Love Exchange

Love Exchange
Episode 43 : Pesta Kemenangan


__ADS_3

Hari cerah dan mentari tepat di ujung tanduk menusuk terik kepala kami. Namun hari ini lebih sejuk dari hari-hari sebelumnya. Dedaunan yang gugur dari ranting-ranting membanjiri jalanan yang ramai. Kami pulang lebih awal karena agenda hari ini hanya pemilihan ketua dan wakil ketua OSIS. Freda mengajak kami sekaligus Milard untuk merayakan kemenangan kami.


Freda yang berjalan terburu-buru membuat kami semua menjadi penasaran dan bingung bersamaan. Tidak terpikirkan sama sekali di benakku ke mana ia akan membawa kami pergi.


“Ayo cepat!” lontar Freda kepada kami semua. Berjalan kaki sejauh ini dari sekolah cukup melelahkan. Bahkan Cassie telah terengah-engah karena kelelahan. Aku pun meminta Freda untuk beristirahat sejenak.


“Jauh sekali. Kita mau ke mana, oi?” tanya Hart bingung, penasaran dan kesal bercampur aduk menjadi satu.


“Rahasia.” jawabnya tersenyum licik. Hart pun menghela napas. “Huft… Awas saja kalau tidak sesuai dengan ekspetasi.”


“Tenang saja… Kali ini kalian akan sangat menikmatinya.” balas Freda cengengesan. Aku justru menjadi tidak percaya akibat tingkahnya yang mencurigakan.


Beberapa saat kemudian kami melanjutkan perjalanan kembali. Akhirnya kami berhenti di depan salah satu bangungan seperti toko.


“Kita sampai!” tuturnya bersemangat. “Re—Restoran?” tanya Milard gagap kebingungan.


“Iya. Kita akan makan-makan!” jawabnya yang sedang membara. “Kita sudah melewati ratusan restoran tapi kenapa pilih yang jauh?” tanyaku pelan penuh kesal dan lelah.

__ADS_1


“Ini tempat langgananku. Ayo kita masuk!” jelasnya kemudian mengajak kami untuk masuk ke dalam. “Oh iya, karena ini perayaan kemenangan kalian, jadi kalian yang traktir, ya.” cetusnya tiba-tiba ke arahku dan Cassie sontak membuatku geram. Lantas aku hanya menarik napas pasrah.


“Untung hari ini aku bawa cukup uang.” gumamku dalam hati sembari melihat isi dompetku. Mereka semua sudah duduk di meja makan. Aku pun menghampiri mereka. Tak lama kemudian seorang pelayan datang menghampiri kami.


“Yo, Edda!” sahut pelayan tersebut yang nampak akrab dengan Freda.


“Edan?” tanyaku polos karena aku mendegarnya samar-samar.


“Edda, oi! Edda!” pungkas Freda ke arahku.


“Wah ramai sekali. Kau ulang tahun?” tanya pelayan tersebut penasaran kepada Freda. “Tidak. Kami ingin merayakan kemenangan temanku.” jawabnya tersenyum senang.


“Kau akrab sekali dengannya, ya, Freda.” cakap Hart tenang. “Tentu saja!” jawabnya girang. “Teman sekolahmu dulu?” tanyaku penasaran padanya. “Tidak. Aku hanya langganan di sini. Jadi aku mengenalnya.” jelasnya menjawab pertanyaanku. Kami pun menunggu makanan siap sembari mengobrol bersama.


“Selamat atas kemenangan kalian berdua.” tutur Milard sopan kepadaku dan Cassie. Aku tersenyum kepadanya. “Terima kasih.” balas Cassie malu. “Oh iya. Baru kali ini Cassie makan bersama dengan kita.” cetus Freda menyadari itu. Cassie pun tertunduk malu.


“Ayolah. Tenang saja Cassie!” ucap Freda. “Salam kenal, Cassie!” lontar Hart bersemangat kepadanya. Lantas Cassie mengangguknya. Tak lama pelayan tadi datang kembali dengan hidangan di atas nampan yang dibawanya. Kemudian makanan disajikan dihadapan kami.

__ADS_1


“Silahkan dinikmati.” ucap pelayan tesebut kemudian pergi meninggalkan kami. “Wah banyak sekali!” cetus Freda girang setengah mati. “Tidak ada di menu semua.” tutur Milard tidak percaya sambil melihat buku menu hidangan berulang kali. Hidangan yang sangat banyak sampai memenuhi meja membuatku gelisah.


“Bagaimana aku membayarnya nanti.” batinku kalang kabut.


Akhirnya kami pun makan bersama diselingi dengan percakapan hangat persahabatan. Tidak jarang gelak tawa mengiringi obrolan kami. Kali ini Cassie dapat berbicara biasa kepada kami semua tanpa rasa malu ataupun canggung sedikitpun. Aku senang melihatnya akrab dengan mereka.


“Hahaha! Kau lucu juga ya, Hart.” cetus Cassie tertawa.


“Walaupun kadang tingkahnya melebihi orang bodoh.” lanjut Freda menambahkan. “Betul sekali.” sahut Milard. Hart bingung bagaimana caranya ia merespon perkataan mereka. “Terima kasih, Cassie.” ujarnya tersenyum dan wajahnya merona merah.


“Wah, wah. Anak itu kegirangan dipuji-puji olehnya.” bisik Freda ke telinga Milard, tetapi kami semua dapat mendengarnya dengan jelas.


“Hei! Aku juga punya urat malu, tahu!” ungkap Hart kesal. Sementara itu Cassie tertawa lepas melihat perangai mereka bertiga. Aku pun ikut senang akhirnya ia dapat berinteraksi seperti biasa tanpa ada rasa canggung menyertainya.


“Sedikit demi sedikit kau berubah.” gumamku senang dalam hati.


Bersambung~

__ADS_1


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2