Love Exchange

Love Exchange
Episode 117 : Belajar Mencinta


__ADS_3

Sore hari yang cukup berawan tipis dengan ramai orang-orang yang berseliweran menjadi panorama tersendiri bagi aku dan Rein yang tengah berjalan-jalan mengelilingi tempat festival. Berhiaskan langit biru cerah, kami melihat-lihat berbagai kios yang saling berjajar memanjang di tepi jalan setapak taman. Banyaknya para pengunjung yang hadir membuatku sedikit gerah dan kepanasan. Pada saat yang bersamaan, aku melihat sebuah kios yang menjual jus buah-buahan. Lantas aku mengajak Rein untuk mampir ke sana.


“Aku haus, ayo beli minum di sana,” ajakku.


“Bukannya kita sudah minum di dalam teater tadi?” balas Rein kebingungan.


“Itu kan juga sudah lama, sekarang aku sudah haus lagi,” jawabku seraya menahan rasa haus.


“Baiklah kalau begitu, tenggorokanku sudah haus juga,” sahutnya.


Kami pun menghampiri kios tersebut. Untung saja tidak ada antrean yang terjadi, sehingga kami berdua tidak perlu lama menunggu. Setelah itu, kami menikmati minuman yang sangat segar itu. Sebelum melanjutkan langkah kaki, kami menyempatkan waktu sejenak untuk duduk di bangku taman.


“Ah… Segar sekali…” hembus Rein lega.


“Jus jeruk memang terbaik,” balasku senang.


“Wah kau sangat suka jeruk, ya?” lanjut Rein penasaran.


“Ya, rasa manis yang sedap dan rasa asam yang menyegarkan. Kau juga sangat suka stroberi, ya? jawabku lalu bertanya kepada Rein.


“Kalau masih bentuk buah aku tidak terlalu suka. Tapi kalau sudah diolah menjadi jus seperti ini, aku suka sekali,” jawab Rein tersenyum.


“Pasti karena asam, kan?” sahutku tertawa kecil.


“Betul sekali!” Kami berdua pun tertawa bersama. Karena terlalu terbawa suasana, aku sampai lupa kalau jus yang kuminum telah habis. Kemudian aku mengajak Rein untuk kembali berkeliling tempat festival.


Sepanjang jalan setapak, kami berjalan di atas batu bersusun mendatar. Suasana tempat yang kami lalui sudah tidak terlalu ramai lagi lantaran kerumunan telah terpadatkan ke beberapa titik. Salah satunya panggung konser yang berada di sisi timur taman. Berjalan di tengah taman, kami menikmati pemandangan sungai dan pepohonan nan rindang di tengah taman. Sampai akhirnya aku terhenti di sebuah kios yang menjual buku-buku sekolah. Aku melihat sebuah buku yang menarik perhatianku. Lantas aku membelinya tanpa pikir panjang.


“Buku apa itu?” tanya Rein terheran-heran.


“Buku persiapan ujian masuk universitas,” jawabku sembari membuka bungkus buku tersebut lalu melihat-lihat isinya.


“Tapi kan masih tahun depan. Kau membelinya sekarang?” lanjut tanya Rein yang semakin kebingungan.


“Yah… lebih cepat lebih baik,” balasku cengar-cengir. Lalu Rein tersenyum takjub ke arahku.


“Kau tidak membeli buku ini sama sekali?” tanyaku.


“Untuk sekarang aku sedang tak ingin,” jawabnya.

__ADS_1


“Loh, kenapa? Daripada menunda, lebih baik sekarang. Harganya murah-murah pula,” sahutku dengan wajah yang kelimpungan. Sontak Rein berpamitan dengan penjaga kios tersebut seraya tersenyum. Aku tidak tahu atas apa yang tengah terjadi sekarang. Lekas aku mengejar Rein yang telah berada cukup jauh dariku. Dengan rasa penasaran aku bertanya kepadanya.


“Ada apa? Apa aku salah?” Kemudian Rein membalas pertanyaanku sembari menyeringai tipis ke arahku.


“Tidak apa-apa.” Aku pun menarik napas lega setelah mendengarkan perkataannya tersebut.


“Syukurlah kalau begitu,” gumamku senang. Lantas Rein tertawa terbahak-bahak melihatku yang berekspresi seperti anak kecil yang bahagia.


“Hahaha…! Kau benar-benar tidak bisa membaca suasana, ya?” lontarnya. Seketika aku menjadi kebingungan dengan apa yang dikatannya barusan.


“M—Maksudmu?”


“Ti-dak pe-ka! cetusnya mengeja kata-kata tersebut sembari menyentuh-nyentuh hidungku. Lalu ia berjalan girang meninggalkanku. Aku yang tidak mengerti apa-apa sontak menghampirinya dan terus bertanya-tanya kepadanya.


“Memangnya tadi kau kenapa?” lanjut tanyaku keheranan.


“Tidak kenapa-napa,” balasnya. Melihatnya yang sangat gembira itu membuatku ikut tersenyum buncah kepadanya. Aku hanya cengar-cengir seolah-olah mengerti dengan maksudnya itu.


