
Hari yang sangat cerah menemaniku yang sedang jengkel dengan Hart. Tampak wajah sedikit kecewa yang diperlihatkan Cassie. Aku tidak habis pikir dengan Hart yang membawa kami ke tempat yang jauh dari kata belajar. Suasana di sini sangat ramai sehingga membuat Cassie malu.
“Apa yang kau pikirkan, woi! Kita ini kan ingin belajar!” tegasku kesal kepada Hart.
“Ayolah, sebelum berpikir keras, kita menenangkan otak dahulu.” ucap Hart menghampiri kami dari loket tiket. “Ini, sudah kubelikan tiga.” tambahnya sambil menunjukkan tiket masuk. Aku hanya bisa pasrah dengan keadaan.
“Tapi, waktunya kan tinggal besok.” ucapku pelan. “Ayo, ayo!” ajaknya semangat dan menarik kami berdua. “Sayang kalau tiketnya menjadi sia-sia.” imbuhnya dengan senang. Aku dan Cassie tidak dapat mengelaknya. Kami pun masuk ke dalam taman bermain. “Jangan malu-malu, bilang saja kalau ada wahana yang ingin kalian
naiki.”
Suatu ketika kami berada di antrean masuk wahana kereta luncur. Hart ingin sekali menaikinya. Namun Cassie nampak ketakutan.
__ADS_1
“Ayo kita naik itu!” ajak Hart dengan semangat yang membara. “T—Tapi aku takut…” ucap Cassie pelan dan kepalanya tertunduk. “Tenang saja! Ada Adelard yang akan menemanimu.” cetus Hart tiba-tiba dan membuatku kesal. “Jangan bicara yang tidak-tidak!” tegasku dengan berbisik kepadanya. Lagi-lagi Hart menarik kami lagi untuk menaikinya.
Namun saat beberapa baris di depan, Hart ingin pergi ke kamar kecil. Kami pun dibuat kebingungan karena ia pergi begitu saja. Ia berkata akan kembali sebentar lagi.
“Cepatlah kembali dan jangan melayap ke mana-mana!” lontarku kepada Hart seraya dirinya pergi meninggalkan kami berdua.
Jadi aku dan Cassie menunggunya sambil mengisi antrean. Sampai akhirnya kami sudah berada di paling depan namun Hart tak kunjung kembali.
Karena kami tidak bisa menunggu terlalu lama di antrean yang panjang ini, lantas kami menaikinya. Aku dan Cassie duduk bersebelahan. Tak lama kemudian kereta luncur mendaki rel dan Cassie sudah ketakutan dan gelisah. Ketika kami sampai di puncak kemudian kereta meluncur dengan kencang ke bawah. Sontak kami berteriak sejadi-jadinya.
“Adelard! Adelard!” teriaknya.
__ADS_1
“Tenang Cassie! Aku ada di sebelahmu!” Kami berdua saling berteriak menikmati wahana tersebut, sampai akhirnya kereta tersebut berhenti.
Setelah turun dari wahana yang menegangkan itu, Hart telah menunggu kami di pintu keluar. Aku menjadi bingung sekaligus geram kenapa ia tak kunjung kembali tadi. “Maaf, aku tadi tersesat saat mencari toiletnya. Hehe…” jawabnya cengengesan.
Kami menaiki beberapa wahana. Namun dari sekian wahana yang kami naiki, tidak satu pun Hart mengikutinya. Ada saja alasan ketika kami sedang mengantre. Entah ingin ke kamar kecil, lapar mendadak, atau ada suvenir menarik yang ia lihat. Sampai akhirnya kami berada di wahana terakhir yang ingin kami naiki yaitu kincir putar.
“Wah! Ada boneka mascot yang terkenal dan terbatas. Aku ingin membelinya dulu. Kalian nikmati saja berdua, ya!” cetusnya mendadak ketika kami ingin masuk ke dalam kabin kincir putar itu.
“Silahkan masuk.” ucap penjaga wahana kepada kami. Kami pun menaiki wahana ini dengan kondisi sama seperti sebelum-sebelumnya. Aku menjadi penasaran tujuan Hart membawakan kami ke sini. Pikiran tersebut menghantui kepalaku. Aku menjadi bergumam sendiri dengan raut wajah penuh kesal.
“Apa yang kau rencanakan, Hart?”
__ADS_1
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)