Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
Jessica Yang Menemui Bryan


__ADS_3

"Seorang gadis? Apa itu teman Nona?"


"Sepertinya Iya, Tuan."


"Baiklah, terus awasi mereka dan laporan apapun yang mereka lakukan kepada ku."


"Baik, Tuan."


Jordan pun mematikan telpon itu dan memasukkan ponselnya kembali kedalam saku jasnya.


"Ada apa? Apa ada masalah dengan Nona?" tanya Hendra.


"Tidak ada, Dika hanya melaporkan apa yang di lakukan Nona sekarang." jawab Jordan santai.


"Oh ya, apa ada kamar kosong untuk ku? Aku ingin beristirahat." sahut Agnella.


"Kamu bisa tidur di kamar ku, aku dan Vernon tidak akan tidur malam ini. Kami akan menjaga Tuan." ucap Jordan.


"Baiklah." jawab Wanita itu, lalu berdiri.


"Aku izin undur diri, selamat malam." ucap Wanita itu, lalu melangkah keluar dari ruangan itu.


"Apa dia tau dimana letak kamar mu?" celetuk Hendra kepada Jordan.


"Mungkin tidak, tapi di seluruh penjuru kastil ini ada pelayan yang sedang bersih-bersih. Ia pasti bertanya kepada salah satu pelayan kita." jawab Jordan.


Mendengar jawaban Jordan, Hendra hanya mengangguk saja sebagai tanda Ia setuju dengan perkataan Jordan.


"Andre, kembalilah kekamar mu. Kamu sudah bekerja keras hari ini, kamu butuh istirahat untuk memulai kegiatan besok." sahut Vernon.


"Benar kata Vernon, masalah Tuan biar kami bertiga yang mengurusnya malam ini." sambung Jordan.


"Hm...baiklah, aku akan kembali ke kamar ku." jawab Andre, lalu berdiri.


"Sebelum itu, aku ingin meminta maaf atas kejadian hari ini. Aku tidak bisa mengendalikan emosi ku sendiri, sepertinya aku harus belajar lagi."


"Tidak apa, itu wajar terjadi. Apalagi kamu yang sudah lama tidak kembali ke pekerjaan ini." ucap Vernon.


"Tenang saja, hal itu sering terjadi. Kamu tidak perlu merasa bersalah, kamu hanya perlu belajar untuk mengendalikan emosi mu sendiri sebelum emosimu yang mengendalikan diri mu." sambung Hendra.


"Ya...aku memang harus belajar lagi, setelah beberapa tahun tidak kembali ke pekerjaan ini."

__ADS_1


"Kalau begitu, aku izin undur diri. Selamat malam." lanjut Andre sambil sedikit menunduk, lalu melangkah keluar dari ruangan itu.


"Anak itu benar-benar malang, kehilangan kedua orang tuanya dan harus bekerja keras melanjutkan pekerjaan Ayahnya. Padahal Ia bisa saja berhenti dari pekerjaan itu, dan memilih untuk tidak melakukan apapun di rumahnya." sahut Hendra.


"Hanya keluarganya yang di percaya menjadi pengacara Tuan Anggara, apa anda tidak tau mengenai keluarga Dermi yang berkhianat itu? Penghianat itu sampai berniat membunuh Tuan, untuk saja Ia yang lebih dulu dibunuh. Benar-benar Pria brengsek!" kesal Jordan.


"Kamu sudah menceritakan itu kepada kami. Dari awal aku memang tidak suka dengan keluarga itu, kalau bukan karna Tuan Anggara. Aku tidak akan mau melayaninya dulu!" balas Vernon.


"Haah...memang orang terdekat kita bisa saja menjadi musuh terkuat kita." keluh Hendra.


"Yaa...aku jadi kasian dengan Tuan." ucap Jordan.


Tiba-tiba saja ponsel Jordan sekali lagi berdering, Pria itu pun langsung mengeluarkan ponselnya dan mengangkat telpon itu.


"Ada apa?"


"Selamat malam, Tuan. Saya ingin memberitahu bahwa Nona sedang berada di kediaman keluarga Erland, Ia sekarang sedang berbincang dengan Putra Pria itu."


