Love Exchange

Love Exchange
Episode 152 : Aktivitas Pagi di Vila


__ADS_3

Suasana yang sunyi dan hanya terdengar suara hembusan angin yang bertiup cukup kencang. Tidak ada seorang pun kecuali aku seorang sendiri di balik pintu. Pintu yang berada di depanku merupakan pintuk masuk menuju vila tersebut. Pada saat yang bersamaan Rein juga berada di tempat yang berseberangan denganku. Dengan keberanian kuputar kenop pintu tersebut lalu membukanya.


Terlihat ruang tengah yang cukup luas dengan bahan material yang kebanyakan berasal dari kayu nan elok. Kami berdua lantas saling bertemu di ruang tersebut berhadap-hadapan. Suara kicauan yang berasa dari luar menjadi lantunan yang menemani kami berdua. Seketika suasana sedikit canggung dan aku kebingungan untuk berkata apa. Rein tampak sangat cantik dengan pakaian yang dikenakannya, serta sinar mentari yang menyoroti kami dari balik dinding kaca membuat pemandangan menjadi estetis.


“H—Halo… S—Selamat pagi…” ucapku kikuk.


“P—Pagi…” balas Rein. Aku tidak tahan dengan suasana yang tiba-tiba saja menjadi sangat canggung ini. Aku ingin membicarakan tentang permasalahan itu, tetapi merasa tidak enak untuk memulainya.


“Sebaiknya jangan terburu-buru dulu,” gumamku dalam hati. Beberapa detik berselang, Rein melihat ke arah jendela dan terpukau takjub dengan panorama yang dipandangnya.


“Ayo kita sambil menghirup udara segar,” ajaknya tersenyum lalu berjalan menuju balkon yang menghadap ke arah kaki gunung dan hamparan hijau. Aku yang menoleh ke jendela tersebut sontak terperangah lalu berjalan mengikutinya.


“Wah, tidak kusangka ternyata sebagus ini,” ungkapku senang.


“Di sini masih hijau, ya? Padahal sekarang sudah musim gugur,” gumamku.


“Pohon-pohon itu kuning kecoklatan, kok. Hijau itu kan dari rumput. Sejak kapan rumput gugur?” sahut Rein.


“Oh iya ya…” balasku pelan. Kemudian tampak sekumpulan burung yang beterbangan dari sebuah pohon menuju pohon lainnya dari kejauhan.


“Lihat! Burung-burung itu cantik sekali!” lontar Rein dengan jari yang menunjuk ke sekawanan burung itu. Aku yang melihatnya lantas kagum dengan apa yang tengah kupandang saat ini.


“Sekilas aku teringat dengan wisata dengan Cassie dan yang lainnya saat musim dingin yang lalu,” benakku.


“Kira-kira apa yang yang sedang burung merpati itu lakukan?” tanya Rein penasaran. Aku yang menyipitkan mataku untuk melihatnya dengan lebih jelas lantas tersadar kalau burung-burung tersebut bukanlah burung merpati.


“Sepertinya itu bukan burung merpati,” gumamku.


“E—Eh? Benarkah? Tapi mereka terlihat seperti burung merpati,” balas Rein terkejut dan kebingungan.


“Cukup kecil untuk dibilang merpati,” lanjutku.


“Bisa saja itu anak-anakannya, kan?” tandasnya.


“Hmm… Lebih terlihat seperti jalak gading,” ucapku sembari memperhatikannya.


“Burung apa itu?” tanya Rein tak habis pikir.


“Entahlah, aku pernah melihatnya di buku nama-nama hewan,” jawabku. Rein mengeluarkan ponsel pintarnya lalu mencari tahu tentang burung tersebut dari internet, namun ia tampak kesulitan untuk terhubung dengan jaringan.

__ADS_1


“Sinyal di sini jelek sekali,” pungkasnya sembari mengangkat ponsel tersebut setinggi-tingginya, tetapi usahanya tidak berhasil. Aku menjadi khawatir dan tidak percaya dengan apa yang terjadi pada Rein.


“Benarkah? Kita kembali ke zaman batu, dong?” sahutku. Aku mengambil ponselku dan berjalan-jalan di sekitar balkon lalu masuk ke dalam, seketika saja aku terhubung dengan jaringan.


“Lah, di sini ada sinyal,” lontarku senang.


“Serius? Syukurlah…” balasnya seraya berjalan menghampiriku.


Aku mencoba untuk mencari tahu tentang burung tersebut di ponselku. Saat berada di pencarian, aku melihat gambar-gambar yang ditampilkan di layar, kemudian aku melangkah ke luar dan memperhatikan burung itu lagi. Pandangan yang terlalu jauh membuat burung tersebut tampak samar-samar dan membuatku ragu.


“Benar tidak, ya?” gumamku pelan. Tiba-tiba saja seekor burung terbang ke arahku kemudian bertengger di atas pagar balkon. Sontak aku menjadi bersemangat dan girang bukan main.


