
Terangnya rembulan purnama terlihat jelas dari dalam jendela. Bintang-bintang melukiskan sinarnya di atap lelangitan. Malam liburku kali ini cukup santai karena lomba yang ku jalani telah usai. Sebelum makan malam aku bermain permainan video di konsol portabelku sambil merebahkan diri di atas kasur.
Beberapa saat kemudian aku mendengar suara bel rumah berbunyi. Sepertinya akan ada tamu yang akan masuk. Tapi aku yakin pasti ini adalah temannya adikku atau rekan kerja ayahku. Jadi aku tidak terlalu memikirkannya sembari terus bermain. Tak lama berselang adikku masuk ke dalam kamar lalu memanggilku.
“Abang, ada tamu. Ayo ke bawah!” ajak adikku sambil menjahiliku yang sedang asyik bermain. “Sedikit lagi selesai.” balasku serius kepadanya, namun dia tetap saja menggangguku. “Jangan menghalangi layarku, weh!” tegasku dengan mata fokus ke arah layar. Lantas aku pun kalah dalam permainan video tersebut.
“Sepenting itukah? Kan sudah ada Ibu dan Ayah.” ucapku jengkel.
“Ayolah. Tidak enak kalau kita tidak lengkap.” pungkas adikku merayuku untuk segera turun.
“Iya, iya.” sahutku menahan emosi. Kemudian adikku pergi keluar dari kamarku. “Gantilah pakaian Abang! Tidak enak bila kau berpenampilan seperti itu.” tuturnya.
Kemudian aku mengganti pakaian yang lebih rapih. Lalu aku pergi menuruni tangga menuju ruang tamu. Benar saja, ternyata mereka sekeluarga adalah rekan ayahku. Aku sudah dapat mengiranya dengan melihat mereka.
“Adelard?” panggil Cassie terkejut dan kebingungan.
__ADS_1
“Loh, Cassie.” ucapku melongo tidak percaya.
“Walah, ternyata kau tinggal di sini. Dunia memang sempit, ya.” ujar ayahnya Cassie tersenyum cengengesan. Aku hanya membalasnya tersenyum sambil berpikir kelimpungan. Aku baru teringat dengan perkataan ayahnya Cassie yang pernah berkata bahwa ia akan bertamu ke rumah rekan kerjanya sembari mengajak keluarganya. Ternyata ayahku dan ia merupakan rekan satu tempat kerja.
“Eh? Kalian sudah saling kenal?” tanya ayakhu terperangah.
“Yah… kami pernah makan malam bersama di rumahku.” jawab ayahnya Cassie sembari menggaruk kepalanya.
“Wah, abang sudah berani, ya.” sindir adikku. Aku menjadi jengkel sekaligus malu. “Tunggu. Berarti sebelumnya kalian bertemu?” lanjut tanya ayahku penasaran. “Iya.” jawab Cassie menunduk malu dan wajahnya memerah.
“Ekhem. Abang sudah besar, ya.” lontar adikku. Aku pun menjadi salah tingkah dan seketika membuat suasana menjadi penuh gelak tawa.
“Maukah bermain ke kamarku?” pinta adikku mengajak Cassie. Cassie meresponnya dengan malu namun tidak enak untuk menolaknya. “Pergilah.” ujar ibunya Cassie tersenyum. “Baik.” balas Cassie. Kemudian mereka berdua naik menuju kamar adikku. Aku pun masih berada di meja menghabiskan makan malam seraya mengobrol bersama.
Tak lama berselang ibuku menyuruhku untuk mengantarkan teh kepada adikku dan Cassie.
__ADS_1
“Bawakan teh ini ke atas, ya, Nak.” Aku pun pergi membawanya ke kamar adikku.
Saat aku berada tidak jauh dari pintu kamar terdengar suara ribut dan suara ketukan seperti barang jatuh dari dalam sana. Aku pun penasaran dan segera membuka pintu. Sontak aku terkejut dengan tanganku yang masih memegang kenop pintu.
“A—Abang?”
“A—Adelard?” lontar Cassie sontak menahan malu.
“Kalian sudah sangat akrab, ya.” lontarku kaget kepada mereka berdua yang sedang berpose menjambak rambut satu sama lain. Kemudian aku kembali meninggalkan mereka berdua dan kembali menutup pintu. Sontak mereka berdua menjadi ribut dan berusaha mengejarku.
“Tunggu, Adelard! Aku bisa jelaskan!” teriak Cassie dari dalam kamar.
“Cassie yang kulihat barusan jauh berbeda dari yang ku temukan di sekolah.” batinku senang.
Bersambung~
__ADS_1
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)