama kemudian dua orang pelayan datang menuju kamar kami untuk mengambil pakaian kotor. Setelah itu kami berniat pergi ke restoran untuk sarapan. Pada saat yang bersamaan kami keluar dari kamar berbarengan dengan Gavin dan Cassie.
Setibanya di restoran, tampak ayah kami yang sudah duduk dan bercanda tawa bersama. Kami pun datang menghampiri mereka. Lalu kami menempati meja makan yang sama dengan mereka. Beberapa menit berselang, kami menyantap hidangan yang telah dipesan oleh ayah kami. Kami menyambilkan waktu tersebut sembari mengobrol bersama.
“Bagaimana dengan semalam dan hari ini? Seru, kan?” tanya ayahku tersenyum. Aku membalasnya dengan tersenyum seraya berucap kepadanya.
“Banyak pengalaman baru yang aku alami di sini.”
“Berapa lama Ayah berada di sini?” tanya Gavin penasaran.
“Satu pekan ke depan,” jawabnya.
“Lama juga, ya. Kukira kujungan seperti itu hanya sehari atau dua hari,” sahut Rein.
“Kami juga ada jadwal dengan beberapa lembaga,” balas ayahnya Rein.
“Mungkin kita akan bertemu lagi di tempat yang tak terduga,” imbuh ayahku cengar-cengir. Aku yang mendengarnya lantas sedikit curiga lalu berpikir di dalam benakku.
“Hmm… Jangan bilang kalau…”
Bersambung~
__ADS_1
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)