Love Exchange

Love Exchange
Episode 98 : Bayang-Bayang Menghantui


__ADS_3

Waktu telah menunjukkan tengah malam dan sekarang telah memasuki pergantian hari. Akan tetapi, khalayak masih saja memadati pasar malam ini. Aku baru mengetahui dari selembaran brosur yang diberi oleh salah satu karyawan pasar, pasar yang sedang kami kunjungi saat ini akan tutup hingga fajar tiba. Informasi tersebut menjawab pertanyaanku tentang pasar di kota yang tidak pernah tidur ini.


Aku dan Rein masih menunggu Gavin dan Cassie di depan rumah hantu tersebut. Aku masih beristirahat untuk memulihkan energiku yang hampir habis akibat reaksiku yang berlebihan saat di dalam rumah hantu tadi. Sementara itu, Rein melihat toko-toko di sekitar kami, hawa malam nan dingin membuat perutnya menjadi lapar, begitu pula dengan aku.


“Sepertinya mereka masih lama, bagaimana kalau kita membeli makanan dahulu?” ajak Rein kepadaku, tetapi aku khawatir kalau kami semua akan berpisah seperti tadi siang.


“Tapi kalau kita kehilangan mereka lagi bagaimana?” balasku. Sontak ia tertawa terbahak-bahak seraya berucap kepadaku.


“Kau ini ada-ada saja! Kita cukup membelinya di toko dekat sini, kan?”


“Oh iya, betul juga…” sahutku cengar-cengir.


Kemudian kami berdua menghampiri sebuah kios yang menyediakan makanan panggang. Kami memilih toko tersebut lantaran aroma dari asap bakaran yang menggugah selera. Untung saja tempat tersebut tidak ramai didatangi orang, sehingga kami tidak perlu menahan rasa lapar lebih lama lagi. Kami juga tidak perlu cemas karena toko tersebut berada tepat di sebelah rumah hantu itu.


Sesampainya di sana, kami memesan beberapa tusuk sate, namun aku sempat kebingungan untuk memilih menu yang cukup banyak tertera.


“Aku ingin sate sosis tiga tusuk dan sate usus dua tusuk,” ucap Rein kepada penjual itu, sementara itu aku masih melihat-lihat menu.


“Kau mau pesan apa?” tanya Rein.


“Hmm… Aku bingung… Semuanya tampak lezat,” jawabku seraya tanganku memegang dagu.


“Kita ingin beli untuk mereka juga, kan?” tanyaku kepadanya.


“Ya, pasti mereka sangan menginginkannya,” jawabnya tersenyum.  Akhirnya aku pun memutuskannya lalu memberi tahu pesananku kepada penjual tersebut.


“Kalau begitu, semua jenis sate, masing-masing lima tusuk,” lontarku. Seketika saja mereka berdua tersentak kaget dan tidak percaya atas ucapanku barusan.


“Anda yakin, tuan?” tanya penjual tersebut memastikan.


“Serius? Itu banyak sekali, lho…” lanjut Rein.


“Iya, tolong buatkan, ya,” balasku tersenyum. Rein menatapku terus menerus dengan rasa penuh heran.


“Biar aku saja yang bayar,” ucapku sembari membuka dompet.


“Terima kasih,” balasnya senang.


Setelah itu, kami kembali menuju bangku yang berada di depan rumah hantu dengan tangan yang penuh dengan jinjingan. Aku tidak menyangka kalau makanan pesananku akan menjadi sebanyak ini. Lalu kami berdua menyantap sate tusuk itu sembari menunggu mereka yang tak kunjung keluar dari dalam sana. Terlihat barisan antrean yang tetap ramai meskipun hari sudah benar-benar larut.


“Lama sekali mereka…” hembus Rein mengantuk kelelahan.

__ADS_1


“Iya, padahal kita hanya berbeda lima menit, kan?” balasku. Lantas kami berdua tersadar lagi dan kembali khawatir terhadap Cassie.


“Cassie benar-benar baik-baik saja, kan?” lontar Rein.