"Apa!? Kenapa kamu tidak menghentikan Nona?"


"Tapi, Tuan. Saya bekerja secara rahasia, jika saya tiba-tiba muncul di hadapan Nona. Itu akan membuat Nona marah dan saya akan di hukum oleh Tuan Anggara."


"Maaf, Tuan. Itu tidak bisa saya lakukan. Anda tau sendiri bahwa Nona sngat keras kepala, dengan cara apapun Ia tidak akan berhenti. Kecuali Tuan sendiri yang turun tangan, saya hanya seorang bawahan Pribadi yang harus menuruti perintah atasan saya. Dan atasan saya adalah Nona dan Tuan Anggara."


"Haah..."


"Terus awasi Nona, aku akan menyusul mu dan kita akan menjemput Nona dengan paksa."


"Baik, Tuan."


Telpon pun terputus, kedua Pria itu yang mendengar pembicaraan Jordan. Mereka menatap Jordan dengan bingun dan Vernon bertanya. "Ada apa?"


"Nona pergi ke kediaman keluarga Erland, Ia berbincang dengan Putra Pria itu. Kita harus kesana untuk membawa Nona kembali." jawab Jordan.


"Lalu, Tuan bagaimana?" tanya Vernon.


"Kalian berdua pergilah, aku sebagai Dokter Pribadi Tuan yang akan menjaganya." sambung Hendra.


"Nah, kita bisa menyerahkan Tuan kepada Hendra. Dan lagi dia yang lebih tau masalah kesehatan Tuan dari pada kita." ucap Jordan sambil berdiri.


"Baiklah, baiklah..." jawab Vernon lalu berdiri.

__ADS_1


"Tolong jaga Tuan dengan baik, kami tidak akan lama." ucap Vernon kepada Hendra.


"Tenang saja, aku akan menaga Tuan dengan baik." jawab Hendra dan ikut berdiri dengan kedua Pria itu.


"Baiklah, mari keluar bersama." ajak Jordan.


Mereka bertiga pun melangkah keluar dari ruangan itu, Hendra pergi kearah kiri menuju ke kamar tidur Marcel. Vernon dan Jordan pergi ke arah kanan untuk turun menuju ke parkiran mobil mereka.


Karna mereka hanya akan menjemput Jessica saja, mereka memilih untuk tidak membawa bawahan lainnya. Dan lagi, ada Dika dan beberapa bawahan lainnya yang akan kembali bersama mereka.


***


Tak butuh waktu lama untuk sampai di tempat tujuan mereka. Dika dan para Pria lainnya yang melihat Jordan dan Vernon keluar dari mobil, mereka langsung keluar dari tempat persembunyian mereka dan menyambut kedua Pria itu.


"Selamat malam, Tuan." sapa Dika.


"Malam, dimana Nona?" tanya Jordan.


"Di dalam, Tuan. Nona berada ruang tengah dari rumah itu." jawabnya.


"Baiklah, kita masuk sekarang." ucap Jordan.


Jordan dan Vernon pun melangkah lebih dulu kedalam halaman rumah itu dan diikut oleh Dika dan Para Pria lainnya di belakang mereka.


Kedatangan mereka membuat para tamu yang menghadiri pemakaman itu sontak terdiam dan membatu.


Mereka berpikir alasan Jordan berkunjung untuk melakukan hal yang dapat melukai nyawa mereka.


Disisi lain Jessica yang masih sibuk berbincang dengan Bryan, Ia di buat terkejut dengan suara seseorang yang cukup familiar di telinganya.


"Jangan mengeluarkan senjata kalian." ucap Jordan kepada Pria yang berdiri di belakangnya.


Mendengar suara itu, Jessica sontak menoleh begitupun Bryan yang berdiri tepat di depan Gadis itu.


*Jordan!?* batin Jessica terkejut.


Gadis itu pun langsung kembali menatap ke depan dan sedikit menundukan kepalanya dengan wajah yang sangat terkejut.


*Kenapa dia bisa disini? Tapi, kenapa hanya dia? Dimana Marcel?* batinnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2