
Jam istirahat telah tiba dengan suara bel yang berbunyi sebagai detik awal para murid merasa lega untuk sejenak waktu. Banyak murid yang memilih untuk tetap berada di ruangan dan menggunakan waktu untuk mengulang materi pelajaran yang akan diujikan selanjutnya. Hanya sebagian orang yang pergi menuju kantin karena jadwal ujian yang selesai pada siang hari, sehingga banyak orang yang tidak mempermasalahkan perutnya masing-masing.
Aku bersandar di bangku dengan kepala yang masih terasa sakit, begitu pula dengan Cassie yang memegang kepalanya. Aku pun berjalan perlahan menghampiri Cassie dan pandanganku sedikit kabur akibat rasa sakit di kepala yang cukup kuat. Kemudian aku menarik sebuah bangku dan duduk di sampingnya. Sebelumnya aku hanya bisa pasrah dengan keadaan yang menimpa diriku. Setidaknya aku sudah berusaha untuk mengerjakan yang kubisa.
“Maaf… Karena aku, kau jadi kena getahnya,” ucapku pelan.
“A—Aku juga minta maaf, aku terlalu dekat denganmu tadi,” balasnya gelagapan dan juga merasa bersalah. Beberapa saat kemudian tiba-tiba saja kedua mataku terasa berat dan ingin rasanya untuk tidur.
“Kenapa tiba-tiba aku jadi mengantuk begini?” gumamku keheranan. Kepalaku berayun-ayun dan berusaha untuk tetap terjaga.
“Aku juga… Apa kita harus ke ruang kesehatan lagi?” tanya Cassie gelisah.
“Sulit rasanya tubuhku untuk bangun,” jawabku. Tidak lama kemudian muncul teman-temanku yang datang menghampiri kami berdua. Mereka lantas kebingungan melihat kami yang tampak tidak bugar seperti biasa.
“Kalian kenapa?” tandas Rein khawatir.
“Kepala kami sakit… Bisa tolong bawa kami ke ruang kesehatan?” balasku lesu.
“Apa yang terjadi dengan kalian?” lanjut Bella.
“Kita bawa mereka saja dulu,” sahut Gavin.
Aku dan Cassie masing-masing dirangkul oleh teman-temanku. Pandanganku semakin buram dan gelap di setiap langkahku. Kepalaku terasa berdenyut-denyut dan tak kunjung reda. Cassie yang tidak sanggup menahannya lagi lantas menutup kedua matanya dan langsung tak sadarkan diri. Rein dan Bella yang menyadarinya sontak terkejut panik.
“Cassie? Cassie!” lontar Rein. Mereka mempercepat langkah agar segera tiba di ruang kesehatan itu. Icha dan Rhean berpisah dengan kami dan bergegas pergi menuju ruang guru untuk memanggil guru yang ahli dibidang kesehatan.
“Bertahanlah, Adelard…” pungkas Gavin kepadaku. Aku hanya bergumam tanpa mengeluarkan kata-kata.
Sesampainya di ruang tersebut, aku dan Cassie langsung dibaringkan di atas kasur yang tersedia. Pada saat yang bersamaan, Icha, Rhean, dan guru itu datang membuka pintu dan segera menghampiri kami. Ia langsung membuka rak dan mengambil kompres dingin seraya menanyakan keluhan yang aku rasakan. Teman-temanku ikut membantu guru tersebut sembari berharap bahwa kami baik-baik saja.
“Rasa sakit apa saja yang kau rasakan?”
“K—Kepalaku sakit sekali… Te—Terasa berat dan nyut-nyutan…”
Guru tersebut meletakkan kompres dingin dan dibantu oleh Rein yang memegangnya. Kemudian ia mengambil parasetamol dan Bella mengambil dua gelas air minum untuk kami berdua. Cassie yang masih tak sadarkan diri hanya diberi kompres yang dipegang oleh Gavin. Aku diberikan obat tersebut lalu meminumnya perlahan. Ia mengecek luka di kepalaku yang tampak bengkak dan berwarna biru.
“Kauistirahatlah dulu,” ujarnya kepadaku.
__ADS_1
“T—Tapi… Bagaimana dengan ujianku, Bu?”
“Di saat seperti ini masih saja kau memikirkan ujian,” cetus Gandra.
“Kesehatanmu yang terpenting,” balas guru tersebut. Aku pun menurutinya lalu memejamkan mata dan tertidur. Ia merapikan rambutku sembari melihat luka tersebut dari dekat.
“Semoga saja tidak parah,” gumam guru itu.
Waktu terus berputar dan bel masuk akan segera berbunyi kembali. Teman-temanku tidak dapat selamanya berada di ruang kesehatan. Aku dan Cassie masih terbaring lelap di atas kasur. Guru tersebut lalu meminta kepada seseorang di antara mereka untuk memanggil seorang karyawan sekolah.