“Semoga saja begitu…” jawabku seraya berharap. “Tapi, bagaimana dengan Gavin? Apa dia tidak takut?” lanjut tanyaku penasaran.


“Sebelas dua belas denganmu,” jawabnya. “Eh, tapi kau lebih berani sedikit, mungkin…” imbuhnya.


“Yah… Wajar saja, siapa pun juga akan ketakukan berada di dalam situ,” sahutku.


Tak lama berselang, akhirnya Cassie dan Gavin keluar dari rumah hantu tersebut. Namun melihat kondisi mereka sekarang membuat kami berdua mendadak panik. Kami pun berlari menghampiri mereka. Cassie tampak menangis dan hampir tak sadarkan diri. Wajahnya yang pucat bagai mayat yang hidup. Sementara itu, Gavin yang sudah lesu sudah tidak kuat merangkul Cassie.


“Kalian tidak apa-apa?” tanya Rein penuh khawatir.


“A…ku… mau… muntah…” jawab Rein pelan. Lantas Rein menemani sekaligus mengantar Cassie ke kamar kecil terdekat. Aku membawa Gavin menuju bangku untuk menemani Gavin beristirahat dan menenangkan diri.


“Huft… Huft… Aku hampir mati gara-gara jantungan…” hembusnya sembari membetulkan alur napasnya. Kemudian aku menyulurkan tangan dan menawarkan makanan yang telah kami beli sebelumnya. Dengan nada yang lemas ia menolak  tawaranku.


“Maaf… Aku tidak mau makan…”


“Baiklah… Maaf telah menawarkanmu seenakku.” balasku.


Aku dan Gavin tidak banyak bicara satu sama lain, sehingga aku menggunakan waktuku untuk mengisi perut. Aku mengambil makanan dari kantung plastik, tetapi tiba-tiba saja ia tersentak kaget dan langsung menoleh ke arahku. Aku ikut terkejut dengan responnya.


“Astaga!” lontarku pada saat yang sama. “Ini makanan,” lanjut jawabku. “Hampir saja aku menumpahkan makanan ini,” gumamku dalam hati.


“Aku kira sesuatu, ternyata hanya suara plastik,” sahutnya menarik napas lega. Melihat tingkahnya yang was-was membuatku berpikir bahwa Gavin masih terbayang-bayang dengan keseraman di dalam rumah hantu itu. Aku pun berusaha untuk menenangkannya.


“Tarik napas dalam-dalam… Buang pelan-pelan…” ucapku kepadanya. Ia mengikuti arahan dariku. “Tenang, ada aku di sampingmu…” lanjutku pelan sembari mengusap-usap punggungnya. Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya Gavin sudah bisa lebih tenang, dan pada saat itu juga Cassie dan Rein kembali dari dari kamar kecil.


“Sudah baikan?” tanyaku khawatir kepada Cassie. Ia pun menggangguk ke arahku. “Kalau kau masih merasa kurang sehat, kita bisa mampir ke apotek sebentar,” ujarku kepadanya.


“Ayo kita ke apotek… Lalu pulang…” ajak Cassie dengan nada pelan.


Kami semua akhirnya memutuskan untuk pulang menuju asrama. Kami juga berniat untuk mampir sejenak ke apotek yang sebelumnya telah kami lewati saat perjalanan berangkat tadi pagi. Aku dan Rein berjalan di sebelah Gavin, sementara itu Cassie berada di belakang punggungnya Gavin. Cassie masih ketakutan dan tubuhnya sedikit bergemetar. Ia juga melihat ke sekeliling dengan tubuh yang sedikit menunduk.


“Aaaa!” teriak Cassie spontan mengejutkan kami semua.


“A—Ada apa Cassie?” tanyaku gelisah.


Ia menatap ke suatu arah dan ternyata terdapat sebuah kucing di sana. Cassie terkejut syok dengan suara kucing yang mengeong tak jauh darinya. Kemudian kami semua melanjutkan langkah kaki berjalan menyusuri trotoar jalan. Kami semakin jauh dari pusat keramaian dan tempat kami berjalan sudah tampak sepi. Meskipun cahaya menyala terang, Cassie masih merinding ketakutan. Sering kali ia terkejut sendiri dengan suara-suara yang berbunyi tiba-tiba.

