Love Exchange

Love Exchange
Episode 16 : Sepasang Kecoak


__ADS_3

Pagi yang sejuk menerpa sekujur tubuh. Pelajaran kedua kami dihabiskan dengan mengerjakan tugas dikarenakan guru biologi kami sedang sakit. Beberapa teman sekelas kami juga ada yang tidak hadir dengan alasan yang sama. Pergantian musim seringkali membuat kami harus benar-benar menjaga diri.


Suasana kelas tidak seramai biasanya. Hart pun telah masuk sekolah hari ini. Saat jam kosong tersebut kami mengobrol mengelilingi bangku Hart. Lebih tepatnya, mereka. Aku sedang belajar untuk olimpiade beberapa hari lagi. Namun suara mereka yang cukup keras tepat di belakangku membuatku tidak dapat fokus sepenuhnya.


“Syukurlah, kau sudah pulih.” ucap Milard senang. “Tapi bagaimana biasa kau pulih total hanya dalam waktu sehari?” tanya Freda penasaran. “Itulah pentingnya olahraga. Tubuh akan memulihkan diri dengan cepat.” jawabnya. “Akhirnya kau bisa mulai bertanding lagi besok.” tutur Milard.


“Kau tidak ikut-ikutan menjadi alien seperti dia, kan?” sindir Freda yang jelas-jelas perkataanya mengarah kepadaku. “Cukup dia saja. Aku tidak mau.” cetus Hart cengengesan.


“Oi, oi suara kau terlalu besar, Hart. Nanti kedengaran.” seloroh Freda sambil terkikik pelan. Mendengar perkataan mereka membuatku sedikit jengkel namun lebih baik aku tidak menanggapinya.


“Aku mendengar semuanya.” batinku kesal. Kemudian aku melanjutkan belajarku, tetapi lagi-lagi serangga pengganggu itu terus saja menggerecoki konsentrasiku.


“Ayolah, Adelard. Hidup juga harus santai sesekali.” celetuk Freda menggangguku.


“Kau sangat fokus, ya. Semangat!” cakap Milard dengan sopan menyemangatiku. “Terima kasih. Tapi dua kecoak ini menggangguku.” balasku sambil mengerjakan soal-soal latihan. Hart dan Freda hanya tersenyum tertawa kecil.


“Walah, walah… Santailah sedikit, kutu kupret.” lanjut celetuk Freda kepadaku.

__ADS_1


“Maksudmu kutu buku?” tanya Hart bercanda.


“Oh iya. Itu maksudku. Hahaha…” gelak tawa Freda tiada akhir. Aku yang melihat mereka semua bersenang-senang setiap hari membuatku mengecapnya sebagai orang yang tidak pernah menadapat masalah.


“Kalian ceria sekali, ya. Seperti tidak ada masalah sedikit pun.” ucapku kepada mereka.


“Tentu saja! Kita harus menghadapinya seperti air yang terbawa arus. Biarkan mengalir.” jelas Hart penuh yakin dan berdiri tegap serta berlagak sombong.


“Wah, filosofis sekali ya kau ini.” cetus Freda kepada Hart.


“Anak didik Plato.” lanjut canda Milard.


Tak lama kemudian bel istirahat berbunyi. Aku yang tidak fokus sama sekali menjadi merasa telah membuang waktu sia-sia.


“Huft… Waktu selama itu aku hanya bisa mengerjakan tujuh soal.” gumamku menghela napas gundah dan kesal.


Sementara itu mereka semakin bersemangat dan ricuh sendiri. Aku tidak habis pikir dengan mereka berdua. Dibenakku yang terdalam terlintas pertanyaan mengapa Milard dapat sebegitu dekatnya dengan mereka, selain hubungannya dengan Hart sebagai teman satu klubnya.

__ADS_1


“Ayo kita ke kantin!” ajak Milard kepada kami semua. “Ayo!” balas Freda bersemangat. “Kau tidak ikut, Lard?” tanya Hart kepadaku. “Kuharap kau mengerti keadaan sekarang.” jawabku kepadanya. “Baiklah. Ada yang ingin kau titipkan?” tanya Hart lagi.


“Aku hanya ingin kalian tidak berada di sini selama istirahat.”


“Siap, Bos!” lontar Hart. Mereka bertiga pun pergi meninggalkanku.


“Akan ku usahakan mereka tidak kembali ke kelas sebelum bel masuk berbunyi. Jadi, berjuanglah.” bisik Milard kepadaku. Ia membantuku untuk mengulur waktu agar serangga pengganggu bak kecoak itu tidak menggangguku.


“Terima kasih.” balasku pelan. Mereka pun pergi keluar dari kelas.


“Hah… Akhirnya…” hembusku lega.


Akhirnya aku bisa belajar dengan tenang. Aku tiba-tiba terpikirkan dengan Cassie ketika melihat bangkunya yang kosong. Sepertinya ia pergi ke perpustakaan. Seketika aku teringat bahwa ada beberapa buku yang ingin kupinjam dari perpustakaan.


“Oh iya, aku ingin meminjam beberapa buku matematika.” gumamku dalam hati. Kemudian aku beranjak dari bangku dan pergi meninggalkan kelas. Selama melangkahkan kaki aku penasaran dengan Cassie yang hanya sendirian di sana tanpa teman seorang pun.


“Kira-kira, apa yang sedang Cassie lakukan sekarang? Belajarkah? Wah orang yang tangguh sekali, tanpa tergoda apapun.” gumamku berbicara dengan diriku sendiri.

__ADS_1


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2