Love Exchange

Love Exchange
Episode 76 : Terlelap Tanpa Sadar


__ADS_3

Satu pekan berlalu, langit yang cerah menemani kami yang tengah senyap dan fokus memperhatikan pembicara. Sekarang aku sedang mengikuti rapat bersama dengan dewan guru. Sebagai ketua, aku memimpin jalannya pertemuan penting ini. Kemudian aku menyebutkan posisi masing-masing dalam kegiatan mendatang.


“Eledarn menjadi ketua pelaksana,” ucapku. Lantas orang-orang bertepuk tangan memujinya.


Sesudah menutup rapat, para anggota dilanjutkan dengan pekerjaan yang telah diberi tahu sebelumnya. Kebanyakan dari mereka memiliki pekerjaan tersebut di luar ruangan dan lapangan. Sementara itu aku dan teman-temanku yang lain menyusun perencanaan riil dengan segala kemungkinan yang dapat saja terjadi.


“Setidaknya harus ada lima rencana,” cetus Hart.


“Banyak sekali,” sahut Emery tidak percaya.


“Itu kebanyakan, oi!” balasku jengkel. “Lagian kenapa kau masih berada di sini? Tugasmu kan menyiapkan lapangan,” imbuhku mengusirnya pergi.


“Ampun, Bos,” lontarnya lalu keluar dari ruangan.


“Kalau begitu aku juga ingin memantau langsung,” lanjut Cassie.


Aku pun mengizinkannya pergi. Lambat laun ruangan kini menjadi sepi. Tak lama kemudian Emery juga baru teringat untuk berkoordinasi dengan kelas-kelas lainnya. Tidak ada lagi orang-orang di ruangan ini kecual diriku dan Eledarn. Terdengar suara orang berjalan mendekati ruangan kemudian pintu terbuka.


“Permisi…” tutur Clarissa pelan.


“Iya? Ada apa?” sahutku sembari bertanya kepadanya. Sontak ia datang menghampiriku seraya berkata, “Kakak butuh bantuan?” Dengan susah hati aku tidak menerima bantuannya.


“Maaf, aku bisa mengerjakannya sendiri,” Kemudian kami berdua terdiam dan tidak berkata satu sama lain. Aku menjadi canggung kepadanya, di lain sisi Eledarn tengah fokus di depan layar dan sibuk akan pekerjaannya.


“Bukannya kau selalu bersama Mesha dan Nana?”


“Mereka bisa melakukan tugasnya dengan baik,” Lantas ia menarik sebuah bangku dan meletakkannya di sebelahku. Ia memperhatikanku lalu duduk menempel tepat di sampingku. Situasi seperti ini mendadak membuatku gelagapan dan salah tingkah.


“E—Eh? Alur macam apa pula ini?” gumamku terkejut dalam hati. Posturku menjadi tegak dan beku bagai patung dengan dirinya yang bersandar di bahuku.


“Ekhem… Aku ingin bertemu dengan Pembina dulu,” ujar Eledarn lalu pergi menuju pintu. Tepat sebelum menutup pintu, ia mengisyaratkan sesuatu dengan berkedip ke arahku. Aku tidak habis pikir dan kepalaku meletup-letup.


“A—Apa maksudnya?” Sekarang hanya kami berdua yang sedang berada di dalam ruangan. Clarissnya masih saja memperhatikan pekerjaanku. Aku yang tidak tahan dengan situasi sekarang lekas bertindak.


“Bi—Bisakah kau mendiktekan ini?” pintaku dengan sebuah arsip di tanganku. Dengan senang hati ia menerimanya. “Tentu saja.”


Beberapa menit berselang tidak ada seorang pun yang masuk ke dalam ruangan. Aku hanya bisa berharap akan ada seseorang yang menemani kami berdua.


“Mau berapa lama aku seperti ini terus…?” batinku gugup. Pikiranku yang tidak fokus membuat Clarissa kebingungan.

__ADS_1


“Kak? Halo…?” Ia juga  melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku.


“Kak Adelard?” Sontak aku tersadar dan menanggapinya.


“E—Eh? Iya… Maaf…” Keringat terkucur deras di kepalaku. Melihatku seperti itu lantas ia berinisiatif untuk melakukan sesuatu. “Tunggu sebentar.” Aku menjadi heran dengan kelakuannya.


“Baiklah, saya akan melanjutkan dikteannya sambil mengipas Kakak,” cakapnya.


Setelah separuh waktu berjalan, akhirnya pekerjaanku sudah selesai dan kini saatnya untuk merehatkan diri. Seketika rasa kantukku memuncak akibat kekurangan istirahat semenjak mengerjakan tugas sekolah yang berjibun.


“Akhirnyaaah…!” lontarku lega, tetapi mataku menjadi berat dan tidak tahan untuk menutupnya. Clarissa yang memandangiku tergeletak di atas meja lantas mengelus-elus punggungku. Ia juga menyanyikan beberapa potong lagu dengan merdu dan membuatku semakin nyenyak.


“Bagus juga suaramu…” ucapku terseret-seret.