__ADS_1


“Dia menjadi sangat takut dengan apa pun…” benakku.


Setelah mampir ke apotek, kami berjalan pulang dengan keadaan tubuh yang sudah penat. Kami semua tidak saling berbicara satu sama lain. Aku hanya ingin cepat-cepat sampai dan berbaring di atas kasur. Akhirnya kami pun tiba di gerbang kompleks sekolah. Area tersebut tampak sepi dan sunyi, hanya di terang lampu-lampu jalan yang sedikit redup.


“Menakutkan sekali…” lontar Gavin.


“Aku tidak mau melihat apa pun!” cetus Cassie dengan wajahnya yang menempel di atas punggungnya Gavin.


“Ayo cepat kita ke asrama,” ucapku.


Sesampainya di asrama kami pun merasa sangat lega, namun perasaan tersebut hanya berselang sekian detik lamanya, hingga kami membuka pintu dan masuk ke dalam. Terlihat ruang tengah yang sangat mirip dengan ruangan yang berada di rumah hantu. Televisi, sofa, dan meja menduduki di tempat dan perspektif yang serupa. Hal tersebut membuat Cassie merengek ketakutan dan memeluk Gavin erat-erat.


“Aku takut…” desisnya. Gavin terlihat cukup senang dengan Cassie yang menempel kencang di punggungnya.


“Dia malah kesenangan di situasi seperti ini,” batinku sedikit jengkel terhadap Gavin.


Kami semua bersiap tidur dan memasuki kamar kami masing-masing, tetapi Cassie yang sangat ketakutan tidak ingin berada di tempat yang sepi. Dia pun menahan pintu kamar yang sedang kututup. Aku yang sudah menguap kantuk lalu menanyakan keinginannya. Dengan nada yang terputus-putus, ia menjawab pertanyaanku dengan pelan.


“A—Aku ingin ti—dur bersama…” pintanya tersedu-sedu. Sontak aku tersentak kaget mendengar ucapannya.


“H—Hah?”


“A—ku tidak… mau tidur sendi—rian…”


Tanpa pikir panjang aku menerima permintannya itu. Seketika Rein juga berlari menghampiri kami.


“Aku tidak mau tidur sendiri di sana.”


“Tunggu, memangnya kasurnya muat?” tanyaku sembari melihat kasur yang berada di kamar, sementara itu Gavin telah terbaring dengan tubuhnya yang terbentang ke seluruh sisi kasur.


“Astaga, aku baru ingat kalau ada orang ini,” gumamku dalam hati.


Aku pun melihat sekeliling kamar dan menemukan sebuah gulungan karpet yang tidak terlalu tipis. Lalu aku menggelarkan karpet tersebut di ruang tengah. Kami semua mengambill bantal dan selimut masing-masing. Kemudian kami berbaring di karpet tersebut. Karpet tersebut tidak senyaman kasur yang empuk, tetapi setidaknya tidak ada apa pun yang perlu ditakutkan.


Aku tidur bersebelahan dengan Rein, begitu pulan dengan Cassie dan Gavin. Bila diurutkan dari sebelah kiri, Rein menempati bagian paling ujung, lalu aku, Cassie, dan Gavin. Lampu di ruang tengah sengaja tidak dimatikan supaya menghilangkan rasa takut pada diri kami semua. Gavin dengan pulas langsung tertidur.


Aku pun bisa memejamkan mata dengan tenang, namun tiba-tiba saja Rein dan Cassie memelukku dari arah yang berlawanan. Sontak aku syok dengan peristiwa yang menimpaku seperti ini secara tiba-tiba. Aku tidak bisa bergerak sama sekali. Pelukan mereka yang erat membuatku kesulitan bernapas. Aku hanya bertanya-tanya kepada diriku sendiri.


“E—Eh? Kenapa tiba-tiba jadi begini?”


Bersambung~

__ADS_1


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2