“Rein! Rein! Burungnya datang!” seruku lantas membuatnya langsung berlari menghampiriku. Untung saja burung itu tidak ketakutan dan terbang. Aku merasa sangat senang karena tebakanku benar.


“Benar ternyata…” Rein mendekatiku dan melihat layar ponselku lalu melihat-lihat burung tersebut dengan gambar yang ditampilkan.


“Wah, benar,” ujarnya senang. Beberapa saat kemudian burung itu terbang dan mengudara di sekeliling kami. Kami menyaksikannya dengan hati penuh gembira. Hingga akhirnya burung itu terbang lalu hinggap di atas pundakku. Aku pun mencoba untuk menyentuhnya secara perlahan. Burung tersebut tampak sangat tenang dan tidak merasa terganggu oleh keberadaan kami.


“Halus sekali bulunya,” ucapku takjub. Rein yang melihatku lantas menjadi sangat penasaran dan melakukan hal serupa denganku.


“Lucu sekali,” sahutnya menyeringai. Aku menjulurkan jari telunjuk dan burung tersebut melompat ke jariku. Lantas aku memandanginya dari dekat di hadapan wajahku.


“Oh iya, kita belum sarapan,” ucap Rein. Aku merasa malu karena bunyian perutku yang cukup kencang. Rein berjalan menuju dapur yang langsung terhubung dengan ruang tengah sementara aku pergi menuju sofa dan menyaksikan televisi yang juga berada di ruang tengah.


“Wah, semua bahannya lengkap,” lontar Rein sembari melihat isi kulkas.


“Hmm… Makan apa kita hari ini?” tanya Rein berpikir dengan tangan yang memegang dagunya. Aku yang penasaran lantas datang menghampirinya.


“Telur dadar?” usulku.


“Oke, lalu sayurnya?” balasnya.


“Kau ingin apa?” lanjut tanyaku. Kami berdua sempat terdiam sejenak hingga Rein menjawabku.


“Bagaimana kalau salad?”


“Wah, ide bagus! Sangat cocok untuk sarapan,” jawabku bersemangat.


Kami pun menyiapkan santap pagi bersama-sama. Rein bekerja di depan kompor, sedangkan aku mempersiapkan segala bahan-bahan yang dibutuhkan. Aku memotong beberapa sayur-sayuran dengan peralatan yang sudah tersedia. Rein yang melihatku sontak terkejut dengan kepandaianku.

__ADS_1


“Jago sekali…” decaknya kagum.


“Biasa-biasa saja. Aku jarang-jarang masak, kok,” balasku cengar-cengir. Beberapa saat kemudian Rein menunjukkan pula kepandaiannya dengan membalik telur dadar itu dengan cara di lempar.


“Wuih! Seperti koki sungguhan!” lontarku tak percaya. Kemudian kami melanjutkan persiapan sarapan seraya bersenang-senang dan tertawa bersama.


Setelah itu, kami meletakkan semua hidangan di atas meja makan yang juga berada di ruang tengah. Ruang tengah yang sangat luas membuatnya dapat merangkap beberapa ruangan menjadi satu. Tidak ada dinding yang membatasinya. Sebelumnya Rein telah membuat teh lemon hangat sebanyak dua gelas. Kami pun menyantapnya bersama dengan posisi yang saling berhadap-hadapan.


“Mm! Enak sekali!” lontarku.


“Terima kasih,” balasnya tersenyum. Aku terlalu fokus menyantap maknanan tersebut dan tanpa sadar piringku sudah bersih dan membuat Rein terkejut melihatnya.


“E—Eh? Langsung habis?”


“Habisnya masakanmu enak, aku jadi kebablasan… Hehe…” balasku pringas-pringis. Lantas Rein mengambil selembar tisu lalu mendekat ke hadapanku. Ia mengelap saus yang comot di pipiku.


“Lain kali makan pelan-pelan saja,” ucapnya.


“Oke,” sahutku menyeringai seperti anak kecil.


Selepas sarapan, aku melangkah menuju balkon lagi. Terdapat sebuah kursi gantung yang terbuat dari rotan. Tanpa pikir panjang aku langsung menempatinya dan berduduk santai sembari ditemani oleh hembusan angin dan panorama yang indah. Tidak lama kemudian Rein datang menghampiriku dengan segelas jus yang berada di tangannya. Ia pun meletakkan gelas tersebut di atas meja.


“Ini, ku buatkan jus alpukat,” tuturnya kemudian pergi meninggalkanku.


“Kau mau ke mana?”


“Aku ingin merapikan barang bawaan kita,” jawabnya. Aku langsung beranjak dengan maksud untuk membantunya.


“Tidak perlu, kau bersantai dulu saja di sini,” balasnya.


“Baiklah, terima kasih banyak,” lanjutku bahagia.


Aku pun berduduk santai di atas kursi tersebut sembari menikmati segelas jus buatan Rein. Suasana yang segar membuatku terlarut dan merasa sangat damai. Aku menyereput panjang sebelum akhirnya menghembuskan napas lega.


“Wuah… Terbaik…”


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)

__ADS_1


__ADS_2