Sekilas penglihatanku menjadi hitam dan berselang kemudian lagi-lagi aku terbangun di antah berantah. Namun tempat kali ini berbeda dengan yang sebelumnya. Aku dibuat terheran-heran dengan suasana sekolah yang asing bagiku. Lalu aku berkeliling di sepanjang lorong tersebut.


“Sekolah apa ini?” racauku bertanya-tanya. Tertera tulisan di papan depan pintu kelas yang ku lewati.


“Kelas tujuh?” Dengan segera aku menoleh ke jendela dan melihat ke arah luar. Baru aku sadari ternyata aku sedang berada di SMP tempatku dahulu. Namun tidak ada seorang pun sepanjang mata memandang. Tiba-tiba bulu kudukku berdiri dengan sendirinya dan hawa tidak mengenakkan terasa di dalam inderaku.


“Apa yang sedang terjadi?”


Aku pun berjalan mengelilingi sekolah untuk mencari tahu, tetapi hasinya nihil. Aku yang sudah terengah-engah kelelahan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Sesaat aku melihat ke arah luar sekolah, tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Rasanya seperti berada di tengah kota mati.


Sampai suatu ketika sebuah pintu kelas terbuka dengan sendirinya dan dengan segera aku pergi mendekatinya. Sekali lagi aku terkejut syok melihat seorang gadis serupa dengan kala itu di dalam kelas. Rasa penasaran kian membubung sontak aku berlari menghampirinya. Namun saat tepat berada di belakangnya tubuhku menjadi beku terkecuali kepalaku.


“Seperti ini lagi?” hembusku berkeringat panik.


“Sudah menemukan jawaban?”


“Apa maksudmu? Siapa kau sebenarnya?” lontarku penuh kesal.


“Baiklan akan kuberi satu petunjuk…” tutur gadis beranggun putih itu dengan lembut. “Aku dari masa depan…”


“Hah?”


“Aku adalah pendam—” lanjutnya namun seketika ia tertunduk diam. Aku tidak habis pikir dengan perkataannya barusan.


“Sekarang saatnya kau bangun…” Tak lama kemudian suara keras yang bergaung dari langit memanggil-manggil namaku. Sontak aku berlari menuju jendela dan melihat ke atas.

__ADS_1


“Adelard...”


“Adelard!” Aku pun terlompat kagat dan mataku terbuka lebar.


“Ha!” Lagi-lagi mimpi aneh baru saja aku alami. Mendegar lompatanku yang mendadak lantas membuat Hart terkejut.


“Bisa tidak kau bangun dengan santai?” ujarnya dongkol. Kemudian Eledarn dan beberapa temanku datang menghampiriku. Dengan tatapan curiga Eledarn mengomentari diriku.


“Aroma perempuan,” lontarnya. Emery yang tidak percaya kemudian datang mendekatiku. Aku yang belum sepenuhnya sadar dari tidurku hanya terdiam dengan mata yang masih tertutup renggang.


“Adelard, pipimu bau lips—” tutur Emery lalu dengan sigap Eledarn menutup mulutnya. Aku tidak tahu apa yang tengah dibicarakannya.


“Ada apa?” tanyaku menguap kantuk.


“Kau malah enak-enaknya tidur di sini,” sahut Hart. Arkian aku merenggangkan tubuhku dan melihat sekitar, tetapi tidak ada Clarissa di sini.


“Di mana Clarissa?” tanyaku santai. Mereka menatapku penuh curiga lantas menyadarinya.


“Oh… Ternyata oh ternyata…” balas Eledarn dengan wajahnya yang mengerikan tersorot kepadaku. Aku yang tidak mengerti apa-apa hanya diam ketakutan melihatnya.


“Jangan cemburu, ya,” desis Hart kepada Cassie yang kemudian wajahnya memerah kembali. Dengan aura menakutkan Eledarn terus berjalan mendekatiku.


“Jadi ini yang kau lakukan selama tidak ada orang.”


“A—Apa yang kau katakan?” Lalu Cassie dengan sigap meleraikannya.


“Pasti ini salah paham!” lontarnya sembari tertunduk malu. Kesempatan yang muncul aku gunakan untuk membela diriku.


“Iya, aku hanya menyelesaikan pekerjaanku. Lihat, sudah selesai,” tambahku kemudian memperlihatkan hasil pekerjaanku. “Maaf, aku tertidur karena aku sudah tidak tahan lagi.”


Tak lama kemudian kondisi menjadi reda kembali. Mentari yang terlihat akan segera terbenam dari jendela kemudian mereka semua mengambil tas dan bersiap pulang.


“Kali ini kau beruntung lagi, ya,” celetuk Hart.


“Maksudnya?” tanyaku tidak mengerti.


“Dasar bodoh,” sahut Eledarn yang masih saja jengkel terhadapku. Kemudian semua orang meninggalkan ku seorang diri di dalam ruangan. Lalu aku membereskan barang-barangku dan mengunci ruangan. Dengan perasaan bimbang aku terus bertanya-tanya kepada diriku sendiri.


“Huft… Insiden apa lagi yang menimpaku tadi?”

__ADS_1


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2