“Tolong panggilkan, ya,”
“Oke, Bu,” sahut Gavin yang kemudian bergegas menemui orang itu.
Setelah beberapa hal terjadi, mereka semua kembali menuju ruang ujian masing-masing. Kami berdua ditanangi oleh guru tersebut dan seorang kawannya. Hingga pada saat bel pulang berbunyi, semua murid langsung meninggalkan ruangan dan berjalan pulang, namun berbeda dengan teman-temanku yang lantas datang menjenguk kami. Sementara itu, kami berdua belum terbangun.
“Apa mereka sudah baikan, Bu?” tanya Rein khawatir.
“Sepertinya sudah tampak lebih baik,” balasnya.
“Apa mereka sudah bangun sebelumnya?” lanjut Bella.
Tak lama berselang, aku membuka kedua mataku dan terbangun dari tidurku. Kepalaku masih terasa sedikit pusing meskipun sudah merasa lebih baik. Aku yang ingin beranjak duduk lantas tidak dapat mengangkat kepalaku lebih tinggi lagi. Aku hanya bisa berbaring dan tak bisa menggerakkan kepalaku berlebihan. Mereka semua yang melihatku sontak berlari menghampiriku.
“Kau sudah merasa baikan?” tanya Rein penuh cemas.
“Iya… Tapi masih sedikit pusing,” jawabku.
“Lukanya juga sudah mengempis,” lanjut guru tersebut. Semua orang pun merasa senang dan lega mendengarnya. Pada saat yang bersamaan Cassie terbangun dari lelapnya dan membuat mereka semua langsung beralih kepadanya. Untung saja Cassie juga sudah merasa lebih baik.
“Sudah pulang sekolah, ya?” tanyaku pelan.
“Ya, di luar sudah sepi,” jawab Rein.
“Aku sudah bicara pada guru yang bersangkutan. Kau bisa mengerjakan susulan kapan saja,” ujar guru itu.
“Terima kasih,” balasku tersenyum.
__ADS_1
Pada akhirnya kami semua kembali menuju asrama dengan diriku dan Cassie yang berjalan pelan bersama mereka. Aku sudah bisa berjalan dengan lebih seimbang dan pandanganku sudah tak lagi kabur. Sesampainya di asrama, kami berdua banyak menghabiskan waktu untuk beristirahat seraya mengonsumsi obat yang sudah diberikan oleh guru tersebut. Aku hanya memanfaatkan sedikit waktu sebelum tidur untuk mengulang materi yang akan diujikan besok.
Keesokan harinya, seperti biasa kami berjalan saat mentari baru saja muncul dari permukaan. Kepalaku sudah terasa ringan dan begitu pula dengan apa yang dirasakan oleh Cassie. Sembari melangkahkan kaki, aku memanfaatkan waktu yang ada untuk membaca bukuku. Tidak lama setelah aku melakukannya, seketika saja Rein langsung menarikku yang hampir terjatuh dari tepi jalan.
“Hati-hati,” ucap Rein.
“Kau ingin merasakannya lagi?” celetuk Gandra.
“Tentu tidak!” lontarku.
“Perhatikan jalanmu,” lanjut Rein.
“Baiklah…” balasku. Aku menutup buku tersebut lalu berjalan dengan berhati-hati. Cassie yang sebelumnya juga membaca buku lantas mengikutiku supaya hal buruk tidak terjadi padanya.
“Mulai sekarang, kau harus lebih memperhatikan sekelilingmu,” ucap Rein kepadaku.
“Kau juga, Cassie,” sahut Gavin.
“Baiklah, kita akan lebih waspada lagi,” balasku.
Setibanya di gerbang sekolah, tampak para murid yang ramai berkerumun di pandangan kami. Kami yang penasaran lantas mendekati tempat kejadian itu. Ternyata terdapat beberapa orang yang terjatuh akibat tersandung dengan lubang jalan yang sedang diperbaiki. Kami yang hanya sepintas melihatnya kemudian kembali berjalan menuju ke dalam gedung.
“Kita dapat pembelajaran pagi ini,” gumam Bella.
“Kuharap kita tidak ada yang jatuh di lubang yang sama dengan mereka,” sahut Icha.
“Terima kasih sudah memperingatkan aku dan Adelard sebelumnya,” tutur Cassie tersenyum.
Aku yang sudah berada di hadapan pintu masuk gedung lantas memandang ke atas seraya berharap.
“Lindungilah kami semua dari apa yang buruk di sekitar kami…”
“Adelard! Ayo!” lontar Rein yang sudah berada di dalam bersama yang lainnya. Dengan penuh rasa senang aku berlari menghampiri mereka.
“Aku datang!”
Bersambung~
__ADS_1
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)