“Kau harus bisa membaca ekspresi, Adelard,” ucap Rein kepadaku.


“Aku bisa, kok. Pasti sekarang kau sedang merasa senang, kan?” balasku. Dengan wajah gembiranya ia membalasku seraya menatap ke atap langit.


“Maksudnya? Bukannya ekspresi itu hanya senang, sedih, marah, terkejut, marah, dan semacamnya?” lanjutku bertanya-tanya.


“Itu hanya ekspresi yang dapat di baca saja, sedangkan ada jutaan ekspresi spesifik yang sulit untuk dibaca,” jelasnya. “Senang pun menurutku juga ada banyak jenisnya,” imbuhnya.


“Aku mengerti… Itu terjadi karena menggambarkan perasaan manusia, kan?” sahutku yang mulai paham sedikit demi sedikit.


“Tepat sekali!” cetusnya tersenyum.


“Tapi aku tidak bisa membaca perasaan orang-orang,” sahutku polos. Dengan pipinya yang gembul ia merasa sedikit kesal kepadaku.


“Kau tidak romantis!” lontarnya lantas memalingkan wajah dariku. Aku yang berusaha membaca ekspresinya itu lantas mengelus-elus kepalanya. Aku melakukan hal tersebut karena hanya itu yang aku tahu ketika menanggapi perempuan yang sedang kesal. Lalu aku menggenggam tangannya dengan erat sembari mengayun-ayunkannya.


“Sikapmu yang seperti itu membuatku tidak pernah luntur untuk menyukaimu,” ujar Rein menyeringai senang. Aku hanya cengar-cengir ke arahnya seraya menggaruk-garuk kepalaku.


Waktu terus berjalan dan tanpa sadar langit telah mengubah warnanya menjadi jingga kemerahan. Burung-burung kecil saling beterbangan secara berkelompok. Lantas aku mengajak Rein untuk duduk kembali di atas bangku taman sembari menikmati panorama senja. Beberapa lampu telah menyala meskipun kondisi masih terang. Saat duduk berdua, terlihat sebuah kios yang menjual buku-buku yang menurutku cukup aneh.


“Aku ingin ke sana sebentar. Kau tunggu di sini, ya,” ucapku kepadanya seraya beranjak bangun dan berjalan ke sana.

__ADS_1


“Oke!” sahutnya dari kejauhan. Kios tersebut di jaga oleh seorang bapak-bapak yang sudah berumur. Tampak beragam buku mulai dari resep memasak, buku cara melawak, bahkan ada buku tentang percintaan. Aku pun mengambil salah satu buku yang dipajang itu. Saat aku melihat isi buku tersebut, tertulis di dalamnya berbagai cara supaya hubungan pasangan semakin erat.


“Adik sedang mencari buku percintaan, ya? Itu salah satu rekomendasi, Dik. Buku itu sudah banyak terjual di kalangan anak muda,” ungkap bapak tersebut kepadaku. Aku masih tak habis pikir kalau buku seperti ini benar-benar ada. Lantas aku bertanya kepada si penjual itu.


“Serumit itukah percintaan?” gumamku pelan namun tampaknya bapak tersebut mendengarku dengan cukup jelas. Lekas ia tertawa pelan dan berucap kepadaku.


“Apa yang kau tahu tentang cinta?” lanjutnya bertanya kepadaku.


“Aku tidak tahu,” jawabku kebingungan.


“Maka, buku inilah jawabannya,” sahutnya tersenyum. Aku sempat terdiam seraya membolak-balikkan halaman demi halaman.


“Kau tidak ingin dibilang tidak romantis, tidak peka, dan semacamnya, kan?” cetus bapak tersebut meyakinkanku. Sontak aku menjadi teringat kembali dengan ucapan Rein tadi yang mengatakan bahwa diriku tidak romantis. Aku yang terhasut olehnya tanpa sadar aku langsung membelinya.


“Ini, sudah masukkan ke dalam kantung putih tebal. Pastikan pacarmu tidak melihatnya, ya,” ucapnya sambil menengok Rein yang terduduk tenang. “Malu toh kalau sampai ketahuan?” imbuhnya.


“Iya… Aku akan mempelajarinya. Terima kasih!” pungkasku tersenyum kepadanya.


“Semoga berjalan lancar!” sahutnya. Kemudian aku kembali menghampiri Rein dengan sebuah kantung yang aku jinjing.


“Kau beli apa lagi?” tanya Rein penasaran. Aku yang tidak tahu harus membalas apa sontak menjadi tersenyum kepadanya.


“Rahasia laki-laki… Hehe…” balasku pringas-pringis.


“Wah, kau sudah dewasa, ya,” lanjutnya tersenyum.


“Bukan seperti itu! Ini hanya…”


“Hanya…?”


“Aku bingung bagaimana menjelaskannya.”


“Ya sudah, aku percaya, kok,” balasnya menyeringai lebar ke arahku. Terus terbayang di benakku tentang buku yang baru saja aku beli. Aku pun berucap kepada diriku sendiri.


“Aku sudah tidak sabar untuk membacanya saat pulang nanti…”


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)

__ADS_1


__ADS_2